Catatan Andra

Catatan Andra
Bertahan


__ADS_3

Andra mulai tersadar saat jam menunjukkan pukul 23.00. Dia mendapati Reno tertidur menungguinya. Reno masih mengenakan baju basket berwarna oranye sama halnya dengan dia.


Andra mulai mengingat kejadian tadi sore saat mereka selesai bertanding. Oh iya, dia tumbang makanya dia bisa berada di rumah sakit sekarang.


Andra berniat kabur dari rumah sakit. Dia tidak ingin merepotkan lebih banyak orang lagi. Makanya dia bergerak tanpa mengeluarkan suara. Tapi sayangnya Reno terbangun saat dia hampir turun dari ranjang.


"Andra..." cowok itu mengangkat wajahnya. Matanya memerah menandakan dia abis menangis cukup lama. Andra tau itu. Sebab tidak ada yang lebih tau Reno lebih dari dia mengenalnya.


"Ren, elo kenapa?" tiba-tiba jiwa tidak tega Andra keluar. Yah, dia memang tidak akan pernah tega membiarkan temannya yang satu itu menangis.


"Man," dia kembali menangis lagi.


"Kenapaa??"


Akhirnya setelah dia mengkondisikan diri Reno memberitahu semua yang dia omongin dengan papanya tadi. Termasuk rencana papanya untuk memberitahukan kondisi Andra pada kedua orangtuanya.


"A-Apa?"


"Iya, gua harus gimana?"


Andra menarik nafas dalam-dalam. "Di mana Om Seno?"


"Tadi dia bilang mau menjemput bokap sama nyokap lu,"


"Telfon Om Seno! Dia tidak boleh memberi tahu mereka!"


Reno terdiam.


"Gua mohon Ren," tiba-tiba Andra menunjukkan raut wajah sangat khawatir.


"Biarin saja Andra, elo terlalu batu. Elo ga bakal mau sembuh kalo kedua orang tua elo ga tau. Gua juga udah putus asa." jawab Reno pelan.


"Elo udah gila!" Andra setengah membentak. "Justru gua akan mati sekarang kalo orang tua gua tau tentang ini!"


"Ren, hentikan Om Seno, pliss." tiba-tiba Andra memohon di depan Reno. Mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil memasang wajah sedih. "Gua menyembunyikan ini demi kebaikan semua orang."


"Tapi elo.."

__ADS_1


"Gua bisa menghadapi ini semua Ren,"


"Hah! Selalu saja begitu! Selalu dan selalu! Sampai kapan elo merasa bisa semua sendirian?" Reno berkata bengis.


"Ren, elo tau gua, kan?" cowok itu memilih memakai taktik mengancam.


"Iya, gua tau. Tau banget malah," jawab Reno.


"Kalo begitu hentikan Om Seno."


Andra seperti menghipnosis cowok itu. Reno langsung mengeluarkan hapenya dan menelfon orang dengan nama kontak Daddy. Orang di seberang langsung menjawabnya.


"Kenapa, Ren?"


"Papa di mana?"


"Lagi di rumah Andra. Kenapa?" jawab Om Seno.


"Apa Papa sudah memberitahukan semuanya?" suara Reno agak parau saat mengatakan semuanya.


"Belum. Ini Papa baru banget sampai ke rumahnya."


"Ini ga bisa diakalin lagi, Nak. Mau sepintar apapun dia menyembunyikan semua ini tetap aja akan ketahuan akhirnya. Jadi akan lebih baik kalo orangtuanya tau semua lebih awal."


"Tapi Reno meminta Papa untuk tidak memberitahu. Reno ga mau Andra kenapa-napa."


"Justru dia akan kenapa-napa kalau dia tetap begini. Sudahlah Ren, kamu diam aja, biar Papa yang menyelesaikan semua ini."


"Reno akan kabur kalo Papa masih nekat memberitahu mereka. Hentikan Pa, Reno mohon." setelah berkata demikian Reno langsung memutus sambungan. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh papanya pada orang tua Andra. Yang jelas dia sudah berusaha menghentikan.


"Makasih, Ren." ucap Andra yang mendengar percakapan itu. Dia siap-siap untuk pulang.


"Elo mau ke mana?" Reno agak shock karena cowok itu turun dari tempat tidur.


"Gua mau balik ke rumah."


"Kata Papa elo harus dirawat dulu jangan main kabur aja."

__ADS_1


"Gua baik-baik aja kok Ren. Sekarang gua ngerasa sehat, sehat banget malah. Elo gausah cemas seperti itu." Andra mengambil tasnya yang ada di samping nakas.


"Oh iya, mobil gua masih ada di sekolah, ya?" tanya Andra.


"Iya."


"Anterin gua Ren, gua mau balik."


"Hmmm, iya."


***


Jam 24.00 Andra baru sampai di depan rumah. Reno langsung pamit pulang karena papanya menyuruhnya ke rumah sakit untuk menjelaskan kenapa Andra mendadak pulang tanpa berkabar terlebih dahulu. Yah bagaimana pun juga Reno lah yang harus bertanggung jawab atas kepulangan temannya itu.


Andra menunggu sampai Reno menghilang dengan mobilnya. Setelah itu dia baru masuk ke dalam rumah. Ternyata orang rumah belum pasa tidur. Mama dan papa serta Andrio masih duduk di sofa ruang utama. Papa sedikit aneh karena baru kali ini pria itu berani merokok di dalam rumah. Mamanya berwajah pias. Sedangkan Andrio sedang asik dengan hape Mama. Andra merasa ada yang tidak beres. Apa kali ini Om Seno sudah benar-benar memberitahu? Kalo ya, Andra bingung harus ngapain.


"Pa, Ma, Yo, kok belom tidur?" Andra terpaksa menyapa agar mereka menyadari kehadirannya.


Pria yang sedang merokok itu memalingkan wajahnya ke wajah Andra. Menunjukkan ekspresi marah. Angin yang aneh tiba-tiba berhembus. Ada perasaan aneh yang menggelayut tiba-tiba. Sebenarnya ada apa ini?


Andra merasa hal terbaik yang bisa dia lakukan saat ini adalah masuk ke kamarnya. Dia lagi males berantem. Apalagi harus mencari alasan kenapa dia pulang malem.


"Andra...." panggil Papa tiba-tiba. Pria itu meletakkan rokoknya yang masih banyak di atas asbak. Dia berjalan ke arah Andra.


Andra menghentikan langkahnya dan membalik tubuh. Ia tau kalau pria itu sedang berada di puncak emosi saat ini. Andra akan menerima semuanya, termasuk kemungkinan terburuk.


"Plokk!" pukulan mendarat di pipi Andra. Sial, dia begitu lemah hingga pukulan seperti itu bisa menghepaskannya.


"Papa pikir semua akan lebih baik kalo Papa mendiamkan mu. Ternyata kamu malah lebih buruk. Sampai kapan Andra... Sampai kapan Papa akan melihatmu seperti ini? Sampai kapan kamu akan menjadi sampah seperti ini?"


Andra menelan ludah. Dia merasa perih di sekujur tubuhnya. Nafasnya memburu. Dia merasa penglihatannya mulai buram lagi.


Aku tidak boleh lemah. Aku harus kelihatan kuat. Kalo aku tumbang sekarang maka sama aja semua usahaku gagal selama ini. Tolong Andra, bertahanlah sedikit lagi. Ucap Andra dalam hati. Dia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dia mengumpulkan tenaga agar bisa berdiri dan kelihatan biasa aja.


"Yah, kamu mungkin berfikir bahwa selama ini Papa senang melihatmu karena kamu sedikit lebih baik. Tapi Papa tidak membutuhkan perubahan di bidang seperti itu! Papa mau lihat kamu naik ke puncak tertinggi lagi. Kamu harus bisa menguasai semuanya!"


Dengan usaha yang ekstra akhirnya Andra bisa berdiri. Menatap papanya yang sedang berekspresi marah. Dia juga melihat mamanya yang terdiam tak berdaya membantunya saat ini. Andrio yang bermata sembab karena tidak rela melihatnya dipukul.

__ADS_1


Sekarang Andra mengerti kenapa Papanya sangat keras padanya. Tapi dia tidak bisa berdebat banyak saat ini. Jadi dia hanya bisa berkata, "Maaf Pa, pemikiran kita berbeda." setelah itu dia berjalan sempoyongan menuju tangga. Semoga dia masih bisa menanjaki tangga itu.


Sial, darah menetes dari hidungnya. Menodai keramik lantai yang mengkilap. Dia menyeka darah itu sekali lagi. Saat kakinya baru saja menapak di antrid tangga pertama keseimbangan tubuhnya sudah menghilang. Beruntung dia masih sempat menggenggam reiling tangga sehingga tubuhnya masih bisa tertahan. Dia mencoba lagi dan akhirnya memilih berhenti di bordes. Dia melihat papanya masih berdiri di tempat tadi. Mamanya juga masih menunduk. Dalam hening dia berkata pelan, "Seandainya aku masih bisa bertahan, aku akan melakukan apapun yang Papa dan Mama mau. Andra akan menjadi anak yang berbakti. Andra berjanji Ma, Pa."


__ADS_2