Catatan Andra

Catatan Andra
Berubah


__ADS_3

"Sayang... kenapa belum bangun? Kamu udah telat loh," sayup-sayup terdengar suara lembut di telinga Andra. Padahal ia sedang bermimpi indah, bermimpi menikah dengan Bening.


Andra membuka matanya. Mendapati seorang wanita yang biasa dia panggil mama duduk di tepi ranjang sambil tangannya terulur ke kening Andra. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.


"Kenapa sayang? Kamu lagi nggak enak badan?" tanya Mama.


Andra masih berusaha mengumpulkan nyawa. Dia melirik jam di dinding. Sedikit kaget saat menyadari jarum jam menunjukkan pukul sepuluh.


"Ma, Andra telat Ma," buru-buru dia melompat dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi.


"Sayang, sepertinya kamu sedang demam. Jangan dipaksa," ucap Mama setengah berteriak.


"Engga kok Ma, Andra baik-baik aja, kok." balas Andra setengah berteriak juga dari balik pintu kamar mandinya.


Wanita itu tersenyum geli. Andra jarang banget memperlihatkan kepanikannya. Apalagi cowok itu pembawaannya tenang banget. Membuat tingkah sekecil itu jadi lucu bagi Leoni.


Sehabis mandi Andra buru-buru memakai seragam lalu ngeloyor pergi.


"Sayang, sarapan dulu!" teriak Mama dari ruang tengah.


"Andra makan di sekolah aja, Ma. Dadah Mama," sambil meninggalkan senyuman cerah. Hal tersebut membuat hati Leoni bahagia. Mungkin hari ini moodnya akan baik sampai malam.


Senyuman Andra adalah segalanya.


***


"Maaf Pak saya telat," Andra menunduk pada Pak Dino yang berdiri di balik pagar sekolah.


Agaknya pria setengah baya itu kaget dengan sikap Andra yang terbilang cukup berbeda dengan biasanya. Pak Dino jadi sedikit curiga pada Andra dan berfikir kalo cowok itu sedang merencanakan sesuatu.


"Biarin saya masuk, Pak, saya janji tidak akan telat lagi." ucap Andra sambil memasang ekspresi memelas. Hal tersebut semakin mencurigakan bagi Pak Dino.


"Yaudah, masuk aja." Pak Dino sengaja membukakan gerbang. Ia ingin melihat reaksi Andra setelah diperbolehkan masuk. Tapi sungguh di luar dugaan ketika Andra meminta tangan Pak Dino untuk disalim.


"Makasih ya, Pak..."


"I-Iya," jawab Pak Dino agak ragu.


Setelah itu Andra berjalan menuju kelas setelah meninggal seulas senyum ceria untuk Pak Dino.


"Kok saya jadi merinding ya..." Pak Dino bergumam sambil mengikuti Andra dengan sorot matanya. "Apa dia bukan Andra, ya?"


"Jangan-jangan..."


Andra ikut bergabung dengan kelas setelah tiga jam pelajaran dia lewatkan. Dia masuk saat Bu Lilis sedang memberikan materi fisika. Andra menghampiri ibu guru itu dan berkata, "Maaf saya telat Bu," sambil mengulurkan tangannya agar bisa menyalim wanita itu.


Bu Lilis tersenyum kecil. "Iya, silahkan duduk, Andra." sambil memberikan tangannya.


Andra tersenyum ramah pada guru yang sedang mengajari itu. Setelah itu buru-buru dia duduk di samping Reno untuk ikut menyimak materi.


"Lu kesiangan?" tanya Reno setengah berbisik saat baru saja Andra mendudukkan pantatnya di atas kursi.


"Menurut elo?" malah balik bertanya.


"Ya gatau anjir makanya gua nanya!"


"Iya kali," jawab Andra. "Udah ah, gue mau fokus belajar!"


Tiba-tiba Reno tertawa kecil. "Demi apa elo mau fokus?"

__ADS_1


Andra hanya diam saja sambil mengeluarkan peralatan belajarnya.


"Eh, jangan pura-pura ah, elo kan butuh fokus kaya gini. Elo kan bisa tau semua hanya dengan sekali baca."


"Berhenti mengoceh, Ren! Gue mau fokus!" Andra sedikit membentak.


"Yaelah, tumbenan banget!"


"Gue mau jadi seorang astronot, gue harus rajin belajar mulai sekarang!"


"Cihh, gue tau kok, ga usah diberitahu lagi!"


"Makanya biarin gue fokus!"


"Haha, buat ap..." tiba-tiba suara Reno tidak bisa keluar karena sesuatu menghalangi mulutnya.


"Diem ga?" Andra menatap Reno dengan mata tajam sambil tangan Andra menutup mulut cowok itu.


***


"Andra, elo kenapa?" salah seorang teman cowok Andra bertanya saat mereka hendak bertanding basket di lapangan.


"Ga papa," jawabnya sambil memasangkan handband di lengan kanannya.


"Tapi elo keliatan kurang vit An," cowok itu adalah Gavin, teman satu tim Andra yang lumayan ganteng.


"Gue baik-baik aja kok,"


"Okelah, berkabar ya kalo elo pusing apa gimana,"


"Hmm." Baru ngomong hmm dia langsung merasa pusing. Penglihatannya juga tiba-tiba buram. Dia mencoba mengedipkan mata berulang kali tapi hasilnya tetap buram. Dia memegang keningnya, merasakan sesuatu yang aneh ditubuhnya. Nafasnya mulai tersengal.


"Engga apa-apa kok," jawab Andra. "Ayo Ren, kita harus membantai tim mereka. Kalo kita menang, tim kita akan tanding di Singapura. Kita harus menang, kan?"


Reno tersenyum kecil. Sejenak Dia melupakan kondisi Andra saat ini. Dia bahagia melihat semangat itu datang lagi. Semangat seorang Andra yang telah lama hilang.


"Oke, kita kan duo yang tak terkalahkan," sahut Reno dengan mata yang berkaca-kaca.


Andra menatap sohibnya itu. Dia merasakan cairan hangat keluar dari hidungnya. Ah, jangan bilang kumat lagi!


"Man, elo..." Reno khawatir.


"Jangan dihiraukan," Andra melangkah sambil mengusap hidungnya dengan telapak tangan. Sial, darah keluar lagi. Kali ini lebih banyak dari sebelumnya.


"Man, sebaiknya elo ga usah main," Reno mengejarnya dari belakang.


"Sudah gua bilang ga usah dihiraukan!"


Andra akhirnya ikut bertanding. Mereka memenangkan pertandingan dengan mengungguli 8 poin. Itu suatu kebanggaan bagi semua orang.


"Kamu yang terbaik Andra!"


"Hebat!"


"Berbakat sekali!"


"Sempurna!"


Banyak pujian yang dilayangkan kepada Andra juga pada teman-temannya yang lain. Fix mereka bisa tanding ke luar negeri.

__ADS_1


"Gile, lu op parah, man!" kata Reno menepuk pundak Andra.


Andra terlihat lemas. Dia sengaja mendudukkan tubuhnya di pinggir lapangan untuk beristirahat.


"Elo pasti cape banget,"


"Ga usah lebay!" sahut Andra ngos-ngosan. Tiba-tiba dia terbatuk-batuk hingga mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Untung tidak ada yang melihat kejadian itu selain Reno.


"Andraaa..." Reno sudah panik banget.


"Gua gapapa kok," jawab Andra sambil berusaha bangkit dari duduknya.


"Jangan dipaksa dulu," kata Reno langsung sigap menahan tubuh Andra yang tidak seimbang lagi.


"Udah dibilangin gua gapapa!" sambil melangkah setelah berhasil berdiri berkat bantuan sohibnya.


Reno mengepalkan tangannya kuat. Dia melihat tubuh Andra yang bergerak lemah manjauh darinya.


"BRUKKK!" Baru beberapa langkah tubuh Andra sudah ambruk ke atas lantai.


"ANDRAAA!!!"


***


Reno duduk di kursi tunggu rumah sakit. Andra sedang ditangani oleh papanya. Tadi saat cowok itu hilang kesadaran Reno buru-buru membawanya ke rumah sakit tempat papanya bekerja. Meminta agar pria itu yang turun langsung untuk menangani Andra.


Beberapa saat kemudian Dokter Seno keluar dalam ruangan. Reno langsung berdiri dan mendekati papanya. Dia ingin menanyakan banyak hal.


"Ren, Papa mau ngomong, tapi jangan di sini." tiba-tiba pria itu berjalan meninggalkan Reno. Segera Reno mengikutinya dari belakang.


"Pa, gimana kondisi Andra?" tanyanya sambil berjalan. Pria berjas putih itu malah asik berjalan dan tidak menjawab pertanyaan anaknya.


"Pa!"


Pria itu membawa Reno ke rooftoop rumah sakit. Di sana pria itu tiba-tiba memeluk Reno. Tentu saja Reno kaget.


"Pa, gimana kondisi Andra!" masih tetap menanyakan temannya.


"Kemungkinan dia tidak akan bertahan lama." jawab Dokter Seno agak menyesal.


"Hah! Maksud Papa?"


"Iya, penyakitnya sudah kombinasi. Kankernya sudah stadium akhir." kata Dokter Seno.


"Ti-Tidak mungkin Pa," Reno hampir tidak bisa mengeluarkan suara.


"Dari awal Papa sudah menawarkan kemoterapi padanya, tapi dia tidak pernah mau. Papa juga sudah memberikan semua tips dan cara agar dia bisa merawat tubuhnya. Tapi sepertinya dia tidak mendengarkan Papa."


Reno terdiam sejenak. Dia tau kondisi Andra saat ini tidak luput dari kesalahannya juga. Jika saja dia membantu Andra untuk hidup lebih sehat, ah, tapi dia sudah melakukan itu kok. Dasar Andra nya aja yang batu. Tapi kalo sudah begini dia juga jadi merasa bersalah.


"Tapi Andra masih bisa sembuh kan, Pa?"


"Kemungkinannya 0,0001 persen nak,"


"Jangan menakuti ku, Pa!" Reno mulai menangis seperti anak kecil. "Kalo Andra kenapa-napa... hiks.." dia tidak mampu melanjutkan ucapannya.


"Papa tau ini menyakitkan, tapi kemungkinan harapan hidupnya hanya tinggal beberapa bulan saja. Itupun kalo dia mau menjalani kemoterapi."


"Lakukan aja, Pa! Tidak usah mendengar kan dia! Dia akan selalu menolak!" kata Reno sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


"Tapi Papa juga butuh persetujuan dari orang tuanya."


__ADS_2