
Dua bulan berjalan dengan sangat cepat, kini Ronggo sedang menjalani sidang atas skripsinya, Davina pun mendampingi kekasih tercintanya itu.
Sidang berjalan dengan lancar dan Ronggo mampu melewatinya dengan mudah karena memang ia pandai, Davina pun merasa lega.
“Kamu keren banget tadi, aku saja sampai terpesona,” puji Davina setelah mereka pulang dari sidang Ronggo.
“Kamu terlalu memuji, aku tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Mas Satria mungkin,” sahut Ronggo merendah.
Satu bulan setelah Ronggo sidang dan dinyatakan lulus, kini ia resmi menyandang status koki di Cafe milik Aberlie yang kini sudah menjadi milik Davina.
Davina meski statusnya sebagai pemilik, tapi ia tetap turun tangan langsung di dapur untuk mengasah kemampuannya lagi agar menjadi lebih baik, ia tak ingin menyia-nyiakan sekolah dan kemampuannya hanya karena ia seorang Bos saat ini dan tak melakukan apa pun.
“Satu minggu lagi Kak Vano akan pulang, kita ikut jemput dia ke bandara yah,” ucap Davina mengajak Ronggo untuk menjemput sang kakak.
“Dari pada kita ikut menjemput, bagaimana kalau kita menyiapkan hidangan istimewa saja untuknya? Buktikan pada Kakakmu kalau kamu sudah menggapai cita-citamu menjadi seorang chef,” tawar Ronggo benar adanya.
“Ah iya, aku akan membuatnya terpesona dengan masakan buatanku. Kalau begitu aku setuju denganmu, kamu memang yang paling ter the best.”
Satu minggu pun berlalu, Bram dan Aberlie bersiap untuk menjemput putra kesayangannya yang telah lama pergi untuk melanjutkan pendidikannya.
“Aku sudah tak sabar bertemu dengan putraku, setelah beberapa tahun akhirnya ia pulang, anak nakal itu tak pernah mau pulang saat cuti kuliah membuatku kesal dan harus terbang menemuinya guna melepas rindu padanya,” gerutu Aberlie yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan pitra tercintanya.
“Akan kuhukum dia begitu sampai rumah karena membuat istriku selalu saja bersedih merindukannya.” Bram ikut mengoceh mengingat bagaimana sang istri selalu saja merengek ingin menyusul putranya itu saat sudah merindukannya.
“Berani kau menghukum putraku? Maka kamu yang tak kuberi jatah transfer energi,” ancam Aberlie membuat Bram seketika menciut.
“Bercanda, By. Kalau aku tak dapat transfer energi nanti yang ada aku tak akan siap menjalani hariku.” Bram yang memang tipe penyayang pada istrinya dan juga penurut akhirnya menciut mendengar ancaman dari sang istri.
“Sudah ayu kita berangkat, aku yakin kalau putraku itu pasti sudah turun dari pesawat, aku tak akan memaafkanmu kalau dia sampai menunggu lama,” ajak Aberlie yang sudah siap.
Bram menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri yang sudah tak sabar bertemu dengan putranya itu.
“Untung cinta,” gumamnya lirih agar istrinya tak mendengarnya.
__ADS_1
Bram dan Aberlie turun dari lantai atas kamarnya berada, Aberlie berjalan menuju dapur tempat Davina dan Ronggo tengah asyik berkutat dengan dapur dan masakannya.
“Sayang, kamu yakin tak ingin ikut? Lagi pula masaknya sudah selesai kan?” tanya Aberlie sekali lagi mengajak putri tercintanya.
“Tidak, Mamahku sayang. Aku dan Ronggo menunggu Kak Vano di rumah saja,” sahut Davina dengan penuh sayang pada mamahnya.
“Ya sudah kalau begitu, Mamah dan Daddymu pergi dulu yah.”
“Oke Mah.”
Aberlie dan Bram pun pergi meninggalkan dapur menuju teras di mana mobil sudah siap, Bram membukakan pintu mobil untuk istrinya dan ia pun juga masuk setelah sang istri masuk.
Aberlie terkejut saat melihat sang sopir yang terlihat asing baginya, sopir itu terlihat memakai long coat, topi, kaca mata hitam dan juga masker sudah seperti pembunuh bayaran gayanya.
Namun, Aberlie bukannya takut ia malah membentak sopir tersebut.
“Hei kamu, kamu siapa? Kamu sopir baru? Tapi saya tak pernah merasa kalau saya ataupun suami saya menerima sopir baru, siapa kamu jangan bercanda, saya sedang terburu-buru,” bentak Aberlie dengan garangnya membuat Bram mengusap wajahnya karena tak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang kini.
Pria tersebut akhirnya membuka semua yang melekat pada wajahnya satu persatu, setelah semuanya dibuka ia menoleh perlahan seketika itu pula membuat Aberlie terkejut bukan main.
“VANO! Mamah rindu sekali sama kamu, Sayang.” Aberlie yang duduk tepat di belakang Devano langsung menangkup wajah tampan putranya itu karena merasa bahagia bisa melihat seseorang yang sangat ia rindukan selama ini, Bram yang melihat tingkah istrinya itu hanya tersenyum ikut merasakan kebahagiaan sang istri.
“Vano juga rindu Mamah, sangat rindu,” sahut Devano yang sungguh bahagia bisa melihat mamahnya tersenyum.
“Dasar anak nakal, setiap cuti tak pernah mau pulang, selalu saja Mamah dan Daddy yang ke sana untuk melihatmu,” sepersekian detik kemudian Aberlie memukul lengan putranya itu mengingat setiap kali ia meminta putranya untuk pulang tapi Devano tak pernah mau pulang.
“Aw, maaf Mamahku, Sayang. Aku hanya ingin belajar saat libur kuliah, makanya aku tak pulang karena mengambil study tambahan,” pekik Devano mengusap lengannya yang dipukul, ia berkata dusta meski beberapa kenyataan.
“Baiklah, Mamag akan memaafkanmu karena alasan kau terkait dengan study. Sekarang ayu masuk, Adikmu pasti akan sangat terkejut melihatmu,” ajak Aberlie. “Oh iya, ada calon Adik iparmu juga loh,” ucapnya kembali berbisik.
“Oh yah! Wah sungguh sangat kejutan yang luar biasa, kalau begitu mari kita temui mereka, aku juga sangat merindukan Adikku yang tomboi itu, apakah dia masih bergaya tomboi seperti dulu?” seru Devano yang turun disusul oleh Aberlie dan Bram.
Devano berjalan masuk ke dalam rumah menuju dapur tempat di mana Davina dan Ronggo sedang asyik menyiapkan makanan untuk dirinya.
__ADS_1
Sampai di dapur, Devano tak langsung bersuara menyapa keduanya, ia perlahan tanpa suara duduk di kursi meja makan saat Davina dan Ronggo sibuk.
Tak lama Davina menoleh hendak menuju meja makan untuk meletakkan makanan terakhir yang dimasaknya, ia langsung memekik saking terkejutnya.
“Kak Vano.” Davina langsung memberikan piring berisi makanan tersebut pada Ronggo yang menoleh padanya ketika ia berseru dan berhambur memeluk tubuh pria tampan itu.
“Sudah lama sekali kita tak bertemu, aku rindu sekali padamu, Kak. Kau jahat sekali tak pernah pulang untuk sekedar bertemu denganku,” ucapnya yang sudah terisak karena terharu sambil tangannya memukul punggung sang kakak.
“Ahahaha, sorry, sorry, aku salah. Sekarang aku sudah pulang dan tak akan pergi lagi. Aku juga merindukan kalian semua, rasanya saat merindukan kalian aku seakan ingin langsung terbang pulang ke rumah, tapi aku harus terus belajar agar cita-citaku terwujud dan bisa membahagiakan kalian semua,” ucap Devano mengusap punggung sang adik, Aberlie dan Bram yang menyaksikan pertemuan haru pelepasan rindu antara kakak dan adik kembar itu pun ikut terharu.
“Oh iya, aku sudah memasak masakan yang enak untukmu, kau pasti rindu masakan rumah bukan?” seru Davina memperlihatkan hasil mahakaryanya berkutat di dapur, ia melupakan pria yang sedang memandangnya saat ini.
“Kau sudah pandai memasak sekarang? Apakah impianmu menjadi koki hebat sudah tercapai?” tanya Devano melihat beberapa makanan yang tersaji di meja makan.
“Yah, aku sudah menyelesaikan sekolahku, Kak.”
“Tak adakah yang ingin memperkenalkanku padanya?” tanya Devano sambil melirik ke arah Ronggo.
“Astaga, aku hampir melupakannya.” Davina menepuk keningnya karena melupakan Ronggo begitu saja saat melihat kakaknya datang.
“Ini adalah Ronggo, Kak. Dia calon Adik iparmu.” Davina memperkenalkan Ronggo pada sang kakak dengan mengedipkan sebelah matanya, Ronggo merasa tak percaya diri dan minder sebenarnya berada di dalam keluarga terpandang seperti keluarga Hanoraga.
“Oh ini toh yang membuat Adik tomboiku kelepek-kelepek sampai galau. Hai calon Adik ipar, aku Devano kakak dari gadis tomboi pujaan hatimu ini.” Devano mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya, meski ia terkenal dingin dan irit bicara, tapi jika sudah berkumpul dengan keluarganya ia menjadi pria yang hangat dan ceria sama seperti Bram.
“Hai, Kak. Saya Ronggo, sahabat pria Vina. Saya belum cukup pantas untuk menjadi calon Adik ipar Anda,” sambut Ronggo dengan kaku dan formal karena merasa tak enak hati.
“Hei, ayolah jangan kaku seperti itu. Mamah dan Daddy menerimamu di sini yang artinya kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Jangan begitu sungkan, Adikku sangat menyukaimu jadi kita adalah satu keluarga. Dalam keluarga kami tak ada yang namanya perbedaan, semuanya sama jadi jangan merasa sungkan, oke.” Ronggo merasa beruntung bisa berada di dalam keluarga yang terpandang tapi tak memandang status kedudukan sosialnya.
“Sudah-sudah, kamu pasti lapar, ayu kita makan dulu. Kamu harus mencicipi masakan mereka berdua, pasti akan ketagihan. Di Cafe Mamah masakan mereka selalu jadi menu favorit pelanggan,” ajak Aberlie.
“Oh yah! Ah aku jadi tak sabar untuk mencicipi masakan mereka. Kebetulan aku sudah sangat lapar sekali, jadi mari kita eksekusi makanannya.” Devano duduk di kursi tak jauh dari Davina duduk.
Davina mengambilkan makanan ke dalam piring untuk sang kakak, ia sangat bahagia sekali karena akhirnya kerinduan pada sang kakak terobati.
__ADS_1
“Hm, ini enak sekali, sudah lama aku tak makan masakan rumah, sepertinya aku akan makan banyak,” seru Devano yang menikmati masakan Davina dan Ronggo.
Mereka makan siang bersama dengan mengobrol membicarakan seluruh kegiatan masing-masing.