Catatan Andra

Catatan Andra
Andra, Aku Merindukanmu


__ADS_3

Hari ini hari Minggu. Bening berdandan secantik mungkin. Hari ini dia akan mengakhiri rindunya. Bertemu dengan Andra.


Entah seperti apa wajah Andra sekarang ini. Yang pasti ada perubahan. Apakah seperti Reno yang berubah drastis dari seorang yang berantakan menjadi seorang pangeran tampan? Atau dia malah berubah menjadi pria berambut gondrong dan berkumis tebal? Tidak seorangpun tau sebab Andra memang tertutup sedari dulu. Andra bahkan tidak pernah memiliki media sosial untuk memamerkan kesehariannya. Dia hanya punya wa dan berbagai aplikasi game. Jadi tidak ada yang bisa dikepoin selayaknya manusia yang mengidolakan seseorang.


Sekitar jam sembilan Reno datang menjemputnya. Dia dan Reno udah kaya suami istri yang kemana-mana selalu bareng. Baik di luar negeri mau pun di Indonesia tetap saja begitu. Chemistry keduanya sudah terbentuk saat Reno memutuskan untuk menjaganya. Dan Bening tidak keberatan asalkan tidak melampaui batas.


Mobil melaju ke arah Utara. Hanya butuh 20 menit mobil sudah memasuki gerbang hitam yang terbuka.


"Ini rumah keluarga Andra yang sekarang?" tanya Bening sambil memerhatikan bentuk rumah itu. Tidak jauh berbeda dengan yang rumah Michael yang sebelumnya. Hanya saja ini lebih besar dan halamannya lebih luas.


"Iya."


"Kenapa mereka pindah ke sini?"


"Itu bisa kamu tanyakan sendiri pada pemilik rumahnya. Aku juga gak tau kenapa mereka pindah ke sini."


Bening terdiam. Mereka sudah memasuki garasi.


"Kok sepi banget?" Bening melirik ke sekeliling.


"Emang harus rame?"


"Enggak sih, cuma kaya aneh aja," kata gadis itu sambil mengeluarkan lipstik dari tasnya. Dia mengoleskan benda itu ke bibirnya sebelum dia keluar dari mobil.


Bening sangat cantik hari ini. Rambut di tata rapih, mata dihiasi eye shadow dan eyeliner, bibir mungilnya merah lembab, dan alis mata yang dipertebal untuk menaungi matanya. Sungguh boneka hidup.


"Ayo," Reno melangkah duluan. Diikuti oleh Bening dari belakang. Mereka tidak masuk dari pintu utama, melainkan dari gang yang membatasi dinding rumah dan pagar. Mereka menuju halaman belakang rumah itu.


"Ren, kok kita ke sini?"


"Ngikut aja Bening, jangan bawel!"


Gadis itu langsung bungkam. Di halaman belakang mereka menyaksikan dua orang sedang bermain basket. Bening mencoba mengenalinya. Satu diantaranya berumur kira-kira belasan tahun, satu lagi sudah bapak-bapak. Bening semakin memerhatikan dan mulai mengenal kedua laki-laki itu.


Dia mengamati anak muda yang sedang menguasai bola itu. Sungguh dia mirip banget dengan Andra. Bedanya, yang ini sedikit lebih pendek dari Andra. Oh ya, dia juga terlihat lebih segar dari Andra. Dari hasil pengamatannya dia menyimpulkan bahwa cowok itu adalah Andrio, bocah kecil kesayangan Andra. Wah, dia sudah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Sedangkan pria yang bermain bersama Andrio sudah pasti Arnold Michael, papa Andra dan Andrio.


Tiba-tiba muncul seorang wanita berpakaian daster membawakan potongan buah. Dia berteriak pada anaknya. "Iyo, makan dulu sayang, nanti sakit loh,"


Bening menatap wanita itu. Itu Tante Leoni. Dia terlihat menua sekarang. Rambutnya yang panjang digulung begitu saja. Tidak ada riasan tebal di wajahnya lagi. Dia tidak memakai gaun atau semacam baju yang dikenakan oleh anak muda lagi. Saat ini aura keibuannya terlihat jelas.

__ADS_1


Leoni tanpa sengaja melihat ke arah Reno dan Bening.


"Bening? Reno?"


Keduanya tersenyum. Andrio dan Arnold menghentikan permainan saat Leoni menyebut kedua nama itu. Mereka kompak melirik ke arah Bening dan Reno.


"Halo Tante...." Bening langsung bergegas menuju wanita itu. Dia memeluknya. Bening tidak bisa membendung air matanya. "Aku sangat merindukan Tante Leoni..."


Wanita itu ikut menangis. Dipeluknya gadis itu erat-erat. "Bagaimana kabarmu sayang?"


"Aku baik-baik saja, Tante..."


Leoni membingkai wajah Bening dengan kedua tangannya. "Lihatlah, gadis ini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik."


"Jadi kamu yang namanya Bening? Kita tidak sempat ketemu ya? Tapi saya sudah mendengar banyak tentangmu." suara berat Arnold menyapa Bening dari belakang.


"Halo, Om," kini Bening menghapus air matanya dan menyalim pria itu.


"Dan kamu pasti Andrio," ucapnya pada cowok super tampan yang berdiri di samping Arnold.


"Iya," dia tersenyum lebar. Anjir, senyumannya persis seperti senyuman Andra.


"Kamu mirip sekali dengan Andra," gadis itu menyentuh pipi Andrio.


"Kenapa begitu?" tanya Bening.


"Karena aku ingin menjadi seperti Kak Andra."


Bening tersenyum puas mendengarnya.


"Aduh, Ren, kamu sangat tampan sekarang," Arnold mulai fokus pada Reno.


"Terima kasih, Om."


"Oh iya, kita masuk dulu yuk, ngobrolnya di dalam aja."


Mereka masuk ke dalam rumah. Model rumah itu ternyata jauh berbeda dengan model rumah Andra yang dulu. Yang sekarang lebih luas, lebih berwarna dan di setiap dinding ada banyak foto Andra. Anehnya Bening tidak menemukan foto terbaru.


"Kalian ngobrol dulu ya, Tante mau mandi dulu," Leoni permisi lalu pergi.

__ADS_1


Reno asik mengobrolkan bisnis dengan Arnold. Sedangkan Bening mulai bosan duduk. Matanya celengak celenguk mencari sesosok objek yang dia inginkan.


"Kak Bening lagi cari Kak Andra ya?" tanya Andrio seolah tau apa yang sedang dipikiran Bening.


Bening tersenyum. "Hehe, iya. Kok dia nggak ada ya? Apa dia nggak di rumah?"


"Dia di luar, Kak.."


"Oh, dia keluar?"


"Hmm, iya."


"Tapi dia ada kan?"


"Ada, kok." jawab Andrio.


"Kira-kira kapan dia ke sini? Dia lagi sibuk ya?"


"Dia nggak sibuk kok. Dia paling lagi istirahat." jawab Andrio.


"Loh, kok malah istirahat."


"Soalnya dia harus feet kalo mau ketemu sama kak Bening." jawab Andrio. Hal tersebut membuat Bening bersemu malu.


"Hehe. Kamu udah kelas berapa? Kamu masih ingat aku kan tapi?" Bening mengalihkan pembicaraan.


"Sekarang aku sudah kelas dua SMA kak." jawab Andrio. Hal tersebut membuat Bening melongo. "Dan tentu saja aku masih ingat kak Bening. Aku tau semua hal tentang Kak Bening. Kak Andre sering menceritakan tentang Kak Bening padaku."


Bening semakin tersipu malu. Ah, Andra dari dulu tidak pernah berubah. Dia selalu berperilaku manis.


"Hmm, sepertinya kamu sangat dekat dengan kakak mu itu. Oh iya, bagaimana tampilan dia sekarang?" Bening merubah suaranya menjadi bisikan. "Apakah dia bertambah ganteng? Aku pengen tau sebelum ketemu dengannya."


Andrio seperti memikirkan jawaban terlebih dahulu. "Menurutku tidak mungkin berubah sih. Tapi gak tau juga." jawab Andrio.


"Hmmm, Bening sayang..." Leoni keluar dari kamar mengenakan gamis berwarna putih. "Kamu mau ketemu sama Andra, kan? Ayo Tante antarin..."


Bening langsung bangkit dengan semangatnya.


"Oh iya, Iyo mau ikut ga?" menatap Andrio.

__ADS_1


"Engga, Ma, baru tadi Iyo dari sana."


"Oh, baiklah. Mama pergi dulu ya..."


__ADS_2