
Nana menikmati kegiatannya hari ini. Rasanya sudah lama sekali dia tidak berjalan-jalan tanpa Alex. Dia seperti saat sebelum bertemu suaminya yang sangat kaya itu. Tapi nana sampai sekarang belum terbiasa dengan gaya hidup suaminya yang terlalu boros pikirnya.
Apalagi kalau dia berjalan-jalan dengan mom. Rasanya nyawa nana hampir melayang melihat berapa banyak barang yang dibeli oleh mertuanya. Selain itu harganya juga selangit yang membuat nana ingin menangis. jika mengingat kondisi ekonomi saat hidup sendiri.
Mereka sudah hampir 3 jam berkeliling di mall yang biasa dikunjunginya dan Tia. Tentu bukan mall milik suaminya yang harganya selangit. Harga barangnya membuat jiwa miskin seperti Nana berteriak terus menerus.
Nana hanya membeli beberapa novel untuk menemaninya saat bosan di rumah atau di kator Alex. Sedangkan kedua temannya sudah banyak menenteng tas berisi baju, tas atau sepatu. Semua barang itu dibelikan oleh nana. Tapi nana tidak tertarik membeli barang yang dibawa oleh Rika atau Tia.
Karena barang yang dibelikan oleh mom saja belum semuanya dipakai. Rasanya terlalu boros kalau dia membeli baju atau tas lagi. Selain itu nana juga jarang keluar rumah. Dia hanya menggunakan pakaian rumah biasa jika sedang tidak pergi kemana-mana.
“Kamu tidak akan membeli apapun nana? Aku jadi tidak enak. Kamu membelikan aku barang-barang ini. Sedangkan kamu hanya membeli beberapa buku saja.” Tutur Tia yang sadar kalau dia seperti memoroti temannya ini.
“benar nona, saya merasa tidak enak kalau nona tidak beli apapu. Kalau tuan alex lihat, beliau bisa marah.” Ucap rika.
“Tenanglah, aku sudah membeli ini. Akukan tidak setiap hari bisa keluar saat ini. Kalau buat beli barangku tidak usah pergi. Alex pasti sudah sediakan yang baru tiap bulan.” Ucap nana sambil menunjukkan keresek belanjaan berisi beberapa novel kesukaanya.
“Tapi..”
“Sudahlah Tia, nikmati saja kapan lagi coba punya teman kaya aku. Hahahah.” Ucap nana dengan nada sombong yang membuat Tia dan Rika ikut tertawa melihat tingkah nana.
“Kita makan dulu ya, aku lapar.” Ucap nana sambil menarik kedua tangan temannya ke dalam salah satu restaurant jepang. Hari ini nana ingin makan sushi rasanya sangat enak untuk jam segini pikir nana.
“Kalian bisa pesan apapun.” Ucap nana pada kedua temannya.
Beberapa saat kemudia makanan yang dipesan mereka datang. Ketiga wanita makan sambil sesekali ketiga saling bergurau. Nana sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan kedua temannya.
Rika tidak menyangka majikannya akan menganggapnya sebagai teman apalagi sahabat majikannya tidak mempermasalahkan statusnya. Kedua wanita yang ada di depannya sangat baik dan tidak memandang orang dari status atau pekerjaan mereka.
“Rika, kamu ingat tidak dokter yang terakhir datang ke kediaman aku?” tanya nana.
__ADS_1
Sebenarnya setelah dia pingsan akibat teror. Alex memberikan beberapa vitamin yang katanya diresepkan oleh dokter keluarganya. Hanya saja dia sedikit aneh dengan jenis obatnya. Rasanya dia obat yang sering dikomsumsinya sedikit berbeda.
“saya ingat, nona Jenita. Dia dokter keluarga tuan alex.” Ucap Rika.
“Ada apa na? kamu tidak akan tiba-tiba nanya sesuatu. kalau tidak ada yang mengganjal di hati kamu bukan?.” Tanya Tia yang sangat mengerti dengan perubahan nana.
“Sebenarnya alex memberikan obat yang katanya diresepkan oleh dokter yang mengecek kondisiku. Tapi jenis obatnya sangat berbeda dengan obat yang selalu aku gunakan.” Jelas nana dengan suara pelan.
“Kamu sempat mengomsumsinya?” tanya Tia.
Nana menggelengkan kepala. Dia tidak berani mengomsumsinya. Beruntungnya dia bisa beralasan karena obat dari dokter kandungannya masih ada. Jadi alex tidak memaksa nana untuk mengomsumsi obat itu.
“Bagus, kamu bawa obat itu?” tanya Tia.
Nana mengambil obat yang sengaja dia bawa. Mungkin nana tidak langsung mengeceknya ke apotik. Tapi Tia bisa melakukannya untuk nana.
Alex belum menemukan pelaku terornya. Hal itu berarti pelakunya sedang bebas. Dia tidak mengenal dokter yang merupakan dokter keluarga Alex. Walaupun dokter itu sudah mengabdi lama pada keluarga suaminya. Tapi dia merasa curiga saat melihat jenis obatnya.
“Aku akan mengeceknya pada temanku yang apoteker. Kamu harus lebih hati-hati.” Ucap Tia dengan suara pelan.
“Tentu saja.”
“Nona saya akan melindungi anda.” Ucap Rika.
“Bagus rika aku titip sahabatku ini. Kita harus saling jaga. Bukankah sebaiknya kembali. Suamimu akan uring-uringan jika terlalu lama ditinggalkan.” Ucap Tia yang diukiti tawa di akhirnya. Rika juga ikut tertawa dengan gurauan teman nonanya.
Sedangkan nana menatap sebal pada sahabat. Sepertinya kegilaan Alex sudah tersebar pada orang sekitarnya. Ada rasa senang sekaligus kesal. Karena sikap protektif Alex terlalu berlebihan pikir nana.
Ketiganya keluar dari rumah makan. Belum berjalan jauh, nana tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita. Wanita yang bertabrakan nana jatuh, sedangkan nana masih tertahan oleh Rika dan Tia.
__ADS_1
Nana merasa tidak enak karena sudah membuat wanita di depannya jatuh. Nana mengulurkan tangan untuk membantu wanita itu. Wanita itu tersenyum dan menerima uluran nana.
“Apakah nona baik-baik saja? Tanya nana.
“nyonya Alex.” Ucap wanita itu.
“Anda mengenal saya?” tanya nana yang tidak tahu dengan wanita di depanya. Rika sedikit menarik baju majikannya. Lalu dia membisikan sesuatu pada nana.
“Dia adalah dokter jenita.” Nana terkejut dengan wanita di depannya. Kenapa bisa secepat ini mereka bertemu.
Nana menatap wanita didepannya dari kaki hingga wajah. Dia seperti merasakan sesuatu negatif dari wanita di depannya. Jenita yang di depannya seperti wanita yang selalu ada di novel romantis. Wanita yang suka mengganggu suami orang.
“Dia seperti pelakor.” Ucap nana dalam hati.
“Ah saya dokter pribadi keluarga Alex. Apakah kesehatan anda sudah membaik?” tanya jenita dengan senyum manis.
“Iya, terima kasih atas vitamin yang dokter jenita berikan pada saya.” Ucap nana dengan senyum palsunya. Tentu saja tidak ada yang sadar kecuali Tia dan suaminya. Kalau senyumannya hanya palsu.
“Saya ikut senang mendengarnya. Kalau nyonya merasakan sesuatu yang tidak nyaman bisa langsung kabari saya. Kalau begitu saya permisi.” Ucap jenita yang meninggalkan nana.
Senyumannya luntur saat sudah jauh dari nana. Sekarang hanya muka kesal yang tergambar di wajahnya. Dia tidak menyangka kondisi nana masih baik-baik saja. Bahkan semakin sehat padahal dia sudah memberikan obat pelemah kandungan.
“Sialan kenapa dia masih sehat saja? Sepertinya orang itu tidak bekerja dengan benar.” Gumam jenata.
Nana dan kedua temannya melanjutkan jalan mereka ke tempat parkir. Pak tito dan seorang supir sudah menunggu mereka. Sebelum ana naik, Tia menarik tubuh sahabatnya.
“sebaiknya kamu berhati-hati pada wanita tadi. Aku merasakan dia bukan orang baik. Kalau sudah dapat hasil dari obat itu akan segera aku kabari. Hati-hati di jalan.”ucap Tia yang dijawab anggukan oleh nana.
Ternyata sahabatnya juga sadar kalau dokter jenata bukan wanita yang baik. Mungkin orang lain bisa tertipu dengan wajah polos wanita itu. Tapi berbeda dengan nana dan Tia.
__ADS_1