
Dua minggu telah berlalu. Kondisi Andra semakin memburuk. Ia berhasil memperkeruh kesehatannya. Akan tetapi, sebagai akibatnya, ia jadi sangat mudah kelelahan, gampang pusing, ingin rebahan mulu dan yang paling parah, kulitnya sangat mudah melebam.
Tapi meski penyakitnya semakin parah, Andra masih bisa berpura-pura baik-baik saja di hadapan semua orang. Di sekolah, di lingkungan, di tongkrongan maupun di rumah dia terlihat seperti biasanya.
Di sekolah ia tetap menjadi anak yang pintar. Ia tetap menjadi kapten basket kebanggaan semua orang, dan pastinya masih menyandang gelar cowo paling top di sekolah. Di rumah dia terlihat sehat dengan kegiatannya seperti biasa.
Reno menjadi orang yang paling tersiksa. Kasihan melihatnya berusaha keras mengingatkan Andra setiap hari tapi malah dicuekin. Reno hanya bisa tersenyum tabah dan berharap sohibnya menyadari kebodohan itu. Apapun ceritanya, ia tetap tidak rela sahabatnya kenapa-napa.
Akhir-akhir ini Andra juga semakin bertingkah. Ia tak lagi datang lima menit sebelum baris, tapi malah terlambat. Sidah jarang mengikuti pelajaran juga. Ia Datang ke sekolah hanya untuk menghindari omelan papanya.
Hari ini, tepat jam delapan lewat lima belas menit, Andra baru sampai di depan gerbang. Sangat menyebalkan, gerbang sudah ditutup.
Andra menatap Pak Dino yang berdiri di sisi lain gerbang. Dia melemparkan tatapan tidak suka.
"Bukain!"
Pak Dino membalas dengan sewajarnya. "Kamu itu sudah terlambat! Nggak boleh masuk sebelum nama kamu bapak laporin ke piket!"
"Elo mau mati? Bukain!" Andra menggengam jeruji gerbang sambil menatap Pak Dino tajam. Biasanya Andra memanjat tembok kalo sekiranya sudah lama terlambatnya. Hari ini dia merasa bisa ditoleransi karena hanya terlambat sedikit.
"Bapak cuman jalanin perintah, kalo Bapak bukain, resikonya banyak... "
"Bacot anjing! Bukain!"
Sebenarnya Pak Dino takut dengan Andra yang begitu. Tapi dia juga tidak berani membiarkan cowo itu masuk tanpa melapor. Dia sedang terjebak di keadaan sulit.
Di sela-sela kemarahan Andra, seorang cewek mungil datang berlari ke arah mereka. Ia tersengal saking capeknya berlari.
"Yah! Telat!" keluhnya di depan gerbang.
"Neng Bening tumben terlambat," kata pak Dino mengalihkan perhatian ke cewe yang ternyata adalah Bening.
"Iya nih Pak, Bening habis ngantar sesuatu pada Ibu, jadi terlambat deh." sahut gadis itu masih tersengal . "Bukain dong Pak, kali ini aja... "
Andra kesal mendengar permintaan gadis itu.
"Heh! Gue yang dari tadi minta aja nggak dibukain! Mending elo diam." cowo itu berkata tanpa intonasi.
Bening menatap cowok yang sedang menyandar ke pagar itu. Dia santai banget, kayaknya nggak takut dihukum. Kedua tangannya aja terlipat sempurna di depan dada seolah dia adalah guru yang akan menghukum murid-murid yang terlambat.
"Neng Bening tunggu bentar lagi aja, bapak mau lapor ke piket!" Pak Dino tersenyum pada gadis itu.
Jelas, jelas Andra kesal mendengar kalimat itu keluar dari mulut sang satpam sekolah. "Dasar dinosaurus! Giliran sama cewek aja suaranya lembut! Centil!" komentar Andra.
"Neng Bening kan manis, enggak kayak sampeyan!" buru-buru pak Dino kabur, takut diamuk cowok tempramen itu.
Tak lima menit lagi pria itu kembali muncul. Ia membukakan gerbang, membiarkan keduanya masuk.
"Kalian sudah boleh masuk, tapi sebagai hukumannya, kalian berdua harus membersihkan taman di belakang kantor guru. Setelah itu nyapu lapangan. Itu perintah guru piket,"
"Elo pikir gue mau? Gue sekolah di sini juga dibayar!" Andra hampir saja menarik kerah baju pria itu.
"Kamu kok kasar banget! Kalo nggak mau yaudah! Nggak usah marah sama Pak Dino, dia juga cuman jalani perintah doang! Dasar ga jelas!" Bening memberanikan diri untuk mengomeli Andra meskipun jantungnya tidak bisa dikondisikan lagi. Ia takut, tapi ia juga harus membela Pak Dino yang benar-benar ga salah.
Semoga aku masih hidup hari ini, batinnya sambil berjalan meninggalkan cowok itu.
Andra menatap Pak Dino sejenak, lalu pergi meninggalkannya. Dia mengikuti Bening yang langkahnya terburu-buru menuju taman di belakang kantor guru.
"Heh, kurcaci!" panggil Andra.
Mampus! Siap-siap aja kamu jadi gepeng! Batin Bening. Tapi dia berlagak sok berani dengan memutar badan dan menatap Andra dengan penuh percaya diri.
"Kenapa?"
"Elo kok mau disuruh-suruh?" sumpah, itu lanjutan tak terduga menurut Bening.
"Kita kan udah salah, jadi kita harus menerima hukumannya." jawab gadis itu sok cool sambil berputar lalu melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Tapikan ga harus bersihin taman juga. Kotor!"
"Terus kamu maunya apa?"
"Apa aja yang penting jangan kaya gini. Kan udah ada pekerja khususnya. Kita juga udah bayar untuk biaya kebersihan." sahut Andra.
Bening kaget mendengar omongan Andra.
Hah? Dia beneran Andra ga sih? Sumpah, ko aku jadi merinding ya. Kata Bening dalam hati.
"Yaudah sih! Kerjain aja, dari pada di skors!" Bening mulai mencabuti rumput yang termasuknya ga perlu dicabut karena masih rapih. Dalam hati dia berdoa agar cowo paling keren itu berubah baik padanya minimal sampai hukuman mereka berakhir.
Andra mendekati Bening yang duduk berjongkok mencabuti rumput. Kayaknya seru juga mengobrol dengan makhluk yang satu ini. Andra ikut berjongkok persis seperti yang dilakukan Bening. Tapi ia hanya menatapi saja, tidak berniat untuk membantu.
"Kenapa takut diskors? Enak dong!" Pancing Andra.
Jujur saja, Andra menyukai suara cewe itu. Imut banget, ala anak-anak gitu.
"Katamu. Kalo aku nggak,"
Cowok itu menatap bening dalam-dalam. Kalo dilihat dari jarak sedekat ini, Bening cantik banget. Mirip boneka. Apalagi karena bola matanya yang besar plus bibirnya mungil. Imut plus cantik pokoknya.
"Eh, tapi elo kenal gue ga sih?" tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulut Andra.
Bening agak terkejut dengan pertanyaan Andra.
"Kenal lah. Andra Michael, kan?"
"Hmm, iya."
"Hehehe, siapa sih yang ga kenal sama kamu. Seantero kota ini juga pasti tau kamu. Termasuk aku,"
Cowok itu mulai ikutan mencabuti rumput di depannya. "Sejak kapan ngenal gue?"
Bening pura-pura berfikir. "Sejak kamu lahir. Hehe becanda. Sejak kelas sepuluh sih. Kayaknya waktu kamu ikut Olimpiade sains deh. Diumumin juara satu waktu itu,"
"Oh."
"Kamu kenapa terlambat?" Bening memberanikan diri membuka percakapan lagi.
Andra tidak langsung menjawab. Ia malah sibuk mengamati rumput yang dia cabut. Sepertinya dia sedang memikirkan hal-hal rumit tentang tumbuhan sekarang.
"Hmm, kamu nggak mau menjawab, ya?" sejujurnya Bening agak sakit hati.
Cowok itu menoleh, "elo tanya apa tadi?"
"Kenapa kamu terlambat?" Bening mengulang.
"Oh, gue telat bangun." jawab Andra.
"Telat karena begadang ya?"
"Bisa dibilang begitu,"
"Pasti begadangnya karena belajar. Iya, kan?" Bening melirik Andra sebentar.
"Gue keluyuran," Andra memberitahu.
"Seriusan? Kamu ga mungkin seperti itu."
"Hahahaha, kayanya elo ketipu sama gue ya?"
"Lah, kata orang-orang mah gitu,"
Cowok itu tersenyum kecil. She's a unique girl, batinnya.
Bening berdiri, ia mengeluarkan botol minuman dari tasnya. Kemudian ia meneguknya.
__ADS_1
Andra tidak berpaling dari gadis itu. "Elo bawa minum dari rumah?"
"Iya." jawabnya setelah menyimpan kembali botol minuman itu.
"Kok repot banget? Beli di kantin kan bisa."
Bening menatap Andra. "Aku harus hemat sama jaga kesehatan. Kami orang miskin, jadi kalo semisal aku sakit, kami nggak punya uang untuk berobat. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibuku yang bekerja sebagai pembantu. Kamu pasti tau biaya hidup di kota itu nggak murah, butuh banyak apalagi punya anak gadis SMA. Berapalah penghasilan seorang pembantu yang harus bayar kontrakan dan yang lainnya. Jadi aku akan mencegah selagi bisa. Karena dengan demikian aku udah turut membantu Ibuku." Bening jadinya curhat.
"Bokap elo di mana?"
"Udah meninggal. Aku juga nggak kenal ayah aku, katanya beliau meninggal ketika aku masih dalam kandungan."
Andra sedikit iba. "Wahh, pasti hidup kalian sulit."
"Iya, makanya aku harus belajar dengan baik agar bisa merubah masa depan kami,"
Andra mendudukan pantatnya ke pembatas taman. Ia tidak tahan berjongkok. Kepalanya langsung pening.
"Nyokap elo pasti bangga punya anak kayak elo,"
"Nggak juga. Buktinya aku sering dibandingkan sama Putri tetangga kami. Kebetulan dia seangkatan dengan kita, dia anak kelas XII IPS 5, lumayan pintar dianya, dapat juara semester lima kemarin,"
"Membandingkan bertujuan positif. Mungkin saja nyokap elo pengen elo belajar lebih baik lagi, agar bisa kayak teman elo itu,"
"Emang iya, sih... " Bening menghentikan aktifitasnya. Ia ikut ikutan mendudukkan pantatnya di pembatasan taman. "Kamu pasti tidak pernah dibandingkan. Soalnya kamu kan udah sempurna."
Andra mengangkat bahunya. "Dibandingkan sih nggak pernah, tapi dipaksa sering,"
"Maksudnya?"
"Sejak kecil, gue tuh sering dipaksa melakukan hal yang nggak gue suka. Misalnya dance. Gue nggak pernah suka joget-joget apalagi dance, tapi nyokap gue pengennya gue jadi dancer, biar kayak boyband Korea gitu. Karena gue nggak mau, jadinya mereka masukin gue secara paksa. Yang namanya terpaksa kan nggak asik dijalanin, makanya gue selalu buat onar. Masih satu minggu gue masuk kelas itu, gue dikeluarin gara-gara matahin kaki teman gue yang juga masuk kelas dance. Gue pura pura bego, padahal gue sengaja biar gua dikeluarin." Andra bercerita tentang masa lalunya.
"Hahaha." Cewek itu tertawa renyah. "Kamu bandel banget."
Bening kembali mengeluarkan botol minumannya dari tas. Lagi-lagi ia meneguknya di depan Andra.
"Elo doyan minum, ya?" Andra jadi enek melihat Bening.
"Bukan. Tapi aku harus banyak minum agar sehat. Katanya kita harus minum dua liter per hari. Jadi begini caranya agar dua liter itu bisa habis."
"Kenapa harus sehat? Toh semua orang akan mati, kan?"
"Hush! Kamu ngomong apa sih? Sehat itu mahal, sehat itu penting, sehat itu nomor satu. Kita harus berusaha menjaga kesehatan selagi diberi kesempatan. Kamu tidak lihat apa, ada banyak orang yang menginginkan kesehatan di rumah sakit sana. Mereka berjuang, berharap, dan meminta kesehatan. Harusnya kita berterimakasih karena kita bukan salah satu dari mereka!"
"Bawel!" komentar Andra. Meski dalam hati ia sedikit membenarkan perkataan gadis itu.
"Lagian kalo aku sehat, aku bisa bantuin Ibuku cari duit. Terus aku bisa menggapai cita-citaku."
"Emang cita-cita elo apa?"
Belum sempat Bening menjawab seseorang telah menghampiri mereka.
"Kalian murid yang terlambat kan?" ternyata dia guru yang piket hari ini, pak Agus yang mengajar bidang studi matematika.
"Iya, Pak.. " jawab Bening.
"Kalian bisa masuk sekarang!"
"Tapi kerjaan kami belum beres, Pak," Andra yang menyahut.
"Sampai bulan depan juga nggak bakalan beres kalo kalian malah asik menggosip! Mending kalian masuk daripada membuat pusing," Pak Agus menatap keduanya bergantian.
"Tapi Pak, kami masih harus menyapu lapangan," lagi-lagi Andra menyahut.
"Nggak usah, Andra! Hukuman kalian sudah cukup!"
"Baik, Pak." Bening bangkit. Menggendong tasnya. Tersenyum pada Pak Agus kemudian pada Andra. Setelah ia permisi untuk pergi.
__ADS_1
"Tunggu!" Andra mengejarnya. "Kita temanan, yuk!"
Bening tersenyum. "Okay."