Catatan Andra

Catatan Andra
Misi Menyelamatkan Bening


__ADS_3

"Kita bergerak secepatnya aja! Gue nggak tahan lagi! Udah kencing batu njirr!" Leon menatap Reyhan tajam.


"Tenang, broo! Dia nggak akan lari kok," Reyhan mengangkat tangan kirinya untuk melihat waktu. "Masih jam sepuluh, mungkin dia baru keluar dari rumah majikannya. Kita tangkap dia gang aja, soalnya jarak rumahnya agak jauh dari tempat tinggalnya."


"Anjing banget sih lo!"


Andra semakin bingung. Tubuhnya memang di tempat heboh itu, tapi hatinya sibuk memikirkan nasib Bening.


Cowok itu menyusun strategi. Pokoknya dia harus bisa nyelamatin Bening tanpa ketahuan dua orang ini. Bagaimana pun juga ia harus menjaga keselamatannya. Ia sudah menjadi cowok lemah yang nggak bisa apa-apa. Dia nggak sehebat dulu lagi dalam hal bergelud.


Untung seribu untung seseorang menelepon Andra. Cowok itu memperlihatkan pada keduanya kalo yang menghubungi adalah papahnya. Segera ia menjauh agar bisa bebas bicara.


Tak lima menit ia kembali ke tempat mereka. Reyhan dan Reno tak lagi ditempat itu.


Mampus! Jangan-jangan mereka udah bertindak lagi! Batin Andra.


"Woii! Andra!!" dua cowok berandal itu ternyata bergabung dengan cewek-cewek yang sedari tadi bergoyang. "Ikutan sini!"


"Gue nggak bisa, gue harus pulang, bokap gue udah cariin."


"Banci elo!"


"Elo belum nyentuh Russo baltique vodka yang gue beli njirr!" Reyhan mendekati Andra. "Gue udah mati-matian beli itu! Ngeharap elo bakal senang!"


"Kapan kapan deh. Gue lumayan senang malam ini." Andra menepuk pundak Reyhan. "Tadi gue udah neguk wine elo, jadi udah cukup buat traktiran malam ini."


"Elo takut banget sih sama bokap lo!"


"Gue nggak takut sama orangnya, gue takut rekening gue dibekuin gara-gara nggak nurut." Andra tersenyum kecil. "Gue pergi!"


***


"Bu, Bening pamit ya, besok harus sekolah." Gadis manis itu tersenyum sambil mencium punggung tangan ibunya.


"Iya, sayang. Maaf ya, Ibu nginap lagi di sini, soalnya ibu harus jagain anak-anak majikan ibu, kamu tau sendiri mereka sedang berbisnis ke luar kota, " wanita dengan kerutan halus yang menghiasi wajah tersenyum ramah.


"Nggak apa-apa, Bu. Bening udah terbiasa kok," cewek itu tersenyum cerah.


"Anak pinter." Ibu mengusap ujung kepala anak gadisnya. "Kalo kamu takut sendirian, kamu boleh nginap di rumah Putri. Atau nggak kamu ajakin dia tidur di rumah kita... "


"Oke, Bu. Bening jalan dulu ya... " Cewek itu melambaikan tangannya.


"Oh iya, tunggu dulu!" Ibu menahan.     "Kamu kok jalan, biasanya ada anak ganteng yang jemputin. Dimana tuh calon mantu Ibu?" wanita itu tersenyum menggoda.


"Ah! Ibu! Dia bukan pacar aku Bu! Dia teman sekelas aku! Reyhan namanya." Bening manyun jadinya.


"Nggak usah malu-malu, Bening! Ibu tau kamu suka dia. Lagian Ibu setuju kok kalo dia jodoh kamu. Ganteng, baik, tajir. Udah lebih dari cukup itu. Hehehe,"


"Ibuuuuuu!"


"Hahahah, becanda sayang..." Wanita itu tertawa melihat ekspresi puterinya yang tidak jauh beda dengan ekpresi anak-anak yang sedang diledek.


"Ya udah, Ibu antar sampai gang yuk, sapa tau kamu takut... "


Bening tersenyum. "Ayuk!"


Mereka berjalan menuju gang yang berjarak kira-kira empat ratus meter dari rumah tempat Ibu Bening bekerja. Sampai di sana Ibu Bening tak lagi khawatir pada putrinya, karena gang itu termasuk gang yang aman.


"Dadah Ibu... " Bening melambai lagi.


"Dadah sayang..." Ibu ikutan melambai. Mereka mengambil arah yang berlawanan.


Masih sekitar sepuluh langkah Bening berjalan, seseorang berhasil mencopot jantungnya.


"Gue antar yuk!" suara itu berasal dari samping Bening, ternyata seorang cowok dengan moge merah.


"Astaga!" cewek itu memegang dadanya saking kagetnya.


"Cepatan!"


"Kamu siapa?" tanya Bening. Ia memang tidak tau karena pria itu menutup wajahnya dengan helm hitam.


"Andra!" jawabnya. "Udah! Buruan naik!"


Bening terkejut banget mendengar siapa cowok itu. "Kamu ngapain ke sini!"


"Pake nanya lagi!" cowok itu sedikit emosian. "Ayo! Sebelum gue berubah pikiran!"


"Nggak usah! Aku bisa jalan sendiri!" Bening melanjutkan langkahnya.


"Elo kok susah banget sih!" Andra menarik tangan Bening, memperlakukannya agak kasar.

__ADS_1


"Kamu apa-apaan sih! Kurang ajar banget!" Bening menarik tangannya, sedikit membentak.


"Bening, gue nggak punya waktu buat debat sama elo. Jadi plis, naiklah! Ini menyangkut hidup elo!" Andra terpaksa bersikap lembut.


"Aku nggak ngerti!"


"Nanti gue jelasin, yang penting kamu naik aja dulu!"


Karena penasaran plus takut, jadinya Bening naik juga. Andra membawanya dengan kecepatan yang membunuh. Hingga tak sampai sepuluh menit, mereka berhenti setelah ada aba-aba dari Bening.


Rambut pendek Bening berantakan gara-gara angin. Ia memperbaikinya setelah turun dari motor Andra.


"Makasih." ucapnya tidak iklas.


Andra tidak menjawab. Malah melajukan motornya ke gang sempit rumah tetangga Bening. Lalu ia datang ke arah cewek itu lagi.


Bening tentu heran. Perasaan takut mulai menghantuinya.


"Elo nginap di rumah gue aja gimana?" tuh kan Andra aneh banget. "Nggak apa-apa kok... " Cowok itu membuka helmnya. Memperlihatkan bahwa dia memang benar Andra.


"Kamu itu aneh banget deh!"


"Atau gue aja yang nginap di sini?"


"Brengsek!" Bening memaki. "Aku tau kamu punya segalanya, tapi bukan berarti karena itu kamu bebas ngatur aku!"


"Kita masuk yuk... " Andra benar-benar tidak mempedulikan perkataan gadis itu.


"Oke, kamu mungkin biasa melakukan ini sama cewek lain, tapi sorry banget, aku nggak sama dengan cewek-cewek di luar sana yang seenaknya mengiakan kemauan kamu!"


Andra menatap gadis itu. Mata indahnya berembun. Kayaknya sakit hati dengan Andra.


"Okay, kali ini gue memohon, biarkan gue nginap di rumah elo..."


"Kenapa harus?" Bening menghapus air  yang mengalir dari pelupuk matanya.


"Ceritanya panjang... lagipula elo pasti tidak akan percaya kalo gue memberitahu sekarang. Jadi please!! Sekali ini aja.. " Andra mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Bening tidak tau harus berkata apa. Ia hanya bisa menatap pria itu heran.


"Gue nggak bakalan ngapa ngapain elo, sumpah!" Andra mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.


"Yaudah, masuk aja! Tapi ingat, nggak boleh macam-macam dan hanya satu malam ini aja!"


Bening membuka pintu, membiarkan cowok itu masuk.


"Kunciin pintunya!" perintah Andra.


"Nggak usah!" balas Bening.


"Kunciin pintunya, bego!" Andra malah maksa.


Bening berhenti, menatap Andra tajam. "Aku nggak tau mau kamu apa! Tapi apapun itu, aku nggak peduli! Jangan  pikir karena kamu udah ngantarin aku, kamu bebas melakukan apapun. Aku juga nggak bakal mau kalo nggak dipaksa!"


Andra mengepalkan tangannya. "Sekali lagi gue mengalah." gumamnya.


"Bening, kunci pintunya, ya... ini keselamatan elo..." nah, Andra bisa-bisanya bersikap lembut ketika emosinya sudah di puncak.


"Kamu kenapa sih? Aku nggak ngerti! Dari tadi aneh banget! KAMU MAU APA ANDRA MICHAEL?" mendadak Bening menangis. Mungkin saking takutnya pada Andra.


Aduh!!! Gawat! Gue bisa mati di sini! Batin Andra.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di tepat di depan rumah Bening. Andra tau itu pasti Leon dan Reyhan. Keringatnya mulai mengucur deras. Mulai memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


Bening sempat-sempatnya mengintip dari jendela yang ditutupi tirai berwarna biru. Ia terkejut melihat sesosok pria dengan wajah angker keluar dari mobil. Perasaannya mulai tidak tenang.


"Sini!!!" Andra menarik tangannya.


Bening semakin takut, dua keadaan mengerikan diperhadapkan secara bersamaan.


Mata Andra berkeliling di ruangan itu. Ah! Tidak ada tempat persembunyian yang tepat. Di rumah itu hanya ada dua kamar, satu ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Rumah yang sangat kecil hingga siapapun tidak akan berfikir untuk bersembunyi di sana.


"Kita sembunyi di sini aja!" Andra menarik tangan Bening hingga menyeludup di bawah meja. Ia menurunkan taplak meja agar tubuh mereka sedikit tertutupi.


"Gue yakin dia di rumah!" suara Reyhan amat dikenal Bening.


"Kita habisin dia di sini aja gimana?" suara teman Reyhan yang sangat menjijikkan terdengar menyahut.


"Elo udah gila ya? Kita bakal membusuk di penjara kalo melakukan kebodohan itu! Mending kita pake dia di hutan, kita buang mayatnya di sana!" suara Reyhan kembali meningkatkan detak jantung Bening.


"Terserah elo deh! Gue ngikut aja..."

__ADS_1


Bening tiba-tiba menangis. Andra cepat-cepat menutup mulut gadis itu dengan tangannya.


"Elo jangan nangis dong, kita bisa mati di sini tau!" Andra berbisik pelan.


Bening menangis semakin menjadi. Membuat suaranya keluar dari sela-sela jari Andra.


"Aduh! Pliss deh," Andra mendekap gadis itu hingga tubuh mereka mepet. "Gue janji bakal nyelamatin elo, tapi tolong jangan nangis. Jangan bersuara sedikitpun." cowok itu bicara di dekat telinga Bening.


Bening mengangguk. Tapi tangisnya belum reda juga.


Tok... Tok... Tok...


Terdengar suara ketukan pintu.


"Dengerin gue, kalo mereka nanti masuk cari elo ke kamar, kita harus bergegas keluar. Ingat, nggak boleh pake suara!" Andra memperingatkan. Kebetulan mereka ada di kolong meja yang ada di dekat pintu. Jadi mudah aja melarikan diri.


Gadis itu kembali mengangguk. Ia tidak bisa menjawab karena mulutnya masih tetap di bekap tangan Andra.


"Bening! Bukain dong, gue Reyhan!!" Rey bersorak dari luar.


Mendengar itu, Bening menggengam tangan Andra refleks. Bukti dari ketakutannya.


"Tenang, elo aman selagi gue di sini." sempat-sempatnya Andra berkata begitu. Ia semakin mendekatkan gadis itu padanya hingga kepala Bening bersentuhan dengan dadanya. Cewek itu mendadak ciut saat merasakan jantung Andra juga berdegup kencang. Artinya pria itu juga dalam keadaan takut. Tapi kenapa  Andra sok-sok berani? Apa cowok itu ingin membuatya tenang? Alasannya?


Tiba-tiba pintu terbuka. Andra dan Bening bisa melihat wajah keduanya dari lubang-lubang taplak meja. Mereka datang dengan kondisi aneh. Mirip orang mabuk tapi bukan  mabuk. Bening yakin mereka dalam keadaan sadar.


"Bening... " Reyhan memanggil. "Gue datang sayang... Sini main sama kami... " suara pria itu sangat menjijikkan, membuat Bening menangis lagi. Mungkin ia merasa hancur hanya dengan mendengar kalian itu. Tanpa sadar ia menggigit tangan Andra.


"Bening.... " dua cowok itu masuk ke kamar yang berbeda.


"Kita lari sekarang... ingat, jangan bersuara!" bisik Andra melepaskan mulut gadis itu.


Bening mengangguk.


"Gue duluan. Ikuti gue!" Andra keluar dari kolong. Dia berhasil. Ketika giliran Bening, ia mengalami nasib sial. Kepalanya terbentur ke pinggiran meja. Membuat dia refleks menjerit.


"Awww!"


"Tuh suaranya!" Reyhan memberitahu dari kamar.


Menyadari keadaan semakin buruk, Andra buru-buru menarik tangan gadis itu, membawanya berlari.


Kedua manusia brengsek itu keluar dari kamar, mendapati tubuh gadis itu sudah lenyap.


"Dia lari woiii!" Leon menunjuk pintu.


"Anjirr! Kejer  babi!" Reyhan segera bergegas.


Sementara itu Andra dan Bening berlari dari gang sempit yang bertepatan di sebelah rumah Putri. Mereka berlari sekenceng mungkin.


Andra merasa pusing. Sambil menggenggam tangan Bening, dia terus berusaha memberikan kecepatan terbaiknya.


Tiba-tiba ia merasa cairan keluar dari hidungnya. Ia tau itu darah. Pasti efek dari kelelahan.


"Kita sembunyi dulu!" Andra yang kelelahan malah Bening yang minta berhenti.


"Iya, tapi sembunyinya dimana? Gue tidak tau apa-apa di sini!"


Bening langsung masuk ke kandang ayam yang ada lampunya. Mau tak mau Andra juga harus ngikut. Demi keselamatan mereka berdua.


"Aduh!!! Kok kota ngumpat di sini sih!" Andra protes karena melihat ayam-ayam berkotek ketakutan.


"Ini yang lebih aman. Mereka nggak mungkin nilik ke sini!"


Andra tak menjawab lagi. Ia malah mengeluarkan hapenya dari saku. Segera menghubungi seseorang.


"Ren?" Orang yang di seberang langsung mengangkat.


"Iya? Ada apa man?"


"Elo dimana?"


"Di rumah bro. Kenapa?"


"Gue butuh bantuan elo! Gue sedang dalam masalah besar!"


"What? Apa yang terjadi?" orang itu terdengar gusar.


"Ceritanya panjang. Pokoknya elo jemput gue ke... " ucapan Andra terpotong gara-gara tidak tau harus menyebutkan nama tempat itu.


"Ke rumah Junet! Elo tau dimana rumahnya kan?"

__ADS_1


"Tau tau! Tenang bro, gue udah otw nih!"


"Bening.... Elo dimana sayang.... " Suara Reyhan terdengar mendekat. Membuat keduanya refleks menggigit ujung bibir bersama.


__ADS_2