Catatan Andra

Catatan Andra
Bersama Bening


__ADS_3

Hari ini Andra sudah boleh pulang ke rumah. Nanti kemoterapi nya akan dilakukan lagi satu bulan kemudian. Kelihatanya sih dia tambah segar setelah melewati tahap pertama.


Andra diantar oleh Reno. Ini juga satu siasat agar kedua orang tua Andra tidak curiga. Lagipula, dia belum bisa menyetir sendiri sebab masih sering pusing akibat efek samping dari pengobatan yang sedang dijalaninya. Kata dokter Seno mungkin akan segera menghilang seiring berjalannya waktu.


Mereka sampai di rumah saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam waktu setempat. Reno buru-buru membuka pintu mobil agar Andra bisa keluar.


"Jangan digituin banget Ren, entar ketauan kalo gue lagi sakit." kata Andra memperingatkan.


"Tapi gue takut elo ga bisa."


"Bisa kok, tenang aja." kata Andra sambil memakai liptint agar bibir puncatnya tidak kelihatan. "Udah belum?" tanyanya meminta pendapat dari Reno.


"Udah aman itu. Tapi mata lu kelihatan agak menghitam gitu. Ga keliatan banget sih, cuman kalo makin diperhatikan makin kelihatan."


"Yaudah lah ya, nanti tinggal jawab aja karena begadang! Ayo!" Reno menarik tangan Andra.


Ternyata Andra belum sanggup berdiri sendiri. Buktinya dia hampir terjatuh saat melangkah kakinya. Untung Reno sigap menahannya.


"Udah gue bilang lu ga bisa! Batu emang!" omel Reno sambil memapah Andra. "Jangan pikirin orang tua elo, entar gue yang nyari jawaban, sekarang elo harus berhasil masuk kamar dengan selamat."


Tidak ada pilihan lain. Akhirnya Andra mau dipapah.


Ternyata orang tua Andra belum pulang ke rumah. Kata pembantu rumah sih lagi ada pesta di kantor. Baguslah, pikir mereka berdua. Itu artinya mereka tidak perlu repot-repot untuk mencari alasan kenapa Andra tidak bisa berjalan seperti orang normal. Sisanya bisa diatur nanti.


"Makasih ya, Ren," ucap Andra lagi.


"Yoi, sama-sama." jawab Reno.


"Kayanya besok elo ga usah masuk dulu deh, elo masih lemah banget." Reno memakaikan selimut untuk Andra.


"Gue harus masuk. Gue kangen banget sama Bening."


"Yaudah deh, dasar batu!" Reno tersenyum tipis lalu mematikan lampu untuk Andra. "Gue pergi dulu ye, sampai jumpa besok,"


Andra hanya menjawab, "Hmm."


Malam hari sekitar jam satu dini hari Andra mendengar suara Papa dan Mamanya mengobrol. Sepertinya mereka baru balik dari pesta.


Andra tidak bisa tidur. Banyak hal yang dia pikirkan saat ini. Hal tersebut membuat dia harus bangun dari tidur dan berusaha menyalakan lampu. Setelah itu dia duduk di kursi belajarnya. Ia mengeluarkan buku catatan khusus dari dalam laci. Sepertinya Andrio membaca buku itu lagi. Terbukti dari letak bukunya yang sudah berubah.


"Kamu belum pandai menyembunyikan jejak adikku sayang." ucapnya berbisik. "Tapi aku menghormatinya."

__ADS_1


Setelah itu dia menulis semua yang dia rasakan selama menjalani pengobatan. Sama seperti sebelumnya, dia menceritakan semua alur lengkapnya. Suatu hari nanti, dia ingin buku itu diketik dan diterbitkan. Tulisannya sudah lumayan banyak, mungkin sudah 80 persen jika itu adalah sebuah cerita.


Tiba-tiba dia merasakan lambungnya naik. Beberapa saat kemudian dia merasakan mual yang hebat. Hal tersebut mengharuskan dia ke kamar mandi. Dia berusaha dengan cara menempelkan tangannya ke dinding sebagai pegangan.


"Oekkkk!" dia memuntahkan makanan yang dia makan sebelum pulang. Terpaksa dia harus makan lagi setelah ini.


"Andra?" terdengar suara mamanya dari balik dinding. Sepertinya wanita itu sedang berjalan menuju kamarnya. Mampus! Buku catatannya belum disimpan! Dia tidak punya banyak cukup menyimpan buku itu. Akan lebih baik kalo dia mengunci pintu kamar mandi sekarang.


"Klek!" terdengar pintu kamar di buka.


"Sayang? Kamu di dalam?" tanya Mama.


"Iya, Ma." jawab Andra dengan suara yang biasa aja.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Mama agak khawatir.


"Gapapa, cuman masuk angin doang Ma," jawab Andra.


"Loh?"


Tiba-tiba Andra kembali muntah. "Oekkk!"


"ANDRAAA! Kamu abis mabuk-mabukan ya!" terdengar suara besar Papa dari luar. Kemungkinan besar dia sedang bersama Mama saat ini.


"Kurang ajar kamu Andra! Mulai hari semua fasilitas yang kamu miliki akan Papa sita! Termasuk rekening kamu juga akan Papa bekuin!"


"Pa, jangan kaya gitu," terdengar suara lembut mama menentang kemauan Papa Andra.


"Anak seperti dia ga usah dibelain, Ma! Lagipula ini satu-satunya cara untuk mengajarinya taat sama orang tua!"


Andra menahan sakit di sekujur tubuhnya. Kata dokter Seno dia tidak boleh banyak pikiran. Sebab itu akan mempengaruhi kesehatan dia. Tapi bagaimana bisa dia tidak memikirkan semua perkataan papanya?


"Tuhan, berikan aku kekuatan."


***


Paginya Andra kelihatan baik-baik saja. Mungkin karena tekad yang kuat membuat dia juga kuat. Meskipun sebenarnya dia tidak yakin bisa bertahan sampai kelas selesai.


Andra tidak menemukan orang tuanya di bawah. Sepertinya mereka masih tidur. Andra buru-buru menelpon Reno.


"Ren, jemput gue dong, mobil gue ditarik sama bokap gue." Andra memberitahu.

__ADS_1


"Loh?"


"Gue tunggu di depan ya,"


"Oke."


Andra jadinya meminjam mobil Reno untuk menjemput Bening. Hari ini Bening bahagia banget bisa ketemu lagi Andra. Sampai gadis itu tidak mau lepas darinya.


"Yaudah, nanti kita jalan ya," Andra menawarkan.


"Seriusan??" Bening tidak percaya.


"Iya. Udah lama juga kita ga jalan-jalan."


"Iyaaa, makanyaaaa... Andra ayo membolos aja hari ini. Aku ingin bersamamu." ide Bening.


"Hahaha, bolehhhhhh!" sahut Andra. Dia memutar balik arah mobil. "Kita akan bersenang-senang."


"Yeyy!"


Andra membawa Bening ke pantai. Kalo ditanya kenapa, jawabannya karena dia pengen aja. Andra menjadi fotografer untuk Bening hari ini. Ternyata cowok itu sangat berbakat di bidang kamera.


Setelah ke pantai mereka menghabiskan waktu di toko es krim. Setelah itu masuk ke toko buku lalu berlanjut lagi ke restoran. Hari ini Andra full memanjakan pacarnya.


"Haha, hari ini seru banget. Makasih banyak Andra," kata Bening sambil menyenderkan kepalanya ke lengan Andra.


Andra tersenyum. "Aku juga senang banget. Makasih juga Bening."


"Hehe, andai setiap hari begini ya,"


"Hehe, iya ya,"


"Di masa depan mungkin baru terwujud ya?"


"Siapa yang tau masa depan?" balas Andra bertanya.


Andra menatap lurus ke depan. Matahari sudah hampir terbenam. Tidak terasa sehari telah dia habis. Yang membuat Andra merasa aneh adalah, dia tidak merasa pusing sejak tadi. Dia merasa sehat seperti sedia kala. Apa ini karena Bening menemaninya? Kalo ya, berarti Bening bisa jadi sumber kesembuhannya. Semoga aja.


"Sunset nya bagus ya," komentar Bening menunjuk langit yang agak kemerahan. Andra tersenyum tipis. Dia memalingkan wajahnya ke wajah Bening. Dia memperbaiki anak rambut Bening yang berantakan.


"Dibanding sunset, kamu jauh lebih bagus." ucapnya mendekatkan wajahnya ke wajah Bening. "Terima kasih sudah hadir di hidupku."

__ADS_1


Jantung Bening tiba-tiba berdebar kencang. Dia merasa sesuatu yang lunak menyentuh bibirnya. Itu... itu bibirnya Andra.


__ADS_2