Catatan Andra

Catatan Andra
Bertemu Denganmu


__ADS_3

"Ma, Andra mau bawa bekel hari ini." ucap Andra setelah permintaannya sarapan dengan oatmeal.


"Jangan lupa potongan buah juga." tambahnya.


"Kok tumben banget anak mama yang satu ini jadi kaya gini?" Leoni tersenyum kecil sambil memasukkan bekal Andrio ke dalam tas.


"Kan Mama sendiri yang bilang kalo makanan di luar ga sehat." sahut Andra. Pagi ini tatapannya berbeda. Lebih ceria dari yang sebelumnya. Senyumnya juga melengkung dari sejak dia bergabung ke meja makan. "Jadi anak Mama harus sehat, kan?"


Leoni mendekati anak sulungnya itu. "Benar sekali. Mau menu apa, sayang? Mama akan menyiapkannya,"


"Hmm, Andra mau sup ikan dan sayuran rendah lemak." jawab Andra.


"Oke, makanannya segera disiapkan."


***


Mobil hitam Andra melaju ke jalanan yang ramai. Fokusnya tertuju pada jalur yang dia lewati. Ia akan menjemput Bening pagi ini. Gadis itu sudah rapi dan sedang berdiri di depan pintu menunggu kedatangannya. Andra tersenyum bahagia saat melihat senyuman hangat di wajah Bening. Setiap dia melihat itu semangat hidupnya kembali membara.


Andra keluar dari mobil lalu mendekati gadis manis itu. "Haiii, selamat pagiii!" sapanya.


"Selamat pagi jugaaaaaaa. Aku kangen banget sama kamu. Kangennnnn banget," Bening langsung memeluk Andra.


"Hehe, aku juga." Andra membalas pelukan itu. "Hmm, sepertinya kita harus berangkat, takutnya nanti jadi telat gara-gara kelamaan pelukan." kata Andra mengingatkan. Bening menurut. Mereka masuk dan mobil pun melaju menuju sekolah.


Di dalam mobil Bening mulai menceritakan kejadian semalam. Memberitahu semua kelakuan Anastasya. Termasuk bagaimana cewek itu memaksanya minum dan mengganti baju. Dan alasan mengapa Tasya melakukan itu adalah agar dia pantas menjadi pendamping Andra nantinya.


"Terus kamu benaran melakukan semua itu?" ekspresi Andra berubah setengah marah.


"Tidak. Aku diselamatkan oleh Reno. Dia tiba-tiba muncul dengan amarah yang meluap-luap. Dia membentak Anastasya di depan semua orang." cerita Bening.


"Membentak? Kenapa dia melakukan itu pada orang yang sangat dia cintai?" Andra mulai bingung.


"Aku juga ga tau. Yang aku ingat dia cuma bilang kalo Tasya ga pantas memperlakukanku seperti itu. Abis dia marah-marah dia menarikku ke luar. Aku juga dimarahi sama dia. Katanya aku bodoh karena mau dijebak oleh Tasya. Tentu saja aku masih bingung sampai sekarang. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Lalu dia mengantarkanku pulang terus diperingatin biar ga usah berhubungan lagi sama Anastasya." tutur Bening.

__ADS_1


Andra kesal mendengar cerita Bening. Gadis itu kurang ajar sekali melakukan semua itu pada Bening. Dibalik itu dia juga berterima kasih pada Reno atas penyelamatannya yang sangat tepat waktu. Meskipun Andra belum yakin kalo Reno berani membentak Anastasya.


"Benar kata Reno, kamu ga usah berhubungan lagi dengan gadis itu. Dia toxic. Dari awal aku mengenalnya sebenarnya aku sudah tau bahwa dia itu cewe yang kurang beres. Makanya aku sempat ga setuju Reno sama dia. Tapi, Reno ngotot karena sudah dibutakan oleh kecantikan Tasya. Aku ga bisa berbuat apa-apa lagi, dan akhirnya mereka berpacaran sampai sekarang." Andra balik bercerita.


"Emang iya?"


"Hooh. Sebelum pacaran sama Reno sebenarnya dia pernah mencoba mendekatiku. Dulu dia itu berusaha banget, sampai-sampai dia pernah menunjukkan tubuhnya padaku. Mengira aku akan tergoda. Padahal mah cowok ga suka digituin."


"Emang iya separah itu?" Bening kurang yakin.


"Iya. Bahkan setelah berpacaran dengan Reno dia masih sering mengirimiku fotonya yang tanpa busana."


"HAH?"


"Iyaloh, makanya jaga jarak sama dia ya," kata Andra sambil mengusap ujung kepala Bening.


"Siap, Mas Andra."


"Jangan panggil Mas, aku salting,"


Percakapan mereka berakhir saat mobil berhenti di parkiran sekolah. Mereka berjalan bersama sambil berpegangan tangan.


"Andra, apa kamu baik-baik saja?" tanya Bening tiba-tiba.


"Tentu saja. Kenapa emangnya?"


"Kamu kelihatan pucat." Bening memberitahu.



"Iyakah?" Andra tersenyum kecil. "Sebenarnya aku kelelahan kemarin jadi aga kurang enak badan." ucapnya setengah gugup.


"Ihhh, jaga kesehatan lah. Jangan maksa kalo udah cape," jiwa cerewet Bening mulai muncul.

__ADS_1


"Hehe, iya bawel." sahut Andra.


Bening tersenyum manis sambil menatap wajah Andra. Dia menggenggam tangan yang hampir satu setengah kali besar tangannya. Merasakan kehangatan mengalir di hatinya. Berjalan bersama Andra adalah hal terbaik. Dia rela berjalan sejauh seribu kilometer asalkan bersama cowok itu. Rasanya penat akan menghilangkan selama berjalan beriringan seperti saat ini.


"Nanti jalan yuk!" ajak Bening.


"Kemana?"


"Kemana aja. Aku pengen jalan-jalan sama kamu."


Andra berfikir sejenak. "Wah, nanti aku ada agenda. Ga bisa kalo hari ini." kata Andra dengan nada penyesalan.


"Oh gitu? Yaudah gapapa."


"Maaf banget ya, sayang, kapan-kapan aja ya,"


Bening memaksakan bibirnya melengkung. Jujur saja dia agak kecewa. Tapi bagaimana pun juga dia tau Andra punya jadwal yang padat akhir-akhir ini. "Hehe, santai aja. Aku juga harus lebih giat belajar lagi, biar nanti aku bisa masuk ke universitas itu." ucapnya memperbaiki suasana.


"Iya juga. Eh, aku mau ke toilet dulu. Kamu duluan aja ke kelasmu." kata Andra melepaskan genggamannya.


"Oke, makasih ya Andra. Aku duluan, dadah..." Bening tersenyum lalu melambai. Sayang sekali pertemuan hari ini hanya sampai di depan lab komputer saja.


"Oke. Yang semangat ya, Bening. Kamu pasti bisa." Andra tersenyum manis lalu berjalan menuju toilet.


Bening terkesima. Ini pertama kalinya dia melihat senyuman manis Andra. Senyuman tiga detik yang akan membekas selamanya di ingatan. Itu senyuman paling manis yang pernah dilihatnya. Harusnya tadi dia mengabadikan momen itu dengan memotretnya. Ah sudahlah, kak Andra masih ada, tinggal suruh dia tersenyum kayak tadi aja. Repot amat!


"Hmm, kok bengong kaya orang bego?" tiba-tiba suara seseorang menyadarkan Bening dari lamunan. Dia menoleh ke belakang. Ternyata Reno.


"Reno?"


"Lo ngapain di sini?"


"Engga ngapa-ngapain." Bening menjawab dengan nada agak takut. "Aku pergi dulu," lalu melangkah meninggalkan Reno.

__ADS_1


"Anjir, aneh banget! Dia kelihatan takut gitu," sungut Reno. "Mending gue ke toilet daripada mikirin kenapa cewe kuntet itu bereksperi demikian. Ah, sial! Kenapa dia selucu itu sih?"


Reno membayang wajah Bening yang terekam di otaknya. Ada beberapa momen tentang Bening yang menarik baginya. Ada juga beberapa ekspresi yang membuatnya gemas sama cewe itu. Contohnya saja ekspresi bingung, itu luar biasa imut. Ekspresi menangis membuatnya terlihat cantik. Eh, Reno bego banget mikirin pacar sahabatnya sendiri. Tapi saat ini dia tidak bisa membohongi perasaannya. Dia memang mulai tertarik pada gadis kuntet itu. Meskipun mereka terbilang jarang ketemu. Tapi setiap melihat gadis itu ada sesuatu yang membuat Reno melupakan siapa pacar gadis itu.


__ADS_2