Catatan Andra

Catatan Andra
Bertemu Bening


__ADS_3

"Menurut informasi yang aku dapat, Bening akan berangkat jam 12 siang nanti." Reno memberitahu informasi itu pada semua orang yang ada di ruang rawat Andra. Ada kedua orang tua Andra yang duduk di sisi kiri Andra, Dokter Seno yang sedang bersandar ke tembok dengan kedua lengan terlipat di depan dada, Reno yang berdiri di sisi kanan Andra dan seorang suster yang sedang mengantarkan makanan untuk Andra.


Arnold menatap Seno. "Bagaimana? Apa ini aman?"


Seno bergidik seperti biasanya. "Biarkan saja, toh hanya sebentar. Tapi, Reno harus terus bersamanya untuk berjaga-jaga siapa tau terjadi sesuatu. Lagian, energinya tidak akan cukup jika berjalan sendiri." Seno berhenti sejenak. "Setelah Andra bertemu dengan gadis itu, Reno harus segera membawanya kembali ke sini."


"Ren, Om mohon bantuan kamu ya, tolong jaga Andra nanti. Maafin dia karena terlalu sering merepotkan mu." Arnold tersenyum menatap Reno. Cowok itu hanya membalas dengan senyuman kecil. "Oh iya, sudah kah kamu menyiapkan data-data yang diperlukan untuk dibawa ke Kanada?" kali ini menatap Seno lagi.


"Sudah. Tapi kalo boleh saran, sebaiknya dibawa ke USA dulu. Sebab di sana pengobatannya lebih lengkap. Sudah banyak juga kasus kesembuhan dari sana." lanjut dokter Seno.


"Akan ku masuki semua rumah sakit terbaik di dunia ini, akan kucari pengobatan terbaik untuk putraku. Meskipun aku harus mengorbankan segalanya, demi kesembuhan Andra, aku rela melakukannya."


Andra mendengar semuanya. Dia hanya pura-pura tidur. Kini dia menyadari bahwa semua orang sayang padanya. Rasa sedihnya tiba-tiba muncul hingga menyebabkan air matanya jatuh. "Sudah tiga hari Papa tidak masuk ke kantor. Sudah tiga hari juga mama tidak pulang ke rumah. Mereka menungguiku. Maafkan aku..." ucap Andra dalam hatinya.


Reno tersenyum kecil saat mengetahui sohibnya menangis. Dia merasa lebih baik setelah kedua orang tua Andra mengetahui keadaan Andra yang sebenarnya. Dari situ Andra bisa merasakan kasih sayang yang selama ini sudah menghilangkan.


"Baiklah, sebaiknya kita tunggu dia bangun." kata dokter Seno sambil melangkah meninggalkan ruangan.


***


"Ren, elo ga usah sampai memapah gue!" Andra mengirimkan tangan Andra yang menggemam bahunya. "Aku baik-baik saja kok."


Reno melepaskan tangannya seperti kemauan Andra. "Akhir-akhir ini Bening selalu lewat belakang karena takut sama orang-orang di kelas kita. Sebaiknya kita menunggunya di belakang." ucap Reno meninggalkan Andra.


Dengan usaha yang banyak akhirnya Andra menemukan satu kursi di belakang kelas XII IPA 3. Dia memilih untuk menunggu di sana aja. Sementara Reno sudah duduk di samping batang pohon tidak jauh dari kursi itu. Untuk saat ini hanya itu yang bisa diberikan oleh Reno. Mengawasi tanpa sepengetahuan Andra.


Jam 7 tepat sekolah masih sepi. Andra memang memilih berangkat dari pagi agar bisa berbicara dengan tenang tanpa keramaian. Yah, meskipun dia belum tau kapan tepatnya Bening akan datang.


Merenung beberapa saat berhasil membuat Andra bertahan. Tak sebenarapa lama gadis kuntet yang ceria itu berjalan melewatinya. Sepertinya Bening tidak sadar bahwa dia adalah Andra.


"Bening," panggil Andra dengan suara yang sama seperti biasanya. Gadis itu berhenti dan berbalik. Tampaknya dia sangat terkejut hingga mulutnya tidak mampu mengatakan apapun.


"Hei, tatapan macam apa itu," Andra berhehe. Dia merasakan semua baik-baik saja sekarang. Rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya hilang total saat gadis kecil itu mendekatinya.


"Andra?"

__ADS_1


"Yeah, kenapa harus melirikku seperti itu?" Andra pura-pura kesal.


"Kamu ngapain di sini?" Bening mendekatinya.


"Pertanyaan macam apa lagi itu. Kamu aneh banget deh," pura-pura cool seperti biasanya.


"Hehe, iya ya, aku kenapa. Aku shock berat melihat kamu tiba-tiba muncul di sini tanpa ada omongan sebelumnya. Jadi wajar aku kaget," Bening tersenyum cerah sambil mendudukkan tubuhnya tepat di samping Andra.


"Aku ke sini hanya untuk menemui mu." berkata jujur. "Kamu kan mau pergi untuk mewujudkan impian mu, jadi aku harus memberikan dukungan padamu."


Mata Bening langsung berbinar. "Aaaa, makasih banyak Andra."


"Hehe, maafin aku ya, akhir-akhir ini gak banyak waktu lagi buat kamu. Ku harap kamu mengerti keadaanku."


Gadis itu mengangguk. "Aku mengerti."


Andra tersenyum.


Bening memperhatikan wajah Andra. Cowok itu terlihat aneh sekarang. Sangat pucat. Tulang pipinya terlihat menipis. Bagian bawah matanya kelihatan menghitam. Dan yang paling kelihatan adalah Andra bertambah kurus.


"Tentu saja." jawabnya diikuti senyuman.


"Tapi kamu kelihatan sangat pucat. Kamu juga terlihat kurus sekarang."



"Hehe, sudah seminggu aku begadang mulu. Tadi malam malah ga tidur sama sekali. Jadi wajar aku begini. Tapi jangan khawatir, nanti aku akan kembali kok."


Bening tersenyum. Dalam hal meraih impian dia hanya secuil debu di hadapan Andra.


"Ah, kamu mah selalu saja begitu. Susah dibilangin nya!" Bening pura-pura ngambek.


"Maaf ya," Andra tersenyum lagi. "Bening, aku tau persiapan kamu sudah 100 persen. Aku bangga banget sama kamu. Apapun hasilnya nanti, usaha mu adalah yang terpenting. Ketika kita gagal tapi sudah berusaha semaksimal mungkin, itu artinya jalan tidak di sana. Tapi aku yakin, kamu akan keterima di sana."


Bening menunduk. Dia mendengarkan perkataan Andra sambil matanya menatap ke arah sepatu pemberian Andra yang sedang dipakainya. Semangatnya bertambah sekarang.

__ADS_1


"Makasih sudah datang hari ini Andra." menoleh dan menatap Andra. Dia menunjukkan jajaran giginya yang rata.


"Tapi maaf aku ga bisa ikut mengantar mu ke bandara, aku ada les tambahan siang ini." Andra berbohong lagi.


"Gapapa Andra, lagian pihak sekolah yang bertanggung jawab atas keberangkatan kami nanti."


"Yaudah, semangat ya cantik, kamu pasti bisa." Andra mengepalkan tangannya ke udara.


"Hehe, makasih banyak ya Andra. Makasih sudah menjadi orang yang sangat peduli padaku. Aku cinta kamu." ucapnya tanpa ragu. "Eh, iya, kamu mau oleh-oleh apa nantinya? Akan kucari kan sampai dapat."


Andra menggenggam tangan Bening. "Lulus ujian sudah menjadi oleh-oleh terbaik Bening."


"Ha?"


Andra tersenyum cerah. "Satu Minggu lagi aku ulang tahun, bawa kemenangan sebagai kado untuk ku. Aku akan sangat bahagia."


Bening terdiam dengan wajah yang merona. "Akan ku usahakan ya, ganteng."


"Bening, maaf selalu menjauhkan mu dari kenyataan." dia menepuk ujung kepala Bening. "Kamu keren, kamu hebat, kamu luar biasa. Aku akan selalu mencintaimu."


Gadis itu tercengang. Kenapa Andra berkata demikian. Ada apa dengannya? Bening tambah heran saat Andra mulai menangis.


"Hey, ada apa? Are you okey?" tanya Bening. Tiba-tiba Andra memeluknya. Cukup lama Andra menyembunyikan wajahnya di bahu Bening.


"Andra... kenapa?"


Andra menggeleng Sambil terus memeluk Bening. "Tidak kenapa-napa. Cuma kita bakal pisah. Aku akan sangat merindukanmu."


Bening mengerti. "Aku akan segera kembali," sahutnya lembut.


"Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi, hiksss," air matanya terus meluruh.


Setelah mengobrol lebih banyak lagi Andra pamit dengan alasan dia harus pulang sekarang. Akhirnya dia memberitahu tujuan dia datang hanya untuk menemui Bening sebelum berangkat. Rasanya lega sekarang. Seandainya dia tidak akan pernah bertemu dengan Bening lagi, setidaknya dia berhasil meyakinkan Bening kalau mereka akan selalu terhubung.


Bening, kamu pasti bisa tanpa aku.

__ADS_1


__ADS_2