
Di dalam kamar, Davina tersenyum sendiri mengingat kejadian di dalam mobil. Ia memegang bibirnya dengan senyum yang masih merekah. Sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya yang ia benamkan dibantal kesayangan yang berbentuk doraemon sambil menaik turunkan kakinya.
“Aaaah, aku gak bisa berhenti membayangkannya. Rasanya jantungku akan meledak saking gak mau berhentinya,” seru Davina yang masih larut dalam kejadian di dalam mobil sewaktu pulang tadi.
“Apakah itu yang namanya berciuman? Rasanya sungguh membuat jantung terus berdegup kencang,” ucapnya kembali sambil memegang bibirnya, kali ini ia sudah merubah posisinya menjadi telentang.
Matanya belum ingin terpejam, ia masih memikirkan apa yang terjadi saat di dalam mobil. Ia terus saja berguling di atas tempat tidurnya sambil sesekali memekik kegirangan. Kakinya ia hentak-hentakkan di atas tempat tidur hingga subuh menjelang, hingga matanya sudah tak sanggup lagi untuk terjaga akhirnya ia terpejam dengan sendirinya.
...
Di tempat lain, di dalam kontrakan tepatnya di dalam kamar, Ronggo juga sedang membayangkan hal yang sama. Ia juga tak bisa memejamkan matanya karena masih teringat akan ciuman yang tiba-tiba saja terjadi tanpa ia rencanakan.
“Apakah dia akan marah padaku besok karena sudah lancang menciumnya tanpa meminta izinnya terlebih dulu? Kalau esok aku bertemu dengannya, kira-kira terasa canggung gak yah,” gumam Ronggo merasa sedikit bersalah karena sudah menciumnya tanpa meminta izinnya terlebih dulu.
“Tadi dia keluar dari mobil begitu saja dan langsung berlari tanpa mengatakan apa pun, apakah karena dia marah padaku? Ah besok aku akan meminta maaf padanya, aku berharap dia tak marah,” gumamnya kembali berharap Davina tak marah, ia tak tahu saja kalau saat ini gadis tomboi itu sedang kegirangan mendapat ciuman perdananya dari orang yang ia cintai.
Ronggo juga berjaga sepanjang malam hingga akhirnya ia tak bisa menahan rasa kantuk yang datang menerpanya, matanya pun terlelap dan ia memasuki alam mimpinya yang indah.
Pagi menjelang di hari minggu yang cerah, kedua sejoli itu belum juga membuka matanya. Keduanya masih bergulat di dalam selimut yang begitu hangat. Hingga pukul delapan mereka baru membuka matanya.
__ADS_1
Ketika matanya terbuka, mereka langsung meraih ponsel berencana untuk menghubunginya atau mengiriminya pesan. Namun, mereka seketika mengurungkannya karena masih merasa gengsi atas apa yang terjadi semalam.
Tapi, sepersekian detik kemudian mereka mulai mengetik sesuatu di ponselnya, saat tinggal mengklik tanda kirim mereka urungkan kembali dan menghapusnya, tapi nanti mereka menuliskan sesuatu lagi tapi nanti dihapusnya kembali, begitulah mereka di pagi saat membuka matanya.
“Ah, nanti ketemu ini di Cafe, pikirkan nanti saja tentang apa yang akan dikatakan,” ucap mereka berdua yang kemudian langsung menuju ke kamar mandi.
Weekend keduanya akan mengambil lembur dengan bekerja di Cafe dari jam sepuluh pagi hingga jam tujuh malam. Setelah mereka siap, Ronggo berangkat untuk menjemput Davina. Sedangkan Davina menunggunya dengan memainkan ponselnya.
Tok... tok... tok...
Ronggo yang sudah sampai di depan mansion kediaman Bram langsung mengetuk pintu seperti biasa. Meski ada bel, tapi pria tampan itu lebih suka mengetuknya. Tak lama pintu terbuka dan tampaklah seorang gadis tomboi yang cantik menyambutnya dengan senyuman manisnya, seketika keduanya langsung merasa gugup saat bertatap mata.
“Ha-hai, Ohayo,” sapa Davina seketika menggunakan bahasa dari pemeran favoritnya di One Piece yaitu Trafalgar Law, sontak membuat Ronggo sangat terkejut.
“O-ohayo,” jawab Ronggo dengan nada terbata-bata karena terkejut dengan sapaan yang menggunakan bahasa jepang itu.
“Hahaha,” tiba-tiba saja keduanya tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu.
“Kamu suka nontonin anime yah?” tanya Ronggo.
__ADS_1
“Iya, aku sangat menyukai anime, banyak dari serial anime yang kutonton. Kalau kamu, film apa yang kamu suka?” tanya Davina ingin mengetahui film apa yang disukai oleh pria pujaannya itu.
“Aku juga suka nonton anime, sekarang aku malah lagi maraton nonton One Piece. Kamu, anime apa yang kamu suka dan apa saja yang sudah kamu tonton?” tanya Ronggo kembali, mereka bukannya berangkat ke Cafe malah asyik mengobrol dengan duduk di teras mansion.
“Wah kalau begitu sama dong, aku juga lagi maraton nonton One Piece nih, kapan-kapan kita nobar yah. Siapa idola kamu di One Piece?” tanya Davina menjadi bersemangat sekali kalau ada yang mengajaknya mengobrol tentang anime.
“Aku suka karakter Sanji, aku juga bercita-cita menjadi Koki karena Sanji. Dia bukan Cuma koki biasa ajah, dia juga sangat kuat meski tak sekuat Luffy dan Zoro. Aku sangat mengaguminya,” sahut Ronggo memberitahu karakter favoritnya. “Kalau kamu, suka karakter siapa? Pasti kalau gak Nami, Robin kan?” sambungnya bertanya dan menebak karakter favorit gadis pujaannya.
“Tetot, kamu salah. Aku sangat mengidolakan Trafalgar Law dan Donquixote Rosinante alias Corazon. Mereka tuh menurutku cool banget tau meski tak sekuat kru mugiwara tapi bikin aku jatuh cinta,” sahut Davina memberitahu karakter favoritnya juga.
“Kenapa gak sekalian ajah Donquixote Doflamingo-nya kamu favoritkan biar lengkap, hehe,” ucapnya meledek.
“Dia emang gans sih, tapi sayangnya aku gak suka.”
Keduanya mengobrol hingga pukul dua belas, mereka larut dalam percakapan mereka yang cocok satu sama lain hingga tak menyadari ternyata sudah jam makan siang.
“Astaga, kita keasyikan mengobrol sampai lupa waktu, hehe,” seru Davina terkekeh.
“Haha, iya saking cocoknya topik yang kita obrolin jadi lupa waktu deh. Hari ini aku jadinya gak lembur gara-gara keasyikan mengobrol.” Ronggo menimpali.
__ADS_1
“Hehe, kita cocok banget yah ternyata, pertama kita suka baca novel online dan sekarang kita juga suka nonton anime,” ucap Davina merasa kalau mereka serasi.
“Iya juga yah, hehe. Ya sudah, ayu kita keluar buat makan siang,” ajak Ronggo dan mereka pun pergi untuk makan siang bersama, akhirnya mereka menghabiskan waktu weekend untuk jalan-jalan bersama.