Catatan Andra

Catatan Andra
Gosip


__ADS_3

Kata Reno tadi kamu di rundung ya? itu chat pertama dari Andra hari ini. Sebenarnya pesan itu sudah dikirimkan sejak tiga jam yang lalu tapi karena Bening agak kesal jadi dia baru membacanya.


Iya. Jawab Bening singkat. Andra langsung membaca tapi tak membalas lagi.


"Ah, Andra nyebelin!" sungut Bening. Tadinya dia mau belajar tapi mood dia udah hilang duluan. "Mending aku ke rumah Putri aja. Daripada nungguin chat dari manusia dingin ini!"


***


Keesokan harinya, ketika Bening hendak berangkat ke sekolah, Andra kembali datang menjemputnya. Seperti biasa cowok itu sudah berpakaian rapih dan cakep. Siap berangkat untuk memulai hari yang baru.


"Kok mukanya cemberut amat, Neng?" Andra mencoba menggoda gadis itu.


Bening langsung tersenyum. Dia tidak bisa berbohong kalau dia kangen banget sama Andra. Sehari kemarin mereka tidak bertemu sama sekali.


"Aaa, aku kangen." tiba-tiba sifat manja Bening keluar. Dia langsung memeluk Andra. Cowok itu terlihat terkejut. Mungkin karena Bening jarang memeluknya duluan.


"Hmmm, bukannya biasanya kamu malu berpelukan di depan umum?" Andra mengingatkan dengan suara setengah berbisik.


Bening baru menyadarinya. Ia hendak melepaskan pelukannya tapi ditahan oleh Andra. "Eh, mau lari ke mana kamu?" dia tersenyum jahil sambil terus mengunci tubuh kecil Bening dengan tubuh besarnya.


"Andra, malu Andra!" pekik Bening.


"Haha," Andra tertawa renyah seraya melepaskan pelukan itu.


Disaat yang bersamaan Putri lewat dari depan mereka. Sepertinya dia menyaksikan keduanya sejak tadi. Dia tersenyum kecil sambil berkata, "Bening aku duluan, ya...."


Andra langsung menatap Bening dengan tatapan yang seolah bertanya, "Siapa dia?"


"Dia Putri, tetanggaku yang sering aku ceritain itu..." bisik Bening.


"Dia jalan kaki?" tanya Andra ikutan berbisik.


"Biasanya sih naik bis,"


"Tawarin bareng aja."


"Emang ga papa?"


"Engga."


Bening langsung setengah berlari untuk mengejar gadis itu. "Put, mau bareng ga?" tanya Bening ngos-ngosan.


"Ga usah, aku takut ngerepotin." balas gadis itu tersenyum ramah.

__ADS_1


"Engga kok, toh tujuan kita sama. Ayo," Bening langsung menarik tangan gadis itu. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran dari Bening.


***


"Eh, katanya Andra pacaran sama anak kelas XII IPA 9. Itu bener ga sih?" Masih pagi-pagi cewek kelas XII IPS 5 sudah berkumpul untuk menggibah. Kebetulan les pertama mereka kosong sebab Pak Ganif selaku pengajar mata pelajaran sejarah sedang berhalangan hadir. Jadi jamkos digunakan untuk bersantai-santai.


"Lu dapet info darimana?" tanya Fani menatap Dinda yang memberikan info.


Gadis gendut berkacamata itu menjawab, "Ga tau, tadi pas di angkot ada yang ngomongin."


"Anjir, kirain bener!" ucap Dea setengah kesal.


"Iya, itu bener." Putri menyahut.


"Seriusan? Elo tau dari mana?" semua mata langsung tertuju pada gadis itu.


"Ya taulah! Orang pacarnya tetangga gue!"


"Haaaa?"


"Iya, namanya Bening." Putri memberitahu. "Lula pasti tau dia,"


Lula mengernyitkan dahi bingung. "Yang mana?"


Lula langsung ngeh.



"Oooo yang itu?"


"Iyaaaa."


"Dia memang cantik sih."


Mendengar itu Putri menjadi semakin iri. Dari dulu dia selalu menang dalam hal akademik dan sosial. Tapi dia selalu kalah dalam hal percintaan. Bening selalu didekati oleh orang-orang yang keren. Sedangkan dia selalu saja sial karena didekati oleh laki-laki yang mokondo. Itupun tidak ada yang cakep. Wajah yang selalu di bawah rata-rata atau usia yang terpaut jauh. Sialnya lagi dia yang selalu mengejar, tak pernah dikejar.


"Tapi meski cantik kayanya dia bukan tipe ideal deh. Soalnya dia kelihatannya miskin, dan sudah pasti bodoh karena ditempatkan di kelas paling bodoh." sambung Lula seolah mengangkat dan menjatuhkan Bening di mata semua orang yang mendengarkan. Hal tersebut membuat Putri sedikit puas. Ternyata Lula juga tidak setuju kalo gadis itu tipe yang ideal.


"Biasanya sih hubungan si miskin dan si kaya ga berlangsung lama. Paling Andra akan ninggalin gadis itu setelah mendapatkan sesuatu. Yah, kita tau sendiri cowok maunya apa. Iya, kan?" Putri berucap diikuti senyuman aneh. Yang lain langsung mengangguk setuju.


Bening, kurasa kita tidak perlu berteman lagi!


***

__ADS_1


Andra memasuki kantor kepala sekolah bersama seorang gadis yang sama-sama dari XII IPA 1. Mereka ke sana demi memenuhi panggilan dari sang kepala sekolah.


"Halo selamat siang Pak," gadis yang bersama Andra menyapa pria yang sedang duduk di kursi dan sedang disibukkan oleh komputer.


"Selamat siang Nak Clara, Andra Michael." pria dengan buncit besar itu berdiri seraya memasang senyum ramah. Clara langsung menyalim pria itu. Andra bingung, tapi dia ikutan melakukan hal yang dilakukan oleh Clara.


"Duduk dulu!" perintah pria itu dengan suara lembut. Keduanya menurut.


"Maaf, Pak, kalo boleh tau kenapa ya kita dipanggil?"


"Hmmm. Jadi sebenarnya tahun ini sekolah kita mendapatkan 2 kuota untuk mengikuti ujian kedokteran x yang akan dilaksanakan di Amerika Serikat. Ini peluang besar sebab kalo kalian lulus tes semua biaya pendidikan dan biaya hidup akan ditanggung oleh mereka. Singkatnya kalian hanya perlu belajar dan keluar dari sana sudah pasti masa depan kalian secerah mentari di siang hari." Bapak Kepala Sekolah memberitahu.


"Tapi ini khusus kedokteran ya, Pak?" tanya Clara.


"Iya. Tapi katanya tes nya lumayan susah sih. Nanti ujiannya dilaksanakan selama dua Minggu. Sudah termasuk psikologi dan kesehatan. Pesertanya lebih dari 10 ribu karena dari seluruh dunia." tambah pria itu.


"Tapi ini baru pertama kali diadakan ya, Pak? Kok sebelumnya ga ada yang seperti ini,"


"Sebenarnya hampir tiap tahun. Hanya saja selama tiga tahun yang lalu tak satupun dari sekolah kita yang lulus rata-rata nilai rapot. Karena syarat utamanya nilai rata-rata raport harus 94 dari semester satu. Nah, kebetulan kalian berdua lulus kriteria itu. Makanya Bapak memanggil kalian."


"Pak," panggil Andra.


"Iya, kenapa Nak Andra?"


"Kalo semisal saya memberikan kursi saya ke orang lain bisa ga Pak?"


"Lah?" Clara menatap Andra. "Kamu mau memberikan ke siapa? Hei, ini kesempatan emas Andra!"


Andra tidak mempedulikan gadis itu. Dia menanti jawaban dari Pak Kepsek.


"Ya tidak bisa dong Andra, soalnya kalian berdua doang yang memenuhi syarat." jawab Pak Kepsek menatap Andra.


"Tapi kan nilai raport masih bisa diubah Pak."


"Ga bisa lagi Andra! Udah disetor ke dapodik. Lagipula mengikuti ujian ini bukan suatu keharusan kok. Kalo kamu tidak berminat juga tidak apa-apa. Ya berarti kuota dari sekolah kita tinggal satu. Tapi kalo Bapak sih mending ambil aja, toh ongkos dan segala macamnya ditanggung oleh mereka. Ya belum tentu lulus juga kan,"


"Kursi saya akan tetap dipakai Pak, tapi saya memberikannya kepada orang lain." Andra bersikeras.


"Tidak bisa nak Andra..."


"Bisa, pasti bisa!"


"Emang kamu ingin memberikan kursi mu pada siapa?" tanya Clara.

__ADS_1


"Pacarku."


__ADS_2