Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 54


__ADS_3

Esok paginya sesuai yang direncanakan oleh Ronggo kemarin, ia dan Davina sudah siap untuk lari pagi dan mampir ke pasar. Ketika turun dari lantai atas, Asep dan Asih menyambutnya.


“Tuan, ini singkong dan ubi yang Anda minta saya sudah galikan,” ucap Asep memberitahu kalau singkong dan ubinya sudah digali.


“Terima kasih yah, Mang. Saya dan istri saya mau lari pagi dulu sambil mampir pasar, kira-kira arah pasar sebelah mana dan apakah jauh dari sini?” tanya Ronggo.


“Pasar tidak jauh kok, Tuan. Anda bisa mengikuti jalan, nanti kalau sudah sampai pertigaan pilih jalan ke kanan, kalau saat Tuan datang kan dari arah kiri. Setelah belok ikuti jalan saja nanti pasti melihat pasar kok,” jelas Asih.


“Terima kasih yah, Bi. Kami pergi lari pagi dulu. Oh iya, kalau daun singkongnya belum dibuang tolong sisihkan untuk saya yah, saya ingin bikin gulai daun singkong soalnya, sepertinya enak.” Ronggo dan Davina pun pergi meninggalkan Villa untuk ke pasar dengan cara lari pagi setelah meminta pada sepasang suami istri penjaga Villanya perihal daun singkong.


“Baik Tuan.”


Ronggo dan Davina menyusuri jalan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Asih, tak lama ia sampai di pertigaan dan mengambil jalur ke kanan, mereka melanjutkan larinya lagi hingga sampai di pasar yang dimaksud.


Terlihat begitu ramai, Davina yang notabenenya adalah anak orang kaya tak merasa risih sedikit pun meski dipasar ramai berdesak-desakan dengan orang lain.


“Wah jadi ini pasar didesa, ramai yah dan juga banyak jajanan yang tak pernah aku lihat di kota,” seru Davina dengan mata berbinar melihat jejeran pedagang yang menggunakan tampah menjajakan dagangannya.


“Yah begitulah, pasar didesa lain dari pada yang lain dari di kota. Kamu mau mencoba jajanan pasar?” tanya Ronggo sambil menunjuk-nunjuk pada deretan pedagang jajanan pasar.


“Boleh, aku belum pernah nemu jajanan yang seperti ini, sepertinya enak sampai membuatku ngiler,” sahut Davina dengan penuh antusias dan mata berbinar, Ronggo menggandeng tangan istrinya untuk menghampiri pedagang jajanan pasar tersebut.


“Ini yang warna-warni namanya cetil, makannya pakai kelapa dan gula pasir. Yang hitam ini ciwel, makannya juga pakai kelapa tapi kelapa yang disangrai dan juga tanpa gula. Ini pecel, enaknya makan pakai kupat plastik begini dan tempe mendoan atau bakwan. Nah kalo ini namanya gerontol.” Ronggo memperkenalkan jajanan pasar satu persatu pada istrinya itu.


“Ish kok kamu hafal sekali sih namanya, terus juga ini kan jagung kenapa jadi gerontol, nama yang aneh,” protes Davina perihal jagung membuat Ronggo terkekeh geli.


“Yah memang namanya gerontol, Sayang kalo didesa itu. Jadi, kamu mau beli apa nih?” tanya Ronggo.

__ADS_1


“Mau beli semuanya, hehe. Habis terlihat menggoda semua, soalnya aku belum pernah makan jadi ingin mencobanya semua,” sahut Davina terkekeh membuat Ronggo ikut terkekeh.


“Baiklah, kita beli satu bungkus setiap jenisnya. Bu, saya beli ini sepuluh ribu jadi satu saja yah. Ini juga jadi satu, yang ini juga, ini sekalian.” Ronggo beralih meminta setiap satu bungkus pada sang penjual dengan harga sepuluh ribu setiap jenis makanannya dari pedagang yang berbeda.


“Kurang pecelnya, Sayang,” ucap Davina merasa kurang pecel setelah ia memeriksa kembali.


“Bu, pecelnya empat bungkus yah, bakwan dan mendoan sepuluh ribu, kupatnya sepuluh ribu,” ucap Ronggo memesan pecel sesuai permintaan istrinya, belum juga yang dituju dapat tapi tangan Ronggo sudah penuh dengan banyak jajanan pasar yang diminta oleh Davina.


Setelah selesai berburu jajanan pasar, Ronggo berjalan menyusuri pasar mencari penjual oncom, tak lama ia melihat ada yang menjualnya dipojokkan, mereka langsung menghampirinya.


“Ini namanya oncom, Sayang,” tunjuk Ronggo pada makanan berbulu berwarna orange tersebut.


“Loh kok gak dikerubuti lalat yah, kata orang katanya oncom itu dikerubuti lalat tapi kok ini gak,” tutur Davina yang merasa bingung.


“Kan kata orang, tapi kamu lihat sendiri enggak kan? Jadi gak jijik lagi dong.”


“Bu, minta oncomnya satu papan yah,” pesan Ronggo pada penjual oncom yang sedari tadi menyimak obrolan Ronggo dan Davina, orang baru mungkin pikir sang penjual oncom.


“Ini oncomnya, Mas.” Penjual oncom memberikan seplastik oncom yang diminta Ronggo, Ronggo pun mengambil dan membayarnya.


Mereka kemudian melanjutkan sesi belanjanya, setelah semua yang diinginkannya didapat mereka pun pulang dengan berjalan kaki.


Sampai di rumah ternyata singkongnya sudah diparut oleh Asih dan daun singkongnya pun sudah digodong dan tinggal meraciknya saja.


“Terima kasih yah, Bi sudah menyiapkan bahannya. Oh iya, ini ada jajanan pasar, nanti dimakan bersama dengan Mang Asep yah.” Ronggo memberikan jajanan pasar yang ia beli untuk Asih dan Asep tadi.


“Aduh Tuan, kenapa repot-repot begini sih. Terima kasih yah, Tuan, saya jadi merasa tak enak,” ucap Asih sungkan.

__ADS_1


“Tak perlu sungkan. Oh iya Bi, tolong bantu aku masak yah, Nyonya mah biarkan saja suruh santai,” pintanya.


“Siap, Tuan.”


Ronggo langsung membuat sambal oncom untuk isian comronya, setelahnya ia langsung mengisinya dan meminta Asih untuk menggorengnya sedangkan Davina disuruh duduk santai saja diruang keluarga sambil menikmati acara televisi dan memakan jajanan pasar yang ia beli tadi.


Sambil menunggu comro siap disantap, Ronggo membuat bumbu untuk masak daun singkongnya.


“Sayang, comronya jadi.” Ronggo meletakkan sepiring comro yang sudah matang di meja dengan segelas teh lemon hangat.


“Makasih, oh iya apakah ini dimakan sama pecel juga enak?” tanya Davina yang sedang menyantap pecel yang ia beli tadi.


“Cobalah, jika tak dicoba mana tahu,” titah Ronggo dan Davina pun mencobanya.


“Ehm, enak ternyata. Tak hanya menggunakan bakwan dan apa ini namanya.” Davina menunjukkan tempe mendoan pada Ronggo.


“Mendoan.”


“Nah iya, tak hanya enak pakai bakwan dan mendoan saja, ternyata pakai comro enak juga,” serunya mengulang kalimat yang sempat terpotong.


“Apakah sudah merasa tak jijik lagi makan oncom?” tanya Ronggo menggoda.


“Rasanya enak dan juga tak dihinggapi lalat seperti yang orang bilang jadi yah aku gak jijiklah,” sahutnya yang masih asyik menikmati pecel dan comro.


Ronggo yang melihat istri tomboinya makan jadi ikutan lapar, ia membuka satu bungkus pecel yang tersisa untuk disantapnya bersama dengan kupat dan teman-teman lainnya. Di dapur juga Asih dan Asep sedang menikmati makanan yang sama seperti yang dimakan oleh majikannya.


Hari-hari berjalan begitu indah bagi Davina dan Ronggo. Mereka mengunjungi rumah makan soto yang dikatakan oleh Aberlie waktu itu, mereka juga sudah sangat dekat dengan penduduk desa tersebut. Hingga tak terasa ternyata mereka sudah sebulan lamanya menikmati waktu bulan madu dan hari ini keduanya memutuskan untuk kembali ke kota J karena sudah harus bekerja kembali.

__ADS_1


__ADS_2