
"Kak...kakak..tolong...tolong aku..tolong aku...tolong aku kak!" Teriak seorang gadis di dalam mimpinya
Ava terbangun dari mimpinya dengan nafas yang tidak beraturan.
Ava menangis saat mendengar teriakan adiknya itu.
"Ha..kenapa? kenapa? kenapa harus kayak gini?" Tanya ava pada dirinya sendiri sembari menarik rambutnya dengan keras
Aku gak mampu eve aku gak mampu...gimana aku bisa bertahan jika orang tua kita gak lagi sayang sama aku gimana aku bisa bertahan eve? gimana? semuanya hancur padahal bukan aku yang membuat kamu celaka jika bisa lebih baik aku yang mati eve daripada aku melihat tatapan benci daripada orang tua kita lebih baik aku mati dan kamu menemani orang tua kita dan bahagia bersamanya batin ava
"Kakak gak boleh mati bukan kayak gini kak,bukan kayak gini!" Teriak eve tepat di telinganya
Ava langsung menutup telinganya ketika eve berteriak begitu keras.
"Demi kamu eve,demi kamu aku akan bertahan,bantu aku." Gumam ava
Ava langsung keluar dari kamarnya untung saja dirumah sedang tidak ada siapapun membuatnya bisa sedikit tenang.
"Diary." Ucapnya lalu langsung berlari menuju kamar eve
Ava langsung membuka pintu kamar eve,dengan cepat ava langsung masuk ke dalam kamar eve dan mengunci pintu kamar eve.
Ava mengambil buku diary tersebut dan duduk di tempat yang sama seperti kemarin.
Aku sungguh mencintainya
Dia dikenal dengan pribadi yang baik
tapi apa bisa aku mendekatinya?
Sedangkan penampilan ku saja
Tidak mendukung kisah cintaku
"Kamu cantik eve kamu cantik. Udah berapa kali kakak bilang kamu cantik." Gumam ava
Ava membuka halaman berikutnya lagi.
1 tahun aku mencintainya
Selalu memberikannya cokelat
Dengan diam-diam
Aku sungguh malu mengatakannya
__ADS_1
biarkan aku menjadi
Pengagum rahasia mu
"Siapa orangnya eve?"
Lagi dan lagi ava membuka halaman berikutnya
Kakak membawa seorang teman pria
Dia Aditya orang yang aku cintai
Apa salah jika aku masih mencintainya?
Rasanya aku seperti orang jahat
Ketika aku mencintai pacar kakak ku sendiri
"Eve..kamu cinta pacar kakak? Aditya?"
"Maaf kak ...aku tahu aku salah." Ucap eve kali ini dengan suara yang begitu lembut namun terdengar lirih
"Kenapa kamu gak cerita sama kakak? kenapa eve? kakak gak akan pernah pacaran sama Aditya jika kamu cinta dia. Daripada cinta aku lebih baik mementingkan adik ku. Kenapa kamu gak cerita eve? kakak sayang kamu selalu sayang kamu. Kakak bisa ditinggalkan begitu saja oleh kamu kakak berharap kecelakaan itu hanya mimpi tapi ternyata gak.. semuanya gak bisa kembali seperti semula. Kakak sedih eve,kakak..kakak gak sanggup eve.."
"I love you kak...buka halaman berikutnya.."
Ava menuruti ucapan eve
Aku gak akan bisa merebut kebahagiaan
Kakak ku sendiri
Aku telah melupakannya
Aditya hanya cerita bagiku
Aku senang ketika kakak ku senang
I love you kak
"Harusnya kakak yang terimakasih sama kamu eve."
Kertas berikutnya kembali dibuka.
*Kak..
__ADS_1
Maafin aku..
Maafin aku..
Maafin aku kak..
Aditya jahat kak..
Dia jahat..
Aku akan bilang sama kakak..
Semuanya..hari ini..
Kakak telepon aku..
Suruh jemput kakak
Hari ini hujan
Dan kenapa perasaan aku gak enak?
Aku takut kak
Aku takut akan terjadi
Hal yang gak baik
Aku takut..
Takut kakak marah dan kecewa
Semoga gak terjadi apa-apa*
"Apa yang mau ucapkan ke kakak?"
Ava kembali membuka halaman berikutnya namun robek.
"Kenapa robek?" Tanya ava pada dirinya sendiri seketika ia kembali mengingat apakah dirinya pernah membawa buku diary eve keluar
"Perasaan gak pernah bawa buku diary ini keluar deh..kenapa robek yah?"
Ava kembali mengingat perkataan Ella kemarin.
"Aditya? astaghfirullah,Aditya pernah ke kamar eve setelah pemakaman eve. Kertasnya ada di Aditya? tapi di mana? aku harus ke rumah Ella. Iya bener,aku harus ke kamar Ella sekarang." Ucap ava lalu menyimpan buku diary eve pada tempat semula dan keluar dari kamar eve tak lupa kembali menguncinya.
__ADS_1