
Andra duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Dia menatap bintang-bintang kecil di atas langit. "Tumben!" bergumam pelan. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan sebuah pemantik dari kantongnya. Mulai mencari suasana terbaik untuk menikmati rokok itu.
Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamarnya. "ANDRA!" orang itu langsung membentak.
Andra tidak peduli sama sekali. Dia tetap menikmati batang rokoknya tanpa menoleh pada orang itu.
"Kamu benar-benar kurang ajar! Papa tidak tau harus berbuat apa lagi untuk memperbaiki sikapmu itu!"
Andra menyesap semakin dalam. Dia mengeluarkan asap dari mulut dan hidungnya. Setelah itu dia berdiri menghadap orang itu. "Sudah lah, Pa, Andra cape kaya gini mulu!" ternyata orang itu adalah papanya Andra.
Pria setengah baya itu terlihat masih mengenakan setelan formal yang menandakan bahwa dia baru pulang dari kantor.
"Sudah cukup kamu mempermalukan keluar Papa!"
Andra dengan santainya menjawab, "Mempermalukan? Iya sih, Andra selalu mempermalukan."
Ekspresi Papa Andra bertambah emosi sebab mendengar sahutan anaknya. "Kamu memang harus diberi pelajaran!"
Cowo itu menghisap rokoknya untuk terakhir kalinya. Setelah itu putungnya dilempar ke dalam asbak yang ada di atas meja. Ajaibnya bisa mendarat dengan mulus seolah Andra melakukannya dengan perhitungan menggunakan rumus fisika.
"Silahkan saja kasih Andra pelajaran terberat menurut Papa!"
Pria yang berdiri di hadapan Andra itu menahan emosinya agar tidak diluapkan dalam bentuk kekerasan. Dia tidak mau memukul Andra seperti kejadian terakhir kali. Karena dia tau kekerasan bukan jalan terbaik untuk melunakkan putra sulungnya itu.
"Turun ke bawah! Kamu harus makan!" itu perkataan terakhir pria itu sebelum akhirnya meninggalkan kamar Andra. Dia kelihatan cape dan kecewa pada cowo ganteng itu.
***
"Bening, lu dimana?" tanya Andra melalui chat WA.
"Di rumah." jawab Bening secepat kilat.
"Gua ke situ ya,"
"Eh, jangan! Udah malem! Gada siapa-siapa di sini!"
"Engga, gua ga ngapa-ngapain ko,"
"Eh, jangan Andra!"
Andra tidak mau tau. Dia tidak membalas chat Bening lagi. Langsung memakai jaket jeansnya dan turun ke bawah. Sialnya dia harus melewati keluarganya yang sedang menikmati makan malam bersama Om Nata dan putrinya. Menyebalkan sekali harus melewati mereka.
__ADS_1
"Andra, mau ke mana kamu!" Papa langsung menghentikan Andra ketika pria itu pergi tanpa mengatakan apapun.
"Main ke luar." jawabnya.
"Ga boleh! Kamu ga boleh keluar!" tegas Papa.
Andra menghelai nafas panjang. "Apasih, Pa!" balasnya sebal.
"Andra! Ke sini kamu! Tadi Papa menyuruhmu turun untuk makan, bukan untuk keluyuran malam!" Papa terlihat tenang walaupun emosinya sudah dipuncak.
Baiklah, sepertinya Andra tidak bisa menghindar kali ini. Dia bergabung dengan mereka dan duduk tepat di sebelah Karin. Alasannya kenapa dia mau duduk di situ karena itu satu-satunya kursi yang kosong.
"Hai, Andra, kamu dari mana aja sejak tadi? Aku menunggumu loh dari semenjak siang. Kok kamu ga turun-turun?" Karin memulai percakapan. Dia terlihat cantik dengan balutan dress putih.
"Istirahat." jawab Andra singkat.
"Andra, kamu harus minta maaf sama Om Nata karena kamu sudah kurang ajar tadi siang. Cepat!" perintah Papa.
Andra menatap Om Nata dengan ekspresi datar. "Maaf,"
"Hehe, ga papa Nak." jawab pria yang merupakan sahabat karib papanya.
"Andra, setelah Papa pikir-pikir, hanya ada satu hukuman yang pantas diberikan padamu. Papa sudah mempertimbangkannya." Dia terdiam sejenak. Semua orang fokus padanya kecuali Andra yang sibuk dengan makanannya. "Papa akan mengirim kamu ke luar negeri."
Seketika makan Andra terhenti mendengar ucapan papanya. "Luar negeri?" ucapnya memperjelas.
"Iya. Kamu akan papa kirim ke New York."
"Engga! Engga! Andra ga mau!" tolak Andra.
"Kamu tidak boleh melawan lagi! Papa sudah memutuskan!"
Andra menatap papanya tajam. "Papa selalu membuat keputusan yang aneh!" kata Andra tidak suka sambil berdiri lalu meninggalkan meja makan. Dia berjalan ke luar melewati pintu utama. Tak lama kemudian terdengar suara motor melesat dari garasi.
"Ma, anakmu itu memang tidak bisa diatur lagi!"
***
Tok..tok..tok
Bening mendengar suara ketukan pintu. Dia takut. Dia tidak tau siapa yang ada di luar saat ini. Andra memang bilang kalo dia mau ke rumah Bening, tapi dia juga ga seyakin itu kalo yang mengetuk pintunya saat ini adalah Andra. Sebab Andra ga mungkin nyamperin dia semalem ini.
__ADS_1
Tok..tok..tok
Suara ketukan itu terdengar lagi.
"Ya ampun, gimana ini?" gumam Bening takut. Ia langsung menelpon Andra.
"Halo," sapa Andra.
"Andra, ada yang datang ke rumah ku. Dia mengetuk pintu dari tadi. Tolong aku, aku takut!"
"Hmmm, sekarang buka pintunya, itu gua." jawab Andra. Mendengar itu Bening bisa bernafas lega. Ia segera berlari dari kamar supaya membukakan pintu untuk Andra. Benar saja, cowo itu berada di depan pintu.
"Maaf ya, Andra, aku ga tau kalo itu kamu." Bening berucap menyesal. Dia tau saat ini Andra kesal padanya karena cowo itu sudah lama mengetuk pintu.
Sialnya Andra diam.
"Eh, aku ga buka pintu karena masih trauma akan kejadian saat itu. Aku takut..."
Tiba-tiba Andra menarik tubuh Bening ke pelukannya. "Its okay," balas Andra memeluk Bening dengan erat.
Tentu gadis itu kaget sekaget kagetnya. Ini pertama kalinya dia merasakan pelukan dari seorang cowo. Rasanya aneh tapi nyaman. Dia merasakan tubuh Andra menempel di tubuhnya.
"Hei, kamu kenapa?" Bening merasa ada yang salah dengan Andra. Sepertinya cowo itu sedang sedih hingga tidak mau menguraikan pelukan itu.
"Aku hanya ingin memelukmu lebih lama." jawab Andra.
"Okey, tapi sebaiknya kita tutup pintunya dulu, takutnya orang-orang mengira kita ngapain..." Setelah mengatakan itu Bening merasa pelukan itu mengendur. Segera ia mengambil kesempatan untuk lepas dari Andra dan langsung menutup pintu.
"Hmm, mau makan ga?" tawar Bening.
"Ga, gua baru makan." jawab Andra menatap Bening. Cewe itu sepertinya kurang nyaman ditatap demikian.
"Hmmm, sejujurnya aku ga percaya loh kalo kamu bakal ke sini. Ku kira kamu cuma becanda tau. Sebenarnya aku takut juga sekarang, takut orang mengira aku cewe yang ga benar." Bening menunduk. Dia takut Andra marah karena perkataannya.
"Jadi, apakah kedatangan ku mengganggumu?"
"Tentu tidak Andra. Aku senang kamu datang tapi aku takut kalo orang-orang itu bakal ngejugje aku..."
"Bening..." Andra mendekati gadis itu. "Bisakah kamu memelukku? Aku sangat ingin dipeluk saat ini."
Mata indah Bening langsung melotot. Perasaannya bertambah takut sekarang. Tapi meskipun demikian dia menjawab, "Kemarilah."
__ADS_1