Catatan Andra

Catatan Andra
Hadiah Untukmu


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Hubungan Andra dan Bening semakin kuat. Bening merasa sangat bahagia akhir-akhir ini sebab Andra sangat baik padanya. Andra pun merasa senang karena mendapat banyak pelajaran setelah dekat dengan Bening. Sebenarnya mereka berdua saling menguntungkan satu sama lain.


Hari ini pas pulang sekolah Andra menunggu Bening di depan gerbang sekolah. Sepertinya mengantarkan gadis itu pulang sudah menjadi rutinitasnya saat ini. Lagipula dia senang melakukannya.


"Kelihatannya cape banget," Andra tersenyum saat melihat gadis itu muncul dari balik gerbang.


"Hehe, iya... aku dihukum lagi."


"Loh, kok?"


"Gatau, gurunya ga jelas."


"Hehe, semangat sayang... jangan sedih," Andra berusaha menghibur dengan kata-kata sambil tangannya mengusap ujung kepala gadis itu.


"Iya, selagi bisa bersama kamu mah aku tetap semangat," lanjut Bening.


"Waduh.. ayo pulang!" Andra langsung menggenggam tangan Bening lalu mengajaknya berjalan menuju parkiran.


"Ayo!"


Di mobil, Andra berusaha menghidupkan suasana dengan membicarakan hal yang random. Entah kenapa dia menyukainya sekarang. Itu menambah energinya.


"Kamu rangking berapa sih di kelasmu?" tanya Andra. Dia baru ingat kalo dia belum tau posisi Bening di urutan nomor berapa di kelasnya.


"Hehehe, aku peringkat 16 tau!"


"Haaa..?" Andra cukup shock mendengarnya. Rangking 16 di kelas paling bodoh? Eh itu definisi bodoh diantara orang bodoh. "Tapi kamu pinter. Kok bisa?"


"Aku itu fokusnya ke ujian, bukan keseharian. Jadi kalo dikelas aku sering tidur, tidak merhatiin guru, kadang malah permisi ke kamar mandi terus ga masuk lagi. Lagipula guru yang masuk ke kelas aku pada ga jelas. Masa mereka menyuruh kami tidur aja ga usah belajar. Kan aneh!" cerita Bening.


"Oooo." Andra mengerti maksud Bening. "Tidak apa-apa, semua yang kamu lakukan bukan hal yang buruk kok. Tapi ayo lebih semangat lagi, kamu pasti bisa mengejar impian kamu!"


Semangat Bening langsung terbakar setelah mendapat dukungan dari orang yang dia sayang. Dalam hati dia berjanji akan belajar lebih keras lagi.


"Oh iya, aku punya hadiah untuk kamu." ucap Andra menatap Bening sejenak lalu kembali fokus .


"Hadiah? Hadiah apa?"


"Coba liat di kursi belakang!" perintah Andra. Bening menurut. Ia melihat sebuah paper bag gliter elegant berwarna abu-abu.


"Apa itu?"

__ADS_1


"Ambillah! Itu hadiah dariku untuk kamu."


Bening meraih paper bag itu. Isinya sebuah kotak hitam yang diikat dengan pita berwarna merah.


"Apa ini?"


"Buka aja."


Gadis itu langsung membukanya. Ia lumayan kesal karena tidak langsung dapat melihat isinya. Sebab setelah dia membuka kotaknya ada lagi yang harus ia buka. Andra terhibur melihat ekspresi itu.


Ternyata isi kotak itu hanyalah sepasang sepatu sneaker berwarna hitam. "Ini beneran buat aku?" gadis itu masih belom percaya.


"Iya, buat kamu. Jadi kamu ga perlu nabung lagi. Kamu juga udah bisa memakai sepatu yang layak ke sekolah." Andra tersenyum sambil menatap Bening sejenak.


Mata indah milik Bening langsung berkaca-kaca. Ia tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih pada Andra. Cowok itu sangat perhatian padanya. Bening sudah cukup banyak merepotkannya.


"Makasih Andra..." kata Bening menangis dan langsung berhambur memeluk cowok itu.


"Eh, eh, jangan sekarang meluknya, aku lagi nyetir, kurcaci!" kata Andra. Tapi gadis itu tidak mau melepaskan pelukannya. Dia malah menangis di dada Andra.


"Stttt, jangan menangis." kata Andra. Dia menepikan mobilnya tepat di pinggir jalan agar bisa menenangkan gadis itu.


"Man, lu dimana?" tanya Reno ketika Andra sedang mengajari Bening pelajaran kimia di kamar Bening.


"Di rumah Bening."


"Cepet ke rumah gua!!! Nyokap sama Bokap lu ada di rumah gua." Reno memberitahu.


Andra kaget. "Anjritttt!!!"


"Cepeettttt! Mana nyokap sama bokap gua juga lagi di rumah. Gua takut mereka membicarakan tentang lu."


"Oke oke, gua ke sana sekarang!" Andra langsung meninggalkan rumah Bening. Pastinya setelah dia berpamitan pada gadis itu. Ia ngebut di jalan supaya cepat sampai ke rumah Reno.


Benar saja mobil papanya ada di garasi mobil Reno. Mood Andra langsung berubah malas. Sudah lebih dari seminggu lamanya dia tidak pulang ke rumah. Alasannya karena dia tidak mau berantam mulu dengan kedua orangtuanya. Kedua, dia takut orang tuanya tau kalo dia sedang sakit.


Baru saja masuk ke pintu utama Andra langsung mendapat sambutan dari adiknya, Andrio Michael.


"Kak Andra!" panggilnya sambil berlari menuju cowok berseragam itu.


"Iyoooo," Andra tidak bisa berbohong kalo dia sangat merindukan adik kecilnya itu. Langsung saja dia menggendong tubuh adiknya dan mencium wajahnya.

__ADS_1


"Kak Andra kok ga pulang-pulang? Iyo kangen banget sama kak Andra." bocah itu menatap wajah kakaknya.


Andra tersenyum. "Kakak banyak tugas sekolah." jawabnya sambil menurunkan anak kecil itu.


"Emang kalo udah gede gitu ya kak?"


"Iya. Tapi Iyo jangan pernah ngikutin kak Andra ya. Kak Andra bukan panutan yang baik." Andra berjongkok supaya bisa berbisik di telinga bocah itu.


Andrio menggeleng. "Iyo harus seperti kak Andra!"


"Andra! Kemarilah!" suara berat papanya memanggil Andra. Cowo itu menurut. Ia bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Tapi biarin aja, toh ini yang dia mau. Ia segera bergabung dengan empat orang tua yang sedang mengobrol. Plot twist nya ternyata Reno juga ada di sana. Duduk di antara Om Seno dan Tante Marcella. Ia mulai curiga ada sesuatu yang tidak beres, soalnya Reno menunduk sangat dalam.


Sialan! Situasi macam apa ini! Batin Andra.


"Dari mana saja kamu?" pertanyaan itu selalu pertanyaan pertama yang dilontarkan papanya.


"Abis jalan-jalan, Pa." jawab Andra.


"Oh? Kamu masih ingat pulang, kan?"


Andra membisu. Sejujurnya bukan karena dia takut menjawab tapi karena dia males berdebat. Apalagi ditonton banyak orang kaya gini.


"Nak, pulanglah ke rumah mu." Om Seno mulai bicara.


Andra menatap Om Seno. Tatapannya seolah bertanya kenapa dia harus pulang?


"Kamu punya orang tua sayang. Kasihan mereka menunggumu setiap hari." Wanita setengah baya berparas bule yang duduk di samping Reno ikut bicara. Itu mamanya Reno. Jarang terlihat karena sibuk dengan dunia bisnis.


Tatapan Andra belom lepas dari wajah Om Seno. Dia butuh jawaban pasti. Apa rahasianya sudah dibongkar?


"Tenang aja nak, Om masih menyayangimu." kata Om Seno. Andra bisa mengartikan perkataan itu sebagai bentuk aman dari rahasianya.


"Jadi kalian ke sini untuk menjemputku?" Andra menatap orangtunya bergantian.


Mamanya mengangguk. Terlihat jelas ada kesedihan mendalam di matanya. "Ayo pulang, sayang.."


"Oke, aku akan pulang, tapi ada syaratnya."


"Apa itu?"


"Aku tidak mau dikirim ke luar negeri. Aku mau tetap di sini bersama kalian, bersama Reno juga bersama Bening."

__ADS_1


__ADS_2