Catatan Andra

Catatan Andra
Bahagia Bercampur Sedih


__ADS_3

Setelah menghabiskan dua minggu mengikuti ujian akhirnya Bening berhasil pulang dengan membawa kabar gembira. Dia lulus ujian. Meskipun namanya berada di urutan nomor dua paling bawah tapi ini suatu pencapaian yang luar biasa.


Temannya, Clara malah tidak lulus. Padahal cewek itu sudah pede banget akan berhasil. Tapi sayangnya nama dia tidak tercantum di pengumuman.


Kabar gembira tentang Bening sudah menjamur di satu SMA Mentari. Tampaknya mereka semua bangga akan anak yang awalnya dipandang sebelah mata itu. Saat ini, namanya sedang menjadi topik hangat baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat tempat dia tinggal. Kenyataannya semua orang yang mengenalnya sudah tau akan berita itu.


Bening menghelai nafas. Baru semalam dia sampai di tanah kelahirannya dan hari ini dia memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Dia tidak sabar bertemu dengan teman-temannya, apalagi dengan Andra. Dia ingin melihat wajah bangga cowok itu. Dia ingin mendapat pelukan hangat, oh lebih dari pelukan. Dia ingin mendapatkan sesuatu yang sudah pernah dia dapatkan sekali sebelumnya. Dia yakin Andra pasti akan memberikannya dengan gampang sebagai hadiah.


Ibu sudah menyuruhnya untuk istirahat dulu hari ini. Tapi dasar Bening batu hingga dia menggeleng dan mengatakan dia tidak butuh istirahat. Dengan cerianya dia memeluk Ibu dan pamit pergi. Ibu hanya tersenyum kecil dan menyuruhnya untuk bahagia hari ini. Bening hanya menggaguk.


Bening mendadak populer di sekolah. Semua orang yang berpapasan dengannya tersenyum sambil melambai. Dia jadi agak gugup dibaikin semua orang.


Di kelas dia wawancarai oleh teman-temannya. Dia ditanyai bagaimana rasanya bertemu dengan bule-bule dari seluruh dunia. Ditanya bagaimana makanan di sana, suasana, bahkan sereceh toilet di sana seperti apa. Bening dengan cerianya menjawab setiap pertanyaan yang diberikan padanya.


"Kamu membuat nama kelas kita harum." Nindi, cewek yang awalnya tidak suka dengan Bening mendadak berkata demikian.


"Iya. Nama kelas kita menjadi obrolan hangat saat ini."


"Iyalah, kita sekarang lebih unggul dari XII IPA 1. Utusan dari kelas mereka aja kalah sama Bening. Cemen!"


Bening tersenyum. Kalo bukan karena Andra dia juga tidak akan bisa masuk ke universitas itu. Eh, bahkan kalo bukan karena Andra dia tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki ke luar negeri. Tiba-tiba rasa rindunya memuncak saat memikirkan nama itu. Tapi kenapa ya Andra tidak mendatanginya. Kenapa ya dia tidak mengucapkan selamat padanya. Apa dia belum tau kabar ini? Tapi sepertinya mustahil dia tidak tau.


Hari ini Bening menunggu. Sampai sore dia duduk di salah satu bangku di sekolah. Dia menunggu Andra. Dia sudah mengirimkan pesan agar cowok itu menemuinya di bangku itu. Tapi sayangnya pesan itu sepertinya tidak terkirim sebab masih centang satu.

__ADS_1


Matahari hampir terbenam, Bening tetap duduk di sana. Dia masih berharap Andra datang. Memeluknya. Mengatakan bahwa dia bangga punya pacar seperti Bening. Tapi sepertinya tidak ada harapan dia akan datang. Hingga akhirnya Bening memutuskan pulang dengan hati yang kecewa.


***


Keesokan harinya Bening kembali menunggu. Dia bertanya pada teman-temannya apakah Andra akan datang? Mendadak wajah mereka berubah. Dan jawabannya hanyalah 'entahlah' ada juga yang menjawab 'mungkin dia tidak akan datang '. Hal itu membuat Bening semakin kecewa.


Gadis itu memberanikan diri masuk ke kelas Andra. Dia sudah bodoh amat dengan semua makian yang akan melayang padanya. Dia hanya ingin bertemu dengan Andra.


Saat memasuki kelas itu, semua penghuninya hening. Tidak ada yang berani menghinanya seperti sebelum-sebelumnya. Ini aneh, apa karena dia berhasil di ujian itu? Atau karena sesuatu? Tapi bukan itu yang penting. Andra lah satu-satunya yang dia cari sekarang.


"Permisi, aku mau nanya, Andra ada gak?" dia memberanikan diri bertanya pada seorang cowok yang duduk di depan paling pojok.


Cowok itu menatap Bening sejenak. "Em, Andra tidak masuk hari ini." jawabnya.


"Tidak masuk? Baru hari ini?"


"Kira-kira dia kemana ya?"


"Waduh, kalo itu gue kurang tau ya, coba aja tanya sama Reno."


"Yaudah, makasih ya." ucap Bening. Dia mencari wajah Reno diantara banyak wajah di kelas itu. Anehnya, tidak satu pun dari mereka menghiraukan keberadaan Bening. Seakan dia adalah arwah yang tak terlihat. Padahal kan biasanya mereka paling ga suka ada orang lain yang masuk ke kelasnya. Paling anti juga sama cewe yang datang nyamperin cowoknya. Apalagi di sana cewek-ceweknya terkenal galak dan kejam. Bening juga sudah merasakan kekejaman itu beberapa kali. Tapi untuk saat ini dia bisa cuek dulu.


Bening menatap Livy. Cewek cantik itu hanya diam sambil memainkan hapenya. Mustahil mereka tidak melihat Bening. Pasti ada sesuatu yang membuat mereka bungkam Seperti itu. Akhirnya bening memutuskan untuk keluar dari kelas itu karena dia tau tidak ada Andra dan Reno di sana.

__ADS_1


Pulang sekolah Bening berlari tergopoh-gopoh menuju parkiran. Dia ingin menemui Reno. Cowok itu juga sangat sulit ditemui akhir-akhir ini. Satu-satunya cara adalah mendatangi mobilnya.


"Ren," Bening menyapa setelah cowok dengan penampilan berantakan itu datang ke arahnya.


"Eh, Bening." dia hanya tersenyum kecil. "Selamat ya, gue sudah mendengarnya."


"Hehe, makasih ya." kata Bening. "Hmm, Andra di mana? Tumben kamu gak bareng dia?"


Reno terdiam sejenak. "Gue ga tau. Gue ga temenan sama dia lagi." jawabnya.


"Hah? Tidak mungkin! Tidak mungkin!" Bening tidak percaya.


"Yaudah sih kalo elo ga percaya. Gue juga ga maksa elo buat percaya." kata Reno sambil membuka pintu mobilnya.


Bening masih terpaku di sana. Dia ingin bertanya lebih banyak lagi. Tapi sepertinya Reno sudah harus pulang.


"Ren, antarin aku pulang dong," untuk pertama kalinya Bening meminta sesuatu. Ini adalah siasat dia untuk bertanya lebih lanjut.


"Maaf Bening, tapi gue masih banyak urusan. Gue duluan ya..." mobil biru itu melesat meninggalkan parkiran.


Hati Bening mendadak sakit. Kenapa dia merasa jadi jauh dari semua orang? Kenapa dia merasa sangat kosong sekarang? Reno adalah salah satu orang yang selalu ada untuknya sebelumnya, tapi sekarang cowok itu kelihatan tidak peduli sama sekali padanya. Dimana letak kesalahannya? Dia tidak terima dengan semua ini.


Sambil berjalan Bening menangis. Gadis itu merasa sakit yang luar biasa. Sepanjang jalan yang dia tempuh bertanya kemana kah Andra pergi? Kenapa cowok itu tidak datang menemuinya? Kenapa dia membiarkan Bening menangis seperti ini? Bukankah dia sudah berjanji bahwa air mata tidak akan dia biarkan jatuh dari pelupuk mata Bening kecuali kalo itu air mata bahagia? Tapi perkataanya saat itu tidak terbukti sama sekali. Saat Bening meneteskan puluhan bulir air mata bukti kesedihannya akan semuanya.

__ADS_1


Sebuah mobil biru mengikuti Bening dari belakang. Pengemudinya mengamati Bening. Dia tau bahwa cewek itu sedang menangis. Tapi hanya ini yang bisa ia lakukan. Menemaninya dari belakang hingga dia sampai ke rumah dengan selamat.


"Maafkan aku Bening." pengemudi itu meneteskan air matanya.


__ADS_2