Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 52


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Davina dan Ronggo sedang bersiap untuk berangkat berbulan madu, mereka sudah tak sabar untuk mendatangi kampung halaman sang mamah untuk melihat bagaimana suasana di sana.


“Kalian hati-hati yah, Mamah sudah menelepon pengurus Villa, mereka akan menyambut kedatangan kalian,” ucap Aberlie sebelum pasangan baru itu pergi.


“Mamah tenang saja, aku akan menjaga Vina dengan baik. Setelah sampai kami akan menghubungi kalian. Kami pamit dulu,” sahut Ronggo seraya berpamitan.


“Pulang nanti kasih kabar baik buat kami sekeluarga yah,” goda Devano saat adik dan adik iparnya itu menyalaminya.


“Insya Allah, doakan saja agar semua dilancarkan. Kalau rezeki pasti akan segera hadir,” sahut Ronggo.


“Daddy sudah menyuruh orang mempersiapkan kebutuhan kalian di sana selama beberapa pekan,” kini Bram yang angkat suara.


“Terima kasih, kalian memang yang terbaik yang kumiliki, terutama Daddy, aku sayang sekali sama Daddy.” Davina memeluk Bram erat seakan tak ingin berpisah.


“Daddy memang yang terbaik untukmu karena Daddy sangat menyayangimu,” sahut Bram membalas pelukan putrinya tersebut.


“Sudah, nanti mereka keburu siang dan terjebak macet.” Aberlie menengahi agar daddy dan anak tersebut mengakhiri drama perpisahannya.


“Bye Mah, Dad, Kak Vano. Kami berangkat dulu,” pamit keduanya dan mereka pun pergi meninggalkan kediaman Hanoraga.

__ADS_1


“Aku iri melihat mereka, sekarang Adikku sudah memiliki pasangannya dan tak membutuhkanku lagi,” ucap Devano setelah Davina dan Ronggo pergi.


“Mengapa kau tak mencari pasangan untukmu juga agar kau tak menjadi jomblo yang mengenaskan seperti ini?” gerutu Bram menanggapi ucapan putranya.


“Saat waktunya tiba aku pasti akan mendapatkannya, sekarang bukan waktunya. Perusahaan saat ini sedang membutuhkanku, masa jabatan Daddy dimasa lalu sungguh sangat kacau. Banyak dari mereka yang ternyata parasit perusahaan, aku membutuhkan waktu untuk membereskan mereka semua. Di bawah kepemimpinanku, aku tak ingin ada lalat kecil yang menjijikkan hinggap menjadi parasit dan jangan harap akan memiliki kesempatan itu,” sahut Devano, mereka melanjutkan mengobrol diruang keluarga.


“Memang banyak yang melakukan hal itu, Daddy hanya sedang memberikan mereka kesempatan untuk bertobat saja, saat mereka sudah mulai serakah Daddy berencana untuk membuangnya. Namun, ternyata kamu menjabat lebih cepat dari perkiraan Daddy sebelum Daddy sempat membersihkannya,” ucap Bram yang ternyata mengetahui keadaan perusahaan.


“Mengapa Daddy menjadi lembek seperti ini? Bagiku tak ada kesempatan untuk mereka bertobat, jika mereka tak segera dibasmi maka bukannya bertobat, tapi malah akan menjadi parasit yang menjijikkan yang tak tahu diuntung dan lebih serakah lagi. Kasihan bagi mereka yang bekerja dengan jujur yang hanya mendapat upah kecil dari kita sedangkan mereka yang serakah menikmati uang hasil korupsinya dengan tenang dan santai. Keputusanku sudah tepat dengan membereskan mereka dan menaikkan gaji mereka yang sudah bekerja keras dengan jujur. Mereka para parasit yang bersedia mundur secara baik-baik maka aku akan mengampuninya tanpa meminta kompensasi apa pun, tapi mereka yang protes maka mereka akan merasakan akibat apa yang akan kuberikan pada mereka,” tutur Devano dengan geramnya mengingat bagaimana para koruptor tak tahu diri yang berada di perusahaannya itu masih menikmati dan melakukan pencucian uang dengan santainya meski mereka tak mengetahui kalau mereka sedang diselidiki.


“Apa pun yang akan kau lakukan pada perusahaan, Daddy akan percaya dan mendukungmu,” ucap Bram memberikan kepercayaan penuh pada putranya, ia tak mau ikut campur tangan dengan apa yang dilakukan putranya karena ia percaya akan kemampuan Devano.


...


Malam hari, mobil yang dikendarai Ronggo berhenti di buah Villa didaerah pedesaan yang terlihat sangat asri.


“Kalau dilihat dari share lokasinya, ini adalah Villanya,” ucapnya bergumam, Davina sudah terlelap karena lelah.


Ronggo turun dari mobil, tak lama seorang pria paruh baya datang menghampirinya.

__ADS_1


“Tuan Ronggo?” tanya pria itu dan Ronggo menganggukkan kepalanya.


“Iya saya.”


“Saya Mang Asep yang menjaga Vila keluarga Hanoraga, Tuan muda sudah menelepon tadi siang. Mari saya bantu,” ucapnya memperkenalkan diri sebagai pengurus Villa.


“Terima kasih, Mang. Barang-barang ada di bagasi, tolong yah Mang. Saya harus menggendong istri saya yang sedang tidur,” ucap Ronggo meminta tolong.


“Oh iya, Tuan. Silakan, di dalam ada istri saya, nanti dia yang akan mengantar Anda ke kamar yang akan Anda tempati.”


Ronggo menggendong tubuh Davina perlahan takut membangunkannya dan membawanya masuk ke dalam Villa, ada seorang wanita paruh baya yang menyambutnya.


“Monggo, Tuan. Saya Asih, istrinya Asep. Saya akan mengantar Anda menuju kamar Anda.” Ronggo mengikuti Asih menuju kamar yang akan ditempatinya.


“Terima kasih yah, Bi.”


“Sama-sama, Tuan. Kalian istirahat saja, biar saya dan Bapak yang membereskan barang bawaan Anda.”


Ronggo meletakkan tubuh Davina perlahan agar ia tak bangun, setelah selesai ia menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya, hari sudah malam ia langsung beristirahat menyusul istrinya yang sudah berada dialam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2