
Malam menjelang sekitar jam enam sore Davina dan Ronggo datang ke Cafe.
“Kalian tak datang tak memberitahu Mamah, dasar anak nakal,” protes Aberlie dengan lembut dan senyum yang membuat siapa saja yang melihatnya merasa tenang.
“Maafkan saya, Nyonya muda.” Ronggo berinisiatif meminta maaf karena memang ia bersalah.
“Maaf, Mah. Kami terlalu asyik mengobrol jadi sampai lupa untuk berangkat, hehe,” kini giliran Davina yang meminta maaf.
“Ya sudah, lain kali kalau tak datang kabari yah jadi tak membuat Satria kesal. Sebaiknya kalian menemuinya untuk meminta maaf sana,” titah Aberlie meminta keduanya untuk minta maaf pada Satria karena mereka tak mengabari kalau tak bisa datang.
“Baik, Nyonya muda,” sahut Ronggo.
“Oke.”
Keduanya berlalu menuju dapur untuk menemui Satria untuk meminta maaf karena tak mengabarinya kalau mereka tak bisa datang.
“Hai, Mr. Kanebo eh maksudnya Mas Satria, hehe. Maaf yah tadi pagi kami tak mengabari kalau kami tak bisa datang.” Davina menjulurkan ujung lidahnya sambil menggaruk bagian samping lehernya yang sebenarnya tak gatal.
Satria menoleh sebentar ke arah Davina dan Ronggo setelah itu kembali pada masakannya. “Hm, tak masalah, sudah ada gadis kecil yang membantuku jadi tak begitu penting kalian datang atau tidak,” sahut Satria tanpa melihat lawan bicaranya, ia sedang sibuk dengan makanan yang sedang ditatanya.
“Dih, bagus deh, jadi ke depannya kalau aku tak datang tak perlu repot-repot lagi mengabari Mas Satria,” dengus Davina sambil berjalan menuju makanan yang sudah tersedia untuk makan para koki dan karyawan lainnya. “Sudah ah, aku mau makan, laper. Ayu Mas kita makan.” Davina mengajak Ronggo untuk makan.
__ADS_1
“Kita tak membantu Mas Satria dulu, Vin?” tanya Ronggo yang takut kalau Ronggo akan marah.
“Tak perlu, kalian kalau mau makan, makan saja. Tugas kalian nanti bersih-bersih sebelum pulang,” satria menyambar sebelum Davina menjawab pertanyaan Ronggo.
“Oh begitu, baiklah. Kami makan dulu, Mas,” ucap Ronggo yang menghargai Satria sebagai seniornya.
Mereka makan berdua dengan sedikit romantis membuat Satria dan Riris jengah melihatnya.
“Cis, sok romantis,” gerutu Riris kesal melihat sepupunya pamer kemesraan sedangkan dirinya tak bisa seperti itu dengan Satria.
Jam pulang kerja, Davina dan Ronggo membersihkan area dapur bersama. Riris seperti biasa akan membantu membersihkan area luar. Terlihat Davina dan Ronggo semakin dekat dari cara mereka bekerja sambil sesekali bercanda.
“Kerja, bukan bercanda mulu,” tegur Satria pada pasangan yang baru beberapa hari itu menjalin hubungan.
“Saya tidak iri, hanya mengingatkan saja kalau ini masih di tempat kerja, akan lebih baik diselesaikan dengan cepat agar semuanya bisa segera pulang dan beristirahat,” ucap Satria dengan sedikit bijaksana.
“Iya-iya, nih aku selesaikan sekarang bawel,” dengus Davina dengan memanyunkan bibirnya.
“Maaf, Mas Satria, kami akan segera selesaikan,” ucap Ronggo merasa tak enak hati.
Tak lama pekerjaan mereka pun telah selesai, Davina dan Ronggo berpamitan untuk pulang. Satria mengantar Riris pulang ke rumahnya seperti kemarin.
__ADS_1
“Makasih yah, Mas. Sampai bertemu besok,” ucap Dania sebelum Ronggo pergi.
“Hm, kamu tidur jangan begadang mulu. Aku pulang yah,” sahut Ronggo berpamitan pada si tomboi.
...
Hari-hari berlalu dengan sangat indah bagi gadis tomboi yang sedang jatuh cinta itu. Terlebih mereka sekarang satu kampus meski beda angkatan. Davina semakin bersemangat untuk kuliah karena ia memiliki pengisi daya untuk menjalani harinya di kampus yang membosankan, pikirnya.
Tak terasa kini geng somplak sudah berada di semester akhir, tinggal selangkah lagi ia akan menjadi seorang sarjana. Magang dan skripsi juga sudah mereka lalui, bahkan sidang skripsi pun sudah selesai tinggal menunggu wisudanya saja.
“Tak terasa kamu sudah mau lulus yah, tinggal aku yang masih satu tahun lagi untuk bisa wisuda dan menyusulmu,” ucap Ronggo.
“Semangat, Mas. Aku yakin kamu pasti bisa.”
“Huh, berarti aku akan sendiri dong, kamu kan sudah mulai aktif di Cafe. Entah mengapa beberapa tahun bersama menjadi enggan untuk berpisah, rasanya begitu nyaman saat berada bersama denganmu meski di luaran sana banyak wanita cantik dan seksi tapi dimataku kamulah yang selalu membuatku jedag-jedug,” ucap Ronggo membuat Davina berbunga-bunga. (Jedag-jedug gak tuh😭)
Beberapa tahun selalu bersama membuat Ronggo kembali ceria seperti dulu lagi sebelum wanita bernama Angel memporak porandakan hatinya dengan kekecewaan yang membuatnya lama tak mempercayai perempuan lagi.
Ia kini sudah tak sungkan lagi untuk bersikap mesra pada Davina, begitu juga Davina yang selalu berlaku seenaknya sudah terbiasa dengan sikap Ronggo yang sekarang menjadi lebih romantis.
“Kapan kamu akan melamarku?” tanya Davina dengan tiba-tiba membuat Ronggo seakan tersedak makanan, ia terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis tomboi itu.
__ADS_1
“Kamu jangan suka ngawur kenapa, aku ajah masih sekolah. Nanti kalau aku sudah memiliki penghasilanku sendiri dan juga layak berada di sampingmu baru aku akan melamarmu secara resmi ke Tuan muda. Untuk sekarang aku belum berani, aku cukup sadar diri siapa diriku. Kuliah saja aku dibiaya oleh orang tuanya kekasihku, masa minta putri berharganya dengan tangan kosong sih. Kamu yang sabar yah nunggu aku sukses,” sahut Ronggo memberi pengertian pada gadis tomboinya.
“Aku sabar kok, aku hanya bercanda. Aku akan menunggumu siap untuk melamarku,” ucap Davina dengan senyum manisnya yang selalu membuat jantung Ronggo terus berpacu karena terpesona.