
Nana terdiam melihat pemandangan di depanya. Dia tidak habis pikir dengan suaminya yang mengatakan akan memperlihatkan sesuatu yang menarik. Memang sangat menarik saking menariknya Nana merasa hidupnya sebentar lagi menghilang. Jika saja tidak ada pembatas antar hewan perliharaan Alex.
Dua buah hewan buas yang ukurannya sangat besar. Apakah suaminya itu bosan hidup hingga memelihara hewan yang bisa saja menyerangnya. Ketika mereka sedang kelaparan. Bukankah liburan ini lebih buruk dibandingkan dirinya dikurung di rumahnya.
“Alex.”
“iya sayang.” Balas Alex yang menatap wajah istrinya. Dia tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi takut Nana pada hewan peliharaannya. Hal wajar reaksi istrinya. Karena sahabatnya juga ikut terkejut saat dia memperlihatkan sahabatnya saat kecil.
“Mereka adalah teman bermainku saat kecil.” Ucap Alex yang membuat Nana semakin terkejut. Bukankah luar biasa sekali teman bermain suaminya ini. Kalau anak normal lain teman bermainnya kucing atau anjing. Sedangkan suaminya adalah singa dan harimau.
“Kamu bermain atau sedang mengadu kekuatan.”Sindir Nana yang membuat Alex tertawa mendengarnya. Tidak sepenuhnya ucapan istrinya itu salah. Kakeknya memang melatihnya di hutan rimba dekat villa ini. Dia harus bertahan hidup untuk bisa keluar dari hutan itu.
Kedua hewan buas ini adalah hewan yang dia selamatkan saat kecil. Dulu kedua hewan buas ini masih sangat kecil. Sekarang kedua hewannya sudah besar dan menakutkan untuk istrinya tapi tidak untuk Alex. Mereka seperti seekor kucing jika bersama dengannya.
“Keduanya sayang, aku bermain untuk mengadu kekuatanku dan ketanggapanku.” Jelas Alex yang membuat kedu mata nana hampir saja meloncat saat mendenganrya. Bukankah hal itu gila bila dilakukan oleh anak kecil. Sekarang Nana takut kalau anaknya akan didik seperti itu oleh pria di depannya.
Tentu saja Nana tidak akan membiarkannya. Satu hal yang pasti jika hal itu terjadi. Dia akan mengamuk pada suaminya. Enak saja anaknya yang dirawatnya dilemparkan ke hewan buas seperti makanan mereka saja. Dia saja hamil susah masa sudah dilahirkan dijadikan sebagai santapan binatang perliharaan suaminya.
“Kamu tidak berniat melakukan hal itu pada anakku bukan?” tanya Nana dengan tatapan menyelidik. Sedangkan Alex tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. Tentu saja dia akan melatih anaknya kalau laki-laki. Kalau yang lahir anak perempuan dia tidak akan melakukannya. Karena anak perempuan akan diperlakukan sebagai seorang putri.
__ADS_1
“Jangan tersenyum seperti itu. Aku jadi takut dengan senyumanmu.” Ucap Nana yang membuat Alex tertawa. Dia menarik badan istrinya mendekat. Lalu dia membelit tangannya di perut istrinya yang sudah tidak rata lagi.
“Aku akan melakukannya jika anak kita laki-laki. Dia harus kuat karena mereka harus melindungi ibunya. Aku tidak ingin punya anak laki-laki yang lemah.”Ucap Alex yang membuat Nana kesal. Dia menatap tajam suaminya.
“Enak ajah, kamu lempari anakku ke hewan buasmu ini. Kamu pikir hamil itu mudah.” Ucap Nana yang melepaskan pelukan suaminya itu.
“Anak kita sayang, selain itu aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Aku juga menyangi mereka.” Jelas Alex sambil mengelus punggu istrinya. Perlakuan seperti biasanya bisa membuat amarah istrinya luruh.
“kamu lihat ya kedua hewanku benar-benar jinak.” Ucap Alex yang berjalan mendekati kurungan kedua hewannya. Nana menatap takut dengan tindakan suaminya. Dia belum siap ditinggal suaminya lagi.
“Alex kamu jangan aneh-aneh. Kamu ingin aju jadi janda dua anak.” Ucap Nana yang membuat pria itu berhenti melangkah. Dia menatap tajam istrinya. Sungguh Alex tidak suka ucapan Nana. Tidak mungkin dia biarkan istrinya menjadi janda muda. Apalagi akan banyak yang mengantri untuk menjadi suami istri cantiknya itu.
“kamu lihat saja mereka jinak.” Ucap Alex yang sudah membuka salah satu kandang. Hewan itu langsung menerjang suaminya yang membuat wanita itu berteriak karena terkejut. Dia berpikir kalau suaminya diserang oleh singa.
“ALEX.” Teriak Nana yang membuat singa itu terkejut. Sekarang singa itu menatap nana seperti siap menyerangnya. Tapi sebuah elusan di kepala singa itu membuat hewan buas itu tenang.
“Lihatkan dia jinak.” Ucap Alex dengan senyuman mengembang. Tapi tidak bisa menghilangkan rasa khawatir pada Nana. Wanita itu memilih meninggalkan suaminya. Dia lebih baik kembali dibandingkan harus berada di sini dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa.
Alex yang melihat istrinya berniat meninggalkannya. Dia segera keluar dan mengkunci lagi pintu sangkar singanya. Singa itu seperti seorang kucing yang merajuk. Ternyata kucing besar itu masih rindu dengan sang pemiliknya. Karena sudah lama mereka tidak saling bertemu.
__ADS_1
Pria itu berlari agar bisa menyamakan langkahnya dengan sang istri. Mungkin nana sedang marah padanya karena membuat wanita itu khawatir. Alex merasa bersalah karena sudah membuat istrinya khawatir padanya. Harusnya dia tidak mengajaknya menemu kedua hewan peliharaan saat kondisi istrinya sedang hamil tua seperti saat ini.
“Kamu marah?”tanya Alex yang sudah ada di samping wanita itu. Nana tidak berniat memjawab pertanyaan suaminya. Dia masih masalah dengan suaminya yang tidak peka.
Alex langsung menahan tangan istrinya. Nana mencoba menepis tangan suaminya tapi tenaganya kalah jadi dia hanya bisa diam saja. Alex langsung menarik wajah istrinya yang ternyata sudah berurai air mata.
“Aku minta maaf Sayang.” Ucap Alex yang menarik badan istrinya yang mulai bergetar. Mungkin tadi Nana syok melihat singanya meloncat padanya. Dia berpikir kalau Alex sedang diterkam oleh hewan itu.
“Kamu jangan lakukan itu lagi. Aku takut.” Ucap Nana dengan suara yang bindeng karena menangis. Ternyata istrinya setakut itu. Sebenarnya dia senang karena Nana sangat mencintainya sehingga dia takut terjadi hal buruk padanya.
“Ya aku berjanji tidak akan membuat kamu khawatir lagi. Mungkin nanti saat kamu sudah bisa mengontrol perasaanmu. Aku akan memperkenalkan kedua hewan itu padamu.” Ucap Alex yang mendapatkan tatapan tajam. Bisa-bisanya suaminya masih saja mengungkit hal itu.
“Alex.” Panggil Nana yang membuat pria itu tertawa pelan. Dia seperti tidak merasa bersalah dengan ucapannya tadi. Dasar suaminya itu memang menyebalkan.
“Kita sudah jalan-jalan, bukankah kita harus menghabiskan waktu di kamar lagi.” Ucap Alex yang langsung mengangkut badan istrinya. Nana terkejut karena dia tiba-tiba sudah diangkat oleh suaminya.
“Alex kita baru saja keluar beberapa jam saja. Masa harus kembali ke kamar lagi.” Protes Nana yang tidak ingi berakhir dengan bermain dengan suaminya. Sudah cukup bukan tiga hari mereka terus melakukannya tanpa berhenti. Mungkin mereka berhenti saat Nana benar-benar terlihat sangat lelah. Baru saja suaminya akan berhenti.
“Aku sudah merindukan anak kita. Aku ingin mengunjungi mereka.” Ucap Alex yang berjalan menuju kamarnya. Pada akhirnya Nana bisa pasrah saja tidak bisa menolak keinginan suaminya itu.
__ADS_1