
"Papa jadi kasihan pada Andra." Seno memulai percakapan saat mereka menikmati makan malam. Kali ini hanya ada dia dan Reno di meja makan. Istrinya sedang ke Italia untuk mengurus beberapa bisnis.
"Iya, dia memang berubah drastis sejak ketemu Bening. Cewe itu sepertinya menyadarkannya akan kesalahan yang selama ini dia perbuat," sahut Reno.
"Tapi tetap aja sudah terlambat."
"Ah, Papa jangan gitu!" Reno tiba-tiba marah. Seno tersenyum getir. Bahkan anaknya pun tidak ingin mendengar fakta yang akan terjadi. Sudahlah, tidak ada juga gunanya membahas tentang kondisi Andra. Itu hanya akan menyebabkan Reno tidak mau keluar kamar.
"Besok Andra akan menjalani kemoterapi." Seno memberitahu.
"Apa?? Dia setuju?" Reno berbinar.
"Iya. Harusnya tadi, tapi kondisi tubuhnya kurang stabil. Jadinya besok deh. Dia mintanya setelah pulang sekolah."
Wajah Reno langsung berubah ceria. Meskipun dia tau bahwa kemoterapi tidak akan menyembuhkan penyakit Andra tapi setidaknya bisa membuat nyawa temannya itu bertahan lebih lama lagi.
"Tapi untuk besok tolong pantau dia, jangan sampai dia capek. Papa juga sudah memberikan rekomendasi makanan dia sampai besok. Semoga dia tidak aneh-aneh lagi,"
Reno mengacungkan kedua jempolnya ke udara. "Serahkan Andra padaku. Aku akan mengurusnya sampai besok." ucap Reno mantap.
Seno tersenyum bahagia melihat sikap putranya. "Kamu semakin membuat Papa bersemangat untuk membantunya sembuh."
***
"Ma, malam ini Andra ingin makan telor ceplok plus sayur brokoli." Andra tiba-tiba memberikan permintaan pada saat makan malam sudah terhidangkan di atas meja. Tentu saja kedua orang tuanya heran kenapa Andra tiba-tiba aneh seperti itu.
"Loh? Makan malam kan udah tersedia sayang," bales Mama sambil mengisi piring suaminya dengan nasi.
"Andra lagi bosan makan daging." jawab Andra.
"Yaudah, bentar Mama bilangin ke pak koki dulu ya,"
"Andra mau Mama yang masakin." kata Andra tersenyum. Hal tersebut membuat dia terlihat semakin aneh.
"Dari sekian banyak makanan yang sudah sediakan kenapa harus merepotkan diri dengan memilih makanan yang tidak ada? Makan saja yang sudah disediakan! Jangan merepotkan mamamu!" tiba-tiba suara berat papanya mematahkan senyuman Andra.
Mama tersenyum sambil berkata, "Baiklah, sebentar mama buatkan ya, sayang."
__ADS_1
"Makasih Ma," jawab Andra.
"Iyo juga mauuu!" Andrio tiba-tiba menyahut.
"Hmm, baiklah, sepertinya menunya harus diganti malam ini. Kita bertiga akan makan telor ceplok dan sayur brokoli." Mama berdiri dan berjalan menuju dapur. Dia mulai memasak makanan yang diinginkan oleh Andra malam ini.
"Kamu semakin bertambah aneh saja!" kata Papa pada Andra saat Mama tidak ada. "Sebelumnya kamu bertingkah seperti jagoan, sekarang seperti anak-anak. Papa speakless."
Andra menatap adik kecilnya yang diam di kursi menunggu mamanya membawakan makan malam untuk mereka. Anak itu sangat mirip dengan Andra. Berwajah jenius dan berekspresi tenang. Dia memiliki potensi yang lebih besar dari Andra. Harapannya semoga Andrio bisa menjadi anak yang lebih baik darinya. Hanya dia satu-satunya harapan sekarang. Tapi Andra yakin jika papanya tetap begini maka adiknya hanya akan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dia lakukan saat ini. Tapi belum terlambat, dia masih bisa mengubah ayahnya.
"Pa, Andra selalu bertanya-tanya, apa Papa sayang sama Andra?" Mata Andra tidak lepas dari wajah adiknya yang lugu. "Tapi asal Papa tau, apapun yang sudah Papa lakukan, apapun pemikiran Papa, Andra selalu bangga punya orang tua seperti Papa. Andra selalu menyayangi Papa."
***
Bening menatap kalender yang tertempel di dinding kamarnya. Ujian ke AS tinggal dua bulan lagi terhitung dari malam ini. Semuanya sudah disiapkan oleh pihak sekolah. Dia juga sudah belajar keras dibawah bimbingan Andra. Kalo kata Andra sih persiapannya sudah menyentuh 60 persen. Jadi dia disuruh untuk mengejar 40 persennya di dua bulan terakhir.
Gadis itu merenung sejenak. Semangat belajarnya menghilangkan selama dua hari terakhir ini. Apa karena tidak bertemu dengan Andra? Jelas iya, karena saat ini pun dia sangat merindukan cowok itu.
Tiba-tiba dia meletakkan bolpoinnya. Mulai menyalakan hape. Fotonya dengan Andra saat duduk bertatapan dekat jalan raya waktu itu menjadi wallpaper layar kunci. Mereka tampak serasi mengenakan sweater berwarna abu-abu. Foto itu diambil oleh Reno secara diam-diam dan hanya diberikan pada Bening. Reno mengatakan foto itu terlalu berharga jika dia yang menyimpannya. Akhirnya Bening menjadikannya sebagai wallpaper agar selalu terkenang dengan momen itu.
"Bersiap untuk tidur"
Bening mengerutkan keningnya. "Masih jam 9"
"Tumben tidur secepat ini"
"Aku cape"
"Aku bobo dulu ya"
"Maaf hari ini aku ga bisa ngasih banyak waktu buat kamu"
"Kamu jangan begadang ya"
"Jaga kesehatan"
"Semangat belajarnya"
__ADS_1
"Dadah"
Tuh kan, baru juga mau diajak ngobrol orangnya malah kecapekan. Mau bagaimana lagi, dia hanya bisa membalas, "Oke, gpp, sleep well ya"
Bening menghelai nafas panjang. Tiba-tiba ada panggilan masuk. Ternyata dari Reno. Kenapa cowok itu menelponnya? Tanpa ba-bi-bu Bening langsung menjawab.
"Kenapa, Ren?"
"Aku bukan Reno." jawab orang di seberang. Jelas sih bukan Reno soalnya suara itu agak melengking seperti suara cewek.
Bening mengerutkan keningnya. Sepertinya dia mengenali suara itu.
"Tasya?" tebak Bening.
"Hehe, kamu hapal ternyata." ternyata benar Anastasya.
"Ada apa Tasya? Kenapa tiba-tiba menelfon ku?"
"Hmm, iya nih, aku lagi butuh bantuan banget. Aku sedang bermasalah dengan petugas keamanan. Aku disuruh memanggil orangtua atau kerabat. Kalo orang tuaku sampai tau aku bermasalah begini, mereka akan marah dan menghukumku. Jadi tolong bantu aku Bening," kata cewek itu.
"Kan ada Reno," sambung Bening.
"Sama aja, Reno juga bakal marah kalo tau aku begini. Tolongin dong Bening..."
"Memang kamu di mana?"
"Bentar, aku shareloc nih."
Bening membuka lokasi itu. Lumayan jauh dari rumahnya. Kalo naik grab lumayan juga. Tapi dia sudah menganggap Anastasya sebagai temannya maka dia merelakan pergi ke sana. Sampai di sana Bening agak bingung karena ternyata bukan kantor keamanan yang dia datangi melainkan sebuah club malam. Dia terkejut melihat Anastasia menghampirinya dengan keadaan setengah mabuk.
"Ta-Tasya..." dia agak kecewa karena merasa dibohongi.
"Akhirnya elo datang. Gua tau elo bakal datang. Hahaha," gadis itu tertawa aneh. Penampilannya juga agak kurang sopan malam ini. Mini dress berwarna magenta yang hanya menutupi seperempat bagian tubuhnya. Apa ini sisi Anastasya yang sebenarnya?
"Ayo masuk," Anastasya menarik tangan Bening agar masuk ke dalam. Dia tidak bisa menolak. Bening merasa asing banget dengan tempat itu. Orang-orang yang kira-kira seusia dia pada mabuk sambil bergoyang-goyang mengikuti musik yang menggema di seluruh ruangan. Cewek-cewek juga pada berpakaian aneh dan ikut mabuk. Dia merasa salah kostum, eh merasa salah tempat.
"Kamu tau ga? Syarat pertama agar langgeng dengan Andra adalah menikmati dunia malam."
__ADS_1