Catatan Andra

Catatan Andra
Jadi Pacar


__ADS_3

"Haii," sapa Andra ketika Bening lewat dari koridor kelas XII IPA 1. Cowo itu dengan sengaja menghalangi langkah Bening dengan kaki panjangnya.


Bening menghentikan langkahnya. Seulas senyum kaku tergambar di bibirnya. Jujur saja, dia agak segan dibaiki Andra di depan umum. Karena ini akan menjadi permasalahan juga ke depannya.


"Hai juga Andra..." sapanya balik. Dia melirik Andra sebentar lalu menunduk dalam. Entah kenapa cowo itu selalu terlihat keren, bahkan saat dia bersandar ke dinding dengan kaki terangkat seperti saat ini.


"Dari mana?" tanya Andra menurunkan kakinya.


"Dari kantin." jawab Bening lesu.


"Oh." sahut Andra.


"Iya," Bening merasa obrolan hari ini sudah berakhir dengan kata oh lantas dia melangkah meninggalkan Andra. Tapi hal yang tak terduga terjadi.


"Elo beli apa?" Andra bertanya sambil tiba-tiba saja merangkulnya.


Bening merasakan jantungnya telah jatuh ke perut.


"Ini." jawabnya bergetar sambil mengangkat plastik di tangannya.


Cowo itu kelihatannya tertarik sehingga melihat isi plastik yang tersangkut di tangan Bening. Dia melepaskan rangkulannya dan berfokus pada kantong plastik itu. Isinya lumayan mengejutkan. Satu buah roti murahan plus air mineral. "Elo seriusan mau makan ginian?"


"Maksud kamu apa?" tampaknya Bening tidak suka dengan pertanyaan Andra barusan.


"Jangan ngegas gitu dong." sahut Andra terkekeh. "Maksud gue, elo yakin bisa kenyang dengan roti tawar beginian?"


"Aku harus berhemat, Andra."


"Kalo gitu, sini om jajanin. Mumpung gue lagi baik hati."


"Nggak usah, An. Aku dah beli ini. Sayang kan kalo kebuang," jawab Bening.


"Yaudah, gue bantu ngabisin aja gimana?"


"Enak aja!"


"Gue bayar deh!"


"Kalo bayar sih bisa. Hehehe." mata duitan banget sih Bening!


Bening dan Andra duduk di pondok baca. Gadis kecil itu memberikan setengah rotinya untuk Andra.


"Manis ternyata," komentar Andra.


"Emang manis!"


"Gue jadi enek."


"Kenapa?"


"Ya gapapa sih."


"Kamu nggak suka yang manis ya?"


"Suka kok. Buktinya aku suka kamu...." jawab Andra seenaknya. Bening langsung terbatuk-batuk.


"Becanda Bening!" kata Andra menepuk-nepuk punggung belakang cewe itu. Takut Bening mati tersendat gara-gara perkataannya.


Bening melirik roti Andra yang hanya tersentuh pinggirannya doang. Sepertinya dia harus lebih berhati-hati pada Andra. Cowo itu bisa aja membuatnya gila kalo begini terus.


"Meski nggak dimakan tetap bayar yah! Aku nggak mau rugi!" Bening mencoba mencari topik baru.


Andra tergelak melihat ekspresi Bening. "iya-iya,"


Keduanya terdiam lagi sambil mengamati sekeliling.


"Andra," panggil Bening.


"Hmm?"


"Kamu nggak malu duduk berdua begini?"


"Kenapa memangnya?"


"Tuh, anak-anak lain pada liatin kita. Kamu nggak risih dengan pandangan mereka?"


"Ga."


"Kamu nggak malu duduk sama aku? Secara perbedaan kita bagaikan langit dan bumi. Kita.."


"Elo mikirnya kejauhan!" potong Andra.


"Ya tapikan..."


"Kalo masih dengar omongan orang, sampai kapan pun elo nggak bakal bahagia!"


"Kan..."


"Udahlah. Mending kita masuk. Udah bel juga," kata Andra melangkah.


"Hmmm, okeh." jawab Bening tetap duduk. Ia tidak berniat bergerak dari duduknya. Lebih asik memperhatikan Andra yang berjalan menjauh darinya. Cowok itu keren banget. Dari segi manapun dia luar biasa. Bening tidak bisa membohongi perasaannya. Dia memang suka pada Andra sejak pertama kali bertatapan mata. Cowok itu tidak tertandingi.


***


"Tumben otak lo bener!" Reno berceletuk saat melihat Andra asik mengerjakan tugas.


"Ini udah bisa dicontek kan?" timbunnya menarik buku Andra.


"Udah." jawab Andra.


"Gitu dong men, baru sohib gue!"


Andra tidak melanjut. Ia sibuk memperhatikan ruangan kelas yang hening. Teman-temannya pada sibuk ngerjain tugas.


"Ah, tape! Elo ngerjain gue!" sungut Reno.


Andra mengernyit kening heran.

__ADS_1


"Ini kan salah, kenapa pake cos? Harusnya kan sin!"


"Gue sengaja sih, kirain elo bakal copas tanpa mikir,"


"Anjirlah! Elo pikir gue bego banget ya? Gue pinter kok, cuman malas aja." Reno berceloteh sambil terus menuliskan angka-angka yang ada di buku Andra.


"Gue tau kok, elo nggak usah nangis."


"Andra, ini udah benar nggak?" Livy, cewek tercantik seantero sekolah. Pintar, berprestasi juga. Anak konglomerat pula. Si gadis yang dijuluki perfect girl


"Dih, napa elo tanya ama Andra? Jelas-jelas dia bukan gurunya!" Reno yang jadi keberatan.


"Dia kan pinter. Guru mah kalah," lanjut livy.


"Nyenyenye. Alesan!" balas Reno.


Livy menatap Reno. Sudah jelas tatapannya menggambarkan kekesalan. Yah, Reno memang sangat menyebalkan.


"Nggak Ren. Sekalian aku mau minta diajarin yang nomor dua. Aku belum ngerti soalnya."


"Alah, bilang aja elo mau pdkt." semprot Reno.


Seketika wajah Livy memerah. Tapi dia tetap bersikap biasa aja. Seolah perkataan Reno tidak benar adanya.


"Nggak kok,"


"Kalo nggak niat pdkt, pergi sono! Masih banyak orang pintar di kelas ini! Minta bantuan yang lain aja!" usir Reno.


Jadilah Livy manyun semanyun-manyunnya. Ia kesal plus marah pada Reno yang bersikap sok tau. Menyebalkan sekali. Livy memilih pulang ke kursinya daripada digambungin sampai malu oleh Reno. Dasar tuh cowok!


"Elo laris banget men! Cewek satu kelas ini aja rata-rata suka sama elo. Gue jadi agak iri."


"Tapi gue sukanya cuman Bening doang."


"Hahahaha. Cewek itu akan segera membuat iri seluruh wanita yang mengenal elo. Beruntung juga jadi dia,"


"Udah deh, kerjain aja tugas elo, tiga menit lagi bakal dikumpul." Andra memperingatkan.


"What? Gue ngapain sih dari tadi? Kok masih stay here! Stay at number 1?"


"Elo kebanyakan ngoceh!"


"Aduh men, bantuin gue dong," minta Reno panik.


"Enak aja! Udah untung gue kasih nyontek! Siapa suruh dari tadi jalan-jalan nggak jelas! Rasain lo!" Andra malah mengejek. Ia senang melihat Reno buru-buru menulis hingga beberapa angka yang dia tulis miring tidak karuan. Tulisannya persis kayak tulisan anak-anak yang nggak ada garisnya. Ada yang naik gunung, ada juga yang turun. Lucu banget.


"Cepat! Tinggal semenit lagi..." kata Andra menakut-nakuti.


"Eh..." dia semakin mempercepat tangannya menulis. Satu matanya digunakan untuk melihat buku Andra, satu untuk melihat bukunya dan kupingnya difungsikan untuk mendengar ocehan Andra. Dia harus jadi manusia multitasking agar bisa tetap bernafas ke depannya.


***


"Gue duluan ya," kata Reno ketika mereka pulang sekolah.


"Elo mau nganterin Tasya ya?"


"Yaudah iya." jawab Andra datar.


"Elo langsung pulang, kan?"


"Gue rasa iyes."


"Baguslah. Gue khawatir kalo elo keluyuran nggak jelas."


"Gausah lebay njir!"


"Hahaha. Gue lebay juga karena sayang sama elo. Hahaha," Reno segera berlari sebelum ditonjok sama Andra. Sudah pasti cowok itu akan mengejarnya setelah ucapannya itu keluar.


"Babi!!!" Andra benaran mengejar Reno. "Sini elo! Gue ubah elo jadi gudeg!"


"Hahahaha, ampun suhu!" sahut Reno terus berlari. Hingga akhirnya Reno telah jauh pergi. Dia terlihat mengecil.


"Sudahlah, biarkan aja dia pergi!" gumam Andra berjalan santai. Ia tidak peduli sudah dimana Reno saat ini.


Belum sampai di parkiran, Andra disapa seseorang.


"Hai Andra..."


Andra menoleh ke samping untuk melihat siapa orang yang menyapanya.


Ternyata seorang gadis manis bermata jernih. Siapa lagi kalo bukan si Bening.


"Tumben pulang lebih akhir?" Kata Andra tanpa menatap Bening.


"Aku piket hari ini." jawab Bening.


"Oh. Mau pulang bareng?" tawar Andra.


"Arah rumah kita kan berlawanan."


"Ya gue nganterin elo.."


"Gausah Andra, aku udah banyak banget ngerepotin kamu..."


"kok nolak?"


"Bukan begitu...."


"Terus???"


"Hmmm..."


"Oke, tidak ada tawaran. Elo gue antarin. Tidak boleh menolak. Titik!"


"Tapi..."


"Ayok!" paksa Andra. Ia merangkul Bening menuju parkiran sekolah. Hingga Bening terpaksa memberatkan Andra sekali lagi. Dia hanya bisa masuk ke dalam mobil seperti permintaan Andra.

__ADS_1


Seperti biasa, Bening merasa canggung bersama Andra. Ia juga tidak tau harus mengobrolkan apa agar suasana lebih asik. Jadilah dia menutup mulut sambil memikirkan beberapa topik yang hendak ia bincangkan.


"Tumben kamu sendirian, Reno mana?" Pertanyaan Bening selalu saja klasik.


"Dia cabut duluan. Mau ngantarin pacarnya pulang." jawab Andra.


Cewek itu tersenyum kecil. "Oh, dia punya pacar ternyata."


"Ya begitulah." sambung Andra. "kenapa? Elo terkejut? Elo naksir sama dia? Atau elo mau ngedeketin dia?"


"Aduh, kok kamu jadi nyecar sih! Santai dong!"


"Elo naksir sama dia?" Andra mulai lembut kembali.


"Nggak lah. Aku tanya dia karena biasanya kalian selalu barengan. Aneh aja gitu..."


"Oh, baguslah."


"Bagus kenapa?"


"Gue kira elo naksir sama dia."


"Kalo naksir emang kenapa?"


"Ya gue sakit hati!"


"Kenapa sakit hati?"


"Karena elo harusnya naksir sama gue! Kan gue lebih oke dari Reno."


"Cih! Si paling perasaan!"


Andra kembali fokus menyetir. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bening jadi canggung lagi. Kalo Andra udah diam begini pastinya susah memancingnya gaor lagi.


"Oh iya, utangmu belum kamu bayar!"


Andra terhenyak mendengarnya. Namun sesaat kemudian dia tertawa.


"Ampun dah, uang segitu nagihnya kayak elo rentenir aja!" komentar Andra sambil mengeluarkan selembar uang dari saku celananya sisa makan bakso tadi. "Nah!" lanjut Andra memberikan uang itu pada Bening.


"Hehehe, kan lumayan buat ditabung." sahut Bening menerimanya. Kemudian ia sibuk mencari uang harga dua ribuan sebagai kembalian uang Andra.


"Cih, nabung segitu emang buat apa?"


"Buat beli sepatu." jawab Bening sibuk mencari-cari uang untuk dikembalikan pada Andra.


"Sepatu kaca ya?"


"Bukan. Sepatu sekolah." Bening mengangkat kedua kakinya agar Andra bisa melihat kondisi sepatunya. "Sepatu ini udah sekarat. Udah hampir menemui ajalnya. Ibu aku tidak punya uang untuk membeli sepatu, jadi aku nabung deh,"


Andra memperhatikan sepatu gadis itu. Sudah robek. Persis seperti mulut buaya. Kalo bisa jujur, sepatu itu memang tidak layak pake lagi. Andra udah sering bersama Bening, tapi bodohnya ia tidak pernah menyadari kondisi sepatu gadis itu.


"Elo nggak malu pake sepatu begituan ke sekolah?"


"Mau bagaimana lagi, nggak mungkin aku nyolong demi beli sepatu!"


"Elo kan punya ortu, bilangin kek agar sepatu elo ganti,"


"Hehehe. Ibu aku banyak tanggungan. Kasihan kalo memberatkan dia lagi. Makanya aku nabung, entar uangnya bisa dipake buat ganti sepatu ini..." Bening tersenyum kikuk menatap sepatunya.


"Hmmm, jadi tabungan elo udah cukup belum?"


"Masih kurang. Sepatu yang ingin kubeli harganya sekian dan uang tabungan ku masih sekian. Jadi butuh waktu lama untuk mengumpulkan sisanya." ucap Bening memberitahu.


"Gila! Masih banyak banget yang kurang. Kalo semisal elo nabung setiap hari, berarti sampai bulan depan uangnya belum terkumpulkan dong? Lah, terus sepatunya mau dipake kapan dong? Masa dipake setelah lulus!"


"Ya mau gimana. Berarti sampai saat itu aku harus pake sepatu ini..."


Andra menyentak nafas panjang. Ia cukup iba juga pada gadis kuntet itu. Bisa-bisanya pakai sepatu pun terancam karena alasan ekonomi. Tapi di satu sisi dia insecure juga melihat ketabahan hati gadis itu. Dia merasa nothing banget dibanding Bening.


"Elo harus lebih rajin menabung mulai sekarang. Kalo perlu gue bantuin deh."


"Hahaha. Iya, makasih Andra." ujar Bening cepat. "Eh, btw aku tidak punya uang kembalian buat ngembaliin uang kamu. Besok aja ya... gapapa kan?"


Andra mengangguk. "Nggak dikembalikan juga nggak apa-apa kok."


"Nggak boleh gitulah! Itu namanya aku penguras."


"Ya udah, terserah elo aja anak baik..." Andra tersenyum.


Aneh, kok bisa Andra tersenyum semanis itu. Apa dia membaik ya?


"Oh iya, elo mau nggak jadi pacar gue?" tiba-tiba saja Andra berkata seperti itu. Membuat jantung Bening memompa sebanyak sepuluh kali lipat.


"Hehehe, becanda mu nggak lucu Andra!" tegor Bening.


"Gue serius kok." sahutnya santai.


"Kamu nembak aku?"


"Enggak lah, gue mana tega nembak elo."


"Nah? Jadi kamu bermain-main?" Bening mengerutkan keningnya.


"Nggak lah. Gue benaran suka sama elo. Jadi gue minta elo jadi pacar gue."


"Kan namanya nembak Andra!"


"Yaudah iya."


Bening mengalihkan pandangannya ke luar mobil. Tubuhnya bergetar saking tidak nyangka dengan perkataan Andra.


"Elo mau apa nggak?"


"Hmmm. Boleh nggak aku pikirin dulu?"


"Tentu saja. Kenapa tidak? Berapa lama?"

__ADS_1


"Tiga hari."


__ADS_2