
“Terima kasih.”
Davina turun dari dalam mobil dengan wajah meronanya, ia merasakan panas pada wajahnya karena jantungnya terus saja berdetak dengan cepat. Ia berjalan masuk ke dalam kampus dengan mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangan kosongnya sambil mengedip-ngedipkan matanya dan menghembuskan napasnya berkali-kali seakan ngos-ngosan setelah maraton.
“Kamu kenapa, Vin?” tanya Dan yang baru saja datang langsung menghampiri sahabatnya yang bertingkah aneh itu.
“Dan, jantungku, Dan. Jantungku,” ucap Vina dengan lebainya membuat Dan bingung setengah mati.
“Vin, kamu waras kan yah? Kamu gak lagi kesambet apa gitu? Waktu berangkat tadi kamu gak melewati rumah kosong kan?” Dan malah bertanya banyak hal sambil memegang kening sahabatnya.
"Aku waras, Dan. Cuma jantungku sedikit sesak saja, rasanya seperti genderang yang mau perang terus saja berdetak dengan sangat kencang,” sahutnya masih dengan tingkah lebainya yang semakin membuat Dan sangat bingung, pasalnya tak pernah terjadi hal seperti ini pada sahabat tomboinya itu.
“Kamu jangan menakutiku dong, Vin. Jantungmu memangnya kenapa sampai bikin kamu yang tomboi dan somplak jadi lebai begini? Kamu beneran gak ngelewati rumah kosong yang angker kan, Vin?” Dan yang sama somplaknya menginterogasi sahabatnya dengan pertanyaan yang membuat orang ingin menepuk jidat.
“Aku kesambet makhluk tampan tadi ditaksi langgananku, Dan. Dia tuh tampan banget tahu gak sih, ini pertemuanku yang kedua kalinya sama dia,” tutur Davina dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
Ketika Dan sedang dalam kebingungannya karena tingkah sahabat tomboinya yang bersikap aneh, Boy dan Riris baru saja datang. Boy langsung merangkulkan tangannya ke pundak Dan yang masih dalam mode mematung.
“Hei, ada apa sih kalian? Kok terlihat seperti orang kesambet gitu pada bengong?” tanya Boy yang datang-datang bingung melihat kedua sahabatnya yang bertingkah aneh, Riris hanya menganggukkan kepalanya dengan ritme yang cepat.
“Vina kesambet makhluk tampan katanya ditaksi online langganannya,” tutur Dan masih dalam keadaan melamun seakan tatapannya kosong karena ketidak percayaannya pada apa yang dikatakan oleh Davina.
“HAH!” Boy dan Riris bengong berjamaah dan saling pandang dengan raut wajah yang sangat sulit sekali diartikan setelah mendengar penuturan dari Dan, sepersekian detik kemudian ketiganya tertawa geli terbahak-bahak.
“Hahaha, kamu naksir sama Pak Paijo, Vin? Astaga Vin, kamu waras kan? Pagi ini makan apa sih kamu sampai kesambet naksir sama Pak Paijo yang sudah tua kamu bilang makhluk tampan, kamu pasti semalam waktu tidur jatuh dari tempat tidur dan kepala kamu terbentur lantai kayaknya nih makanya pagi ini berangkat lihat Pak Paijo dibilang makhluk tampan.” Boy tertawa terbahak-bahak tak menyangka kalau sahabatnya mengatakan kalau sopir taksi langganannya yang sudah tua adalah makhluk tampan, mereka salah paham mengartikan bahwa yang dikatakan oleh Davina sebagai makhluk tampan adalah sopir taksinya yang lama yang sudah tua, Riris pun yang setuju dengan perkataan Boy ikut tertawa, Dan yang mematung seketika ikut terkekeh.
Tak, tak, plak
“AW!” ketiganya memekik berjamaah memegang kepala dan juga lengannya karena Davina menggetok kepala Dan dan Boy sedangkan Riris dipukul di bagian lengannya.
__ADS_1
“Aku masih waras dan mataku masih normal kali, ya kali aku naksir sama Pak Paijo, Bambang,” dengus Davina kesal dengan tingkah ketiga sahabatnya.
“Ya terus siapa dong kalau bukan Pak Paijo? Kan sopir taksi langganan kamu tuh Pak Pijo, Suketi,” balas Boy.
“Pak Paijo sakit jadi sopirnya diganti in sama orang baru namanya Ronggo. Dia tuh tampannya gak pake ukuran, gengs. Makanya aku selama perjalanan sesak gitu dada saking jantung deg-degan terus, sumpah wajahnya bikin hatiku meleleh tahu gak sih,” jelas Davina sambil membayangkan saat bersama Ronggo tadi.
“Enggak.” Mereka menggelengkan kepalanya berjamaah dengan ekspresi datar mendengar penjelasan Davina.
“Ish, kalian ini. Sudahlah aku mau masuk kelas, bentar lagi dosen datang, kalau terlambat masuk bisa mampus nanti.” Davina berjalan meninggalkan ketiganya menuju kelasnya.
Davina masih terus terbayang dengan wajah tampan Ronggo sepanjang pelajaran. Ia tak bisa fokus sama sekali karena terus saja membayangkan wajah yang dingin dan tanpa senyum juga tanpa kata tersebut. Entah mengapa ia sangat tertarik pada seorang sopir taksi pengganti Paijo, sopir langganannya.
“Vina, Vina, kamu bisa jelaskan materi ini,” suara sang dosen memanggil Davina yang sedang melamunkan Ronggo dengan senyum-senyum bodohnya, sungguh sangat terlihat begitu bodoh.
“Vina,” kembali sang dosen memanggilnya tapi Davina masih asyik dengan khayalan semunya.
“SIIAAAP!” Davina terkejut ketika sang dosen meninggikan suaranya beberapa oktaf, ia tersadar dan melihat sekeliling ternyata teman-temannya semua melihat pada dirinya, Boy dan Riris terkekeh geli.
“Kamu dari tadi tak mendengarkan, saya sudah panggil kamu beberapa kali. Sekarang kamu maju untuk menjelaskan maksud dari materi yang saya tuliskan ini, SEKARANG.” Dosen menekan kata terakhirnya membuat Davina nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Sekarang, Pak?” Davina malah bertanya bukannya maju untuk menjelaskan apa yang diperintahkan oleh dosen dengan kumis tebal dan perut buncitnya.
“Masa tahun depan, Vina. Yah sekaranglah,” sahut sang dosen yang sudah tak sabar dengan gadis cantik yang bergaya tomboi tersebut.
“Hehe, saya kira besok,” kekeh Davina yang bangun dari duduknya dan berjalan maju ke depan kelas untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Dosennya, sang dosen hanya memijat pelipisnya karena Davina selalu saja membuat pusing.
“Baik anak-anak, sekarang saya akan menjadi dosen pengganti dari Bapak Sugeng yang terhormat. Jadi inti dari yang telah dituliskan oleh Pak Sugeng adalah.” Davina menjelaskan maksud dari yang telah ditulis oleh dosennya itu dengan lugas dan jelas.
Meski tomboi dan kadang suka somplak, Davina sangatlah cerdas. Ia membuat dosennya sangat kagum dengan penjelasan yang dijelaskannya. Para dosen memang sangat memuji kecerdasan gadis tomboi tersebut.
__ADS_1
“Sekian penjelasan dari saya, saya kembalikan lagi pada Pak Sugeng yang terhormat,” akhir dari penjelasan Davina dan semua bertepuk tangan termasuk dosennya, ia kembali ke kursinya.
“Sangat memuaskan, terima kasih buat sahabat kita. Meski terkadang dia sangat berisik tapi dia selalu membuat saya bangga,” puji sang dosen atas apa yang telah Davina lakukan.
“Wiuh, bisa nih jadi asisten Dosen,” goda Boy membuat Davina menggetok kepalanya. “Aduh!” pekik Boy memegang kepalanya yang digetok oleh Davina.
“Ogah, kamu ajah sana jadi asisten Dosen.”
Jam pelajaran berakhir, ketiganya berjalan menuju kantin seperti biasa untuk mengisi perutnya.
“Ah, akhirnya aku bisa menyeruput minuman juga, terasa kering tenggorokan ngomong panjang kali lebar tapi ketemunya malah volume,” gerutu Davina yang sedang menyeruput es jeruknya hingga hampir tandas.
“Wuih, haus bener kayaknya. Abis ngapain memangnya?” tanya Dan yang sedang menikmati makan siangnya.
“Abis ngoceh tau gak sampe tenggorokan kering,” sahut Davina yang kini mulai mengeksekusi mie ayamnya.
“Biasa dia Dan, jadi asisten Dosen.” Boy menimpali yang juga sedang memakan baksonya.
“Oh, kan udah biasa juga, kenapa harus ngeluh?” sahut Dan bertanya.
“Makanya, jangan pinter-pinter jadi mahasiswi, jadinya kan suruh jelasin terus sama Dosen. Kayak aku nih, pinter gak, bodoh juga gak, hehe,” sambung Riris terkekeh.
...
Jangan lupa like dan komennya yah, fav kan biar kalian gak ketinggalan updatenya. Vote sama hadiahnya juga yang banyak loh biar aku semangat melanjutkannya, oke
Tanpa semangat dari kalian aku tak semangat menghalu bestie😭😭😭
Salam hangat dariku dan semangat melewati hari ini💪😊🥰
__ADS_1