
POV DEVI.
Seminggu sudah meysha tidak kerumah dan tidak ada kabar sama sekali.
Aku jadi khawatir padanya, ku ambil ponsel ku di atas nakas dan aku menekan tombol bertuliskan nama meysha.
Berulang kali aku menelpon nya kenapa dia tidak merespon dan dia tidak ada kabar begini. Tidak biasanya dia tidak ada kabar begini.
Lalu aku menghubungi Nisa dan Della. Ternyata sama mereka berdua juga tidak tau mengapa meysha tidak ada kabar.
Ku tunggu mas Herman pulang kerumah, aku menyiapkan makan malam untuknya setelah itu kami berangkat menuju rumah meysha. Sesampai nya disana, aku mengetuk pintu apartemen nya. Tetapi dia tetap tidak merespon nya.
Aku semakin panik dan akhirnya mas herman mendobrak pintu rumahnya. Semuanya kosong tidak ada siapa-siapa disana. Aku semakin cemas, karena selama kami berteman mesyha tidak sekalipun menghilang tanpa sebab begini.
Aku membuka pintu kamar dan terkaget melihat meysha tergeletak dilantai. Ia pingsan entah apa penyebabnya kami pun tidak tau.
__ADS_1
Aku langsung berteriak dan memanggil mas Herman dan kami membawa nya kerumah sakit. Aku terus saja menangis karena takut terjadi yang tidak diinginkan padanya.
Satu jam sudah meysha diperiksa oleh dokter, kemudian ia dipindahkan keruang ICU karena memang keadaan nya tergolong parah.
Setelah meysha dipindahkan keruang ICU, barulah Nisa, Rudi, Della dan bang Abdul datang menjenguk.
Aku masih saja menangis dan khawatir dengan meysha. Sebab ia adalah sahabat yang ada saat aku susah apalagi saat-saat akhir ini aku hamil dia begitu peduli padaku.
"Bagaimana ini mas, kenapa dokter belum memberikan keterangan pada kita. Aku sangat khawatir padanya" kataku sambil menangis terisak-isak di pelukan mas herman.
"Sayang sudah jangan nangis terus, sabar sayang kasihan dedek nya, nanti kamu sesak nafas" katanya mengelus puncak kepalaku dan mengecup nya.
Kak Della menghampiri ku dan memelukku" Devi, kakak sangat menyayangi meysha, kakak lihat akhir-akhir ini Meysha banyak Beban pikiran, apa kita terlalu cuek padanya, dia bilang sama kakak kalau dia ingin berada di posisi kita. Ia juga mau bahagia seperti kita" kata kak Della sambil menangis.
Tenanglah kak Della, kita hanya bisa menguatkan nya saja. Semoga Allah memberikan rencana yang lebih baik untuk meysha" kataku berusaha menangkan hati Della padahal hatinya sendiri sangat skait mendengar segala cerita meysha.
__ADS_1
Kami masih menunggu dokter di luar ruang ICU, tak lama kemudian dokter keluar dan dokter ingin berbicara pada keluarga dari meysha karena ini sangat privat dan perlu Konsultasi lebih dalam.
Karena diantara kami hanya kak Della lah yang memang memiliki hubungan keluarga pada meysha. Ia ikut keruangan dokter sedang kan kami langsung masuk dan menjenguk meysha di ruangan ICU.
Kulihat wajah pucat dari sahabatku dan mata sembabnya yang menandakan dia benar-benar menahan sakit selama ini.
*S**esak*, itulah aku rasakan saat melihatnya. sahabat macam apa aku, yang tidak ada disaat sahabat nya dalam keadaan menderita seperti ini. Ku Elus pipi mulus sahabatku dan ku peluk dia. Aku berusaha menetralkan sakit yang aku rasa. Karena aku tidak merawatnya selama ia sakit dan mengapa dia harus menyembunyikan sakitnya itu dan bahkan dia merawatku dengan baik sedangkan dirinya sendiri tak pernah ia hiraukan.
Setelah beberapa jam kemudian kulihat mata meysha mengerjab dan perlahan terbuka, dia melihat sekeliling dan aku langsung memeluk nya.
"Kau sudah sadar, bagaimana keadaanmu, apa sudah lebih baik?" tanyaku.
"Aku tidak apa-apa, mengapa kau sebegitu khawatir" katanya.
"Jangan bohongi aku lagi Mey, aku sudah tau semuanya, aku sudah tau kau sakit parah, kau benar-benar ahli berbohong, mengapa kau menyembunyikan nya dari ku ha" kataku menangis.
__ADS_1
"Aku tidak ingin menyusahkan mu lagi Dev, sudah cukup semuanya selama ini, aku hanya ingin kau bahagia dengan kehidupan mu saat ini" kata nya.
Akupun semakin menangis dan memeluknya dan aku berdoa semua meysha diberikan kesembuhan dan kesempatan untuk bahagia...