Catatan Andra

Catatan Andra
Finally


__ADS_3

Apa???? Ditembak Andra??? Mimpi apa Bening semalam? Apa jangan-jangan ini betulan hanya mimpi ya? Tapi kayaknya engga deh, buktinya dia sedang berada di rumah majikan ibunya dan sedang membantu ibunya bekerja. Harusnya kalo ini mimpi dia lagi berbunga-bunga dong sambil menari-nari bersama Andra. Fix ini nyata!


"Bening, ada apa sayang? Dari tadi ibu perhatikan kamu senyum-senyum mulu," ibu menatap Bening yang sedang sibuk ngelap meja.


Bening yang tersadar langsung menggeleng. "Nggak kok, Bu..." jawabnya refleks.


"Ibu tau, kamu sedang jatuh cinta, kan? Hayo, ngaku kamu..." Ibu menunjuk Bening dengan jari telunjuknya sambil tersenyum jahil.


"Ah ibu!" balas gadis itu malu-malu.


"Sama itu yah, cowok sekelas mu itu?" ibu mendekat hingga mereka membersihkan meja yang sama.


"Nggak lah, Bu! Dia dibuang ke laut aja!" jawab Bening sebal.


"Kok gitu? Kalian nggak dekat lagi?"


"Nggak! Bening udah benci sama dia, Bu."


"Wah, pantesan wajahnya nggak pernah  kelihatan lagi..."


Bening jadi manyun sendiri. Dia tidak suka ada orang yang mengobrol kan Reyhan. Alasannya karena pria itu tidak pantas diobrolkan. Titik.


"Hmm, jadi cowok yang kemarin ya Bening? Yang ganteng berdamage itu loh, yang jemput kamu pake mobil biru itu?"


Bening mengernyitkan keningnya. Mencoba mencari tau sesosok pria yang dimaksud ibunya.


"Itu loh sayang, yang rambutnya berantakan tapi cakep banget itu..."


Bening baru ngeh. Ternyata maksud ibunya Reno. Memang sih Reno yang paling sering jemput dia. Reno juga beberapa kali jumpa sama ibunya Bening. Sambil ngobrol lagi. Jadi kemungkinan ibunya salah kaprah.


"Bukan itu sih, Bu..."


"Ha?" jelas ibunya Bening kaget. "Terus?"


"Ada. Ibu mungkin nggak pernah liat dia. Tapi lebih ganteng dari yang sering jemput aku,"


Ibu tersenyum lebar. "Wah, kamu laris benar Bening... yang dekat sama kamu juga  yang oke semua! Pake pelet apa nih anak ibu?"


"Hahaha, ibu kok gitu sih,"


"Becanda sayang..."


***


"Nina, aku punya rahasia besar..." kata Bening sewaktu di kelas. Kebetulan mereka lagi jamkos. Jadi enak aja ngegibah sanasini.


"Apa itu! Apa itu!" Nina mendekatkan kupingnya ke mulut bening. Tidak sabar mendengar gosip hots dari gadis itu.


"Tapi janji dulu nggak boleh bocor!"


"Oke, udah, aman!" desaknya.


"Jadi..." Bening melirik ke kanan dan kiri. Tidak ada orang yang dekat dengan mereka. Ia takut aja kalo ada yang menguping. Bahaya!

__ADS_1


"Apa???" Nina semakin tidak sabaran.


"Masa Andra nembak aku kemarin." ucap Bening terpaksa.


"APA!!!!! Andra nembak kamu?" Nina kaget sampai dia tidak sadar berteriak histeris.


Seketika semua pandangan tertuju pada mereka berdua.


"Ihhhh! Kamu apa-apaan sih! Baru juga dibilangin nggak boleh ember!" Bening bersidekap marah.


"Eh, sorry Bening cantik... abis aku kaget dengarnya." terpaksa Nina harus merayu gadis itu agar kembali bercerita.


"Kamu nggak usah marah gitu deh, tidak ada yang percaya kok. Liat, mereka semua udah kembali sibuk," Nina melirik ruang kelas yang kembali gaduh dengan kegiatan masing-masing.


Bening ikutan memperhatikan. Yah, benar. Tidak ada yang peduli sama sekali. Lagipula siapa yang akan percaya gadis kuntet seperti Bening disukai oleh cowok se famous Andra. Impossible.


"Jadi gimana? Benaran dia nembak kamu?"


"Ya benaran lah! Masa aku bohong!"


"Terus kamu percaya dia suka sama kamu?"


"Nggak sih,"


"Nah, terus kamu jawab apa?"


"Kubilang, aku harus mempertimbangkannya dulu. Aku minta waktu tiga hari."


"Ya ampun. Kok bisa sih dia nembak kamu? Jangan-jangan dia punya dendam sama kamu? Atau nggak dia ingin ngambil sesuatu dari kamu. Hati-hati loh,"


"Bening, semua orang tau siapa Andra. Semua orang juga tau kalo cowok itu idaman semua cewek. So pasti dia punya kriteria yang perfect juga. Nah, coba liat diri kamu, udah cocok nggak jadi kriteria Andra?"


Bening menatap Nina. Ia membenarkan perkataan temannya dalam hati. Tidak ada hal yang menarik darinya hingga membuat Andra suka padanya. Tidak mungkin juga cowok itu suka padanya hanya karena mereka sering bertemu akhir-akhir ini.


"Jadi kenapa dia nembak aku?"


"Bisa aja dia iseng. Atau, dia lagi gabut. Bisa juga karena dia mau ngetes kamu orangnya gimana. Baperan atau gimana.  Atau nggak dia lagi taruhan kali sama temannya, kalo dia nembak kamu dan kamu terima, dia bakal ditraktir hura-hura. Kan banyak kemungkinan..."


"Tapi kayaknya dia tulus deh,"


"Ya ampun, Bening! Kamu sadar diri dong! Alicia yang cantik, pintar, paling cetar membahana pun dia tolak. Rere, Linda, dan yang lainnya juga kabarnya ditolak juga. Dan kamu yang hanya remahan rengginang...." Nina tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia takut Bening akan sakit hati. "Aku bukannya mau nenggelamin kamu, tapi aku tidak ingin kamu terluka kalo tau kenyataannya. Lebih baik sakit sekarang daripada patah di masa depan."


Perkataan Nina cukup membuka pikiran Bening. Benar juga, dari segi manapun dia nggak pantas untuk Andra.


"Hmmm, jadi aku harus jawab apa dong?"


"Jawab aja sesuai kata hatimu."


"Tapi hatiku bilang iya. Gimana dong?"


"Yah ajarin dong hatinya buat berkata tidak. Bilang kalo kamu tidak mau jadi badut!"


"Susah."

__ADS_1


"Kan masih ada waktu dua hari lagi buat mikir. Ya udah, itu udah cukup buat ngelatih hati buat menolak."


"Baiklah. Kayaknya aku memang harus sadar diri."


***


"Buset!!! Dia benaran minta waktu?" Reno menatap Andra tidak percaya. Mereka sedang bersantai di kantin setelah selesai latihan.


"Tiga hari."


"Wah, hebat bet tuh cewek! Berani banget minta waktu!"


"Gapapa, cewe manis harus dituruti."


"Cih, sejak kapan elo jadi lebay kayak gini. Gue jadi merinding anying!"


Andra hanya terdiam seraya menyesap kopinya. "Kira-kira dia bakal nerima gue nggak yah?"


"Uhukkk! Uhuk!!" Reno sampai keselek mendengar pertanyaan Andra.


"Pasti dia terimalah! Bodoh banget dia kalo sampai nolak lo!"


"Bisa aja gue bukan kriteria dia..."


"Hahahaha. Hanya cewek tolol yang menganggap elo bukan kriteria, man!"


"Siapa tau dia cewek tolol."


Reno terdiam.  Bibirnya mengatup sempurna. Benar juga, bisa aja Bening adalah cewek tolol yang tidak mengidamkan Andra....


***


Tiga hari berlalu. Kini waktunya Bening menjawab perasaan Andra. Cowok itu menunggu di depan gerbang ketika pulang sekolah.


"Jadi gimana?" tanya Andra menatap gadis kecil di hadapannya.


Bening menunduk. Ia tak berani menatap Andra.


"Kalo aku nolak, kamu marah nggak?"


"Nggak lah, itukan hak elo."


"Tapi kamu nggak bakal musuhin aku kalo aku nolak, kan?" Bening memberikan sinyal merah.


"Gak, kenapa gue harus kekanak-kanakan seperti itu!"


"Hmmm, baguslah."


Andra menyapukan pandangannya ke sekeliling. Sekolah sudah sepi. Tinggal mereka berdua saja yang berdiri di depan gerbang menyelesaikan urusan mereka. Eh, plus dua orang yang sedang mengintip di balik gerbang sih. Mereka adalah Reno dan Nina yang penasaran dengan ending cerita Bening dan Andra.


"Jadi gimana?" tanya Andra lagi.


"Hmmm," Bening memberanikan diri menengadah demi menatap mata Andra. "Kamu baik banget. Aku tuh beruntung bisa kenal sama kamu. Kamu itu sempurna. Seperti tidak ada celah sama sekali. Kamu laki-laki terbaik yang pernah kutemui."

__ADS_1


Andra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sorry, gue cuman butuh jawaban, bukan basa-basi!"


"Hmmm... Kayaknya aku tidak cocok deh sama kamu. Tapi meskipun demikian, aku mau jadi pacarmu."


__ADS_2