
Ella dan Lia masuk ke dalam rumah betapa terkejutnya Ella dan Lia ketika melihat ada ava sedang duduk di kursi untuk menonton tv.
Ketika menyadari bahwa sang pemilik rumah telah datang ava langsung berdiri dan menghampiri mereka berdua.
"Ava."
"Kamu ke sini sendirian?" Tanya Lia
"Iya...ehm..Ella."
"Iya,ada apa?"
"Aku udah gak marah sama kamu."
"Serius?" Tanya Ella histeris dengan matanya yang melotot ketika mendengar ucapan ava yang begitu mengejutkannya
"Iya,gue baca buku diary eve adik gue."
"Ehm..kita ngobrol-ngobrolnya duduk aja gimana." Ucap Lia
"Yaudah,yuk!" Ucapku lalu duduk di sofa setelah semuanya telah duduk Lia kembali membuka suaranya
"Jadi?"
"Gue baca buku diary ku. Dan ada sebuah fakta yang sangat mengejutkan bagi gue."
"Emangnya apa?" Tanya Ella penasaran
"Eve...adik gue.. ternyata cinta sama pacar gue Aditya."
"Apa?" Tanya Ella dan Lia bersamaan
"Ya..dia cinta sama pacar gue. Sebelum Aditya nembak gue pun eve udah cinta sama Aditya tapi eve emang suka gak percaya diri. Dia selalu insecure sama dirinya sendiri padahal menurut gue dia memang cantik kok! cantik secara fisik dan cantik secara hati."
"Bener kan dugaan gue ada yang gak bener sama pacar lo ava..tapi gue gak mau lo sakit hati dan akhirnya lo salah paham sama gue."
__ADS_1
"Maafin gue Ella karena gak percaya sama lo. Saat itu gue cuman kaget dan gak percaya gitu soalnya gue lihat Aditya kayak orang baik."
"Terkadang emang yang terlihat baik belum tentu baik dan orang yang jahat belum tentu jahat." Ucap Ella kembali mengingat mimpinya selama berada di sini.
"Yap! gue setuju sama ucapan terima Ella kadang kita cuman kemakan omongan orang dan juga tampang yang terlihat meyakinkan namun ternyata lebih busuk dari orang jahat." Ucap Lia ikut berkomentar
"Ya..ini akan jadi pembelajaran buat gue bahwa kita gak bisa langsung bertindak dengan emosi yang meledak-ledak. Gue tahu gue lagi marah dan malah nyentak-nyentak lo saat itu." Ucap ava kembali mengingat perkataannya yang mungkin sangat menyakiti hati Ella
"Ya.. kejadian kemarin kita jadikan pembelajaran aja buat gue,Lia,dan lo ava."
"Hm..iya gue setuju."
"Gue rasa lo gak mungkin kan kalau ke sini cuman mau bilang itu,bukan maksud gue yang lo ceritakan itu gak berguna bukan itu maksud gue. Tapi.. kayaknya ada yang sangat-sangat penting." Ucap Ella hati-hati takut akan ava tersinggung dengan ucapannya
"Betul gue gak cuman mau bilang minta maaf dan isi diary gue..ada hal yang sangat-sangat proses untuk gue sampaikan sama lo."
"Jadi lo mau bilang apa sama kita?" Tanya Lia karena ia sungguh-sungguh sangat penasaran.
"Gue mau bilang kalau perkataan lo yang kemarin ternyata bener terjadi."
"Enggak kemarin kan gue ke pasar dan gue ketemu sama ava gitu."
"Terus?"
"Ella bilang sama gue kalau Aditya ada disebuah tempat yang misterius dan Ella bilang sama gue kalau Aditya bawa kertas dan itu bener terjadi."
"Apa?" Tanya Ella dan Lia dengan keras
"Yang gue ucapin kemarin bener terjadi?"
"Iya..itu bener kejadian pas gue baca buku diary eve ada sebuah kertas yang robek gitu. Gue rasa itu bagian yang paling penting."
"Dan Ella tadi mimpi lagi kalau Aditya bakar kertas itu.. berarti?"
"Dia mau bakar kertas itu?!"
__ADS_1
"Di mimpi gue Aditya memang bakar kertas itu tempatnya kayak gudang gitu tapi lumayan besar cuman kumuh."
"Hah? terus Aditya ada di mana? gue harus gimana ini?" Tanya ava sudah benar-benar bingung dan panik.
"Tenang.. tenang,Aditya gak cerita gitu kalau dia suka nginep dimana gitu atau tempat favoritnya?" Tanya Ella
"Enggak Aditya itu terlalu tertutup dia gak suka kalau hal pribadinya di usik."
"Terus kita harus gimana dong?" Tanya Ella ikut panik.
"Ehm..arsenio! Dia kan deket sama Aditya mungkin aja kan dia pernah nongkrong bareng gitu?"
Ella langsung menelpon arsenio namun sayangnya tak diangkat.
"Gak diangkat." Ucap Ella kecewa
"Ehm..gue coba ke rumah arsenio aja siapa tahu dia lagi di rumah."
"Terus ava gimana?"
"Lo temenin dia aja,gue masih bisa berangkat sendiri."
"Gak! Gue gak mau! Gue gak ada hal buruk terjadi sama lo."
"Ya..terus kita harus gimana?"
"Angkasa..biar angkasa yang nganterin lo gak ada lagi penolakan."
"Yaudah lo telpon angkasa."
Lia menelpon angkasa yang langsung diangkat oleh angkasa. Beberapa menit kemudian Lia telah selesai menelpon.
"Gimana?"
"Boleh kok! Angkasa bilang dia mau nganterin lo karena dia juga khawatir kalau lo berangkat sendirian."
__ADS_1