Catatan Andra

Catatan Andra
Di Kantin


__ADS_3

Hari ini Bening mendapatkan panggilan dari kantor kepala sekolah. Ini baru jam pertama, dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Lantas kenapa dia dipanggil? Ah, tapi meskipun demikian dia memenuhi panggilan itu.


"Oh, jadi kamu yang namanya Bening? Duduk dulu," pria berperut buncit itu sedang duduk di kursinya, menatap tajam Bening sambil sudut bibirnya sedikit melengkung.


"I-Iya, Pak.." jawab Bening gugup.


"Jangan takut begitu," wajah pria itu langsung tersenyum ceria. "Saya memanggilmu karena kamu lulus untuk mengikuti seleksi ke Amerika Serikat. Jadi ada banyak pertanyaan yang harus saya sampaikan."


Seketika jantung Bening berdetak sangat kencang. Jujur saja dia tidak percaya akan ucapan Andra tempo hari. Karena jelas-jelas ketentuan untuk mengikuti ujian itu adalah nilai rata-rata di atas 94. Dan dia? Sampai semester lima kemarin aja dia hanya berada di rata-rata 78. Bukankah ini tidak masuk akal?


"Maaf Pak, sepertinya Bapak keliru nama. Saya rasa itu bukan nama saya, hehe..." Bening tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tiba-tiba Bapak Kepala sekolah menunjukkan lembar pendaftaran yang hard copy. "Bening Armalia, SMA Mentari, rata-rata nilai 98,32 sejak semester pertama."


***


Jam istirahat pertama Bening memutuskan untuk pergi ke kantin sendirian. Nina sedang asik mengobrol dengan Agil sedangkan bunyi perutnya sudah beberapa kali terdengar oleh teman sebangkunya. Tadi pagi dia memang tidak sempat sarapan sebab dia kesiangan. Semalam dia hanya tidur beberapa jam karena disuruh oleh Andra untuk mengerjakan soal-soal yang katanya akan keluar di ujian nanti. Akhir-akhir ini Andra memang sedikit menyiksanya perihal belajar. Tapi dia tau ini semua demi kebaikannya.


Gadis itu agak kecewa ketika mendapati kantin yang dipenuhi oleh warga sekolah SMA Mentari. Ini sih harus rela antri lama kalo mau tetap dapat makan. Soalnya ibu penjualnya saja kewalahan saking banyaknya pesanan. Tempat duduk juga sudah pada penuh, jadi mau ga mau tetap berdiri menunggu giliran.


"Eh, itu Bening," Reno yang duduk berdua dengan Andra di meja paling pojok menunjuk gadis itu. Andra langsung mengalihkan pandangannya pada gadis itu. Dia hanya tersenyum kecil.


"Ga mau nyamperin? Atau menyuruhnya duduk di sini mungkin?"


"Biarin aja, dia juga ga bakal tenang kalo duduk diantara kita."


"Iya sih. Entar dia dirundung ya?"


Andra hanya terdiam.


Bening tanpa sengaja melihat Putri duduk di antara yang lainnya. Dia berniat menyapa dan ingin bergabung dengan temannya itu. Soalnya kakinya sedikit pegal setelah berdiri sejak tadi. Rasa laparnya juga membuat dia tidak tahan untuk berdiri lebih lama lagi.


"Hai, Putri..." dia tersenyum cerah pada gadis yang sedang menikmati semangkok mie ayam. Putri hanya menoleh tanpa menjawab sapaannya.

__ADS_1


Bening sedikit terkejut dengan respon yang menurutnya kurang. Oh tidak, dia baru menyadari bahwa meja Putri dikelilingi oleh anak cewek dari kelas XII IPA 1. Dua orang dari mereka adalah orang-orang yang membulinya waktu itu. Tiga orang lagi dia kurang tau namanya, yang pasti mereka terkenal seantero sekolah.


"Ini kucing liar yang baru saja kita omongin," Reyna tersenyum sinis pada gadis itu.


Hah? Kenapa Putri bisa bersama mereka? Apa yang mereka bicarakan tentang ku?


"Oh?" gadis yang tampak tidak asing menatapnya dengan tatapan merendahkan. Oh iya, kalo ga salah itu Livy, orang dengan sejuta bakat yang sangat tenar di sekolah maupun di luar sekolah. Dia seorang seleb medsos juga seorang anak konglomerat yang terkenal. Anjir, dia cakep banget. Bisa-bisanya ada orang sesempurna itu.


"Halo, apa kamu yang namanya Bening? Orang yang mencari Andra waktu itu dan yang diselamatkan oleh Reno?" gadis cantik itu berdiri. Dia tinggi, ramping, kulitnya putih bersih, wajahnya oval sempurna. Semua hal tentang dia terlihat perfect.


"I-Iya..." balasnya. Dia merasakan hawa yang aneh. Semacam penindasan atau semacamnya. Bening bingung. Apa yang harus dia lakukan?


"Hmmmm, aku dengar-dengar kamu lontehh ya?"


Bening terdiam tidak percaya mendengar itu. Kemarin cewek ganjen sekarang lontehhh siapa sih yang nyebarin berita sekeji itu?


"Itu tidak benar..." Bening berusaha membela diri tapi sepertinya dia kalah dalam segala hal.


"Katanya kamu sering masukin cowok ke dalam rumah ya? Itu rumah apa oyo sih?" gadis itu terus menyerangnya. Bening bingung apa alasan dia melakukan semua ini. Jelas-jelas Bening tidak pernah mengganggu atau bahkan sekedar bicara dengannya.


"Isshh, anunya udah gak suci lagi, udah dipake sama om-om!" Devi menyahut dari tempat duduknya.


"Salah ku apa?" Bening mulai menangis. Dia tidak tahan mendengar tuduhan itu. Terlalu keji.


"Dih, dih, lontehh nya nangis haha,"


Andra yang ikut menyaksikan kejadian itu mengepalkan tangannya. Dia ingin menghampiri gadis itu tapi ditahan oleh Reno.


"Btw sepatumu bagus juga." gadis itu menyorot sepatu Bening yang diberikan oleh Andra. "Aku dengar-dengar kamu hanyalah anak yatim yang hidup berdua dengan ibumu yang pekerjaannya hanya seorang pembantu. Nah, pertanyaanku, anak pembantu mana yang mampu membeli sepatu seharga motor? Anak miskin mana yang punya barang bermerek kaya gini?"


"Hasil open BO, kak!" sahut Reyna yang diikuti tawa teman-temannya.


"Dasar tak bermoral!" gadis itu menyentil kepala Bening hingga gadis itu hampir terjatuh. Untung dia masih punya sedikit keseimbangan.

__ADS_1


"Itu semua tidak benar!" Bening mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata.


"Masih mau menyangkal? Kita tau semua ini dari tetangga mu, Putri. Dia tau semua hal yang kamu lakukan. Semua perbuatan kotor serta hal tidak wajar disaksikan oleh dia. Iyakan, Putri?"


Semua mata langsung tertuju pada Putri termasuk mata Bening. Gadis itu membenarkan dengan cara mengangguk. Hah? bisa-bisanya dia melakukan semua ini pada Bening. Padahal mereka adalah teman baik, atau mungkin hanya Bening yang merasa mereka teman? Tapi mereka dekat, bahkan baru semalam mereka bercerita tentang cowok, kenapa hari ini semua berubah?


Semua orang mulai berbisik-bisik. Sudah pasti mereka membicarakan Bening. Mungkin topiknya lontehh yang terlihat polos atau entahlah!


Gadis itu hancur saat ini. Apa memakai sepatu pemberian pacar salah? Ah lagian kenapa dia harus memakai sepatu itu? Bukan, kenapa dia ke kantin hari ini! Tidakkkk, kenapa dia masuk hari ini! Tapi intinya, kenapa semua orang tega padanya? Apalagi Putri!


Tiba-tiba Andra dan Reno berdiri. Semua mata beralih pada keduanya. Mereka berjalan menuju Bening. Di saat itulah Andra memeluk gadis itu di depan mata semua orang.


"Livy, elo bilang apa tadi?" Reno mengambil peran sebagai pedebat.


"Re-Reno.." gadis itu tidak percaya diperhadapkan langsung pada Reno.


"Kalo pun Bening open bo, apa urusannya dengan elo? Lagian kalo pun itu benar, artinya dia gadis yang laris. Dia pekerja keras, bisa dapat duit tanpa menyusahkan orang lain! Emangnya elo bisa dapat duit dengan jual tubuh? Elo yakin ada yang mau sama elo? Coba aja elo open BO, kalo kata gue mah ga bakal laku!"


"Re-Ren," wajah Livy berubah pias. Dia merasa dipermalukam di hadapan banyak orang. Ini menyangkut reputasinya.


"Apa? Elo mau coba anu? Gue sebagai cowok mikir seratus juta kali sih buat milih elo! Bahkan kalo sekarang elo ngasih anu elo gratis, gua tetap ogah!"


Bening mencengkram baju Andra. Dia tidak berani melihat siapapun. Merasakan harga dirinya sudah hancur berkeping-keping. Tapi dia masih merasa sedikit terselamatkan oleh kedatangan kedua manusia itu.


"Sttt, kita pergi dari sini..." Andra berbisik lembut di dekat telinga Bening. Gadis itu tidak menjawab.


"Ren," panggil Andra. Yang dipanggil menoleh. "Bawa Bening pergi dari sini."


Reno mengerti maksud Andra. Segera dia menggantikan posisi Andra lalu membawa Bening meninggalkan kantin. Biarkan cowok itu yang menyelesaikannya permasalahan ini.


"Livy, bukankah gue sudah memperingatkan ini sebelumnya?" ucapan Andra terdengar dingin. Livy menunduk dalam.


"Sepatu yang dipakai oleh Bening adalah hadiah dari gue. Dia tidak seburuk yang elo kira. Dia gadis yang baik, jangan menyakitinya lagi." semua orang mendengar perkataan Andra meski cowok itu berkata pelan. Dia menatap meja yang dikelilingi oleh gadis-gadis yang menyukainya. "Kalian semua sudah cukup menyakitinya. Gue memperingatkan untuk yang terakhir kalinya."

__ADS_1


Andra membalik badan, hendak menyusul Reno dan Bening tapi dia teringat sesuatu. Dia membalik badannya dan menatap Putri dengan penuh kekecewaan. "Dan elo, gue ga habis pikir ada manusia sejahat elo! Padahal Bening selalu bilang ke gue kalo elo teman yang baik. Dasar tidak berperasaan!"


__ADS_2