Catatan Andra

Catatan Andra
Setelah Semuanya


__ADS_3

Bening tersenyum saat pesawat yang dia naiki lepas landas di udara. Jujur saja ini pengalaman pertamanya naik pesawat. Agak gugup sebenarnya tapi dia bersikap santai aja. Di sampingnya ada Nadine yang sedang sibuk belajar. Mereka berdua sudah lumayan dekat sejak mereka tau akan menjadi dua perwakilan sekolah. Meski Bening sebenarnya tau kalo gadis itu tidak begitu menyukainya. Tapi sudahlah, perasaan mah ga boleh dipaksa.


"Aku harus membawa kemenangan." ucapnya dalam hati. "Kata Andra aku hanya perlu tidur yang cukup, banyak berdoa sama tidak terlalu mencemaskan apapun. Akan kulakukan seperti yang dia katakan."


***


Andra menghabiskan banyak energi saat bertemu dengan Bening. Oleh sebab itu kondisinya kembali drop. Andra pingsan saat hendak berjalan ke mobil Reno. Tentu saja Reno kembali menjadi orang yang paling direpotkan.


Reno membawanya ke rumah sakit seperti perintah papanya tadi. Segera dia dimasukkan ke ruang UGD karena kondisinya yang sangat menghawatirkan sekarang.


Leoni yang baru saja pulang ke rumah, bahkan belum masuk ke dalam langsung bergegas kembali rumah sakit saat tau kondisi anaknya memburuk. Arnold pergi entah kemana jadi dia belum tau kondisi Andra yang sekarang. Mamanya Reno pulang dari Italia dan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Andra. Dia bahkan meninggal sisa pekerjaannya demi bisa menjenguk anak itu. Dia mengaku menyesal baru mengetahui kondisi. Padahal, sudah lama cowok itu menderita.


Andra dipasangin banyak alat. Setidaknya itu akan membantunya bertahan lebih lama. Dokter Seno bersama dua dokter lainnya berusaha memberikan penanganan terbaik untuk anak itu. Setelah beberapa saat mereka keluar dari ruangan.


"Gimana kondisinya?" Seno langsung disambut dengan pertanyaan dari Leoni.


Seno menghelai nafas. "Dimana Arnold?" malah balik bertanya.


"Dia lagi pergi meminta bantuan kepada Ken." jawab Leoni. "Gimana kondisi Andra?" kembali mempertanyakan hal yang sama.


"Silahkan lihat sendiri. Saya tidak berani mengatakannya."


"Pah, apa separah itu penyakit Andra?" Mama Reno ikut bertanya. Dia memang ketinggalan info.


"Lihat sendiri Ma. Papa tidak berani menjawab." balasnya lagi. Lalu dia meninggalkan ke dua wanita itu.


Di dekat taman, Seno melihat seorang anak SMA Mentari sedang duduk menikmati sebatang rokok. Cukup terkejut mengetahui bahwa orang itu adalah anaknya.


"Ren," panggil Seno. Cowok itu tidak menjawab. Dia tetap asik merokok dengan pandangan kosong.


"Papa ngerti kamu sedang stress. Tapi cobalah untuk menjaga kesehatanmu juga."


"Dari pada itu, apakah Andra sudah sadar?" suara Reno terdengar sangat dingin.


"Belum."


"Aku harap dia baik-baik saja."


***

__ADS_1


Jam tiga sore Andra mulai sadar. Dia mendapati Mamanya sedang menangis sambil menggenggam salah satu tangannya. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu.


"Mama," panggilnya.


Leoni langsung menghapus air matanya saat dia sadar bahwa Andra baru saja memanggilnya. "Iya sayang, kenapa sayangku?"


"Kenapa Mama menangisiku?" tanya Andra lemah. "Aku tak pantas ditangisi."


"Kamu kok ngomongnya kaya gitu sayang?" Leoni membelai wajah Andra.


"Ma, maafin Andra ya, Andra ga pernah denger kata Mama. Maaf karena Andra keras kepala. Maaf karena Andra tidak berhasil menjadi anak yang mama inginkan." ucap Andra diikuti air mata.


"Andra kenapa ngomong kaya gitu? Mama selalu bangga punya anak seperti Andra." suara Leoni sudah terlalu serak karena kebanyakan menangis.


"Ma," panggil Andra lagi. "Kalo nanti Andra sembuh, Andra bakal mau kok nerima tawaran iklan. Andra juga bakal mau menerima tawaran jika diberi kesempatan menjadi seorang idol seperti waktu itu. Andra janji akan terjun ke dunia hiburan agar mama senang."


"Sudah sayang..." air mata Leoni tidak berhenti keluar. "Kamu jangan banyak ngomong dulu."


"Ma?" Andra tidak bisa menggerakkan lehernya untuk menoleh kemana pun. Tubuhnya sedang mati rasa. Dia hanya bisa melihat wajah mamanya saat ini.


"Iya kenapa sayang?" jawab Leoni sembari menghapus air matanya.


Leoni melihat menoleh ke luar. "Tadi sih ada di luar sayang. Sebentar mama liat dulu," wanita itu melepaskan genggamannya lalu keluar mencari Reno. Ternyata dia sedang duduk di kursi tunggu tepat di depan ruangan UGD. Dia menunduk sambil menitikkan air mata. Leoni tak berani memanggilnya. Dia malah kembali masuk dan memberitahu Andra keberadaan anak itu.


"Tolong biarin Andra ngomong sama Reno, Ma."


"Oke sayang, sebentar ya," wanita itu keluar dan menghampiri Reno.


"Ren, Andra ingin bicara denganmu." ucap Leoni menyentuh pundak Reno. Segera dia menghapus sisa air matanya lalu masuk ke ruangan itu.


"Ren elo menangis buat gue?" tanya Andra dengan lengkungan kecil di bibirnya.


"Ha? Menangis? Kenapa aku melakukan itu?" padahal jelas-jelas dia sesegukan dari tadi.


"Maafin gue ya Ren, gue gak pernah menjadi teman yang baik buat elo. Gue selalu menyusahkan, membebani, dan menarik elo ke dalam masalah gue. Maafin gue karena sudah batu selama ini."


Reno hanya terdiam.


"Terima kasih karena selalu ada buat gue. Terima kasih karena telah mengorbankan banyak hal buat gue. Terima kasih atas segalanya."

__ADS_1


Cowok itu tetap terdiam tanpa berkedip sedikitpun.


"Boleh ga gue minta sesuatu?"


"Minta apa?" sahutnya cepat.


"Kalo terjadi sesuatu sama gue.."


"Hah! Emang apa yang akan terjadi padamu!" potong Reno.


"Kalo terjadi sesuatu pada gue, tolong jagain Bening.." Andra mengulang.


"Ga mau!" balas Reno. "Itukan pacar lo! Kenapa elo nyuruh gue seenak hati elo!"


Andra tersenyum kecil. Dia tau Reno menjawab begitu karena dia sedang takut saat ini.


"Gue kasih tau ya, gue ga mau dengerin elo lagi! Gue ga mau bantuin elo lagi! Gue juga ga mau ikut campur urusan elo lagi!" Reno menangis mengatakannya. "Gue ga mau berteman dengan elo lagi!"


***


"Nak, ini Papa nak," Arnold menggenggam tangan putranya saat melihat mata itu sudah melemah.


"Papa," ucap Andra dengan suara tertahan.


"Iya, iya ini Papa. Maaf ya papa tadi pergi ke rumah Om Ken untuk menjemputnya. Dia akan menjadi pilot kita hari ini. Kamu yang kuat ya nak, kita akan segera berangkat ke AS untuk berobat. Papa udah menghubungi dokter terbaik di sana. Katanya Andra akan segera sembuh kalo ke sana." mendadak Arnold berubah menjadi orang tua yang penuh dengan kekhawatiran.


"Seno, data-data rujukannya udah kan? Jam empat udah harus berangkat," sejenak Arnold mengalihkan pandangannya pada Seno yang berdiri di sisi kanan Andra. Ruangan UGD cukup ramai kali ini.


"Pa, maafin Andra karena selalu merepotkan."


"Kamu tidak pernah sekali pun merepotkan nak. Jangan ngomong kaya gitu,"


"Andra janji, nanti kalo Andra sudah sembuh, Andra bakal mau menerima tawaran Papa untuk meneruskan perusahaan. Andra bakal jadi anak Papa inginkan."


"Tidak perlu nak, kamu tidak perlu melakukan itu. Papa sebenarnya tidak pernah keberatan dengan apapun yang kamu lakukan. Papa keras sama kamu itu karena papa tidak mau kamu menjadi anak yang tidak benar. Papa marah sama kamu itu karena kamu selalu keluar malam, jarang makan dan terus saja begadang. Papa tau itu akan menjadi penyakit. Dan Papa tidak mau kamu sakit. Papa tidak pernah masalah dengan keputusan kamu di masa depan, nak." Arnold menangis.


"Kamu mau jadi astronot, kan? Kamu harus tau, Papa sudah mempersiapkan semuanya dari dulu. Bahkan nama kamu sudah Papa daftarkan ke universitas khusus astronot ternama di USA. Papa bahkan sudah menghubungi beberapa dosennya. Harusnya Papa memberitahu ini kalo kamu sudah lulus dari SMA. Awalnya ini akan menjadi hadiah dari Papa atas kelulusan kamu. Tapi gapapa lah kamu mengetahuinya sekarang."


"Pa..."

__ADS_1


"Bertahan lah nak, mimpimu masih bisa digapai."


__ADS_2