Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 23


__ADS_3

Davina berjalan menuju tempat biasa Ronggo menunggunya dengan senyum ceria di wajah cantiknya. Ia menenteng paper bag berisi roti isi yang ia bawa dari rumahnya tadi. Perasaannya sangat tak sabar untuk segera bertemu dengan sang pujaan hatinya itu.


“Aku ingin melihat reaksinya setelah semalam dia melihatku berakting, apakah dia percaya atau malah berpikiran yang aneh-aneh seperti sikapnya padaku yang terkadang suka berubah-ubah,” gumam Davina yang sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Ronggo.


Tak lama ia sudah hampir sampai dan melihat mobil yang biasa menjemput dirinya sudah menunggunya. Davina langsung berjalan sedikit berlari agar segera sampai. Sesampainya di dekat mobil ia langsung membuka pintu mobil dan masuk tanpa mengetuk pintu mobilnya terlebih dulu.


“Pagi,” sapa Davina dengan senyum manisnya seketika membuat pria yang sedang melamun itu terkejut dengan debaran jantungnya karena terpesona dengan gadis yang sebenarnya sudah menggetarkan hatinya itu, tapi karena perasaannya yang pernah kecewa pada perkataan manis beberapa wanita membuatnya tak ingin mengakui perasaannya itu.


“Lama sekali sih, gak tahu apa kalau aku sudah setengah jam nunggunya, memangnya penumpangku hanya kamu saja,” dengan nada yang sengaja dibuat ketus Ronggo berucap sinis, padahal ingin sekali ia berbicara manis pada gadis tomboi yang berada di sampingnya itu.


“Yah maaf. Nih buat kamu.” Davina memberikan paper bag berisi roti isi yang tadi ia wadahi.


“Apa ini? Kamu mau nyogok aku supaya tak marah yah? Oh tak bisa, aku tak mudah untuk disogok,” tanya Ronggo yang sebenarnya penasaran apa yang ada di dalam paper bag yang diberikan oleh Davina.

__ADS_1


“Ish kamu itu selain nyebelin ternyata suka berpikir jelek yah sama aku, ini makanan dari Ibu aku. Katanya buat kamu karena kamu sudah antar jemput aku setiap hari, hanya sebagai ucapan terima kasih saja, lagian Ibu dulu sering menitipi makanan juga untuk Pak Paijo kok, jadi jangan suka berpikiran jelek mulu sama aku,” ketus Davina berdusta, tapi tentang makanan yang selalu diberikan pada Paijo itu memang benar adanya tapi bukan dari Aberlie melainkan Davina sendiri yang selalu berinisiatif memberi Paijo makanan.


“Aku akan menerimanya, katakan terima kasih pada Ibumu.” Ronggo akhirnya mau menerima paper bag yang diberikan oleh Davina untuknya.


“Oke, nanti malam kalau pulang aku akan katakan terima kasih. Ya sudah kita berangkat, sudah mau jam delapan, kelasku jam delapan mulai,” ucap Davina dengan melihat jam di ponselnya.


Mobil berjalan meninggalkan tempat biasa mereka bertemu untuk segera menuju kampus tempat di mana Davina menimba ilmu untuk menjadi seorang koki hebat nantinya.


“Hari ini aku pulang agak cepat, jam dua jemput aku yah,” ucap Davina sebelum ia keluar dari mobil.


Sebenarnya Ronggo ingin sekali menoleh dan mengucapkan salam perpisahan sambil menyemangati gadis tomboi itu untuk belajar yang giat seperti yang selalu ia lakukan pada beberapa wanita yang dulu pernah menjadi belahan jiwanya, tapi lagi dan lagi sesuatu yang membuatnya sakit hati memaksanya untuk tak bersikap demikian lagi.


“Ish dasar, tak ada manis-manisnya sama sekali,” gerutu Davina yang sudah membuka pintu mobilnya hendak keluar.

__ADS_1


“Sekali lagi sampaikan terima kasihku untuk Ibumu atas pemberiannya,” ucap Ronggo dengan cepat sebelum Davina keluar dari mobil.


Davina menoleh menatap pada Ronggo.


“Apakah tak ada kata-kata untukku?” tanya Davina yang mengharapkan ada sepenggal kata manis untuknya. “Ah sudahlah lupakan saja, bye dan sampai bertemu sore nanti.” Davina segera keluar dari mobilnya dan berjalan menuju kampusnya.


“Semangat belajarnya, aku yakin suatu hari nanti kamu akan menggapai cita-citamu dan menjadi koki yang sukses seperti yang kamu inginkan,” gumam Ronggo saat Davina sudah keluar dari mobilnya kemudian ia melajukan mobilnya dan meninggalkan kampus.


Di depan kampus kedua sahabatnya sudah menunggunya.


“Dan ke mana?” tanya Davina yang tak melihat Dan bersama dengan Boy dan Riris.


“Dia ada kelas pagi jadi sudah berada dikelasnya,” sahut Boy memberitahu kalau sahabatnya sudah berada dikelasnya.

__ADS_1


“Ya sudah kita juga ke kelas yuk, sebentar lagi kelas juga akan mulai, sudah jam delapan kurang lima menit doang,” ajak Davina dan mereka pun berjalan menuju kelasnya.


__ADS_2