
Hari ini Andra melakukan kemoterapi untuk yang pertama kalinya. Dan akan berlanjut sampai lima hari ke depan secara berturut-turut. Hal tersebut mengharuskan dia menghuni kamar rumah sakit itu sampai Dokter Seno mengijinkannya pulang.
Hari ini, sebelum dia melakukan kemoterapi, dia menghubungi mamanya dan memberitahu bahwa ada acara sampai satu Minggu ke depan. Dia izin tidak pulang. Awalnya mamanya tidak mengijinkan, tapi setelah Reno membantunya menjelaskan dengan susah payah dan jaminan penuh akhirnya Leoni memberikan izin.
Malam hari Reno datang ke rumah sakit dan membawakan makanan untuk Andra. Dia melihat sesosok Andra yang biasanya berwajah serius sedang melemah di atas kasur rumah sakit. Ini terlihat asing, tapi mulai sekarang dia harus menerimanya.
"Man, ayo makan dulu!" ajaknya.
Andra yang sedang termenung menjawab, "Gua belum laper."
"Njir, lu udah penyakitan masih aja nyari penyakit!" omel Reno. "Ini gua di suruh sama papa buat nganterin makanan ini. Katanya lu harus habisin."
Mendengar makanan itu dari dokter Seno mood makan Andra langsung meningkat. Entah kenapa dia merasa apapun yang disuruh oleh Om Seno adalah hal yang wajib dia lakukan. Sebab dia yakin kesembuhan itu ada jika dia disiplin.
Andra berusaha bangkit tapi dia terlalu lemah. Sepertinya teganaganya telah habis terkuras hari ini. Beruntung Reno langsung sigap membantunya untuk duduk.
"Minta bantuan napa!" omel Reno lagi.
Andra hanya berhehe saja.
"Gua denger semalam lu nyelamatin Bening ya?" tanya Andra sambil mengaduk bubur yang dibawakan oleh Reno.
Reno menarik kursi agar bisa duduk di dekat ranjang Andra. "Dia cerita ya?" sambil duduk di kursi.
"Iya, tapi sekilas doang."
"Lupain aja, gua udah memastikan kalo situasi itu tidak akan terulang lagi." menatap Andra yang berusaha menelan buburnya. "Kenapa? Apa buburnya segaenak itu?"
"Kerongkongan gua sakit." jawab Andra. "Makasih ya Ren udah baik sama Bening."
"Njir, akhir-akhir ini gua sering dapet kata terima kasih nih dari seorang Andra. Itu suatu kehormatan loh."
Andra melanjutkan makannya tanpa peduli dengan ucapan Reno. "Gua boleh minta tolong ga?"
"Minta tolong apa?"
"Ini tentang Bening." ucap Andra. Ekspresi Reno mendadak berubah.
"Kenapa dia?"
"Engga, gua cuma minta tolong jagain dia sampai nanti gua keluar dari rumah sakit."
Reno mengangguk. "Aman." ucapnya.
__ADS_1
"Sama satu lagi, gue kan lagi ga boleh banyak main hape. Jadi, tolong pegang hape gua dan kabarin orang tua gua. Bilang apa aja, yang penting mereka yakin kalo gue baik-baik saja."
"Bwoleh."
"Hehe, maaf dan terimakasih." ucap Andra sambil tersenyum dengan mulut yang penuh dengan bubur.
"Apaan sih, abisin dulu buburnya baru ngobrol!" celoteh Reno.
"Hehe, baik kak."
Esok hari pun tiba. Reno berangkat dari rumah sakit. Dia izin ke Andra tidak bisa menjenguknya hari ini sebab dia ada urusan dengan organisasinya. Andra bilang tidak apa-apa selama Reno menjaga Bening untuknya.
Hari ini jarak yang Reno tempuh cukup jauh hanya karena menjemput Bening. Padahal, sekolahnya hanya berjarak tiga ratus meter dari rumah sakit tempat Andra dirawat. Janjinya menjaga gadis itu membuat dia harus merelakan diri untuk capek. Lagian, ini hanya sebentar saja. Sampai ketika Andra dinyatakan keluar dari rumah sakit. Paling satu Minggu, itupun sudah paling lama.
"Pagi Bening," sapa Reno dari jendela mobil yang sengaja dia buka. Tatapannya lurus pada gadis cantik yang sedang duduk manis di depan teras rumah. Gadis itu memakai seragam sekolah lengkap dengan sepatu branded pemberian Andra. Tas warna pink nya menggantung di punggung. Dia kelihatan ceria seperti biasanya.
"Reno? Kamu ngapain ke sini?" tanya Bening agak bingung.
"Jemput kamu." jawab Reno.
"Ha? Jemput aku?" dia ngelag sebentar. "Ga usah, Andra sebentar lagi datang kok," jawab Bening.
"Andra ga bakal datang. Dia lagi ada urusan makanya dia menyuruhku untuk menjemput mu." Reno memberitahu.
"Emang iya? Kok dia ga ngabarin aku sih?" ucap Bening agak sebal.
Bening tersenyum paksa. Kalo tau Andra ga bakal datang mending dari tadi dia berangkat naik bis. Kenapa dia harus berangkat bareng Reno yang nyebelin itu! Tapi kalo menolak sama aja dia membiarkan dirinya terlambat.
"Ayo!" desak Reno.
Tuh kan, dia beda banget sama Andra! Kayanya dia orang yang ga sabaran deh. Tebak Bening dalam hati.
"I-Iya," jawabnya bergegas masuk. Entah kenapa setelah kejadian malam itu dia jadi agak takut sama Reno. Karena itu pertama kalinya dia melihat seorang manusia mengamuk seperti sedang kesurupan. Kalo diingat-ingat lagi kayanya dia benaran kesurupan deh malam itu. Serem banget!
Setelah mereka saling terdiam selama beberapa menit, akhirnya Bening memutuskan untuk membuka obrolan.
"Andra ada urusan apa sih? Kenapa akhir-akhir ini dia banyak urusan?"
Reno bergidik. "Dia melarang ku memberitahu mu." jawabnya jujur.
"Hah? Kenapa seperti itu?"
"Ga tau, dia orangnya memang aneh. Penuh rahasia lagi!" jawab Reno.
__ADS_1
"Apaan sih Ren! Jangan buat overthingking!"
"Ya tapi itu fakta." lanjut Reno.
Bening menggereyotkan bibirnya. Dia menatap Reno yang sedang menyetir dengan pandang penuh permohonan. "Dia lagi apa, tolong beritahu aku."
Reno menarik nafas dalam-dalam. "Tapi kamu jangan bilang-bilang ke dia ya kalo aku yang memberitahu mu,"
"OKE!"
"Janji?" Reno mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Bening.
"Janji," Bening menautkan kelingking mereka.
"Sebenarnya Andra tuh sedang mengikuti pelatihan intensif astronomi. Kebetulan rencana dia ingin mengikuti ujian astronot setelah lulus nanti. Nah, kalo mau jadi astronot kan butuh banyak hal ya, termasuk pelatihan intensif. Jadi dia sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri." ucap Reno dengan ekspresi yang serius.
"Kok dia ga ngasih tau aku sih?"
"Nah makanya itu tadi aku bilang dia aneh. Aku udah nanya sama dia, terus katanya dia mau memberitahu kalo dia sudah lulus tesnya. Jadi semacam surprise gitulah."
Bening terdiam. Dia tidak tau bagaimana cara menanggapinya. Satu sisi dia kecewa karena Andra menyembunyikan hal seperti itu, tapi di sisi lain dia keren banget karena ingin memberikan surprise semacam itu. Jadinya dia bingung sekarang.
"Tesnya setelah lulus?"
"Kurang tau sih, tapi kemungkinan iya deh. Dia juga tidak memberitahuku kapan jelasnya."
Bening terkekeh kecil. "Mungkin reaksiku pura-pura kaget aja kali ya kalo semisal dia lolos."
"Ya benar, kalo semisal dia berhasil lebih tepatnya."
***
"Om? Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Andra ketika hanya ada dia dan dokter Seno di ruangan.
"Boleh." jawab pria itu sambil mengisi infus Andra dengan obat yang baru.
"Apakah penderita kanker sepertiku diperbolehkan ciuman?"
Dokter Seno tersentak mendengar pertanyaan itu. "Kenapa? Kamu ingin berciuman?"
Andra mengangguk. "Sudah lama aku ingin melakukannya, tapi aku takut itu hal yang berbahaya."
"Hmmm, gimana ya," dokter Seno berfikir. "Boleh aja sih, tapi usahakan cuma kecupan manis aja. Soalnya ada beberapa kasus yang membahayakan akibat penderita penyakit kanker melakukan itu. Salah satunya ada yang menular. Bukan penderita leukimia sih, tapi untuk menghindari sebaiknya jangan sampai yang bertaut gitu. Soalnya virus bisa menyebar melalui air liur." tutur dokter Seno.
__ADS_1
Andra tersenyum kecil. "Jadinya intinya boleh kan?"
"Boleh."