
Pagi hari Davina sudah siap untuk menjalani harinya di kampus. Ia sudah rapi dengan setelan celana jeans dan juga kaos oblong beserta jaket levis yang selalu menjadi ciri khas tomboinya.
“Pagi Mam, Dad.” Davina mencium pipi kedua orang tuanya seperti biasa saat ia baru sampai di meja makan.
“Pagi, Sayang. Kamu belakangan selalu bangun pagi dan juga hebatnya tanpa Mamah harus membangunkan kamu dulu, ada apa ini sampai putri tomboi Mamah yang kebluk berubah drastis seperti ini?” tanya Aberlie sedikit menggoda, ia sebenarnya sudah tahu putrinya itu berubah karena sedang menyukai seseorang sebab pengawal yang mengikuti putrinya itu selalu melaporkan semua kegiatan Davina pada keduanya.
“Sedang ingin berubah saja kok, Mam. Memangnya ada yang salah yah kalau aku berubah dimulai dari bangun lebih pagi tanpa menunggu Mamah membangunkanku?” sahut Davina yang sudah mulai mengunyah roti isi buatan sang mamah.
“Gak ada kok, Mamah senang saja kamu berubah, semoga saja seterusnya seperti ini, kalau bisa gaya berpakaiannya juga berubah menjadi sedikit feminin dengan menggunakan dresh,” ucap Aberlie penuh harap.
“Mamah ada-ada saja deh harapannya, kalau itu tidak akan mungkin mah,” ucap Davina dengan penuh keyakinan kalau dirinya tak akan berubah menjadi feminin seperti sepupunya.
“Yah siapa tahu saja, berharap tak ada salahnya kan.”
__ADS_1
“Sudahlah, By jangan menggodanya terus, dia punya gayanya sendiri, lagi pula bagiku seperti apa Vina dia tetaplah Princes kita.” Bram mulai membuka suara menengahi istri dan putrinya. “Bagaimana kuliah kamu, Vin?” sambungnya bertanya.
“Baik kok, Dad. Tak ada masalah dengan kuliahku dan juga pekerjaanku. Aku fine-fine ajah dengan kegiatan keduanya,” sahut Davina masih menikmati sarapannya.
“Jangan terlalu sering mengunjungi Green Sky, kamu masih kuliah Daddy hanya takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” sambung Bram mengingatkan putrinya.
“Daddy tak perlu khawatir, bukankah jika ada bahaya kedua bodyguard bayangan yang Daddy suruh melindungiku akan selalu muncul dan membereskan semua itu? Aku juga akan menjaga diri kok, Dad. Aku tak akan melewati batasanku yang akan membuat Daddy dan Mamah malu,” tutur Davina yang benar adanya kalau kedua bodyguard yang bertugas melindungi Davina akan muncul saat gadis tomboi itu dalam bahaya yang mengancam keselamatan nyawanya.
“Daddy selalu percaya padamu, Sayang. Daddy hanya menghawatirkanmu saja, Daddy harap kamu mengerti dengan kecemasan yang Daddy rasakan,” ucap Bram dengan suara yang terdengar lembut pada putri kesayangannya itu.
“Tenang saja Daddyku yang tampan, putri tomboimu ini akan selalu menjaga diri dengan baik dan tak akan membuat Daddy khawatir sedikit pun,” dengan manja Davina beranjak dari duduknya karena ia memang sudah selesai dengan sarapannya dan memeluk Bram dari belakang.
“Daddymu itu terlihat sangat romantis dibanding saat bersama dengan Mamah,” celetuk Aberlie yang senang melihat putri dan suaminya selalu bersikap saling menyayangi, bahkan menurut Aberlie mereka berdua lebih terlihat sepasang kekasih kalau sudah bersama.
__ADS_1
“Mamah tak boleh cemburu denganku karena Daddy adalah cinta pertamaku, lagi pula Mamah juga cinta pertamanya Kak Vano. Mamah dan Kak Vano kalau sedang bersama juga terlihat seperti sepasang kekasih.” Davina melarang sang mamah untuk tak cemburu padanya dan juga sang daddy.
“Haha, kamu itu ada-ada saja. Mana mungkin Mamah cemburu dengan putri Mamah yang tomboi ini. Sudah sana berangkat, nanti keburu siang, taksi online kamu pasti sudah menunggu.” Aberlie mengingatkan Davina agar segera berangkat.
“Ah iya, sudah jam tujuh. Oh iya Mah, aku minta beberapa roti isi untuk kubawa yah.” Davina menuju dapur mengambil wadah untuk membawa beberapa potong roti isi buatan sang mamah.
“Tumben sekali?” tanya Aberlie yang bingung tapi Davina hanya tersenyum membuat sang mamah dan daddynya saling pandang bingung.
“Pasti penasaran yah.” Davina menunjuk Aberlie dan Bram secara bergantian dengan senyum isengnya sengaja ingin membuat kedua orang tuanya penasaran.
“Kamu sudah mulai nakal yah, pandai sekali membuat kami penasaran,” ucap Aberlie dengan gelengan kepalanya tak habis pikir dengan putrinya yang sudah pandai membuat orang penasaran.
“Hehe, lagian Mamah kepo banget sih ih. Sudah ah aku berangkat dulu, kasihan taksi onlineku pasti sudah menunggu.” Davina berpamitan pada kedua orang tuanya tanpa ingin menjelaskan mengapa ia membawa roti isi.
__ADS_1