Catatan Andra

Catatan Andra
Bening Dirundung


__ADS_3

Sudah istirahat ketiga namun Andra tak kunjung menemui Bening. Padahal biasanya cowo itu selalu datang setiap istirahat tiba. Malah kadang sampai kebablasan karena asiknya mengobrol dengan Bening.


"Nin, temenin aku lagi," Bening menarik tangan Nina yang tengah asik bermain hape di kursinya.


Nina agak terkejut. Ia menarik alih tangannya. "Kemana lagi? Jangan bilang cuma ngelewatin kelasnya Andra!"


Bening tersenyum kaku. "Plis Nin, aku janji ini yang terakhir kalinya hari ini." mengacungkan jari kelingkingnya ke udara.


"Ogah!" balas Nina kembali memainkan hapenya. "Kamu ga liat tatapan cewek kelas itu? Mereka merendahkan kita!"


Bening menghelai nafas panjang. Entah sudah berapa kali mereka berlalu lalang dari depan kelas Andra demi melihat pria itu. Sampai beberapa orang di kelas itu menyadari kelakuan Bening yang dinilai agak kurang sopan. Pasalnya dia melakukan itu karena Andra belum menunjukkan batang hidungnya dari tadi pagi. Bening takut cowo itu marah karena dia abis dianterin sama Azel. Kalo benar gara-gara itu Bening tidak mau lagi ngomong sama Azel. Titik.


"Nin, aku harus liat dia!"


"Yaudah sih chat dulu aja! Tanya dia dimana! Suruh dia keluar!" Nina jadi emosi sendiri. "Lagian kenapa sih harus ketemu? Baru juga kemarin ketemu!"


"Ini bukan masalah ketemuannya!" Bening berusaha menjelaskan. Tapi ia ingat kalo sohibnya itu bermulut ember. Kalo dia kasih tau tadi pagi dia dianterin sama Azel, bisa-bisa sekelas itu juga ikut tau. Karena pasti dia akan berteriak, "Hah? Kamu dianterin Kak Azel?" Bening udah cukup hapal sama sifat Nina. Jadi lebih baik jangan.


"Udah ah, aku mau tiktokan dulu." Nina memalingkan wajah dari Bening dan sibuk menonton dance tiktok yang tengah viral. Kepalanya meliuk-liuk mengikuti orang yang ada di layar.


Melihat temannya tidak bisa di ajak lagi, Bening memutuskan untuk pergi sendiri. Bagaimana pun juga, apapun resikonya dia siap menanggung. Pokoknya dia harus menemui Andra dan mungkin harus menjelaskan bahwa Azel bukan siapa-siapanya, kalo itu perlu. Pokoknya semuanya akan diluruskan.


"Tuh kan udah gua bilang, cewek itu pasti akan ke sini lagi!" teman cewek sekelas Andra mulai berbisik-bisik ketika gadis itu hendak melewati koridor kelas XII IPA 1.


"Iya-ya, dia kayanya anak kelas X deh." Reyna menyimpulkan setelah memperhatikan tubuh Bening yang kecil.


"Kayanya dia sedang ngincar seseorang deh di kelas kita. Atau dia sedang berusaha tebar pesona mungkin?" Nadine ikut berkomentar.


"Tapi siapa yang dia incar, anjir? Perasaan tubuh kecil kaya gitu pasarnya bukan di sini!" Liora kelihatan kesal sampai-sampai satu sudut bibirnya terangkat.


"Eh, apa kita labrak aja ya? Gua risih banget liat adek kelas yang kegatelan kaya gitu!" Reyna semakin sebal melihat Bening yang jaraknya semakin dekat saja.


"Iya, dia harus dikasih pelajaran yang setimpal!" sambung Nadine.

__ADS_1


Perasaan Bening tidak enak lagi saat melihat segerombolan cewe cantik duduk di depan kelas XII IPA 1. Mereka adalah cewe yang sama yang duduk di situ sejak istirahat pertama.


"Waduh, mereka tampak mengerikan. Mana badannya gede semua lagi!" ucap Bening berbisik.


"Positif thinking aja, mungkin mereka memang senang duduk di sana bukan karena aku sudah lewat lebih dari sepuluh kali dari depan mereka." Tapi perkataan itu tidak cukup menguatkan Bening. Karena tubuhnya bergetar ketika jaraknya tinggal beberapa langkah lagi.


"Hey!" seseorang dari mereka langsung menarik lengan Bening dan mendorongnya ke tembok. Yang lain langsung ikutan mengerumuninya.


"Pe-permisi.." Bening tau kemungkinan terburuk itu telah terjadi tapi dia masih harus berusaha untuk keluar, bukan?


"Mau nyari siapa, sih? Kayanya dari tadi lu sibuk mondar-mandir dari depan kelas kita," Liora langsung to the point.


Tuh kan benar, mereka memperhatikan Bening sejak tadi pagi.


"Aku sedang mencari Andra." mulutnya kelepasan bicara. Waduh, kok mulutnya bisa bicara sendiri!


"HAH?? ANDRAAA?" kelima cewe itu berseru bersama. Setelah itu tertawa dengan kompak.


"Sebenarnya kita semua tau kalo elo cewek ganjen. Yah, dimana mana cewek ganjen bisa aja mendapatkan cowok yang dia mau. Tapi gue memperingatkan elo, jangan sekali-sekali mendekati Andra!" Erin, cewe tercantik diantara mereka mengangkat dagu Bening dengan ujung jari telunjuknya. Bening bertatapan langsung dengan gadis itu.


"Ke-kenapa?" Bening masih cukup berani untuk bicara.


"Kenapa? Elo tanya kenapa?" Liora langsung menjambak rambut pendek Bening. "Karena Andra sudah pacaran dengan Livy!"


"Mau bertanya siapa itu Livy?" Nadine menatap sinis. Dia bisa melihat Bening sedang kesakitan dan berusaha melepaskan diri dari jambakan Liora. Tapi sepertinya gadis itu kalah tenaga. "Livy itu gadis tercantik, terpintar, terpopuler di sekolah ini! Derajatnya sama dengan Andra. Lagian dia yang menjadi selera Andra. Sedangkan elo? Gua sebenarnya ga tau siapa elo, tapi gua yakin elo pasti dari kalangan bawah!"


"Iyalah dari kalangan bawah, sepatu lo aja menganga kaya mulut buaya!" ujar Devia kasar sambil menginjak kaki Bening. Gadis itu hanya bisa menahan rasa sakit.


"Warna baju elo aja udah pudar! Lo yakin Andra mau sama cewe kaya elo?"


"Sadar diri itu penting!" sambung Reyna yang sejak tadi hanya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Hei, ada apa ini?" seseorang bertanya pada kerumunan itu.

__ADS_1


Reyna membalik badan, melihat Reno tengah berdiri di belakang mereka.


"Ini Ren, ada cewek gatel yang nyariin Andra." ucap Reyna memberi tahu.


"Siapa?" Reno mengerutkan keningnya. Kerumunan langsung meregang hingga Reno bisa melihat wajah gadis yang sedang di buli itu.


"Bening?" dia langsung panik. "Lepasin dia!" ucap Reno setengah berteriak. Gadis-gadis itu langsung ciut.


Reno masuk ke kerumunan dan memperhatikan kondisi Bening. Penampilannya sangat berantakan. Dia juga terlihat tertekan.


"Bening, apa kamu baik-baik saja?" Reno memegang pipi gadis itu dengan kekhawatiran yang tidak bisa dibendung.


Gadis itu hanya terdiam dengan air mata yang mulai menetes.


"Kalo sampai terjadi sesuatu pada Bening, akan ku pastikan kalian berlima menjadi gembel dijalanan!" Reno langsung merangkul Bening dan membawanya meninggalkan gadis gadis sialan itu. Kelima cewek itu masih bingung dengan perlakuan Reno. Siapa sebenarnya gadis itu?


***


"Sttt," Reno langsung memeluk Bening untuk menenangkan gadis itu. Reno membawanya ke dalam mobil karena itu satu-satunya tempat tersembunyi menurutnya. Bening tetap menangis.


"Aduh jangan kaya gini dong, gue jadi takut kalo elo elo kebanyakan nangis," Reno melepaskan pelukan dan mengambilkan tissue untuk Bening.


"Mulai sekarang elo harus belajar mengabaikan mereka. Elo ga usah mikirin mereka. Okey?"


Bening tambah terisak. Tidak memikirkan mereka? Semudah itu Reno mengatakannya?


"Gue tau ini berat, tapi kalo elo ga bisa mengabaikan mereka hubungan elo dan Andra akan cepat kandas. Pokoknya Andra itu cuma sayang sama elo, gue ngejamin dengan nyawa gue."


Bening menatap Reno dengan mata yang basah. Dengan keadaan seperti itu Bening terlihat sangat cantik. Reno mengaguminya dalam hati.


"Andra dimana? Aku kangen Andra, hiks..." Bening menangis lagi.


Reno kembali memeluknya. "Andra tidak masuk hari ini. Dia sedang menemani adiknya sekolah."

__ADS_1


__ADS_2