
Salah satu ruangan di rumah sakit tempat nana dirawat sudah dijadikan tempat kerja alex sementara. Sebagai pemilik rumah sakit, dia memiliki akses yang lebih bebas. Saat ini alex dan teman- temannya sedang berkumpul. Terlihat wajah alex yang menahan emosi setelah mendapatkan informasi dari sahabatnya.
"jadi maksudmu dia salah paham dengan ku?" tanya alex kepada kevin
"iya , kamu tahu saat kita masih kuliah. Adiknya pernah menyatakan telah dinodai olehmu." ucap kevin pada alex. Sedangkan alex menghela nafas mengingat kejadian di masa lalu. Dia tidak menyangkan niat baiknya di masa lalu untuk menutupi kebusukan adik sahabatnya menyebabkan nana terluka.
"dia tidak bersalah lex , bagaimanapun dia hanya seorang kakak yang ingin memperjuangkan adiknya hanya saja sang adik yang tidak tau diri itu." ucap jonathan
"aku tidak pernah mempermasalahkan itu tapi dia sudah melukai nana." ucap alex sedikit emosi mengingat keadaan nana beberapa hari lalu. Dia tidak menyangka sahabatnya dengan tega melepaskan tembakan padanya.
"dia sudah sadar lex, bahkan dia ingin meminta maaf padamu." ucap rico pada alex.
Mereka berlima sadar akan persahabatan yang terjalin selama bertahun-tahun bukan hanya sekedar pertemanan semata. Persahabatan mereka sudah seperti persaudaraan. Melihat sahabatnya yang berniat melukai alex membuat rico, kevin , jonathan, dan nick kesal tapi mengingat mike hanya terhasut oleh omongan sang adik. Hal itu membuat mereka tidak ingin menghancurkan persahabatan yang sudah terjalin lama.
"sebenarnya, mike tidak pernah ada niatan menyakiti nana lex" ucap kevin. Dia tahu semua rencana mike karena hanya dirinya yang memiliki hubungan lebih dekat pada mike. Pria itu seakan terbuka kepada mike walaupun tahu sang sahabat tak akan pernah mendukung rencannya.
"orang yang memberikan tamparan dan goresan pada wajah nana adalah angel. Beruntung mike saat itu datang ketika angle mau melukai nana lebih lanjut." ucap kevin
"s*al\, wanita j***** itu tidak pernah sadar akan kesalahannya di masa lalu." ucap alex kesal saat tahu orang yang telah meninggalkan luka pada wajah cantik wanitanya.
"kamu sudah menemukan keberadannya?" tanya alex pada rico. Rico menggelangkan kepala menjawab pertanyaan sahabat sekaligus atasannya itu.
"dia menghilang setelah melukai wajah nana, tapi kami menemukan jejaknya di salah satu negara." ucap rico
"kamu harus menemukannya dan bawa keruangan itu." ucap alex disaat bersamaa sebuah pesan masuk di hpnya. Dia tahu kalau yang mengirim pesan itu wanitanya karena dia memberika dering berbeda khusus untuk wanitanya.
"baru saja di tinggal beberapa menit dia sudah mencarimu." ucap jonathan yang diberikan tatapan tajam oleh alex
"kalau iri , bilang ajah. Kejar sana Tia kalau terlalu lama nasib mu seperti saat mengejar nana." ucap nick pedas pada jonathan.
"dia hanya teman nick." ucap jonathan sebal
"berhentilah mengelak, saat kamu berkenalan dengan nana pun kamu bilang seperti itu. Jika memang kamu gak minat biar aku saja yang mengejarnya." ucap kevin yang dibalas tatapan tajam oleh jonathan. Tatapan itu mengartikan ketidak sukaan atas ucapan sang teman.
"alex berhentilah tersenyum seperti itu , kau membuat kita takut." ucap jonathan melihat sang sahabat yang sedang asik berbalas pesan dengan tungannya dan melupakan keberadaan sahabatnya.
"suka -suka aku mau bagaimana toh ini ruanganku keluar kalian, wanitaku akan berkunjung." usir alex pada teman-temannya.
__ADS_1
"lihat pangeran kutup sedang bucin ." ucap nick sambil meninggalkan ruangan alex
"benar nick tidak menyang pria menyebalkan itu akan semakin menyebalkan saat jatuh cinta dia seperti ABG labil kalau berhubungan dengan wanitanya." ucap rico mengingat kelakuan atasannya itu saat di kantor kalau nana berada di sisinya. Terkadang membuat jiwa jomblonya bergejolak meminta dikasihani tapi sayangnya si pembuat onar itu tidak mempedulikan perasaannya.
"biarkanlah , setidaknya dia terlihat seperti manusia saat ini bukan kulkas berjalan." ucap kevin membalas ucapan sang temannya.
"kasihan nana mempunyai pacar yang aneh. harusnya dia milih aku bukan pria aneh itu............."
"bugggh" sebuah sepatu melayang kekepala jonathan
"aaw, hey bisa tidak melempar barang aku bukan target untuk kau lempar ." ucap jonathan sambil melemparkan sepatu alex kepada sang pemiliknya tapi dapat dengan mudah dihindari oleh alex.
"berhenti mengharapkan nana karena dia hanya milikku sudah kejar Tia kalau kamu diam terus statusmu akan jadi jomblo selamanya. hahahhahahha." ucap alex yang di akhiri dengan suara tawa yang menggelegar ruangan itu sedangkan jonathan merasa sebal melihat tingkah sahabatnya itu.
"berhentilah mengolok-ngolokku dasar bucin." ucap jonathan lalu meninggalkan ruangan itu. Dia sudah malas berbicara dengan temannya itu.
Alex duduk di kursi tempat dia melakukan semua pekerjaan yang dibawa rico selama nana dirawat. Dia benar-benar tidak pernah ingin berjauhan dari nana. Ruangan ini adapun akibat omelan sang ibu saat tahu dia membawa pekerjaan ke ruangan nana yang membuat suasanna menjadi tidak enak ucap sang ibu waktu itu. Padahal nana tidak pernah mempermasalahkan itu tapi memang sang ibu selalu saja bersikap berlebihan kalau berhubungan dengan nana. Dia terkadang harus berebutan dengan sang ibu.
"toktok." sebuah ketekun berasal dari pintu, Alex segera berjalan menuju pintu karena dia tahu siapa yang mengetuk pintu itu.
"Tia meningan kamu cari jonathan tuh , pepet ajah terus dia mah gak peka da." ucap nana mengusir secara harus sang sahabat.
"aku hanya menganggapnya teman dan aku tahu kamu hanya ingin berduan dengan tunanganmu inikan." ucap Tia yang menyebabkan rona merah muncul di pipi nana yang membuat alex merasa gemas dengan nana.
"baiklah aku pergi dulu ya kalau butuh apa-apa kamu bisa telepon aku na bye." ucap Tia meninggalka kedua orang itu.
"ayo masuk baby." ucap alex sambil mendorong kursi roda tunangannya.
"padahal aku bisa keruanganmu loh." ucap alex pada nana
"aku bosan di ruangan itu lagi pula aku sudah sehat alex." ucap nana pada alex
"lihatlah memar di kakimu saja belum sepenuhnya sembuh jadi jangan ngeyel." ucap alex marah mendengar rengenkan nana untuk pulang.
"tapikan istirahat di rumah juga bisa ." ucap nana masih mencoba untuk membujuk alex
"Kalau kamu di rumah siapa yang menjagamu ? aku tidak bisa berdua denganmu seperti di rumah sakit."ucap alex
__ADS_1
"memang semestinya kamu tidak boleh saat ini juga, kita belum menikah." ucap nana protes. Sejak nana sadar, wanita itu sudah meminta untuk tidak ditemani oleh alex saat malam tapi pria itu tetap ngotok ingin menemaninya.
" kalau begitu kita nikah malam ini saja." ucap alex dengan santai sambil berdiri berniat menarik kursi roda nana namun sebuah pukulan jatuh pada tangan alex.
"auu, baby kamu kdrt sama aku." ucap alex dengan wajah merajuknya
"huh, hilangkan wajah itu tidak cocok buatmu dan kamu pikir nikah kaya ngajak main ajah ." ucap nana sebal
"kamu mau ikut ajakan aku main ke KUA baby." ucap alex, pria itu selalu senang melihat wajah kesal wanitanya yang menurutnya imut. Apalagi ketika bibir manyun dengan pipi cubby yang mengembang.
"ALEX." teriak nana pada alex. Nana tidak menyangka pria yang disebut-sebut dingin dan jarang ngomong saat ini sangat cerewat dan jail. Senyum sudah pasti tidak pernah hilang dari wajah pria itu saat bersamannya.
"hahhahhaha, kamu menggemaskan sayang saat ngambek seperti ini." ucap alex sambil mencubit kedua pipi cubby wanitanya yang semakin besar selama di rumah sakit. Hal itu yang menyebabkan alex harus menahan dirinya untuk tidak menggigit pipi bapau itu.
"aaaauuuu, jangan cubit pipiku." ucap nana sambil memegang kedua pipinya. Alex baru teringat akan kedua pipi wanitanya yang sedang tidak baik walaupun memar dipipi kirinya sudah mulai berkurang. Saat iya melihat wajah wanitanya seketika emosi marahnya muncul. Pada pipi kanan nana sudah tidak semulus dulu ada garis sekitar 10cm akibat wanita gila yang sedang alex cari saat ini.
"maaf baby, aku lupa tentang lukamu apakah masih sakit? aku akan ....."
"sudah jangan berlebihan ini hanya sakit karena cubitanku untuk luka dan memar sudah sembuh kok." ucap nana mencoba menenangkan emosi pria di depannya itu. Dia tahu alex akan selalu meluap ketika melihat luka di pipinya.
"aku sudah tahu tentang penculik dan wanita itu alex. Biarkanlah mereka , aku sudah memaafkannya." ucap nana mengagetkan alex. Pria itu bingung dari mana wanitanya mengetahui informasi mengenai pria yang menculik nana dan wanita yang berniat melukai nana.
"aku sudah ada di depan ruanganmu sejak kalian membicarakan temanmu dan adik temanmu." ucapan nana membuat alex semakin terkejut.
"Apa?" ucap alex
"tadi aku abis jalan-jalan dari taman bersama Tia lalu aku berniat ke ruanganmu untuk mengajak makan siang bersama. Namun siapa yang menyangka aku mendengar semua itu," jelas nana.
"Mereka tidak semestinya kamu maafkan baby." ucap alex tidak setuju pendapat wanitanya.
"Mungkin untuk angle aku setuju tapi untuk sahabatmu, aku tidak setuju. Dia tidak sebenarnya salah. Sahabatmu hanya menjalankan tugas seorang kakak untuk adiknya." ucap nana mengelus kedua tangan alex.
"Baiklah aku akan mengikuti saranmu itu untuk mike tapi tidak untuk angle. Wanita itu terlalu berbahaya bila dibiarkan saja." ucap alex
"ya aku setuju lex, aku dan kedua orang tuaku memberikan kebebasan untukmu memberikan hukuman pada wanita itu." ucap seorang pria yang mengejutkan alex dan nana saat melihatnya. Pria itu mendekati alex.
"Aku mengucapkan maaf untukmu dan tunanganmu. Bodohnya aku dimanfaatkan oleh wanita licik itu." ucapan pria itu mengejutkan nana dan alex yang mendengarnya.
__ADS_1