Catatan Andra

Catatan Andra
Sekilas tentang Reno


__ADS_3

Siap berpacaran dengan Andra berarti siap menerima segala resiko. Termasuk hal menyakitkan seperti ini. Aku sayang sama dia, dan akan selamanya sayang. Mulai sekarang aku harus belajar mengabaikan perkataan orang lain dan fokus pada Andra dan masa depanku. Keduanya adalah kebahagiaan yang harus ku tempuh di hari yang akan datang. Aku yakin, aku bisa melewati semua ini.


***


"Kak Azel akan pergi lagi?" Bening agak kaget saat melihat pria itu mengatakan akan kembali masuk kuliah. Dia menyempatkan diri datang ke rumah Bening untuk berpamitan.


"Iya. Kamu baik-baik di sini ya," Azel mengusap ujung kepala Bening. Mereka berdiri berhadap-hadapan di depan pintu masuk. Dia kelihatan cool saat mengenakan pakaian kasual. Sepertinya cowok itu sedih, matanya sedikit lembab.


"Hehe, iya, Kak." jawab Bening tersenyum. "Hmmm, cieee yang mau ketemuan sama ayangnya ciee," goda Bening disertai senyuman jahil.


Azel hanya tersenyum kecil. "Bening, aku hanya ingin mengatakan kalau suatu saat nanti kita akan bertemu lagi tapi dengan hubungan yang lebih serius. Di masa depan, kamu akan menjadi seseorang yang sangat penting bagiku. Aku berjanji untuk itu."


Gadis itu menatap bingung. "Hah?"


"Mungkin kamu belum mengerti, tapi di masa depan kamu akan menyadarinya." cowok itu memeluknya sebentar lalu melepaskannya. "Aku pergi dulu ya, dadahhh cantik!"


Bening agak kaget. Dia hanya melambai sambil bibirnya tersenyum kaku.


***


"Bening maafin aku ya," Andra menunduk dalam saat mereka makan berdua di lesehan warung dekat rumah Bening.


"Maaf buat apa?" tanya gadis itu pura-pura tidak tahu.


"Maaf karena memberikanmu sepatu branded yang menimbulkan masalah besar." jawab Andra.


Bening tersenyum kecil. "Gapapa kok. Lagian kejadian itu bukan gara-gara sepatu. Seandainya aku ga pake sepatu itu juga aku tetap bakal digituin kok. Inti masalahnya adalah hubunganku dengan mu."


"Hmm, pasti ini sulit bagimu."


"Iya, tapi aku merasa lebih baik sekarang. Dari kejadian itu aku menyadari bahwa dekat dengan orang yang berkualitas harus memiliki mental baja. Aku tidak boleh lengah sebab kalo aku merasa begitu yang ada mereka akan memiliki kesempatan untuk memisahkan ku darimu. Bukankah kita harus bersama sampai kita tua nanti?" Bening meletakkan sendoknya lalu menggenggam tangan Andra. Tatapan lembut dan senyum manis Bening membuat cowok itu sedikit salting. Buru-buru dia memalingkan wajahnya. Bahaya kalo mereka bertatapan lebih lama lagi.


"Kenapa?" Bening heran dengan tingkah Andra.


"Nggak kenapa kok," jawabnya tersenyum kecil. "Cepat habisin makanan mu, aku mau mengajak mu ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Rahasia."


"Loh, kok main rahasia-rahasia an sih!"

__ADS_1


"Makanya cepat habisin biar ga rahasia lagi." Andra tersenyum puas melihat wajah kesal pacarnya. Dia mencubit pipi gadis itu supaya level kekesalannya bertambah. Dia senang melihat ekspresi Bening yang begitu. Imut, manis, cantik, dapet semuanya.


Mereka meninggalkan tempat itu tepat ketika jam menunjukkan pukul 08.00. Mobil Andra melaju menuju jalan raya ramai. Di mobil keduanya membahas hal-hal random. Kadang hal yang tidak masuk akal juga dibahas oleh Bening. Andra selalu meladeni gadis itu dengan respon yang ceria.


"Tapi aku penasaran dengan pertemanan kamu tau," gadis itu tiba-tiba mau membahas pertemanan setelah baru saja dia membicarakan cicak raksasa.


Andra dengan senang hati berkata, "Penasaran kenapa?"


"Kenapa kamu bisa dekat banget sama Reno? Apa kamu masih punya hubungan keluarga sama dia?"


"Reno?" ekspresi Andra sedikit berubah. "Tidak, tidak ada hubungan darah." jawabnya singkat.


"Tapi kenapa kalian bisa sedekat itu?"


"Hmm, tidak ada alasan." jawab Andra.


"Yang benar dong, aku mau tau lebih banyak tentang kamu dan dia."


Andra terdiam sejenak. Dia menerawang ke masa kecilnya. Mencoba mengingat kapan tepatnya persahabatan itu terjalin. Dia tersenyum kecil saat ingatannya menemukan momen dimana dia melihat anak kecil menangis karena tidak diijinkan ke luar rumah. Yah, itu saat-saat dimana dia berubah menjadi pahlawan yang menemani anak kecil bernama Reno itu hingga sampai kini mereka menjadi sohib paling terkenal di sekolah maupun di tongkrongan. Namun dia tidak tertarik membahas itu.


"Ah, tidak ada yang spesial, Bening. Bahas yang aja," tolak Andra.


"Ah, ga seru!" Bening melipat tangannya di depan dada sambil memanyunkan bibirnya. "Ceritain!!"


"Nah, awalnya dia sangat sinis padaku, tapi saat aku mengajaknya bermain bersama dia malah nempel mulu padaku. Aku menjadi satu-satunya orang yang mengerti dia sekaligus menjadi satu-satunya teman yang dia miliki saat itu . Sejak dia berteman denganku kebebasan dia bertambah. Itu karena orangtuanya percaya bahwa aku akan menjadi teman yang baik baginya. Dan aku tidak mau menghancurkan kepercayaan orang lain. Sejak saat itu, aku jadi sering mengajaknya ke rumah ku dan membiarkan dia tidur di kamarku. Semua hal yang aku punya adalah miliknya dan begitu juga sebaliknya. Seiring berjalannya waktu dia semakin tidak mau jauh dariku. Sampai-sampai dia tidak mau pisah sekolah. Makanya kami itu satu sekolah dari SD sampai sekarang. Dan harus berada di kelas serta meja yang sama." cerita Andra.


Bening mendengarkan dengan seksama. Dia tidak pernah tau cerita ini. "Apa kamu tidak bosan bersamanya terus?"


"Tidak. Dia teman yang sangat baik. Walau terkadang dia agak berlebihan dan terkesan agak baling tapi semua itu dia lakukan untukku. Reno adalah salah satu alasan mengapa aku mau bertahan sampai saat ini. Aku takut kalo dia akan hancur kalo aku pergi. Tapi, aku juga akan demikian kalo tidak ada dia. Kami berdua adalah sahabat yang saling melengkapi. Kamu tau? Aku sebenarnya sangat menyayanginya. Tapi ada satu titik yang mengharuskanku membuat dia benci padaku. Agar rasa sakitnya tidak bertahan lama nantinya," mata Andra tiba-tiba sembab tapi beruntung Bening menatap lurus ke jalanan. Buru-buru dia mengusap matanya.


Bening mengerutkan dahinya. "Tunggu, kamu sedang membicarakan apa sebenarnya? Kenapa aku merasa perkataan mu merujuk pada sebuah kematian?"


Andra tiba-tiba menyadari bahwa dia terbawa suasana hingga menceritakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh Bening. Ini akan menjadi masalah besar kalo Bening mencurigai perkataannya. Kenapa dia bisa kebablasan bercerita ya?


"Tidak kok, itu hanya ucapan ngawur. Abaikan saja."


Bening menatap lurus ke depan. "Jadi silahkan lanjutkan ceritamu."


"Haha, udah ga usah di bahas lagi." Andra menyudahi.


"Ceritakan tentang Reno lebih banyak lagi! Aku penasaran dengan dia."

__ADS_1


"Reno adalah orang yang misterius. Dia tidak suka dipuji. Tidak suka diperintah juga. Dia tidak ingin orang lain melihatnya sebagai orang baik, makanya dia selalu kasar kepada semua orang kecuali pada orang tertentu yang dia anggap penting. Karena menurutnya, bersikap baik pada orang lain hanya akan menimbulkan luka."


"Reno itu kelewat jenius. Dia pernah menjuarai olimpiade sains tingkat internasional pada saat dia masih berusia 12 tahun. Tapi dia meminta pada Om Seno agar itu dirahasiakan. Karena dia malas diwawancarai dan potret."


"Reno hampir bisa menguasai semuanya. Hanya saja, dia menunjukkan itu pada beberapa orang doang. Jika kamu mengira aku lebih unggul dari Reno, maka itu kesalahan besar. Sebab, aku tidak ada apa-apanya didepan dia." cerita Andra.


"Hah? Benarkah dia seperti itu?"


Andra mengangguk. "Btw jangan sampai pembicaraan terkait Reno ini sampai pada orangnya ya, bahaya!"


"Haha, aku kasih tau ah!" ancam Bening.


"Eh jangan, nanti dia nangis tujuh hari tujuh malem. Jangan ya, kasihan dia,"


"Haha, iyalah..."


Berkat obrolan itu tidak terasa mereka tujuan mereka sudah sampai. Mobil berhenti, Andra ke luar kemudian diikuti oleh Bening.


"Wahhh, ini indah sekali!" seru Bening. Mereka sedang berada di suatu tempat yang menyuguhkan pemandangan malam yang luar biasa indah. Lampu-lampu di kepadatan kota menciptakan jutaan cahaya kecil. Gedung-gedung tinggi juga masih terlihat dari tempat mereka berdiri sekarang. Ini pertama kalinya Bening melihat pemandangan seperti itu.


"Iya kan," sahut Andra beberapa saat kemudian setelah dia mengambil posisi duduk di atas kepala mobil. Bening yang melihat itu ikut-ikutan duduk di samping Andra. Dia merebahkan kepalanya di pundak cowok itu.


"Aku jadi pengen cepat-cepat dewasa." kaya Bening tiba-tiba.


"Kenapa begitu?"


"Aku ingin cepat-cepat menikah denganmu. Lalu kita punya anak cowok yang banyak yang pastinya mirip semua sama kamu. Kita harus liburan ke Maldives, tinggal di New York, dan kita harus punya jet pribadi. Lalu kita bisa jalan-jalan ke mana pun yang kita mau bersama anak-anak kita nantinya. Ah, aku juga berniat memelihara banyak kucing. Kamu harus membelikan aku satu rumah yang bisa ditempati kucing-kucing kita nantinya. Lalu aku akan membagi jadwal untuk memberi makan kucing-kucing itu. Hmmm terus apa lagi ya," Bening mulai ngaco. Tapi semua perkataan itu membuat air mata Andra mengeluarkan air mata. Ini cukup menyakitkan, ucapnya dalam hati.


Bening mengangkat kepalanya. Menyadari kalo cowok itu sedang menangis. "Kenapa?" tanya Bening. "Apa permintaan ku terlalu berat sehingga kamu merasa sedih karena tidak mampu mengabulkannya?"


Andra menghapus air matanya. Sial! Air mata itu bahkan keluar lagi.


"Tidak, itu permintaan permintaan yang biasa aja." jawabnya.


"Hmm, iyalah, saat itu kamu pasti sudah jadi astronot. Iya, kan?"


Andra terdiam.


"Oh iya, cita-citamu tetap astronot kan?"


"Tidak. Sekarang cita-cita ku adalah mewujudkan semua impian mu."

__ADS_1


"Aaa, jadi salting."


"Tapi melihatmu tersenyum di masa depan sebenarnya sudah suatu keajaiban. Tapi semoga keajaiban itu memang ada."


__ADS_2