Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 15


__ADS_3

Malam Minggu sesuai janji yang telah mereka rencanakan, Boy bersama dengan kedua sahabatnya menjemput Davina di cafe. Terlihat Davina sudah siap dan hendak berpamitan pada sang mamah, Boy dan kedua sahabatnya menghampiri Aberlie hanya untuk sekedar menyapa.


“Malam, Tan,” sapa Boy seperti biasa.


“Malam, Boy. Bagaimana kabar Mamah dan Papah?” sahut Aberlie bertanya.


“Mereka baik kok, Tan. Tante sendiri bagaimana kabarnya?” sahut Boy kembali bertanya.


“Yah seperti ini, kau bisa lihat sendiri lah, kalian mau ke mana?” tanya Aberlie penasaran.


“Biasa Tan, mau nongkrong di Green Sky, anak muda mau malam mingguan, hehe,” sahut Boy terkekeh memberitahu kalau mereka akan ngumpul disalah satu bar bernuansa cafe karena memang terlihat di bagian luar adalah sebuah cafe terkenal, tapi saat malu ke dalam dan lebih ke dalam lagi terdapat bar yang didatangi hanya anak-anak muda berduit dan berstatus seperti Davina dan ketiga sahabatnya.


“Ingat, sekedar ngumpul yah, jangan sampai berbuat macam-macam,” ucap Aberlie mengingatkan, mereka memang sering berkumpul di cafe tersebut, Aberlie mengetahuinya karena anak buah suaminya selalu memberi tahu apa yang dilakukan putrinya itu, baginya tak masalah asalkan tak melewati batasan, toh mereka sudah dewasa pasti bisa memikirkan akibatnya dan juga bisa menjaga diri apalagi ada beberapa bodyguard yang selalu mengikuti putrinya secara bayangan, begitulah pikir Aberlie.


“Tante tenang saja, kita tak pernah melebihi batas kok, apalagi status kita juga terbilang masih mahasiswa dan mahasiswi. Boy juga gak mungkin merusak reputasi Papah,” sahut Boy yang memang tak pernah melakukan sesuatu melebihi batasan, ia memang terkenal playboy dan juga senang menggoda wanita tapi Boy dan Dan belum pernah melakukan one night stand karena mereka berpikir kalau mereka masih berstatus mahasiswa yang artinya masih tanggungan orang tua.


“Mah, Vina pergi dulu, mungkin malam ini Vina gak pulang dan menginap di apartemen Boy atau Dan dengan Riris,” pamit Davina.


“Ingat, jangan macam-macam loh, masih kecil,” ucap sang mamah mengingatkan.


Mereka pun pergi setelah berpamitan pada Aberlie menggunakan mobil Dan, Dan memang menjemput Boy sengaja menggunakan mobil agar bisa sekalian pergi bareng dengan satu mobil. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di Green Sky, Boy sudah melakukan reservasi atas namanya terlebih dulu sebelum berangkat karena memang Boy adalah langganan VIP di Green Sky. Saat tiba, Boy langsung disambut dengan hormat oleh pelayan Green Sky dan juga beberapa gadis cantik yang biasa menemani Boy minum, malam itu mereka menghabiskan malam dengan ngumpul sambil seru-seruan tapi masih dalam batas wajar.


...

__ADS_1


Di tempat lain di negara Amerika Devano sedang berada di kampusnya, ia masih ada kelas bisnis. Tak lama kelas selesai Devano pun pergi untuk bergabung dengan sahabatnya bernama Lucas. Devano hanya memiliki satu sahabat dekat saja, tapi banyak para gadis yang mendekati Devano karena memang wajah kakak laki-laki dari Davina itu sangat tampan.


“Malam ini kumpul di markas gak?” tanya Lucas.


“Kumpullah, Papi sudah ngabari tadi pagi semua suruh kumpul,” sahut Devano memberi tahu kalau seseorang yang dipanggilnya dengan sebutan Papi sudah memberitahunya.


“Kamu memang keren banget, baru juga gabung satu tahun sudah menjadi kesayangan Papi. Apalagi Papi kasih kamu kepercayaan buat mimpin beberapa anak buahnya,” puji Lucas karena sahabatnya itu menjadi kesayangan dari pria yang mereka panggil dengan sebutan Papi.


...


Pagi hari sekitar jam sembilan Davina sudah bangun dan bersiap untuk berangkat ke cafe sang mamah. Weekend ini ia akan mengunjungi kediaman Ronggo karena sebelumnya Davina sudah berjanji kalau libur kerja ia akan mengunjungi nenek.


“Dan bangun, antar aku ke cafe yuk, aku mandi dulu.” Davina membangunkan Dan sebelum ia bersiap tadi saat masih jam delapan dan kini keduanya sudah siap.


“Boy, Ris, aku pergi yah,” pamit Davina pada kedua sahabatnya yang masih tidur, mereka semua tidur jadi satu diruang tamu setelah pulang dari Green Sky semalam.


Davina dan Dan pun pergi setelah berpamitan pada sahabatnya untuk menuju cafe.


“Vin, nanti temani aku sarapan dulu yah, aku lapar banget nih,” ucap Dan ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Boleh, tapi antar aku ke rumah Ronggo yah, hehe,” sahut Davina mencoba bernegosiasi.


“Beres dah kalau masalah itu mah, asalkan kamu temani aku makan,” sahut Dan mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


Tak lama mobil berhenti di area parkir cafe, Davina dan Dan turun mereka pun langsung masuk ke dalam cafe. Dan duduk disalah satu meja yang terletak di bagian pojok cafe sedangkan Davina menuju dapur. Ia ingin menyiapkan makanan yang akan dibawanya ke rumah Ronggo untuk Nenek dan juga untuknya juga Dan sarapan.


“Kok kamu belum berganti pakaian? Udah tahu datang siang malah gak langsung ganti seragam,” tanya Satria dengan ketusnya, ia tak tahu kalau Davina hari ini akan libur kerja.


“Sorry Mr. Kanebo, weekend ini aku libur karena mau menemui seseorang, aku sudah bilang sama Mamah semalam,” sahut Davina tanpa menoleh pada Satria, ia sedang sibuk dengan menyiapkan makanannya sampai tak sempat menoleh pada pria kaku pujaan hati sepupunya itu.


“Kenapa kemarin sebelum pulang kamu tak bilang padaku?” tanya Satria sedikit kesal.


“Memangnya penting yah aku harus minta izin sama Mas Satria? Aku bukan karyawan tetap di sini, aku memang bekerja paruh waktu karena untuk belajar menjalani cafe dengan baik, jadi Mas Satria jangan terlalu menganggap aku seperti karyawan lainnya,” sahut Davina yang tak kalah kesalnya karena Satria terkadang bersikap sangat posesif padanya.


“Oh oke, sorry kalau saya sudah bersikap berlebihan sama kamu,” ucap Satria tak bisa berkata lagi.


“Mas Satria suka sama aku? Kalau Mas Satria suka sama aku, lebih baik Mas Satria segera bunuh perasaan itu karena aku sama sekali tak menyukai Mas Satria, aku sudah menyukai seseorang. Dan juga Mas Satria harus tahu, kalau Riris sangat menyukai Mas Satria, jadi jangan coba-coba Mas Satria menyakiti perasaannya, awas saja kalau Mas Satria bikin sepupuku itu terluka maka Mas Satria akan berhadapan denganku,” tanya Davina sekaligus mengancam Satria agar tak melukai sepupunya, Davina juga menegaskan kalau ia sudah menyukai seseorang agar Satria tak berharap lebih padanya, entah Satria memang suka pada Davina atau tidak hanya Satrialah yang tahu.


“Siapa juga yang menyukaimu, kamu itu jadi gadis jangan terlalu PD, aku bersikap seperti itu karena menganggap kamu sebagai adikku sendiri gak lebih, kalian berdua bukanlah tipeku karena kalian masih kecil, sekolah dulu yang benar baru berpikir untuk memiliki hubungan dengan pria, lagi pula kalau kamu bukan Putri dari Tuan Bram juga ogah aku perhatian sama kamu,” sahut Satria sambil menyentil kening Davina lalu kembali dengan pekerjaannya.


“Aduh! Sakit tahu Mas Satria, dasar Kanebo Kering tukang menyiksa,” pekik Davina sambil mengerucutkan bibirnya dan juga memegang keningnya dengan kesal, Satria hanya terkekeh tipis hingga tak ada yang menyadarinya.


Davina segera membawa makanan yang akan ia bawa dan juga makanan untuk dirinya dan juga Dan menuju meja menghampiri Dan yang sudah lama menunggu.


“Lama banget sih, Vin? Hampir mat* aku nungguinnya tahu,” gerutu Dan yang sudah lama menunggu sahabatnya itu.


“Hampir mat* ini, belum juga mat*. Nih makan, sorry kelamaan soalnya tuh Kanebo Kering protes aku libur kerja.” Davina meletakkan makanan yang ia bawa di meja dan ia pun langsung menyantap makanan tersebut karena memang sudah sangat lapar.

__ADS_1


...


Hari ini aku update 2 bab yah kak, jangan lupa likenya dong biar aku semangat updatenya🥺


__ADS_2