
"Kamu resmi jadi pacar Andra? Demi apa???" Nina menatap Bening tidak percaya.
Bening yang berjalan di sebelah gadis cantik itu tersenyum malu. "Hehe iya," jawabnya.
"Kok kamu terima dia sih? Bukannya kemarin kamu bilang ga mau?"
"Iya, tapi kamu tau aku labil."
"Astaga, Bening! Kamu ga takut sakit hati? Bagaimana kalo dia benar-benar mempermainkan mu? Bagaimana kalo ini hanya permainan mereka saja?" Nina tiba-tiba menghentikan langkahnya sambil mencekal lengan Bening.
"Ngga bakal. Andra orang baik kok." gadis itu menjawab mantap.
"Bening, sadarlah! Kamu tidak tau siapa dia!" Nina kelihatan frustasi sampai memegang keningnya. "Oke, aku tau Andra orang keren, tapi jangan menyakiti dirimu sendiri hanya karena itu. Mungkin saja dia keliatan baik karena ada sesuatu yang diincar dari kamu. Atau mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk. Bagaimana caramu menyesali itu nantinya?"
"Aku tidak akan menyesalinya, Nin." Bening menatap Nina. "Dan kalo pun ini hanya sebuah permainan, bukankah aku cukup beruntung dipermainkan oleh orang seperti mereka?"
Nina menghelai nafas panjang. Dia memikirkan kata-kata Bening. Sebenarnya dia cukup penasaran juga apa yang membuat Bening begitu yakin pada Andra. Setahunya gadis imut itu tidak pernah berkomunikasi apalagi dekat sama Andra. Kenapa tiba-tiba Andra mengajaknya jadian? Ini cukup aneh.
"Yaudah deh kalo begitu. Tapi nanti kalo kamu disakiti jangan nangis ke aku ya!"
"Shappp!!!" jawab Bening semangat seraya kembali melangkahkan kaki.
***
"Andra, selamat man! Akhirnya elo keluar dari zona kejombloan!" Reno memeluk Andra setelah mengetahui cowok itu resmi jadian dengan Bening.
"Makasih." jawabnya datar.
"Akhirnya kita bisa double date!"
"Iya."
"Kita rayain yah.... Inikan kali pertama elo dapat pacar,"
"Lebay!" balas Andra meninggalkan Reno.
__ADS_1
"Itu ga lebay Andra sayang..." sahut Reno mengimbangi langkah Andra.
"Udah ah, gua mau cabut."
"Loh? Ko cabut?" Reno berhenti sejenak.
"Gua ada urusan. Tengkyu ya buat hari ini." Andra melambai pada Reno lalu meluncur masuk ke dalam mobil. Menit berikutnya dia tidak terlihat lagi di jalanan.
Reno termenung. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Mungkin karena dia terlalu khawatir pada Andra. Harus apa dia sekarang? Mengikuti Andra? Tapi kalo dipikir-pikir mulai sekarang seharusnya dia belajar cuek karena Andra sudah punya seseorang yang kedepannya bisa menemaninya. Tapi meskipun demikian, Reno sepertinya tidak bisa. Dia tidak bisa mempercayakan Andra pada Bening. Tapi jujur saja, dia cape menghadapi Andra yang begini....
***
Andra memasuki gerbang yang terbuka lebar. Langsung menuju ke garasi untuk memarkirkan mobil. Dia lumayan terkejut mendapati mobil Alphard berwarna biru ada di sana. Sudah bisa ditebak siapa yang datang.
Andra dengan santainya keluar dari mobil. Berjalan dengan gaya coolnya menuju pintu utama. Dia tidak peduli dengan sapaan tukang kebun yang kebetulan lewat. Sepertinya semua orang yang ada di rumah itu sudah lumayan paham dengan sifat Andra. Tidak ada yang keberatan dengan dia yang demikian.
Baru saja Andra melewati pintu sambutan hangat langsung menyapanya.
"Andra sayang," Mama tersenyum bahagia melihatnya. Di samping Mama ada seorang pria yang dibalut jas hitam, kira-kira seumuran dengan papanya dan seorang gadis muda yang luar biasa cantik. Andra sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
"Hei, apa kabar, Nak Andra?" pria itu bangkit dan mendekati Andra. Dilihat dari jarak dekat pria lumayan juga. Apapun yang dia pakai sepertinya barang bermerk. Lagipula dia kelihatan sangat berwibawa.
"Haha, kamu tidak berubah ya, Nak..." kata pria itu diikuti tawa kecil yang menurut Andra aneh. Dia menepuk-nepuk pundak Andra. Cowok itu hanya bisa terdiam.
"Sayang, duduk dulu!" perintah Leoni. Andra menurut.
"Kamu masih ingat mereka, kan?"
Andra mengangguk.
"Siapa coba?" imbun gadis muda yang berpenampilan sen sual itu.
"Karin dan Om Nata." jawab Andra.
"Hehe, kirain kamu melupakanku Andra." ucap gadis yang bernama Karin itu. Andra tidak membalas.
__ADS_1
"Nak Andra sekarang kelas berapa?" tanya Om Nata. Andra tidak menjawab. Dia sebal kenapa orang itu menanyakan sesuatu yang sudah dia ketahui.
"Kelas XII semester akhir." jadinya Leoni yang menjawab.
"Ohh, cepat juga ya."
"Andra udah punya pacar belom?" tanya Karin. Dia tersenyum sangat manis. Yah, Karin memang oke banget. Tubuh tinggi semampai, pinggang ramping, kulit putih, rambutnya panjang sepinggang, mata indah, hidung yang mancung, rasanya dia memiliki semua hal mengenai kecantikan. Tapi minus akhlak menurut Andra.
"Belom dong." Mama sekali lagi menggantikan Andra menjawab.
"Mama sok tau!" kata Andra dengan nada kesal.
"Udah, udah, jangan ngomongin pacar, kayanya Andra kurang nyaman." Om Nata menghentikan pembicaraan itu. Dia tersenyum sambil menatap Andra. "Abis sekolah plan kamu kemana, Nak?"
Andra makin sebal. Jujur saja dia paling ga suka dengan manusia kepoan. Dia mau ke mana itu mah urusan dia. Gausa peduli!
"Maaf ya Pak Nata, Andra emang kaya gitu. Dia ga suka ngomong." Mama mewakili Andra lagi.
"Hehe, ga apa-apa. Kita juga maklum kok," sahut om Nata dengan senyuman kecil. "Jadi ke mana dia setelah lulus?" memilih bertanya pada mamanya Andra.
Wanita cantik itu tersenyum sambil mengingat-ingat. "Hmmm, kemarin sih Papa Andra udah nyusun rencana ke depannya. Dia mau Andra sekolah bisnis di New York. Kalo ga di Swiss. Pokoknya papanya udah nyiapin segalanya untuk dia." jawab Leoni, mama Andra.
"Wow, berarti dia calon pengusaha kaya papanya ya,"
"Iya dong,"
Andra tiba-tiba mengepalkan tangannya setelah mendengar rencana orangtuanya. Sejujurnya dia tidak pernah suka diatur-atur seperti ini. Dia ingin menjalani pilihannya sendiri. Tiba-tiba Andra berdiri dan melemparkan tatapan marah kepada mamanya.
"Kata siapa Andra mau jadi pengusaha kaya Papa?" Andra tersenyum sinis. "Sampai kapan pun, Andra ga mau mengikuti apa yang sudah kalian rencanakan!"
"Sayang! Jaga sikap mu!" Mama mulai tidak tenang.
"Udah lah Ma, Andra muak kaya gini mulu!" cowo itu langsung meninggalkan ketiga orang itu di sofa.
Sepeninggalan Andra suasana jadi agak canggung. Leoni menyesali anaknya yang memang keras kepala. Karena sikap Andra yang demikian terlihat jelas kedua tamu itu tidak nyaman lagi. Padahal niat mereka ke rumah Andra hanya untuk bertemu kangen. Mereka dari luar negeri jadi jarang-jarang bisa berkunjung. Eh ternyata kejadian yang mereka temui seperti itu. Hah, Andra manusia apa sih! Kok gitu banget!
__ADS_1
"Maafin Andra ya, sejujurnya kami sudah berusaha keras untuk membentuk dia menjadi lebih baik, tapi sepertinya kami gagal," kata Leoni menunduk penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, santai aja. Saya bahkan merasa bahwa Andra sedang menyiapkan sesuatu yang luar biasa. Dia tidak bisa ditebak,"