Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 11


__ADS_3

“Permisi,” ucap Davina saat berada di depan pintu rumah kontrakan yang tadi ditunjuk oleh Ronggo sebagai rumahnya, karena pintunya sedikit terbuka Davina memasukkan kepalanya untuk melihat apakah ada seseorang.


“Permisi,” ucapnya kembali karena tak melihat ada siapa pun, tapi tak lama datanglah wanita tua menghampiri Davina dengan raut wajah bertanya.


“Mau cari siapa yah, Neng?” tanya wanita tua tersebut membuka pintunya dengan lebar.


“Ini benar kan rumahnya Mas Ronggo, Nek? Nenek pasti Neneknya Mas Ronggo kan?” sahut Davina bertanya dan menebak siapa wanita tua tersebut.


“Iya benar, Neng ini siapa kok tahu cucu Nenek?” tanya nenek tersebut ingin mengetahui siapa gadis cantik yang mencari cucunya.


“Oh saya penumpang taksinya Mas Ronggo, tadi datang untuk menjenguk Pak Paijo karena katanya sakit jadi tak bisa menyopir taksi lagi dan digantikan oleh Mas Ronggo. Nama saya Vina, Nek,” sahut Davina seraya memperkenalkan namanya.


“Oh kamu gadis yang katanya penumpang khususnya Paijo itu yah, duduk-duduk Neng. Maaf hanya ada kursi kayu saja,” ucap sang nenek meminta Davina untuk duduk di kursi panjang depan rumah tersebut, Davina pun dengan senang hati duduk tanpa merasa risi dengan keadaan rumah tersebut yang memang terbilang jauh dari kediaman orang tuanya.


“Ini sudah cukup kok Nek, yang penting kan bisa duduk. Oh iya Nek, Mas Ronggonya sedang apa yah?” tanya Davina karena tak melihat Ronggo keluar.


“Tunggu saja sebentar, dia paling sedang bersiap, tadi Nenek lihat sepertinya habis mandi,” sahutnya memberitahu, mereka pun mengobrol banyak masalah masakan karena Davina mengungkit kalau Ronggo pernah membeli buku resep masakan dan hampir saja berebut dengan dirinya.


Ronggo yang sudah rapi berjalan hendak menghampiri dua wanita beda generasi tersebut, tapi langkahnya terhenti saat mendengar percakapan mereka yang terdengar sangat akrab dan tanpa canggung juga jarak.

__ADS_1


‘Gadis yang pernah datang tak pernah seakrab ini dengan Nenek, Nenek juga tak pernah sesenang ini saat berbicara dengan gadis yang selalu datang mencariku, dia memang terlihat berbeda dari gadis lainnya yang terlihat penuh gaya, sombong dan arogan. Ah mikir apa aku ini, dia hanya pelangganku saja saat ini, aku gak boleh berpikir yang macam-macam, belum tentu juga dia mau dengan pria yang tak memiliki apa-apa ini,’ batin Ronggo mulai berkecil hati lagi bila menyangkut urusan wanita.


Ronggo memang sangat tampan dan menurut Davina ketampanan Ronggo melebihi sang kakak yang sudah beberapa tahun tak dilihatnya. Banyak gadis yang datang dan mengejarnya, tapi gadis-gadis tersebut hanya menyukai ketampanannya dan tak ingin menerima keadaan dirinya yang hanya seorang buruh. Wanita yang pernah dekat dengan Ronggo rata-rata selalu saja pergi dengan alasan yang sama, yaitu karena Ronggo tak bisa memberikan sesuatu yang berharga, mewah dan mahal.


“Ayu pulang, sudah petang dan aku juga harus narik taksi lagi.” Ronggo keluar dan mengajak Davina untuk pulang, sebenarnya belum petang karena jam masih menunjukkan pukul lima sore.


“Nek, Vina pulang dulu yah, kapan-kapan kalau Vina libur kerja Vina akan datang lagi untuk belajar masak masakan yang enak dengan Nenek, Vina juga akan membawakan makanan enak dari Cafe tempat Vina bekerja, pemiliknya baik sekali jadi tak masalah jika hanya membawa sedikit,” pamit Davina dan berjanji akan kembali lagi untuk belajar masak sesuai dengan yang telah kedua wanita beda generasi itu bicarakan, Ronggo bingung ada apa dengan mereka dan mengapa mereka begitu sangat akrab padahal baru saja bertemu.


“Iya, kamu segeralah kembali ke Cafe, nanti Bos kamu marah kalau kamu datang telat, meskipun sudah izin tapi kan kamu bekerja jadi gak baik kalau izin terlalu lama,” sahut sang nenek dengan lembut dan lagi membuat Ronggo terkejut karena tak biasanya neneknya itu berbicara lembut pada gadis yang selalu dibawanya. “Ronggo, bawa mobilnya hati-hati, jangan ngebut-ngebut, ingat kamu bawa penumpang harus menjaga keselamatannya dan antarkan sampai tempat tujuan,” sambungnya beralih mengingatkan Ronggo agar membawa mobilnya tak ugal-ugalan dan Ronggo pun terkejut lagi, berpikir sejak kapan neneknya itu menjadi sangat perhatian pada gadis yang dibawanya.


“I-iya Nek,” sahut Ronggo dengan terbata-bata, ia masih menata hati dan pikirannya yang sedang terkejut berkali-kali, sepertinya hari ini ia merasa kalau terjadi keanehan pada neneknya itu.


Davina dan Ronggo pun pergi setelah berpamitan dengan Nenek.


“Oh jadi kamu seorang playboy juga yah, kira-kira sudah berapa banyak gadis yang kau bawa ke rumahmu dan bertemu dengan Nenek? Aku kira-kira urutan yang ke berapa?” Davina malah menggoda Ronggo dengan menuduhnya playboy, Ronggo menjadi gugup.


“Si-siapa yang playboy, memangnya kamu masuk dalam hitungan, kan kamu hanya bertamu ke rumah Pak Paijo bukan aku yang membawamu untuk menemui Nenek,” sahut Ronggo gugup.


“Okelah kalau begitu, aku akan melamar untuk menjadi gadis yang ke sekian agar dibawa olehmu untuk menemui Nenek, dan kalau Nenekmu menyukaiku maka kamu juga harus menyukaiku, aku akan memintanya langsung pada Nenek agar cucunya menjadi kekasihku,” ucap Davina membuat Ronggo terkejut dengan ucapannya.

__ADS_1


“Ya-yang menyukaimu kan Nenek, ke-kenapa aku ju-juga harus ikutan menyukaimu,” dengan terbata-bata Ronggo berucap tanpa menoleh pada Davina yang duduk di sampingnya.


“Karena aku menyukaimu.” Ronggo mengerem mendadak mendengar penuturan dari Davina membuat gadis tomboi yang kalau bicara itu tak pernah berpikir terlebih dulu.


“AW!” pekik Davina terkejut karena Ronggo yang mengerem mendadak, beruntung ia menggunakan sabuk pengaman, kalau tidak mungkin sudah tersungkur. “Kamu gila yah, Mas!” pekiknya lagi memegang dadanya yang berdegup kencang, bukan karena Ronggo menyatakan cintanya melainkan karena insiden Ronggo yang mengerem mendadak.


“Lagian kamu tuh kalau bicara asal mangap saja bikin orang kaget, untung saja gak ada orang yang lewat di depan mobil, bisa-bisa aku nabrak orang tadi,” protes Ronggo malah menyalahkan Davina dan tak menganggap serius perkataan dari gadis cantik yang duduk di sampingnya.


“Aku gak lagi asal bicara kok, aku serius suka sama kamu, memangnya salah yah kalau suka sama pria yang baru kita temui," ucap Davina dengan memanyunkan bibirnya kesal karena dianggap perkataannya hanya candaan semata.


“Jangan suka sama sopir taksi sepertiku yang tak bisa memberikanmu apa pun, nanti kamu akan kecewa saat meminta sesuatu tapi aku tak dapat memberikannya,” ketus Ronggo yang sudah mulai menjalankan mobilnya kembali untuk mengantar Davina ke Cafe milik Aberlie.


“Heh, kamu pikir aku gadis matre apa seenaknya saja berkata seperti itu, aku memiliki pekerjaan dan penghasilanku sendiri jadi kalau mau apa-apa yah beli sendiri lah, kecuali kalau aku sudah menikah denganmu baru aku mau apa-apa mintanya sama kamu. Lagian aku serius juga bilang suka sama kamu, kamunya malah anggap aku bercanda. Jangan sok jual mahal nganggap aku bercanda, nanti kalau naksir beneran ajah kamu bakalan tidur gak nyenyak loh,” dengus Davina kesal merasa Ronggo menganggap dirinya gadis matre yang selalu meminta apa saja pada prianya.


“Sampai, turun.” Ronggo menyuruh Davina turun ketika mobilnya sudah berhenti tepat di depan Cafe milik Aberlie.


“Iya aku turun, besok jangan lupa jemput aku, awas saja kalau jadi baperan gara-gara aku ngomong gitu doang jadi gak jemput lagi, aku bakalan datengin rumah kamu baru tahu rasa kamu.” Davina turun setelah berbicara dengan nada mengancam pada Ronggo.


...

__ADS_1


Salam hangat dariku dan selamat menjalani hari dengan bahagia juga jangan lupa tersenyum😊


like dan komennya jangan lupa yah, vote dan hadiahnya juga yang banyak yah biar authornya semangat update 🙏😊


__ADS_2