
Hari ini Bening dijemput oleh supir pribadi Reno. Sesuai perintah Reno, mereka akan terbang ke Indonesia malam ini. Bening langsung masuk ke dalam mobil. Dia ceria banget. Selain karena akan bertemu dengan Andra dia juga akhirnya bisa pulang setelah tujuh tahun menetap di USA.
Dia juga kangen dengan suasan di Indonesia. Terlebih ibunya. Meskipun ibunya baru empat bulan yang lalu datang menemuinya. Orang tua Reno kebetulan kangen sama Reno jadi mereka sekalian membawa ibu Bening. Sebenarnya mah Reno dalang dibalik semuanya. Dan Bening sebenarnya tau tentang itu.
Setelah melewati 21 jam penerbangan akhirnya mereka sampai di tanah air. Mereka dijemput langsung oleh papanya Reno. Pria itu telah banyak berubah. Kulitnya sudah mulai mengerut, rambut di kepalanya juga sudah mulai memutih. Tapi meskipun demikian dia terlihat sehat dan bugar.
"Nak Bening makin cantik aja nih," pria itu tersenyum pada Bening.
"Terima kasih, Om."
"Jelas dong, Pah, dia kan calon menantu Papa," Reno tersenyum jahil. Segera Bening mencubitnya.
"Hahaha," pria itu hanya tertawa sebagai respon terhadap ucapan Reno. Tak terasa mereka memasuki gerbang rumah Reno.
"Ayo masuk!" ajak Reno.
"Aku mau langsung pulang aja,"
"Apaan sih!" Reno langsung merangkul Bening untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.
"look who's coming!" mama Reno langsung meregangkan tangannya agar Reno memeluknya.
"Calon mantu Mama juga ikut pulang ternyata..." wanita itu kini memeluk Bening. "Apa kabar kamu, sayang?"
"Baik, Tante.."
"Baguslah, kamu makin cakep aja." wanita itu mencolek pipi Bening. "Ren, kapan kamu akan membawanya menjadi seorang istri ke sini?" tanya Mama sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Sabar, Ma... Sabar.." jawab Reno pelan.
"Yaudah, kita makan dulu ya... Kalian pasti sudah lapar setelah melalui penerbang sejauh itu."
"Tentu saja, ayo kita makan Bening..."
Setelah makan Bening meminta agar dia diantarkan pulang ke rumah ibunya. Bening juga sudah menghubungi Nina sahabatnya. Mereka akan bertemu sebentar lagi.
Reno mengemudikan mobilnya ke arah rumah Bening. Sekarang mereka tidak tinggal di gang sempit itu lagi. Kini Bening sudah membeli rumah dua lantai yang lebih dari cukup untuk dihuni ibunya. Wanita itu juga tidak berkerja lagi semenjak Bening sudah bisa menghasilkan uang. Reno sengaja membeli rumah dengan model halaman yang luas agar Ibu Bening bisa menghabiskan waktunya dengan berkebun. Terbukti wanita itu sangat bahagia mendapat rumah seperti itu.
Di rumah ibu sidah menunggunya. Berbagai jenis makanan sudah disiapkan. Bening langsung melompat dan memeluk ibunya saat dia baru saja keluar dari mobil.
"Ibuu..."
"Sayang..."
"Aku kangen banget sama ibu.."
__ADS_1
"Haha, Ibu juga sayang..."
"Halo Bu," Reno mendekati wanita itu setelah pelukan bening lepas. Ia mencium punggung tangan Ibu Bening.
"Nak Reno... Apa kabar kamu, Nak?"
"Baik, Bu..."
"Syukurlah. Ayo masuk dulu, kita makan siang. Kalian pasti sudah lapar."
"Kita udah makan Bu!" mereka berdua kompak menjawab.
"Yah, masa masakan ibu ga dimakan sih!" Ibu tampak kecewa.
"Yaudah, kita makan lagi aja Bening," saran Reno.
"Haha, iyaa, ayoo. Kayaknya kita datang ke sini emang untuk makan deh," balas Bening sambil tersenyum kaku.
***
"Gila, demi apapun aku gak percaya teman terbaikku sudah sukses sekarang," Nina memeluk Bening dengan erat. Sudah tujuh tahun lamanya mereka tidak bertemu. Hari ini Nina datang ke rumah Bening dan menemuinya di kamar.
"Haha, kamu mah selalu begitu. Maafin aku ya ga bisa hadir di hari pernikahan mu waktu itu. Tapi sepertinya aku bisa hadir di acara lahiran pertama mu," Bening mengusap perut Nina yang membuncit sebesar bola. Dia mengajaknya duduk di atas ranjang.
"Tau aja kalo aku akan lahiran bulan ini," Nina agak merengek.
"Hehe." Nina tertawa kecil.
"Aku gak nyangka loh kalo pada akhirnya kamu akan menikah dengan Richard." gadis berambut panjang itu menerawang ke masa-masa sekolah dulu. Nina dan Richard adalah definisi Tom and Jerry. Kerjaannya berantem mulu. Pasti tidak ada satupun yang menyangka bahwa mereka akan berlabuh.
"Masa depan tidak ada yang tau, Bening. Semua masih menjadi misteri sebelum kita menjalaninya."
Bening tersenyum. "Benar juga."
"Kamu kapan menyusul?" tanya Nina dibarengi senyuman jahil.
"Belum tau, belum ada calonnya."
"Ga ada calonnya ga tuh!"
"Hehe. Saat ini aku belum kepikiran menikah. Sebab masa depanku ada ditangan Andra. Kalo semisal dia melamar ku aku akan langsung mau sih." jawab Bening tersenyum.
"Pasti akan sangat bahagia jika hari itu tiba. Aku ingin menjadi pagar ayu."
"Tentu saja, tentu saja kamu akan menjadi pagar ayu dipernikahan ku nanti."
__ADS_1
"Hehe, jadi ga sabar."
"Bagaimana dengan teman-teman yang lain?" Bening sungguh tidak tau kabar temannya yang lain. Paling hanya beberapa yang dia follow di Instagram. Lagipula, dia tidak terlalu sering membuka media sosial karena terlalu sibuk di kehidupan nyata.
"Yah, begitulah... susah banyak yang nikah. Banyak juga yang melanjutkan studi ke luar negeri." Nina memberitahu.
"Benarkah? Baguslah," kata Bening.
"Kamu sendiri apa kesibukan mu selain melayani suamimu?"
"Aku menjadi editor novel. Sebagi info aku yang menjadi editor buku 'Anak Misterius ' buku paling populer saat ini." kata Nina agak sombong.
"Wow, keren banget."
"Kamu harus baca buku itu. Seriusan, itu buku paling menyentuh yang pernah aku baca. Aku sampai nangis-nangis sewaktu mengeditnya." cerita Nina.
"Emang iya? Siapa penulisnya?"
"Astaga! Masa kamu nggak tau!" Nina sedikit shock.
"Kita udah dibelahan dunia yang berbeda, sayangku. Orang yang terkenal di sini berbeda dengan orang terkenal di sana." katanya mengingatkan.
"Iya sih, hehe,"
"Emang siapa penulisnya?"
"Leoni Maris," jawab Nina.
"Hah? Itu Tante Leoni kan? Mamanya Andra?"
"Iya. Makanya aku bilang mustahil kamu tidak tau!!"
"Yang bener? Seriusan aku nggak tau Nin,"
"Iya.. dia jadi penulis udah lama. Karyanya juga banyak digemari oleh anak muda dan orang tua. Biasanya dia memberikan tips-tips yang berguna bagi orang tua dalam merawat anaknya."
"Waduhhh, kok bisa-bisanya aku gak tau yaa..."
"Tapi kenapa Tante Leoni jadi penulis? Bukankah dia seorang ibu sosialita kelas atas?"
Nina terdiam. Dia ingat, dia pernah menanyakan hal yang sama langsung pada orangnya. Dan jawaban dari Leoni cukup menusuk jantungnya.
"Aku kurang tau juga. Tapi semua orang bisa berubah."
"Benar juga." kata Bening. "Btw, besok aku mau ketemu sama Andra. Aku gak sabar lagi. Kayanya hari ini aku harus tidur, luluran, maskeran pokoknya besok harus terlihat cakep. Duhhh,"
__ADS_1
Nina tersenyum. "Benar juga. Kamu harus bahagia Bening. Aku pernah menjanjikan itu pada seseorang."