
"Maafin aku ya manis, hari ini aku ga bisa jemput kamu. Aku ada urusan mendadak jadi kemungkinan akan telat. See U." Andra mengirimkan pesan kepada Bening sekitar jam setengah enam pagi. Sudah dua hari Andra tidak bertemu dengan gadis itu. Untungnya Andra selalu mengabarin serta membuat Bening yakin kalo dia baik-baik saja. Bening pun tidak pernah curiga padanya karena Andra memang terkenal sebagai orang yang sibuk. Dia tidak keberatan akan hal itu.
Hari ini Andra sudah membuat janji dengan Dokter Seno melalui bantuan Reno. Kemarin dia tidak sempat bertemu jadi hari ini dia berniat untuk konsultasi sekalian tranparansi. Itu mereka bicarakan tadi malam saat Reno mengantarkannya pulang. Dan semalam Reno mengabarin kalau Dokter Seno setuju. Mereka sepakat ketemu di rumah sakit terbesar di kota itu.
Andra menatap pantulan tubuhnya di cermin kamar mandi. Kemana tubuh atletisnya yang dulu? Kenapa tubuhnya menjadi kurus? Sejak kapan bentuk tubuhnya berubah? Kenapa dia baru menyadarinya? Sudahlah, yang penting tubuh itu masih bisa ditutupi dengan pakaian yang oversize. Selama bisa demikian berarti masih aman.
Tapi anehnya wajah Andra tidak berubah sama sekali. Entah kenapa wajah itu bisa menyembunyikan segalanya. Membuat dia tetap kelihatan seperti biasanya. Hanya saja, bibirnya memucat akhir-akhir ini. Juga memar yang kadang tiba-tiba muncul di wajahnya. Tapi dia masih bisa mengakalin itu dengan mengatakan habis berantam atau habis kepentok kemana gitu. Yang penting dia memberikan alasan yang masuk akal.
Hari ini dia pamit kepada kedua orang tuanya. Ia mengenakan seragam sekolah seperti biasanya. Ia meminta maaf pada Papa, Mama dan adiknya karena dia sudah kurang ajar selama ini. Dia berjanji akan belajar lebih baik lagi. Papanya hanya diam saja sedangkan mamanya tersenyum penuh haru. Andrio tersenyum, dan tiba-tiba berlari memeluk kakaknya.
"Maafin Papa dan Mama juga, Kak." bisik bocah itu.
"Hehe, siyap Iyo." jawab Andra berbisik. Setelah itu, dia langsung berjalan menuju garasi.
Hari ini dia merasa lebih sehat dari kemarin. Mungkin karena istirahatnya cukup nyenyak. Penglihatannya juga membaik. Rasa sakit yang dia tahan sepanjang malam juga sudah menghilang.
Andra mengabari Dokter Seno kalo dia sudah di rumah sakit. Pria itu menyuruhnya masuk ke ruangan yang semalam. Ia menurut. Benar saja Dokter Seno ada di sana.
"Pagi Om," sapanya.
"Hmm," pria itu menatap Andra sejenak lalu kembali sibuk dengan kertas di tangannya. Sepertinya dia sedikit sibuk sekarang.
"Kudengar kamu mau menanyakan seputar penyakitmu."
"Iya."
"Tanyakanlah, Om akan menjawabnya."
Andra mendekati pria yang sedang sibuk itu. "Daripada itu, apakah aku bisa sembuh?" tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.
__ADS_1
Dokter Seno yang sedang memeriksa data-data kesehatan Andra dari pemeriksaan kemarin langsung memalingkan wajahnya ke wajah Andra. Ada sesuatu yang berubah, pikirnya. Benar, ekspresi yang berubah. Andra biasanya datar banget kali ini wajahnya memancarkan kekhawatiran.
"Kenapa menanyakan sesuatu yang sudah tau jawabannya?" balas Dokter Seno. Kali ini dia merasa mendapat kesempatan untuk membalas kedataran Andra selama ini.
"Tapi, aku masih berharap bisa sembuh," kata Andra lemah.
"Sembuh ya? Bukankah selama ini saya sudah menawarkan itu? Jika saja kamu menerimanya dari awal, mungkin kamu sudah di tahap pemulihan sekarang." Dokter Seno menyodorkan semua lembaran yang dari tadi dibacanya pada Andra. Cowok itu menerimanya.
"Penyakit semacam ini bukan hal yang bisa diselesaikan dengan otak, Andra. Selama ini kamu terlalu meremehkan. Mengira kalo semua yang saya katakan hanyalah bualan. Sekarang kamu mengerti perasaan saya kan?"
Andra mulai membaca satu-persatu. Dalam hati dia membalas perkataan Dokter Seno. Aku tidak abai. Aku juga tidak pernah mengira kalo semua ini bualan semata. Hanya saja aku mengira ini adalah media yang tepat yang bisa aku gunakan untuk mengakhiri semuanya. Aku berusaha mempercepat semuanya agar tidak banyak orang yang terlibat. Akan tetapi semuanya mulai berbalik setelah aku mempelajari banyak hal dari gadis manis itu. Aku tau aku salah, tapi bisakah aku dimaafkan? Bisa kah aku mendapat satu kesempatan lagi?
"Maafkan aku, Om." ucapnya setelah membaca beberapa hal yang menurut dia penting diketahui. Ia mengembalikannya pada Dokter Seno.
"Dan sampai saat ini saya masih bingung kenapa kamu harus menyembunyikan semua ini. Padahal kamu udah di posisi paling darurat sekarang."
Andra terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena apapun alasannya tetap saja dia salah. Menjawab pertanyaan itu sama aja dia memperbanyak masalah.
Sepertinya Dokter Seno agak kesal karena Andra lari dari topik. "Bisa, kalo ada mukjizat."
Cowok itu tersenyum. "Bisa kah Om membantu saya mendapatkan mukjizat itu?"
Om Seno ikut tersenyum. "Tentu saja anak muda. Om akan melakukan semuanya untukmu." tiba-tiba dia merangkul Andra. "Melihatmu semangat seperti ini membuat saya yakin bahwa 80 persen mukjizat itu akan menghampiri mu."
"Jadi ayo ikut Om!" Seno melepaskan rangkulannya dan melangkah ke luar ruangan. Andra mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke gedung yang berbeda dari sebelumnya.
"Sebelum kita mulai kursus melawan penyakit, Om akan menjelaskan beberapa hal terlebih dahulu. Jadi Om memohon dengan sangat agar kamu mendengarkan dan melakukannya. Sebab ini menjadi tahap awal pengobatan. Apakah kamu setuju?"
"Iya, Om." jawab Andra bersemangat.
__ADS_1
Dokter Seno tersenyum gembira. Dia tidak menyangka kalau anak yang selama ini keras kepala mulai menurunkan egonya. Dia senang, tapi dibalik semua itu dia menyembunyikan fakta yang sebenarnya. Dia melakukan semua ini sebatas hanya ingin melihat Andra semangat di sisa waktu hidupnya. Biarkan dia berubah sebelum berpulang ke Tuhannya. Lagipula, Reno pasti akan bahagia kalau tau Andra berusaha untuk sembuh. Dokter Seno tidak ingin anaknya berpisah dengan kesedihan mendalam. Setidaknya senyuman Andra akan meyakinkannya kalo Andra pergi dengan damai. Yah, untuk saat ini hanya ini yang bisa dia lakukan.
"Jadi, hindari makanan seperti itu. Tidur yang cukup. Hindari kelelahan, juga jangan sekali-sekali menghirup asap rokok. Minum obat yang sudah Om resepkan." Dokter Seno menjelaskan panjang lebar tentang pola hidup yang sehat. Baru kali ini Andra mendengarkan dengan antusias. Bahkan dia membuat sedikit catatan karena takut kelupaan.
"Baik, Om. Andra akan melakukannya."
"Yang pasti ini adalah penanganan awal ya."
"Oke, Om."
"Oke, penanganan selanjutnya adalah kemoterapi. Apakah sekarang kamu mau menjalani kemoterapi?"
"Kemoterapi?"
"Iya. Ini paling ampuh untuk mengehentikan selnya berkembang."
"Andra mau banget Om. Ayo sekarang aja," kata Andra.
Seno tersenyum lagi. Kali ini Andra lebih mirip anak-anak. Tidak tau kenapa, tapi sepertinya penyakit itu membuat dia berubah-ubah.
"Tidak boleh seenaknya, Andra. Om harus mendapatkan persetujuan dari orang tua terlebih dahulu..."
"Tapi Om..." wajah Andra tiba-tiba berubah.
"Baiklah, kita akan melakukannya secara rahasia. Itu kan yang kamu mau?" Seno tersenyum lembut. "Kita akan tetap merahasiakannya ya? Oke lah, Om akan melakukan itu sebagai hadiah untukmu. Kamu senang kan?"
Andra mengangguk.
"Baiklah anak manis."
__ADS_1
"Om," Andra memotong. Pria itu menoleh. "Aku tau semua ini hanya drama. Aku tau faktanya kok. Tapi jujur saja, aku senang melakukannya. Makasih Om, makasih banyak..."