Catatan Andra

Catatan Andra
Rumah Andra


__ADS_3

"Ha? Seriusan? Terus gimana?" Reno mengikuti Andra dari belakang setelah cowok itu memberitahu bahwa dia memaksa untuk memberikan kursinya untuk Bening.


"Iya. Tapi katanya ga bisa." jawab Andra. Ia duduk di pondok baca dan diikuti oleh Reno.


"Loh?"


"Padahal ini kesempatan yang bagus untuk Bening. Kalo semisal dia tidak dapat beasiswa mungkin dia tidak bisa melanjut ke perguruan tinggi."


"Itu beasiswa full, ya?"


"Iya. Lagipula itu universitas terbaik di dunia."


"Keren itu. Ayo! Kita harus membuat Bening bisa ikut ujian!" kata Reno antusias.


Andra menatap Reno. Tatapannya sayu. Dia tersenyum kecil. "Makasih ya Ren," ucapnya.


Reno mengerutkan keningnya. "What for?"


"Pendaftarannya hanya satu minggu ini doang. Berarti kita harus mencari cara agar nilai Bening bisa di rata-rata 94." Andra malah mengalihkan pembicaraan.


"Aku punya ide." kata Reno.


"Apa?" Andra langsung antusias.


"Gimana kalo nama elo yang tetap di daftarin tapi dia yang pergi ujian. Jadi kalo semisal masuk nama dia jadi Andra." saran Reno.


"Kasih saran yang benar lah. Jangan membuat posisi dia terancam juga."


"Hmm..."


"Sebenarnya gue punya ide, cuman ini agak berbahaya sih," Andra berkata pelan.


"Apaan tuh Bang Messi?"


"Gue mau nge-hack akun dapodik. Nanti nilainya gue ganti. Tapi kayanya ga gampang deh,"


"Gile lu!" Reno benaran panik. "Elo jangan macam-macam sama pemerintah!"


Andra menatap Reno sekali lagi. Dia tersenyum lalu berkata, "Apapun akan gue lakukan untuk Bening."


***

__ADS_1


"Kamu mau mampir ke rumahku ga?" tanya Andra saat baru saja Bening sampai di depan gerbang sekolah.


"Ga mau ah." tolak Bening. Ini sudah kesekian kalinya dia menolak permintaan Andra untuk mengenalkannya pada orang terdekat Andra.


"Loh, kenapa?"


"Aku takut,"


"Siapa yang perlu kamu takutkan? Ayo!"


Andra benaran membawa Bening menuju rumahnya. Jantung gadis itu mengombak tak karuan. Ia tau bahwa keluarga Andra pasti tidak akan menyukainya karena dia berasal dari kalangan bawah. Tapi dia juga tidak bisa menolak Andra lagi. Sudahlah, dia harus menerima kenyataan apapun yang akan terjadi.


Tidak terasa mobil hitam itu menembus gerbang yang terbuka lebar. Keduanya turun setelah benda itu diparkiran. Andra langsung menggenggam tangan Bening, meyakinkan kalo semua akan baik-baik saja. Mereka melangkah bersama menuju pintu utama.


Bening agak ragu saat melihat rumah Andra sebelas dua belas sama rumah Reno. Gila, kedua manusia itu benaran anak konglomerat. Kayanya kalo pun mereka bermalas-malasan dan tidak punya tujuan hidup tidak akan jadi gembel deh. Hehe, Bening jadi agak iri sama mereka.


"Duduk dulu," Andra menawarkan. Bening hanya menurut.


"Sayang, kamu udah pulang?" Mama tiba-tiba muncul dari arah belakang. Andra tidak menjawab.


"Halo Tante," Bening langsung berdiri, memperhatikan wanita itu sejenak. Gila, wanita itu cantik banget. Kelihatan masih muda dan fashion nya bagus. Jika dilihat dari penampilan, wanita itu lebih cocok dipanggil kakak oleh Andra ketimbang dipanggil Mama.


"Nama saya Bening, Tante." jawabnya sambil menyalim wanita itu.


"Oooo, kamu yang namanya Bening," wanita itu tersenyum. "Wahh, kamu imut banget,"


"Hehe, makasih Tante..."


"Oh iya, Bening udah makan belum?" wanita cantik itu bertanya pada Bening.


"Belum, Ma. Andra juga belum makan," sahut Andra. Mama mengalihkan pandangannya pada Andra lalu tersenyum tipis.


"Wah, kalo begini Mama sangat bersemangat untuk menyiapkan makan siang... Bening sayang, ayo bantu Tante menyiapkan makanan..."


Bening tidak menyangka akan diperlakukan demikian oleh mamanya Andra. Dia pikir akan diwawancarai dulu sebelum diijinkan masuk. Ternyata benar kata Andra, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Ayo, sayang..." Mama memegang tangan Bening.


"E-eh, iya Tante.." jawab Bening gugup.


"Tas kamu tinggalin aja sayang. Ga bakal ilang kok,"

__ADS_1


"Baik Tante," jawab Bening sambil melepaskan tasnya. Andra tersenyum bahagia melihat Bening. Dia bahagia hari ini. Mungkin kedepannya juga akan demikian. Selama Bening ada bersamanya.


"Kamu tau nggak sih, Andra berubah drastis akhir-akhir ini. Tante sangat senang." wanita cantik berambut panjang tergerai itu tersenyum menatap Bening. Di dapur mereka malah ngobrol sebab semua makanan sudah disiapkan oleh koki.


"Bening, makasih banyak sudah hadir di samping Andra..." tiba-tiba saja wanita itu memeluk Bening.


"E-eh..." Bening tidak mengerti keadaan macam apa ini. Dia merasa tidak pernah melakukan apapun untuk Andra. Andra lah yang selalu membantunya. Yang selalu ada saat dia butuh. Yang memberikan warna di hidupnya. Dia tidak menerima kata terima kasih dari wanita itu.


"Ma-maaf Tante, tapi saya tidak melakukan apapun.."


Wanita itu melepaskan pelukannya. Dia membingkai wajah Bening dengan kedua tangannya. "Tante yakin, dia bisa seperti sekarang karena adanya dirimu."


"Maaf Tante, bukannya Andra selalu menjadi anak yang baik ya?"


Wanita itu menggaguk. "Dia memang anak yang baik, tapi kadang dia batu dan nekat. Dia juga tidak pernah ramah sama orang lain. Sebelumnya dia jarang makan di rumah. Jarang ngobrol dengan kami. Sikapnya amat dingin. Dia sering keluar-keluar, melakukan aksi-aksi berbahaya. Tapi akhir-akhir ini dia berubah drastis. Dia kelihatan lebih semangat dan berwarna. Andra sudah lebih baik," Mama Andra menerawang jauh.


Gadis itu bingung. Sejak pertama kali dia mengenal Andra, ya mungkin sejak kelas sepuluh, yang dia tau Andra itu anak yang baik dan ambisius. Kata orang dia anak yang sempurna karena hampir tidak memiliki celah. Tapi kenapa ceritanya berbeda dengan kenyataan di rumah? Apakah Andra menyembunyikan sesuatu?


"Sekali lagi makasih ya sayang..." Mama Andra tiba-tiba memeluk Bening. "Makasih sudah mau menjadi pacar Andra."


***


"Mama kamu baik banget," Bening tersenyum cerah. Saat ini mereka berada di kamar Andra, tepatnya di balkon yang menyuguhkan pemandangan yang lumayan. "Makasih ya Andra,"


"Untuk apa?" tanpa menatap Bening.


"Untuk semuanya."


"Aku tidak layak mengatakan sama-sama." ucap Andra datar. Bening tersenyum lemah. Ingin rasanya memeluk Andra di sini, tapi dia takut dipergoki oleh orang-orang di rumah itu. Dia takut di cap wanita murahan.


Andra memperhatikan sebuah mobil yang menembus gerbang rumahnya. Beberapa saat kemudian seorang anak kecil dengan topi terbalik keluar dari dalam mobil. Anak kecil itu menatapnya lalu melambaikan tangan. Wajahnya tidak terlihat jelas, tapi sudah pasti dia sedang tersenyum dari bawah.


"Wah, dia lucu banget. Dia siapa?" tanya Bening gemas.


"Dia adikku. Namanya Andrio Michael." jawab Andra.


"Ha? Kamu punya adik?"


Andra tidak menjawab. Bening merasa bukan pacar yang baik karena ada banyak hal yang tidak dia ketahui tentang Andra. Dia bahkan baru tau kalo Andra punya saudara.


"Maafin aku Andra, maaf karena kurang mengenalmu."

__ADS_1


__ADS_2