
Layar komputer memberikan penerangan di kamar Andra yang sudah gelap. Jam di monitor menunjukkan pukul satu dini hari. Andra mengucek matanya, merasa pusing setelah lebih dari lima jam duduk di depan layar.
"Kayanya cukup untuk percobaan di hari ke empat." ucapnya lalu merebahkan kepalanya di samping keyboard. Di layar terpampang jelas akun dapodik. Andra masih berusaha untuk mengubah nilai Bening yang sebenarnya sudah tidak bisa diubah karena telah disimpan permanen.
"Man, gue bisa mengubahnya..." jam setengah tiga pagi Andra mendapat pesan dari Reno. Tapi sayang sekali kabar baik itu tidak langsung dibaca oleh cowok itu, sebab Andra sudah terjatuh ke dalam mimpi.
***
"Ren, gila, gue sayang banget sama elo!" pagi-pagi banget Andra langsung memeluk Reno yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Eh-eh!" Reno kaget dengan perlakuan Andra yang menurutnya di luar nalar. Sudah 13 tahun lamanya mereka berteman belum pernah Andra melakukan hal seperti ini.
"Makasihhh! Makasih banget!" Andra tidak mau melepaskan pelukannya.
"Eh, lo kesurupan apa gimana dah!" Reno berusaha melepaskan tubuh Andra yang menempel ke tubuhnya.
"Eh, itu keren banget sumpah! Gue udah empat hari berusaha sekuat tenaga gue tetap gabisa Ren," kini cowok itu melepaskan pelukannya.
"Oh, ini karena itu ya?" baru ngeh kenapa Andra berubah childist. "Sebenarnya gue juga berusaha setiap harinya. Bahkan tidur gue cuma dua sampai tiga jam doang. Yah, tapi usaha memang tidak akan mengkhianati hasil."
Andra yang sudah rapih dengan seragam sekolah kembali memeluk Reno sekali lagi. "Aaaa, thanks berattt,"
"Hehe iya," kini Reno tidak menolak pelukan itu.
"Huekk, elo bau! Masih belum mandi ya!" buru-buru Andra melepaskan pria itu.
"Hehe, iya."
***
Hari ini Andra bahagia banget. Akhirnya Bening bisa memiliki peluang untuk ikut ujian ke universitas ternama itu. Dia hanya perlu membimbingnya untuk belajar lebih baik lagi. Mungkin dia akan mencari-cari soal yang akan keluar tahun ini dan mengajarkannya secara intensif.
__ADS_1
"Serius aku bisa ikut ujian ini?" Bening tidak percaya ketika Andra menyuruhnya ikut ujian universitas bergengsi dunia.
"Iya, serius sayangku," jawab Andra.
"Ta-tapi..."
"Bening, ini kesempatan yang sangat jarang. Jika kamu lulus maka cita-cita mu menjadi dokter akan terkabulkan. Kamu tidak perlu tidak perlu risau memikirkan biaya lagi," Andra menjelaskan dengan antusias.
"Tapi ga mungkin lulus sih," kata Bening menanggapi perkataan Andra. Cowok itu langsung menggenggam tangan Bening, memberikan senyuman paling cerah yang dia punya.
"Selama kita masih bersama kita bisa melakukannya! Aku akan membantumu,"
Bening menatap Andra tanpa berkedip. Dia mulai mempertanyakan kebaikan Tuhan padanya. Apa Yang Maha Kuasa memberikan Andra sebagai ganti dari semua penderitaan yang selama ini dia alami. Sebelumnya dia belum pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang laki-laki sebab ayahnya meninggal saat dia masih di dalam kandungan. Sekarang dia merasa mendapatkan orang yang bisa mengayomi dan melindunginya.
Andra adalah anugrah terindah yang ada di dalam hidupnya.
"Tapi kok aku bisa mengikuti ujian itu? Bukannya itu khusus buat yang pinter ya?"
"Ah, kamu malah becanda!"
"Hehe,"
"Btw kenapa sih kamu ga pernah make sepatu yang aku belikan? Udah lama aku memberikannya tapi kayanya belum pernah kamu pakai sama sekali." Andra menoleh pada sepatu Bening yang sudah rusak.
"Hmm, aku lupa, maaf ya,"
"Yaudah, besok harus dipakai ya,"
***
"Beb, kenapa sih Andra bisa jadian sama Bening?" hari ini itu pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Anastasya.
__ADS_1
"Karena Andra sayang sama Bening." jawab Reno. Mereka sedang makan di sebuah restoran bintang lima yang bergengsi. Ini sudah menjadi kebiasaan keduanya. Sebenarnya sih karena permintaan Anastasya. Kalo Reno mah makan di mana aja bisa.
"Ya tapikan banyak cewek yang lebih dari dia. Maksudnya tuh, Andra kan keren banget ya, harusnya dia juga dapat cewek yang keren ga sih?" gadis itu berkata sambil ngelap bibirnya yang mungil dengan tissue.
"Biarin aja ga sih. Mungkin Bening yang pas di hatinya." balas Reno. Dia menatap gadis cantik yang malam ini berpenampilan glamor. Gaun merah yang ketat dan terbuka, sepatu hak tinggi yang membuatnya lebih tinggi dari Reno, serta make up yang berlebihan. Lama-lama Reno muak dengan semua kemauan gadis itu.
"Gini loh, beb, aku tuh ngerasa kalo cewek kuntet itu ga ada istimewa sama sekali. Andra kan bisa aja mendapatkan cewe mana aja yang dia mau. Kamu sebagai temannya mikir kaya gitu juga ga sih?"
"Kalo aku sih yaudah aja. Malah sempat aku kagum sama cewek itu karena dia berhasil meluluhkan hati Andra. Padahal kan sudah hampir 18 tahun Andra menutup hati untuk semua orang," Reno malah mengeluarkan pendapat yang menyebabkan Anastasya menunjukkan muka sebal.
"Ih, apa sih memuji cewek lain di depan pacarnya! Jahat banget!" komentar Anastasya.
Reno menghembuskan nafas kasar. "Yaudah, maafin aku, ya, Sya..." memilih untuk mengalah.
"Ga mau!" ketus gadis itu.
"Sya, plis lah jangan kayak anak kecil, lama-lama aku bosen tau!"
"Apa??? Aku kaya anak kecil?" Anastasya menatap Reno tak percaya. "Aku benci sama kamu!" langsung menangis kencang di kursinya. Hal tersebut menyedot perhatian orang yang ada di restoran itu. Dia memang tidak punya malu.
Reno merasa kesal saat menyadari perhatian sebagian besar orang masih pada mereka. Dia tau apa yang sedang dipikiran orang-orang itu. Pasti mereka mengira Reno tidak mau bertanggung jawab setelah berbuat yang tidak baik. Mungkin saja dia dikira lelaki yang tidak bertanggungjawab setelah menghamili pacarnya. Ah, masa bodoh! Toh itu di luar kontrolnya.
Tapi Reno makin bertambah kesal saat Anastasya berkata, "Jangan-jangan kamu selingkuh sama dia ya?"
Tatapan Reno tetap lembut meski emosinya sudah tidak stabil. Dia harus bisa bersikap biasa aja, menerima bahwa Anastasya memang memiliki karakter yang agak berlebihan. Dan dia sudah tau itu sejak awal mereka berpacaran.
"Sya, tolong jangan begini... tolong jangan buat aku malu di depan banyak orang..." Reno berkata lembut.
"Apa? Emang apa yang ku perbuat? Aku kan cuma bilang jangan-jangan kamu selingkuh sama cewek aneh itu!" Anastasya semakin menjadi. Kali ini ditambah isak tangis manja di belakang. Tentu saja dengan intonasi seolah dia benaran di selingkuhi.
Reno bangkit berdiri dan mendekati gadis itu. Wajahnya yang tenang membuat semua orang yakin bahwa dia baik-baik saja. Tiba-tiba dia memeluk Anastasya dan berkata, "Maafkan aku ya, sayang... maaf karena membuat kamu menangis." sambil bibirnya menyentuh ujung kepala gadis itu.
__ADS_1