Catatan Andra

Catatan Andra
Terbongkar


__ADS_3

Andra menutup buku catatannya. Pagi ini dia mengawali aktivitasnya dengan menulis perasaannya di buku catatan spesialnya. Dia kembali menyimpan buku itu.


Hari ini entah kenapa dia merasa sangat lemah. Seperti tak berdaya melakukan apapun. Apa sebaiknya dia gak usah masuk ya?


Andra memakai seragamnya. Tapi hari ini dia tidak akan ke sekolah. Melainkan ke rumah sakit untuk menemui dokter Seno. Dia ingin beristirahat di rumah sakit aja daripada di kamar yang nantinya akan menimbulkan kecurigaan orangtuanya.


Dia sudah menghubungi dokter Seno dan pria itu memperbolehkannya ke rumah sakit.


Andra turun untuk menikmati sarapan pagi bersama keluarganya.


"Are you okey, sayang?" tanya Mama saat Andra masih berjarak kira-kira lima meter dari meja makan. Dia hanya mengangguk lemah.


"Sepertinya kamu sedang sakit, sayang..." Mama sedikit khawatir melihat Andra berjalan sempoyongan.


"A... ak.. aku baik-baik saja..." katanya lemah. Namun tiba-tiba dia memuntahkan banyak darah sebelum berhasil mencapai meja makan.


"Andra!!" Papa langsung khawatir dan mendekati Andra.


"Andra baik-baik saja Pa," ucapannya tersenyum dengan mulut yang berlumur darah. Lalu setelah mengatakan itu dia pingsan.


***


Rapat diundur, Andrio tidak berangkat ke sekolah, arisan hari ini dibatalkan. Seluruh agenda keluarga Michael terhenti saat Andra Michael pingsan. Mereka membawanya ke rumah sakit. Kebetulan sekali Seno kembali menjadi orang yang menangani Andra.


Dokter Seno keluar dari ruang pemeriksaan. Arnold, Leoni langsung berdiri menyambutnya dengan pertanyaan.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Arnold tidak sabaran.


Seno terdiam sejenak. "Masuklah!"


"Ada apa dengan Andra? Kenapa tadi dia memuntahkan darah?" tanya Arnold sambil terus berjalan di belakang dokter Seno. Di ruangan mereka melihat Andra belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Duduklah, lihat anakmu yang kuat itu. Aku tak dapat berkata apa-apa." bukannya menjawab dokter Seno malah membuat kedua orang tua itu bingung.


"Sebenarnya dia kenapa?" Arnold kembali bertanya. Dia tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan jawaban.


Seno terdiam lagi. Dia menarik kursi dan duduk di sebelah kanan tubuh Andra. Ia mempersilahkan Arnold, Leoni serta anak kecil bernama Andrio itu untuk duduk di sisi kiri Andra.


"Aku tidak berani memberitahu ini, tapi sepertinya sudah saatnya kalian mengetahui kebenarannya. Tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan ini."


"Apa maksudmu? Jangan membuatku takut!" kata Arnold bergetar. Leoni hanya menunjukkan rasa khawatir dengan mencengkram celananya sendiri.


"Sebenarnya Andra sudah lama menderita kanker darah."


"APAAA?" Leoni kaget.


"Iya. Dia sudah tau itu semenjak dia masih kelas dua SMA. Tapi, dia sangat waspada dengan kalian. Andra tidak ingin kalian tau kalo dia sedang sakit seperti ini. Padahal, dari awal saya sudah mengingatkan bahwa sepandai-pandainya dia menyembunyikan semua ini suatu saat akan ketahuan juga. Tapi dia selalu mengatakan bahwa dia bisa menyembunyikannya."


"Aku akui, dia memang hebat. Bahkan setelah melalui banyak hal dia masih bisa terlihat biasa aja."


"Aku kaget." airmata Arnold menetes. "Dan yang paling membuatku kaget adalah, kamu tau semua ini dan kamu tidak memberitahuku."


"Memangnya kamu peduli padanya?" Seno mengatakan hal yang dikatakan Andra saat itu.


"Apa maksudmu? Andra itu anak kesayangan ku! Mana mungkin aku tidak peduli padanya!"


"Mungkin kamu merasa demikian, tapi bagi Andra kamu tidak sebaik itu. Saya percaya pada Andra, sebab kalo kamu peduli padanya, tidak mungkin kamu tidak tau kondisinya sudah separah ini."


Suara tangisan Leoni tiba-tiba memecahkan ruangan tempat Andra dirawat. Dia merasakan kegagalan yang luar biasa. Andra? Anaknya yang terkenal sangat dingin itu? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?


Leoni berdiri, menatap tubuh anaknya yang kelihatan tak berdaya. "Sayang, kamu dengar Mama, kan? Ayo bangun sayang, Mama akan memasak apapun yang kamu mau. Ayoooo, kamu harus sembuh.." memeluk tubuh Andra.


Arnold juga tak kuasa menahan tangisnya. Dia tidak bisa menyembunyikan air matanya lagi.

__ADS_1


"Tapi, dia masih bisa sembuh kan?"


Seno bergidik. "Kecil kemungkinannya. Kankernya sudah stadium akhir. Dia juga sudah menjalani kemoterapi sebanyak dua kali. Aku tidak bisa memastikan apakah dia bisa bertahan atau tidak."


"Bisa! Anakku pasti bisa sembuh."


***


Reno menunggu Bening di depan kelasnya. Dia takut Bening pulang sendiri lagi tanpa memberitahunya. Dia tau, Bening mungkin merasa merepotkan sehingga memilih pulang jalan kaki.


Jam 3 lewat anak kelas XII IPA 9 berhamburan keluar. Beberapa orang yang baru keluar dari kelas agak kaget melihat sesosok Reno berdiri menyender di dekat tiang. Pernyataan demi pertanyaan pun muncul, salah satunya kenapa cowok yang terkenal tengil itu ada di depan kelas mereka? Siapa yang dia tungguin?


Saat Bening keluar mendadak cowok itu langsung heboh. "Bening, ayo pulang.. kamu ga boleh jalan kaki lagi!" tangannya langsung ditarik oleh Reno. Beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu melongo. Dalam hati mereka bertanya-tanya, bisa-bisanya orang seperti Bening didekati oleh cowo cowo spek dewa. Sebenarnya dia memakai pelet apa sih?


"Ren, tolong jangan begini dong, aku malu." Bening menarik tangannya.


"Eh?"


"Kumohon hentikan semua ini."


"Ada apa Bening?" Reno menatap wajah Bening. Gadis itu tertunduk malu.


"Beberapa orang pernah mengataiku cewek yang tidak benar karena kamu terlalu begini padaku. Padahal sudah banyak yang tau kalo aku pacaran sama Andra. Dan semua orang tau kamu pacaran dengan Anastasya. Bisakah kita bertingkah biasa aja? Atau mau kah kamu pura-pura ga kenal samaku mulai sekarang?" Bening memilih untuk menyelesaikan semua ini dengan membicarakannya secara langsung. Dia agak risih juga menanggung semua hujatan orang. Apalagi Anastasya yang hampir tiap hari mengiriminya pesan kotor, mengatakan kalo Bening telah merebut Reno darinya.


Reno menarik nafas dalam-dalam. "Baiklah, kalo itu yang kamu mau. Aku menghargai perkataan mu." ucap Reno.


"Mulai sekarang, kamu tidak usah menjemput ataupun mengantar aku pulang. Kalo Andra sedang sibuk aku bisa berangkat sendiri. Kamu tidak perlu menuruti kemauan Andra. Bilang aja kalo aku baik-baik saja."


Reno mengangguk. "Baik. Maaf jika selama ini sikapku ternyata menggagu mu."


"Tidak apa-apa." jawab Bening lalu meninggalkan Reno.

__ADS_1


Reno merenung saat perjalanan pulang. Hari ini ada banyak hal yang membuatnya merasa gagal. Andra masuk rumah sakit dan orangtuanya sudah tau yang sebenarnya, Bening menganggapnya sebagai pengganggu selama ini, dan hatinya retak mendengar Anastasya jadian dengan cowok lain. Dia bingung harus bagaimana ke depannya.


Cowok itu melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Dia ingin menemui Andra sekarang, dia ingin menangis di hadapan Andra.


__ADS_2