Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 10


__ADS_3

Davina dan Riris kembali dengan membawa parsel berisi buah dan juga kantong plastik berisi makanan lain yang mereka beli untuk Paijo.


“Loh, kalian ngapain ada di sini?” tanya Davina yang bingung melihat kedua sahabat prianya yang sudah bertengger dengan gaya yang coolnya.


“Jelas nungguin kamu lah, katanya kamu mau jenguk Pak Paijo yah kami ikut mau jenguk juga,” sahut Boy memberitahu kalau dirinya dan Dan memang mengikutinya karena ingin ikut menjenguk Paijo juga.


“Ya elah, kenapa tadi gak bilang, Cumi. Kan kalau bilang kita bisa bareng gak perlu kamu nyusul kita begitu. Ya sudah ayu, aku masih harus kerja nanti, Mas Satria bilang katanya Cafe ramai dan aku gak boleh gak datang,” ucap Davina yang segera masuk ke dalam mobil.


“Kamu kerja?” tanya Ronggo yang penasaran apakah memang gadis yang menjadi penumpangnya ini bekerja karena melihat gaya dan pakaiannya yang terbilang mahal ia berpikir kalau Davina adalah anak dari orang kaya.


“Iya, aku kerja di Cafe. Kenapa?” sahut Davina bertanya, Riris yang memang tahu kalau sahabat sekaligus sepupunya itu menyembunyikan identitasnya tak ikut bersuara, baginya itu adalah privasinya yang ia tak boleh ikut campur, di kampus hanya beberapa dosen senior saja yang mengetahui kalau dirinya anak dari sang raja bisnis terkaya di kotanya.


"Teman-temanmu sepertinya anak orang berada, dan kamu juga terlihat bukan dari kalangan keluarga yang tak mampu,” ucap Ronggo yang tiba-tiba saja sedikit penasaran dengan Davina.


“Mereka memang anak orang kaya, dua pria tadi sepupuan yang mengenakan mobil anak dari pemilik rumah sakit terbesar di kota ini dan yang mengenakan motor anak dari pemilik hotel bintang lima terbesar di kota ini juga, dan yang di belakang kita ini anak dari adik Tuan Hanoraga. Memangnya kenapa? Salahkah aku bergaul dengan mereka yang anak orang kaya? Mereka tak memandang siapa diriku dan menerima aku sebagai sahabatnya meski aku anak orang tak punya dan bekerja di Cafe milik istri dari Tuan Hanoraga,” sahut Davina menjelaskan siapa ketiga sahabatnya tapi tak memberitahu kebenaran tentang siapa dirinya yang tak lain adalah putri dari orang nomor satu di kotanya.


‘Huh pintar sekali sandiwaramu untuk menutupi identitasmu ini yah, Suketi. Tak tahu saja nih sopir kalau si Vina malah anak orang yang lebih kaya dari orang tua kita. Dia dengan enaknya memberitahu siapa orang tua kita sedangkan dirinya tak memberitahu seberapa kayanya Om Bram,’ batin Riris menggelengkan kepalanya menggerutu dalam hati karena tak habis pikir dengan sepupunya yang selalu tak ingin orang tahu kalau dirinya adalah anak dari orang terkaya yang memiliki kerajaan bisnis terkaya nomor satu se Indonesia.


“Bagus kalau mereka mau menerimamu apa adanya, kamu harus bersyukur memiliki teman seperti mereka, meski terlahir dari keluarga orang kaya tapi mereka tak malu berteman denganmu yang anak orang tak punya. Aku salut sama mereka tak malu memiliki teman yang tak punya dan tak memandang rendah orang yang berstatus lebih rendah dari mereka,” ucap Ronggo seakan menasihati Davina dan memuji ketiga sahabat Davina yang tak malu berteman dengan orang tak punya.


‘Dih, kamu tak tahu saja kalau orang tuaku lebih kaya dari orang tua mereka,’ batin Davina menggerutu.


“Bersyukur aku, bersyukur sekali, iya kan Ris?” sahut Davina beralih bertanya pada Riris.


“Ah, ehm, anu, i-iya,” sahut Riris terbata-bata.


‘What! Kok aku? Jangan kamu bawa-bawa aku dong dalam percakapan cinta kalian, aku tak tahu apa-apa aku tak ingin ikut bersandiwara karena aku bukan aktris oke,’ gerutu Riris dalam hati.

__ADS_1


“Sudah sampai,” ucap Ronggo yang ternyata mobil sudah berhenti di depan rumah kontrakan yang terlihat tak cukup besar.


“Ini rumah Pak Paijo?” tanya Davina menunjuk pada sebuah rumah yang biasa saja.


“Iya, ini rumahnya Pak Paijo. Kalian bisa menjenguk beliau dulu aku mau mandi dulu sebentar soalnya setelah mengantarmu pulang nanti aku akan lanjut narik,” sahut Ronggo yang sudah membuka pintu mobil hendak turun.


“Rumah kamu yang sebelah mana?” tanya Davina yang penasaran.


“Itu rumahku, samping rumah Pak Paijo,” tunjuk Ronggo pada rumah yang tepat berada di sebelah rumah Paijo.


“Kamu tinggal sama siapa? Kalau tinggal dengan orang tuamu, boleh aku datang untuk menyapanya?” tanya Davina yang penasaran.


“Aku tak memiliki orang tua, aku tinggal bersama dengan Nenekku, datanglah jika kau ingin menyapanya,” sahut Ronggo yang sudah turun kemudian meninggalkan Davina dan Riris yang juga sudah turun dari mobil.


“Rumahnya yang mana, Vin?” tanya Boy yang baru saja sampai dengan Dan.


Mereka pun masuk ke dalam rumah tersebut sambil membawa apa yang mereka bawa. Sampai di depan rumah, terlihat Paijo sedang duduk dengan ditemani oleh seorang wanita yang tak lain mungkin adalah istrinya.


“Permisi, selamat sore, Pak Paijo,” sapa Davina membuat sang pemilik nama terkejut karena mendapat kunjungan dari gadis yang selalu menjadi langganannya.


“Neng Vina, kok tahu rumah Bapak?” tanya Paijo yang terkejut langsung berdiri, istri Paijo masih terdiam menyimak mereka yang saling tanya jawab, ujian kali ah tanya jawab.


“Iya, minta diantar sama Mas Ronggo. Ini ada sedikit bingkisan dari saya dan teman-teman, kata Mas Ronggo Bapak sakit.” Davina menyerahkan buah tangan yang dibawanya pada istri Paijo dan ia pun menerimanya dengan senyum canggung karena tak tahu siapa mereka.


“Oalah, jadi ngerepotin Neng Vina dan yang lainnya. Ini istri saya Neng. Bu, ini Neng Vina langganan taksi Bapak,” ucap Paijo merasa tak enak, ia pun juga memperkenalkan wanita yang memang adalah istrinya.


“Bu, saya Vina, langganannya Pak Paijo.” Davina mengulurkan tangannya dengan sopan dan mencium punggung tangan tersebut dengan tanpa canggung.

__ADS_1


“Ah terima kasih yah kalian sudah repot-repot datang menjenguk, Bapak. Mari duduk, maaf rumahnya sangat sederhana,” ucap istri Paijo dengan ramah.


“Seperti ini saja sudah alhamdulillah, Bu. Penting bisa buat berteduh dari hujan dan panas,” sahut Davina seakan menjadi sok bijak.


Istri Paijo masuk ke dalam dan tak lama ia keluar dengan membawa beberapa cangkir teh hangat untuk dihidangkan pada Davina dan yang lainnya.


“Diminum, Neng. Maaf yah seadanya.” Istri Paijo menyuguhkan teh tersebut di atas meja dan mereka pun mengambil lalu menyeruputnya untuk menghargai sang pemilik rumah yang sudah bersedia repot-repot membuatkannya minuman.


“Seperti ini saja sudah nikmat, tak perlu repot-repot. Kami ke sini hanya ingin melihat keadaan Pak Paijo yang katanya sedang sakit dan tak bisa lagi untuk mengantar jemput saya,” sahut Davina mengatakan niatnya datang.


“Iya, Bapak memang sakit sudah beberapa hari ini, tapi ia bersikeras masih ingin bekerja. Tapi tadi pagi Bapak tiba-tiba saja terjatuh di depan kamar mandi dan mengakibatkan stoke yang dialaminya kembali kumat, tangan dan kaki kiri Bapak kembali tak berfungsi lagi, dulu sempat seperti ini tapi alhamdulillah bisa kembali normal tapi sekarang kumat lagi jadi saya meminta Bapak untuk berhenti kerja, makanya Bapak meminta Nak Ronggo untuk menggantikannya, katanya ada pelanggan yang tak bisa ditinggalinya,” jelas istri Paijo dengan nafas yang terasa sesak mengatakan keadaan Paijo.


Mereka mengobrol hingga beberapa menit lamanya dan tak lama berpamitan, Davina berencana untuk mampir terlebih dulu ke tempat kontrakan Ronggo dan menyuruh temannya untuk pulang lebih dulu, Riris pun ikut pulang dengan Boy. Sebelum pulang, Boy dan Dan memberikan amplop berisi beberapa lembar uang untuk berobat Paijo, Paijo dan sang istri sangat bersyukur atas rezeki yang datang melalui dua pria tampan itu.


“Bu, datanglah ke rumah sakit X, nanti saya akan katakan pada Papah jika ada pasien bernama Pak Paijo suruh ditangani oleh dokter yang profesional. Nanti kalau datang, minta diantar oleh Ronggo yah, Pak. Saya akan titip pesannya pada Vina kalau Bapak datang Ronggo suruh menghubungi Vina dan mengatakan pada saya agar saya bisa mendampingi Bapak bertemu dengan Papah,” ucap Boy meminta Paijo datang ke rumah sakit milik Agam.


“Baik, Den Boy. Nanti Bapak minta antar pada Ronggo.”


Mereka berpamitan setelah Boy mengatakan hal tersebut, sedangkan Davina melipir ke rumah kontrakan Ronggo.


...


Udah episode 10 tapi masih sepi ajah nih😭


Ayo dong bantu like, komen, fav sama hadiahnya biar othor semangat dan juga biar othor bisa ngadain give away di episode 20nya


Klo sepi gini gimana mau give awaynya😭

__ADS_1


__ADS_2