
"Ah Bening, ini sudah tujuh tahun berlalu kenapa kamu masih menanti pria itu. Lebih baik kamu buka hati kamu untuk Gion." Stella memprotes Bening yang sedang membersihkan bingkai foto Andra yang berdiri di atas nakas kamar apartemen Bening.
Bening hanya memasang wajah cemberut saat mendengar protes teman seperjuangannya itu.
"Bening, apa sih istimewanya manusia bernama Andra ini? Menurutku Gion jauh lebih sempurna dari pria ini!" kata Stella lagi sambil membentangkan tubuhnya di atas kasur Bening.
"Gion buat kamu aja." kata Bening membalas. "Aku tetap Andra garis keras."
"Cihh, kita gak pernah tau apa yang dia lakukan di luar sana Bening. Bagaimana kalo ternyata dia sudah punya kekasih dan sudah menikah. Atau bahkan sudah punya anak-anak yang lucu. Kamu sudah kehilangan dia sejak tujuh tahun yang lalu..."
Stella berusaha meyakinkan Bening. Dia adalah teman baik Bening yang sama-sama berasal dari Indonesia tetapi beda daerah. Mereka sama-sama lulus ujian seleksi tujuh tahun yang lalu.
Kini mereka berdua telah menjadi seorang dokter. Bening bekerja di salah satu rumah sakit di USA milik keluarga Reno. Dia ditempatkan langsung oleh papanya Reno. Dan saat ini dia sedang melanjutkan ke jenjang program spesialis. Dia mengambil bidang forensik.
Stella sama halnya dengan Bening. Namun dia berkerja di rumah sakit yang berbeda. Dia ditempatkan langsung oleh universitas.
Setelah melalui pendidikan yang cukup memusingkan, ditambah derain setiap air mata membuat mereka lebih mengerti akan arti kehidupan. Akan ada sedih dan senang. Akan ada tangis dan tawa. Akan ada usaha dan hasil. Dan itulah yang menjadi prinsip Bening saat ini. Jika dia menunggu selama ini dengan hati yang sabar dan ikhlas, dia yakin akan mendapatkan pertemuan yang memuaskan dengan Andra. Entah kapan pun itu, dia tidak tau. Yang pasti mereka akan bertemu lagi.
"Kamu memang aneh. Ah, sudahlah, mending aku mengerjakan tugasku daripada memberitahu mu kenyataan yang selalu kamu sangkal." Stella terbangun dan duduk di kursi milik Bening. Memang, apartemen tempat mereka tinggal sebelahan. Tapi Stella akan selalu datang setiap hari untuk menemani atau bahkan hanya sekedar mengacaukan hari-hari Bening. Kadang Bening mengusirnya dengan paksa kalo ocehannya sudah mengatai Andra.
Bening hanya memberikan tatapan datar. Tiba-tiba hapenya berdering. Segera dia melihat siapa yang menelfonnya malam-malam begini.
"Reno?" gumamnya.
"Siapa?" tanya Stella. Bening tidak menjawab.
"Gion ya?" dia menebak.
"Bukan." jawab Bening. Segera ia meninggalkan kamar agar pembicaraannya tidak didengar oleh Stella.
__ADS_1
"Halo?" sapa Bening.
"Buka pintunya, aku di depan," Reno memberitahu.
"Hah? Kamu pasti sudah gila!" Bening buru-buru keluar. Benar saja Reno sudah menunggunya di depan pintu.
"Nih, aku bawain coklat buat kamu. Selamat hari cokelat ya," cowo itu memberikan paper bag berwarna keemasan.
"Aduh Ren, kamu apa-apa sih!" tampaknya Bening keberatan.
"Ayolah Bening, aku selalu berbuat manis padamu, setidaknya hargai sedikit pemberian ku." Reno tersenyum kecil sambil menatap Bening dalam-dalam.
"Tapi jangan setiap hari juga! Okeh, aku tau kamu punya banyak duit, tapi aku tuh gabisa ngebalas semua kebaikan kamu..."
"Mudah aja, cium aku udah cukup kok," dia mendekatkan wajahnya ke wajah Bening.
"Ih, najong! Ogah banget!" kata Bening langsung masuk kembali. Tiba-tiba dia keluar lagi dan berkata, "Tunggu sebentar, aku mau menyimpan coklat ini dulu."
Reno sungguh berubah. Dia bukan lagi anak berantakan yang identik dengan masalah. Sekarang dia sudah berubah menjadi pebisnis sukses yang mewarisi pekerjaan mamanya. Dia tidak lagi memakai seragam sekolah yang bajunya keluar. Tidak lagi mewarnai rambutnya dan membuatnya keriting. Sekarang dia sudah menjadi pemuda yang setiap hari memakai jas dengan sisiran rambut rapih. Dia juga sudah berubah disiplin sejak menepuh pendidikan jauh dari rumah.
Reno mendaftar di universitas yang sama dengan Bening. Bedanya, dia mengambil jurusan bisnis. Reno masuk dengan mudahnya. Bukan karena memakai orang dalam atau karena sogokan duit, semua dicapai berkat otaknya yang jenius. Cerita Andra saat itu ternyata benar. Reno memang orang yang misterius. Dia bisa menjadi siapa saja dan bisa melakukan semuanya. Buktinya dia bisa serius tapi di keadaan yang butuh bercanda pasti dia bercanda. Bening akhirnya mengetahui semua itu semenjak Reno dekat dengannya. Kira-kira tiga tahun yang lalu.
Awalnya Bening tidak tau kalo Reno mendaftar di universitas yang sama dengannya. Bahkan dia baru tau setelah cowok itu mengundangkannya di hari kelulusan. Dia menyelesaikan studinya hanya dalam kurun tiga tahun setengah. Tentu saja Bening sangat kaget. Dia memukul Reno dan bertanya kenapa Reno melakukan semua itu. Jawabannya hanya sekedar 'karena aku maunya begitu'. Tidak salah sih tapi ngeselin.
Setelah hari kelulusan itu, akhirnya Bening tau siapa yang meletakkan bunga dan coklat di atas tempat tidurnya setiap hari. Dia juga akhirnya tau bahwa Reno lah yang selalu mengirimkannya pesan rahasia yang berisi ungkapan-ungkapan serta untaian motivasi.
Awalnya Bening udah males karena merasa terganggu dengan bunga yang berdatangan setiap hari. Itu benar-benar terjadi selama tiga setengah tahun. Di setiap hari ulangtahunnya juga pasti ada aja surprise. Seperti kedatangan ibunya, dan bahkan pernah dapat hape keluaran terbaru. Awalnya dia mengira semua ini ulahnya Andra. Karena hanya cowo itu yang mencintainya sampai segitunya. Tapi setelah ketahuan siapa pelakunya, Bening agak kaget juga. Tapi dia juga tidak tau bagaimana cara memberikan respon yang sesuai. Karena menurutnya dia tidak pantas mendapatkan semua ini dari Reno.
Bening segera masuk ke dalam kamar. Buru-buru dia memakai mantel dan pamit pada Stella.
__ADS_1
"Eh, mau ke mana?"
"Ke luar. Itu ada coklat, makan aja kalo mau." menunjuk paper bag yang dia letakkan di atas meja.
"Pasti dari Gion."
"Iya."
"Hmmm, semangat yah Bening." Stella tersenyum jahil. Bening langsung buru-buru menemui Reno lagi.
"Ada temen kamu ya?" tebak Reno.
"Iya. Dia sedang mengerjakan tugas." jawab Bening. Mereka berdua melangkah menuju lift.
"Ah, tidak terasa ya, sudah tujuh tahun berlalu." Reno tiba-tiba menyinggung masa lalu.
"Mungkin kamu merasa demikian. Tapi bagiku sangat berat melewati tujuh tahun ini."
"Iya sih, tapi kan ada aku di samping mu." Reno tiba-tiba menggenggam tangan Bening.
"Tapi aku masih menunggu Andra, Ren." kata Bening sambil menarik tangannya. Dia menatap Reno dengan tatapan sendu. "Kamu tau kan, kalo aku akan menunggunya sampai kapan pun."
Reno tersenyum. "Tentu saja."
"Jadi kenapa kamu masih seperti ini padaku?"
"Karena sebelum janur kuning melengkung aku masih punya harapan." kata Reno masih tersenyum.
"Tapi kamu termasuk mengkhianati Andra,"
__ADS_1
"Kalo kamu lebih memilih aku, berkhianat pun tak apalah."