Catatan Andra

Catatan Andra
Kehilangan adalah Hal yang Pasti


__ADS_3

Saat kita dewasa kita dipaksa menerima semuanya termasuk bagian yang tidak menyenangkan dalam kehidupan ini. Akan ada banyak masalah dan tragedi yang terjadi. Dan tugas seorang dewasa adalah melewatinya dengan solusi terbaik.


Bening tentu merasa hancur. Dunia ini tiba-tiba berubah menjadi kegelapan. Tapi tentu saja ini tidak bisa dia biarkan berlama-lama atau berlarut-larut. Sebab bagaimana pun ceritanya Andra tetaplah sudah pergi. Mau dia nangis sejuta hari pun Andra tidak akan kembali.


Bening duduk memeluk lututnya di balkon kamar. Matanya memandang kosong ke depan. Ini sudah hari ketiga semenjak dia tau kalau semua orang membohonginya. Jujur saja dia tidak marah pada semua orang, karena tentu mereka melakukan itu untuk kebaikan Bening.


Sudah tiga hari pula Bening mengunci diri di dalam kamar. Dia marah pada dirinya sendiri. Mengapa dia terlalu fokus pada dirinya hingga tak tau apapun tentang Andra. Apalagi saat Tante Leoni mengatakan bahwa Andra meninggalkan karena mengidap leukimia. Tentu saja itu suatu kebodohan. Bagaimana pun juga dia selalu bersama dengan Andra kala itu. Tapi tak sedikit pun dia tau tentang riwayat penyakit lelaki itu. Dan itulah penyesalan terbesar Bening.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Bening tau itu pasti ibunya. "Masuk Bu," meski dia mengurung diri dia tetap membiarkan ibunya datang untuk melihatnya.


"Sayang, makan dulu yu!" ajak Ibu setelah masuk ke dalam kamar.


"Ini duluan aja. Bening makan jam satu." balas Bening dengan senyuman lemah.


Ibu mendekati putrinya yang terlihat lelah. Dia memeluknya. "Sayang, maafin Ibu..." ujarnya.


"Kenapa ibu minta maaf?" tanya Bening heran.


"Sebenarnya ibu tau tentang kematian Andra. Ibu juga ikut mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya."


"Apa??"


"Iya. Tapi jauh sebelum Andra meninggal, dia pernah menemui ibu. Dia sebagai kurir. Awalnya dia memperkenalkan diri dan akhirnya kita mengobrol panjang banget." ibu mulai menerawang ke masa itu.


"Dia menceritakan tentang dirinya dan juga dirimu. Memberitahu ibu alasan dia mencintaimu sedalam itu. Dan pada akhirnya dia memberitahu penyakitnya pada ibu. Awalnya ibu sangat terkejut. Tapi dia menjelaskannya dengan hati-hati hingga ibu bisa mengerti keadaan dia. Saat itu dia umurnya tidak lama lagi. Dia menitip pesan agar kabar kematiannya jangan pernah sampai kuping kamu sebelum kamu sukses mengejar impian mu. Dan itu sudah terwujud..." tanpa terasa air mata ibu mendadak bertumpahan.


Bening ikut menangis. Bahkan lelaki itu sampai bisa menemukan ibunya. Andra, dia semakin menyakiti saja.


"Andra adalah anak yang baik, tentu ibu tau. Dia anak yang sopan, berwibawa dan berpengetahuan luas. Ibu bisa tau hanya dengan sekali bertemu dengannya. Sayang sekali orang sepertinya tidak ditakdirkan berumur panjang..."


Bening memeluk ibunya. Tangisnya pecah. Kenyataan pahit ini sungguh menyiksanya. Namun tidak ada hal yang bisa dia lakukan selain menerimanya.


"Ibu... bisakah aku menemukan orang seperti Andra lagi?"


***


Sejauh ini Bening mampu menghindari Reno. Sungguh dia tidak ingin bertemu dengan lelaki itu. Dia merasa selama tujuh tahun terakhir ini dia hidup di dalam kebohongan yang diciptakan oleh Reno.


Hari ini Reno datang lagi. Dia mengetuk pintu kamar Bening dan menunggunya hingga berjam-jam tapi tak kunjung dibuka. Reno sudah mencoba sebisanya tapi sepertinya Bening tidak mau bertemu lagi dengannya. Yah, bajingan sepertinya memang pantas dibenci. Akhirnya setelah lama menunggu hingga dia tertidur di depan kamar Bening, akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Dia akan datang lagi esok hari.

__ADS_1


Malam harinya Tante Leoni dan Andrio datang ke rumah Bening. Dengan mudahnya Andrio bisa masuk ke dalam kamar Bening. Entahlah kenapa dia bisa memutar gagang pintu itu hingga akhirnya terbuka.


"Kak Bening..." panggilnya.


Bening menoleh. Dia melihat sesosok Andra berjalan ke arahnya. Tiba-tiba dia berdiri dan berlari memeluk orang itu. Inilah celakanya terlalu lama hidup di dalam ilusi. Meski dia sudah menerima kenyataan bahwa Andra sudah pergi tetap aja dia berubah menjadi aneh kalo melihat sesuatu yang berhubungan erat dengan Andra.


Andrio tampaknya tak keberatan dengan perlakuan Bening. Dia membiarkan gadis itu memeluknya.


"Eh, maaf Iyo," buru-buru dia melepaskan pelukannya.


"Santai aja kak," sahutnya.


"Kenapa kamu ke sini?"


"Hmm, aku mau ngasih surat kak Andra." ucap Iyo.


"Surat apa?"


"Ga tau, aku juga belum pernah baca."


"Oh baiklah, terima kasih." Bening menerima surat itu.


"Ha?" Bening bingung.


"Kak Bening auranya memang beda. Sekarang aku mengerti kenapa kak Andra begitu mencintai kak Bening."


"Kenapa?"


"Karena kak Bening satu-satunya orang seperti Kak Bening. Tak akan terganti."


Tiba-tiba Bening tersipu. Tidak tau kenapa dia merasa perkataan Iyo tulus diucapkan dari hatinya.


"Kak Bening, boleh Iyo meminta sesuatu?"


"Apa tuh?"


"Jangan marah pada Kak Reno. Kak Bening harus dengar penjelasan dia dulu."


"Hmmm, tentu saja, Kakak tidak marah kok," Bening tersenyum.

__ADS_1


"Tapi Kakak tersenyum bohong."


Bening menatap Andrio. Dia merasa anak itu bisa membaca pikiran dan ekspresi orang lain. Andrio memang anak ajaib dari keluarga Michael. Andra pernah bilang begitu. Dulu Andra sangat suka menceritakan Andrio. Sedikit banyak yang Andra ketahui semua itu dari Andra.


"Aku hanya merasa dibohongi, Yo." ucap Bening mengaku.


"Makanya Kak Bening dengar penjelasan kak Reno dulu."


"Hehe, baiklah, nanti akan kakak dengerin..."


Andrio menghelai nafas. Dia seperti tau bahwa ucapan Bening barusan hanya omong kosong. Kelihatanya dia tau kalo Bening tidak mau memaafkan Reno.


"Dari semia orang yang ditinggalkan oleh kak Andra, yang memikul beban terberat adalah Kak Reno. Dia diberi tanggung jawab yang amat besar. Kak Andra menitipkan banyak hal padanya. Seandainya Kak Bening tau semua penderitaan yang dia alami, tentu kak Bening tidak akan sanggup marah padanya. Karena dia adalah pahlawan yang sesungguhnya." Andrio menunduk. "Aku tau, aku masih terlalu kecil waktu itu. Kalo saja aku sudah berusia seperti sekarang, mungkin semua permintaan Kak Andra akan ditimpakan padaku."


Bening jadi tertarik dengan obrolan itu. Dia menarik tangan Andrio agar duduk di tepi kasur. Mereka mengobrol di sana.


"Memangnya apa yang Andra titipkan?"


"Banyak. Salah satunya adalah Kak bening." ujar Andrio.


Bening langsung melotot.


"Kak Reno bukan tanpa alasan masuk ke universitas yang sama dengan Kak Bening. Itu Kak Andra yang menyuruh. Dia meminta agar Kak Bening dijagain. Dipantau setiap hari. Dan lihatlah, dia melakukannya."


"Cih! Dasar cowok bego!"


"Bukan bego Kak, itu saking sayangnya dia sama Kak Andra. Sama Kakak juga. Hanya saja, dia salah karena terlalu menuruti semua keinginan Kak Andra."


Bening menatap lurus ke depan. "Daripada itu, bagaimana perasaan mu setelah kehilangan Kakakmu?" perasaan sedih langsung menggelayut di dalam hatinya saat menyebut kata kakakmu.


Andrio tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja. Jauh sebelum Kak Andra pergi, dia sudah memberitahu ku. Dia menyuruhku untuk tidak menangisi dia sebab dia tidak suka ditangisin. Aku menguatkan hatiku dan mencoba menerima kenyataan. Waktu itu aku masih enam tahun, tapi aku sudah bisa merasakan rasa sakit yang teramat. Apalagi aku dilarang menangis sama dia. Beh, hari itu aku full kehilangan diriku." cerita Andrio.


"Kenapa Andra seperti itu ya? Ada banyak orang yang dia perlakukan demikian. Termasuk aku."


"Sejak kecil Kak Andra tidak mau merepotkan orang lain. Dia memegang prinsip bahwa sesuatu bisa dia lakukan sendiri. Itulah celakanya terlalu takut merepotkan orang lain. Akhirnya dia lelah sendiri dan beginilah..."


"Hmmm, tapi tak sedikitpun aku tau tentang semua ini... itu yang tidak bisa ku terima."


"Aku mengerti Kak Bening. Makanya Kakak harus mendengar penjelasan dari Kak Reno. Karena dia yang tau banyak hal tentang Kak Andra. Bahkan hal yang paling rahasia sekali pun. Mungkin aku juga tau, tapi tak semuanya bisa ku definisikan dengan kalimat ku sendiri."

__ADS_1


"Hmm, Baiklah. Terima kasih atas saran mu."


__ADS_2