
Davina bersama dua sahabat tengilnya dan juga Ronggo sudah selesai makan.
“Vin, aku sama Riris pulang dulu yah, ketemu di kampus besok,” ucap Boy berpamitan pada Davina.
“Oke, hati-hati di jalan, anter Riris sampe rumah yah, awas ajah kalo sahabatku dituruni di tengah jalan,” sahut Davina sedikit mengancam pada sahabat tengilnya itu.
“Siap, dah ah aku mau pamit ke Tante Berl dulu, bye. Ronggo, aku pulang duluan yah,” ucap Boy seraya menepuk pundak Ronggo untuk berpamitan.
“Oke, aku juga mau lanjut narik nih,” sahut Ronggo yang juga bersiap untuk kembali mengais rezeki.
“Eh, kamu mau pergi sekarang, Mas Ronggo?” tanya Davina yang sedang membereskan piring bekas mereka makan.
“Iya, sudah sore juga, aku mau narik sebentar dapet dua atau tiga penumpang lumayan, habis itu pulang,” sahut Ronggo dengan lembut, ia dua hari ini bersikap lembut pada Davina.
“Oh, kalau begitu bawa ini, nanti pulang kasihkan Nenek yah untuk makan malam, aku bawakan untuk porsi dua orang kok.” Davina memberikan kantong plastik dengan logo Cafe sang mamah yang berisi makanan untuk Nenek dan juga Ronggo.
“Kok repot-repot banget sih, aku sudah ditraktir makan di Cafe mewah ajah udah terima kasih banget, dan masih dibawakan makanan pula, apa tak menghabiskan uangmu?” tanya Ronggo merasa tak enak hati, Davina adalah gadis yang sangat berbeda menurut Ronggo.
“Gak repot kok, ini untuk Nenek jadi jangan protes dan jangan menolak, atau nanti aku akan marah sama kamu, Mas. Sudah sana katanya mau lanjut narik, nanti keburu sore loh,” sahut Davina mengingatkan Ronggo yang katanya mau melanjutkan narik taksi onlinenya.
“Kalau begitu terima kasih yah, nanti aku berikan pada Nenek. Aku pergi dulu.” Ronggo beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu dengan diantar oleh Davina, dari arah meja kasir tampak dua wanita cantik sedang memperhatikannya.
“Hati-hati yah, Mas. Salam buat Nenek, kapan-kapan aku akan berkunjung lagi,” ucap Davina ketika Ronggo akan menaiki mobil.
“Hm.” Ronggo hanya ber hm ria seraya masuk ke dalam mobil, ia membunyikan klaksonnya dan kemudian melaju meninggalkan Davina yang melambai padanya.
__ADS_1
Setelah sekepergian Ronggo, Davina kembali ke dalam Cafe untuk mencuci piring bekasnya dan juga sahabatnya makan.
“Duh romantisnya,” goda Aberlie yang ternyata sedang berdiri di dekat pintu bersama dengan Ashana, Davina terkejut dan menoleh pada sumber suara tersebut.
“Apa sih, Mam. Romantis apanya, romantis rokok makan gratis apa. Sudah ah jangan menggodaku mulu, aku sibuk, bye.” Davina yang sebenarnya wajahnya merona karena digoda oleh Aberlie dan Ashana memilih pergi meninggalkan dua wanita yang selalu saja suka menggodanya.
“Sepertinya gadis tomboi kita sedang malu-malu, Mbak,” ucap Ashana terkekeh melihat tingkah Davina yang saltingnya sangat terlihat.
“Kamu benar sekali, Na. Semoga saja pria itu adalah pria yang baik yang bisa menjaga dan mencintai juga membuatnya bahagia,” sahut Aberlie penuh harap.
Di dapur Aberlie langsung mencuci piring bekasnya makan. Setelah selesai, ia langsung mengerjakan pekerjaannya yaitu mengantarkan makanan untuk para customer. Davina lebih tepatnya menjadi pelayan khususnya Satria karena koki dingin itu tak ingin menyuruh pelayan wanita lain kecuali Davina.
“Sudah selesai dengan sesi makan romantisnya sekarang harus semangat kerjanya, jangan lembek kayak belum makan satu minggu,” ketus Satria yang sedang menyiapkan hidangan untuk customernya.
Namun, entah mengapa bagi Riris Satria sangatlah tampan dimatanya. Riris sangat tergila-gila pada Satria sejak pertama kali Bram membawanya untuk diperkerjakan di Cafe sang istri.
“Sudah jangan ngoceh mulu, nih antar kemeja nomor lima.” Satria memberikan nampan berisi makanan pada Davina untuk diantarnya.
“Iya bawel,” sungut Davina yang kemudian berjalan meninggalkan dapur untuk mengantar makanannya pada customer yang berada di meja nomor lima.
Malam hari sebelum jam makan malam, seperti biasa Bram sudah menjemput istri dan putrinya di Cafe. Davina sudah siap untuk pulang, ia baru selesai mencuci piring.
“Mas, aku pulang dulu,” pamitnya pada Satria.
Pria dingin itu akan kesal kalau Davina pulang tanpa berpamitan padanya dan dapat dipastikan kalau esok saat Davina datang, gadis tomboi itu akan langsung kena semprot olehnya. Pria kaku bak kanebo kering menurut geng somplak itu mengatakan kalau ia akan repot mencari pengganti Davina untuk mengantarkan makanan pada customer kalau gadis tomboi itu tak berpamitan sebagai alasannya. Sungguh alasan yang tak masuk akal memang, tapi Davina tak peduli, asalkan ia tak terkena ocehannya maka Davina akan menurutinya.
__ADS_1
“Hm.” Satria hanya ber hm ria saja dan sibuk dengan masakannya.
“Ih dasar kanebo kering, kalau aku tak bilang dia bakalan ngocehnya kayak emak-emak mergokin lakinya selingkuh, giliran dipamitin Cuma hm doang,” gerutu Davina sambil berlalu meninggalkan dapur, Satria terkekeh tipis tanpa ada yang mengetahuinya.
“Kamu kenapa, Vin? Keluar dari dapur kok ngedumel gitu,” tanya Kevin yang bingung melihat putri bosnya itu ngoceh-ngoceh keluar dari dapur.
“Biasalah Om Kevin, tuh kanebo kering selalu ajah bikin esmosi,” sahut Davina dengan nada kesalnya.
“Emosi, Vin emosi bukan esmosi, kalau esmosi dimakan siang hari pas cuaca panas enaknya.” Rean meralat ucapan Davina.
“Es campur, Om es campur itu yang dimakan siang hari cuaca panas enak.” Davina ikutan meralat ucapan Rean membuat Aberlie, Ashana dan Kevin terkekeh geli.
“Oh, sudah berubah kah, kok aku belum tahu yah, memangnya sudah bikin selametan ganti nama yah?” tanya Rean dengan menggunakan wajah yang dibuat ala bingung karena tak tahu.
“Au ah, Om Rean mah kebiasaan kalau aku lagi kesal pasti ngeledikin mulu,” gerutu Davina dengan memanyunkan bibirnya.
“Sayang, kamu jelek sekali kalau seperti itu deh,” kini Bram yang ikutan meledek.
Bram memang terkenal dingin, tapi semenjak memiliki buah cinta bersama dengan Aberlie ia sedikit lebih hangat. Namun, kehangatan itu tidak berlaku untuk orang yang tak mengenalnya.
“Dad, please deh gak usah ikutan meledek aku,” protes Davina melirik pada daddynya.
“Oh, oke-oke, Daddy gak akan meledek kamu lagi, janji untuk hari ini, tapi gak janji untuk esok yah.” Bram berbalik berjalan meninggalkan mereka dengan mengangkat satu tangannya setinggi kepalanya sambil jarinya membentuk huruf V.
“DADDY,” pekik Davina membuat Aberlie dan yang lainnya yang sedang menggoda Davina terkekeh makin geli.
__ADS_1