Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 28


__ADS_3

Davina, Riris dan Boy langsung menatap pada Ronggo yang duduk di samping Davina dan Riris. Ketiganya kemudian saling pandang satu sama lain karena bingung ingin mengatakan apa. Di antara ketiganya, Davinalah yang sedang panik karena takut Kevin akan kelepasan mengatakan kalau dirinya adalah anak dari pemilik Cafe tersebut.


“Eh, anu, i-ini Ronggo, Om Kevin,” ucap Davina dengan nada terbata-bata, dalam hatinya ia berkata ‘Om, jangan sampai kelepasan berkata kalau aku putri Mamah yah.’


“Oh begitu, jadi pria ini yang dikatakan oleh,”


“Pasti oleh Tante Ana yah kan, Om?” Davina dengan segera menyerobot ucapan Kevin.


“Ih kok tahu sih, dia yang katanya kamu suka banget itu kan? Yang kamu bertengkar sama Satria pas kamu cuti weekend kemarin?” tanya Kevin menebak siapa pria tampan asing yang baru bergabung dengan geng somplak.


“Kamu bertengkar sama pelayan yang tadi mengantar makanannya Riris gara-gara aku yah?” Ronggo menyerobot pertanyaan pada Davina.


“Dia bukan pelayan, Mas Ronggo. Dia itu koki, koki paling tampan yang gak ada duanya,” ucap Riris ikutan menyerobot pembicaraan karena tak terima kalau pria pujaannya dibilang pelayan.


“Oh maaf, aku tak tahu kalau dia koki karena aku hanya melihatnya mengantar makanan untukmu,” sahut Ronggo meminta maaf dengan datar dan tenang tak merasa bersalah sedikit pun.


“Itu karena dia sayang padaku dan aku ini istimewa baginya makanya kepala koki Cafe ini turun langsung mengantarkan makanannya untukku,” dengan percaya dirinya Riris berucap demikian.


Davina, Boy dan Kevin melongo memperhatikan keduanya yang malah sibuk saling bertukar kata berdua.


“Hei kalian, cepat habiskan makanan kalian dan pulanglah, aku masih harus kerja,” gerutu Davina membuat Ronggo dan Riris seketika sadar dan menoleh padanya.

__ADS_1


“Oh maaf, aku akan selesaikan makanku sekarang.” Ronggo langsung melahap makanannya.


“Ya sudah kalau begitu, kalian nikmati saja makanan kalian, aku mau balik kemejaku lagi yah.” Kevin memilih untuk kembali ke tempatnya berasal.


Alhasil mereka makan dengan suasana yang sedikit tegang.


“Hei, ayolah masa kita makan begini sih, gak asyik tau diem-dieman gini makan.” Boy mencoba membuat suasana hidup kembali, karena ia merasa tak nyaman makan dengan diam seperti itu.


“Vin,” panggil Ronggo setelah Boy selesai berucap.


“Iya, kenapa?” sahut Davina bertanya.


“Apa benar yang dikatakan Mas pengantar minuman tadi kalau kamu dan koki tadi tuh bertengkar? Apa gara-gara aku?” Ronggo menanyakan kembali hal yang tadi belum dijawab oleh Davina.


“Oh aku kira kamu bertengkar gara-gara libur ke rumahku.”


“Enggaklah, kan biasanya hari libur kuambil lembur karena aku bingung mau ke mana kalau mereka nih gak ngajak aku jalan-jalan, jadi yah dari pada bingung kan mending lembur. Kecuali mereka ngajakin aku jalan-jalan baru aku ambil libur,” ucap Davina menunjuk pada kedua sahabatnya.


“Sudah Mas Ronggo tak perlu merasa bersalah, mending nikmati saja makanannya mumpung gratis, hehe,” sela Riris nyengir kuda masih menikmati makanannya.


“Ini seriusan gratis nih? Apa kita patungan saja biar kamu bayarnya gak terlalu mahal,” tanya Ronggo yang takut kalau makanan yang dimakannya mahal.

__ADS_1


“Gak perlu, Mas. Di sini itu makanannya terjangkau. Kamu lihat deh, banyak anak-anak sekolah yang nongkrong sepulang sekolah kan? Itu karena harga makanan di sini menyesuaikan dengan uang saku mereka,” jelas Davina sambil menunjukkan beberapa anak sekolah yang mampir sepulang sekolah.


“Syukur deh kalau begitu, aku kira mahal makanya aku khawatir kamu ngeluarin banyak uang buat traktir aku makan.” Ronggo merasa lega dan melanjutkan makannya.


‘Huh, kamu tak tahu saja Mas Ronggo. Dia tuh anak pemilik Cafe ini jadi yah makanan begini mah gak ada apa-apanya buat dia, seperempat uang jajannya dia ini mah,’ gurutu Riris dalam hati.


“Kamu sering-sering ajah minta traktir dia makan di sini,” sambung Boy.


“Mama boleh seperti itu, dia kan juga kerja, masa aku tega menghabiskan uangnya untuk minta traktir makan sering-sering, aku kan pria jadi harusnya lain kali aku yang traktir dia makan,” sahut Ronggo membuat Davina meleleh hatinya.


‘Aduh Mas, dia tuh kerja hanya untuk membantu Cafe saja meski mendapat bayaran, tapi uang jajan dia seminggu melebihi gaji dia selama sebulan kerja di sini, ah andai kamu tahu pasti bakalan pingsan,’ kini Boy yang berbicara dalam hati.


“Wah, Mas Ronggo berniat mau traktir aku makan nih kayaknya, aku harus makan sampai puas nanti pas Mas Ronggo traktir aku, sampai dompet Mas Ronggo kering tak tersisa pokoknya,” seru Davina dengan senangnya membuat Ronggo tersenyum tipis melihat tingkah Davina.


Suasana yang tadi terasa kaku kini kembali terasa begitu menyenangkan bagi mereka semua. Mereka menikmati makanan tersebut dengan mengobrol, bercanda dan tertawa.


Aberlie yang melihat senyum bahagia putrinya dari meja kasir merasa bahagia. Ia juga melihat pria yang tak pernah dibawa putrinya dan merasa yakin kalau pria tampan itu adalah orang yang sudah sukses membuat putrinya galau.


“Nona Vina terlihat sangat bahagia yah, Mbak. Aku yakin pria itu adalah pria yang selama ini dikejar oleh Nona Vina dan yang berhasil membuatnya uring-uringan juga,” ucap Ashana yang ikutan memperhatikan anak bosnya itu.


“Yah, dia terlihat sangat bahagia, tatapan matanya pada pria itu penuh dengan cinta. Putri tomboiku sedang jatuh cinta, Na,” sahut Aberlie merasakan kebahagiaan karena senyum bahagia putrinya.

__ADS_1


“Tapi dilihat dari penampilannya, pria itu bukanlah berasal dari keluarga berada, Mbak. Dia terlihat sederhana, pakaiannya pun sederhana,” ucap Ashana kembali yang ternyata sedang memperhatikan penampilan Ronggo.


“Dari keluarga apa dia berasal aku tak masalah, Na. Mau dia dari keluarga kaya atau keluarga tak mampu sekalipun aku tak masalah selagi dia pria baik-baik dan bisa membuat Vina bahagia itu sudah cukup bagiku. Jika dia berasal dari keluarga yang kurang mampu, maka aku akan memberinya pekerjaan yang layak agar dia bisa menghidupi putriku,” sahut Aberlie membuat Ashana terharu dan bangga dengan bosnya itu.


__ADS_2