
"Kok kamu bisa fasih berbahasa Inggris?" tanya Andra penuh selidik.
"Karena aku rajin belajar." jawab Bening.
"Tapi itu cukup aneh,"
Bening tersenyum. "Sebenarnya aku sering diajari sama anak majikan ibuku. Dia sekarang kuliah semester empat. Kuliahnya di luar negeri. Dia baik banget, baikkkk bangeeeeeett. Berkat dialah aku fasih seperti ini."
Andra cukup cemburu Bening memuji seseorang sampai segitunya. "Apa dia cowo?"
"Iya, cowo."
"Dia suka padamu kali!"
"Ga mungkin sih. Dia cakep banget, kaya raya, pinter, baik, mana mungkin suka sama aku." balas Bening.
Andra terdiam. Mood dia langsung hilang ketika mendengar perkataan Bening.
"Aku tau, kamu mungkin berfikir kalo kamu lebih dari dia. Benar Andra, kamu jauh lebih dari dia. Jangan cemberut gitu," kata Bening menghibur.
Cowok itu langsung tenggelam dalam pikirannya. Bening benar-benar penuh misteri. Serius, Andra bahkan mengira cewek itu hanyalah cewe biasa yang menangnya di paras dan kebaikan hati, ternyata dia lebih dari situ. Ada banyak hal yang dia sembunyikan dari publik demi menjaga masa depannya. Andra sedikit menyesal pernah meremehkan gadis itu.
"Apakah kamu masih berhubungan dengan anak majikan ibumu itu?" jujur saja orang itu berhasil membuat Andra tidak tenang meski dia tidak mengenalinya.
"Tidak. Dia terlalu sibuk dengan dunia perkuliahannya. Lagipula, dia sudah punya pacar sekarang."
"Baguslah." kata Andra. "Ngomong-ngomong, kamu udah ngerjain berapa soal?"
"Hmmm, udah 30 semenjak kamu tidur." jawab Bening memutar badan menghadap meja lagi. Andra mendekati gadis itu dan melihat hasil kerjaannya. Dia lumayan salut juga dengan gaya penulisan angka Bening yang sangat rapih.
"Nomor tiga ini salah," dia mengoreksi. "Harusnya ini dikalinya sama yang ini."
Bening memperhatikan. "Eh iya. Wow, kamu sangat teliti."
"Lagipula kenapa kamu harus menggunakan cara sepanjang ini kalo ada rumus yang singkat. Kaya gini caranya biar kamu cepat menjawab soalnya," menjelaskan cara singkat yang efektif. Andra menunjukkan sebutan paling jenius yang diberikan padanya bukan hanya sekedar gelar tapi itu nyata.
Andra membungkuk mengajari gadis itu. Dia menyadari bahwa Bening bukan orang yang sepintar itu tapi tekun dan mau berusaha. Kelihatan dari cara dia menjawab soal. Bagi Andra, soal-soal seperti yang dikerjakan Bening bukan apa-apa. Bukannya sombong, tapi memang begitu kenyataannya.
Cukup lama Andra membungkuk seperti itu. Dia mulai merasa pusing. Tiba-tiba dia merasa ada cairan yang keluar dari hidungnya. Dia menyentuh hidungnya dan melihat tangannya berdarah.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar," katanya buru-buru meninggalkan Bening. Gadis itu hanya menggaguk sambil kembali sibuk mengerjakan soal di depannya.
Andra masuk ke kamar mandi. Dia langsung mengunci pintu kamar mandi dan mendudukkan tubuhnya diatas lantai. Penglihatannya mulai kabur, nafasnya memburu, darah keluar dari hidung. Saat ini dia harus bertahan, Bening tidak boleh tau kalo dia sedang dalam keadaan lemah. Dia harus menenangkan diri hingga nanti bisa kembali normal untuk menemui Bening lagi.
Dua puluh menit berlalu Andra tak kunjung kembali dari kamar mandi. Hal tersebut membuat Bening khawatir. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya menuju kamar mandi. "Andra..." panggilnya sambil mengetuk pintu.
__ADS_1
Tidak ada sahutan. "Andraaa... kamu di dalam kann?"
Tetap tidak ada jawaban. "Andra.... kamu baik-baik saja, kan? Apa terjadi sesuatu?"
Tiba-tiba pintu terbuka. Andra keluar dengan wajah yang basah. Sepertinya dia baru saja mencuci muka.
"Andra... kok lama banget?" Bening khawatir. "Ada apa?"
Cowo itu tersenyum lemah. "Iyanih aku sakit perut, kayanya laper deh,"
"Ya ampun, aku baru nyadar kalo kamu belom makan." Bening memukul keningnya. "Mau makan apa? Biar aku masakin,"
"Emang kamu bisa masak?" Andra meremehkan.
"Lah kalo aku ga bisa masak entar siapa yang mau nikah sama aku? Entar suami dan anak-anakku makan apa dong?"
Andra gemes banget sama gadis itu. Dia langsung mendekapnya lalu berkata, "Lucuuu banget sihh," setelah itu dia mencium kepala gadis itu.
"Iiiihh," kata Bening tertawa kecil. "Mau makan apa?"
"Kamu bisanya masak apa?" bertanya sambil melepaskan dekapannya.
"Semuanya bisa, tergantung kamu mau apa."
"Kerenn banget pacar aku. Yang paling best apa?"
"Hahaha," Andra tertawa. Tiba-tiba dia merasa kepalanya pusing lagi. Duh, gimana caranya menghindari pingsan di depan Bening ya. Pokoknya dia ga boleh kenapa-napa di depan Bening.
"Eh, hape aku mana sih?" dia pura-pura mencari hapenya di kantong.
"Di kamar, kan?" jawab Bening.
Segera Andra masuk ke kamar dan benar saja benda itu ada di atas meja dekat ranjang. Dia pura-pura sibuk dengan benda kecil itu.
"Yah, sayang sekali aku ga bisa merasakan masakan mu sekarang, aku harus pulang." kata Andra memasukkan hapenya ke dalam tas. Dia menyempatkan diri untuk melirik Bening. Gadis itu kelihatan kaget, mungkin karena Andra tiba-tiba banget mau balik.
"Kok tiba-tiba?"
"Iya, aku lupa kalo aku ada janji sama mama aku."
"Oh. Semendadak ini?" kayanya Bening belom yakin.
"Iya nih." kata Andra memakai tasnya. Tapi sialnya kepalanya kembali pusing. Dia tidak yakin bisa mengendarai motor. Tapi dia juga tidak bisa menahan dirinya di rumah Bening. Itu hanya akan menimbulkan masalah besar. Satu-satunya jalan keluar ialah menyuruh Reno menjemputnya. Segera ia mengeluarkan hapenya.
Bening memperhatikan Andra. Sepertinya cowo itu buru-buru banget. Baginya itu aneh tapi dia tidak berani menanyakan hal apa yang akan dilakukan cowo itu hingga harus seterburu buru itu. Lagipula Andra sudah cukup lama istirahat di rumahnya. Jadi wajar saja kalo dia dicariin saat ini.
__ADS_1
"Ren, jemput gua dong!" Andra mengirimkan pesan secepatnya sebelum dia hilang kesadaran. Dia berusaha menengadah sebentar agar darah tidak menetes dari hidungnya.
"Dimana posisi?" jawab Reno langsung.
"Rumah Bening."
"Wah, jauh banget kampret! Gua lagi di markas geng!"
"Cepett anjir, gua udah pusing banget. Takut pingsan di sini. Gua tunggu di depan gang masuk rumah Bening."
"Mau dijemput pake mobil apa motor?"
"Mobil aja,"
"Oke."
"Cepett!!"
"Iya ini sudah otw sayang kuh!"
"Kntl!"
Tidak ada lagi balasan dari Reno. Sepertinya dia sedang fokus ngebut sambil menembus keramaian saat ini. Lampu merah juga bakal dia tembus demi Andra. Kalo kekuatan teleportasi benar ada dia mau banget demi menemui Andra saat ini. Dia bakal melakukan semuanya demi Andra. Sesayang itu dia pada Andra yang keras kepala itu.
"Kenapa Andra? Kamu ga jadi pulang?" tanya Bening menatap Andra yang sibuk dengan layar hape.
"Hmmm, jadi kok." jawabnya lemah. Dia harus mengumpulkan kekuatan supaya bisa berjalan ke luar.
"Bening, menurut aku, kamu sangat berpotensi menjadi seorang yang sukses. Tapi untuk profesi kedokteran aku tidak menyarankan." tiba-tiba Andra membuka topik baru.
Bening mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Sebenarnya tidak apa-apa, hanya saja kamu butuh berlatih lebih banyak lagi. Menurutku, kamu hanya punya peluang sebesar 30 persen doang. Tapi belum terlambat kok," tatapan Andra begitu dalam saat ini. "Aku yakin kamu bisa. Untuk selanjutnya jangan sungkan minta diajarin. Aku janji bakal membantumu."
Gadis itu berkedip dua kali. Tidak tau kenapa ucapan Andra seolah memberikan cahaya kepastian untuk masa depannya. Tapi dia penasaran dengan sesuatu.
"Andra, sepertinya kamu tau segalanya. Boleh kah aku tau apa cita-citamu?" itu adalah pertanyaan Bening yang sudah lama disimpannya.
"Hmmm, dulu cita-citaku ingin menjadi seorang astronot." jawab Andra.
"Sekarang ga lagi?"
Andra menggeleng.
"Terus sekarang apa dong?"
__ADS_1
"Tetap berada di bumi untuk melihatmu bahagia."