Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 35


__ADS_3

“Maaf, Vina. Aku tak bisa membalas perasaanmu itu. Aku cukup sadar diri siapa diriku, aku masih takut akan dikecewakan untuk yang kedua kalinya. Aku harap kamu mengerti, akan lebih baik kalau kita bersahabat saja seperti ini. Aku berterima kasih banget kamu sudah mau menyukai pria yang tak punya ini, aku juga terima kasih karena berkatmu aku bisa bertemu dengan orang baik yang bersedia membiayai kuliahku. Aku ingin fokus pada kuliah dan cita-citaku dulu, baru setelah itu aku akan memikirkan kisah cintaku,” ucap Ronggo membuat Davina lemas, tapi bukan Davina namanya kalau ia menerima penolakan dari pria yang ia sukainya itu.


“Oke, kita berteman, tapi pertemanan kita pertemanan mesra yah. Kamu gak boleh dekat dengan wanita mana pun, kamu harus menjaga perasaanku meski kita berteman. Selama kamu menerima pelanggan kalau itu wanita cantik harus duduk di belakang, hanya aku yang boleh duduk di sini. Dan aku harap kamu mau menerima saran dari Tuan muda untuk bekerja di Cafe Ibu Berl, istri Tuan muda,” sahut Davina tanpa sadar mengajukan banyak sekali persyaratan membuat Ronggo terbengong-bengong.


“Terserah kamu saja deh, toh selama ini juga aku gak pernah dekat dengan siapa pun, dekat denganmu juga karena kamu yang terus menempel padaku. Ya sudah, aku akan mengantarmu kembali ke kampusmu,” ucap Ronggo yang menghidupkan kembali mesin mobilnya.


“Jangan ke kampus, lagi pula aku sudah ketinggalan kelas. Aku lapar mending kita makan saja, kamu ada saran tempat makan yang enak gak?” tanya Davina yang menghentikan Ronggo untuk membawanya ke kampusnya.


“Masakan padang sangat enak, apa kamu mau mencobanya? Kamu sudah pernah makan masakan padang belum?” tanya Ronggo memberikan saran makanan.


“Belum,” sahut Davina menggelengkan kepalanya. “Apakah ada ayam goreng?” tanyanya kembali menanyakan menu kesukaannya.


“Mau ayam goreng atau ayam bakar semuanya lengkap. Kamu bisa memilih yang kamu suka nanti,” sahut Ronggo yang sudah melajukan mobilnya menuju salah satu rumah makan padang tempat ia sering membeli makanan.


...


“Ayu turun, sudah sampai,” ajak Ronggo yang sudah membuka sabuk pengamannya.


“Oke.” Davina menyusul Ronggo yang sudah turun terlebih dulu.


Mereka masuk ke dalam rumah makan yang terlihat sedikit ramai tersebut.


“Uni, aku pesan seperti biasa yah. Ini gadis tomboi mau melihat menunya dulu katanya Uni. Nanti tanyakan saja dia mau makan apa,” ucap Ronggo pada wanita paruh baya pemilik rumah makan tersebut, ia memang banyak berlangganan di rumah makan karena terkadang jika sedang malas pulang Ronggo memilih untuk makan di rumah makan.


“Siap, Mas Ronggo,” sahut wanita paruh baya yang dipanggil Uni oleh Ronggo.


“Kamu pilih ajah dulu mau makan apa, oke,” ucap Ronggo pada Davina.

__ADS_1


“Kamu jangan pergi, temani aku pilih menu, aku belum pernah makan di tempat makan seperti ini.” Davina memegang lengan Ronggo saat Ronggo hendak pergi, Ronggo bingung dengan ucapan Davina yang belum pernah makan di rumah makan.


“Baiklah, kamu mau makan sama apa? Ayu aku temani kamu lihat menunya dari depan.” Ronggo menarik tangan Davina menuju depan agar Davina bisa melihat makanan apa saja yang tersedia.


Davina melihat menu makanan yang tertata rapi di tempatnya. Semuanya terlihat sangat menggoda dirinya hingga liurnya akan menetes.


“Aku mau sama ayam goreng yang ada remah-remah ini, sepertinya enak, tapi minta bagian sayapnya,” tunjuk Davina pada ayam goreng serundeng yang menggoda dirinya, Ronggo tersenyum dengan penyebutan nama pada serundeng yang berada di ayam tersebut.


“Uni, yang satu minta sama ayam serundeng yah Uni,” ucap Ronggo yang memesan satu porsi makanan untuk Davina.


“Baik, Mas Ronggo. Minumnya seperti biasa?”


“Iya, Uni.”


Ronggo mengajak Davina untuk duduk di kursi yang masih kosong.


“Banyak sekali pertanyaanmu, Mas? Aku memang belum pernah makan di luar seperti ini, kalau istirahat aku paling makan di kantin kampus, pulang kuliah yah langsung ke Cafe dan makan di sana,” sahut Davina jujur yang memang belum pernah makan di tempat makan.


Tak lama makanan datang, Davina melihat makanan tersebut dengan tak sabar karena terlihat sangat menggodanya.


“Mm, ini enak yah, ada sambal hijaunya, ada daunnya juga, nasinya juga disiram dengan kuah santan, rasanya gurih dan enak,” seru Davina saat satu suap makanan berhasil masuk ke dalam mulutnya dan melewati tenggorokannya, Ronggo tersenyum melihat tingkah Davina yang seperti anak kecil.


“Makanlah dengan lahap, kalau kurang nambah lagi. Tenang saja, aku yang akan membayarnya,” ucap Ronggo.


“Dih, mengatakan perempuan matre tapi setiap makan sama aku kamu terus yang bayar,” dengus Davina tapi tak menghentikan aksi makannya.


“Kan aku yang mau, bukan kamu yang minta.”

__ADS_1


Keduanya menikmati makanan pesanan mereka dengan sesekali mengobrol hingga tak terasa makanan tersebut sudah berpindah ke dalam perut masing-masing.


Setelah selesai, Ronggo langsung membayar dan mereka pun pergi meninggalkan rumah makan tersebut untuk menuju kampus.


“Aku pulang seperti biasa, bye,” ucap Davina sebelum turun dari mobil.


“Dasar gadis tomboi, selalu saja seenaknya.” Ronggo tersenyum sendiri dengan tingkah Davina.


Ronggo melajukan mobilnya meninggalkan kampus untuk menjemput penumpangnya. Saat Davina turun, ia sudah mengaktifkan aplikasi taksi onlinenya dan orderan langsung masuk.


“Semangat, tinggal beberapa bulan lagi aku jadi sopir taksi online, setelah mulai kuliah nanti aku akan menerima usulan dari Tuan muda untuk bekerja paruh waktu di Cafe Nyonya muda,” gumam Ronggo, saat ini ia sedang menuju lokasi untuk menjemput orang yang sudah mengorder taksi onlinenya.


...


Di kampus, Davina memilih untuk duduk di taman terlebih dulu sambil menunggu ketiga sahabatnya datang. Ia sudah mengirim pesan di grup chat geng somplak. Namun, ternyata tak lama Dan datang menghampirinya.


“Kamu sudah lama?” tanya Dan yang langsung duduk di samping gadis tomboi itu.


“Baru datang, kamu sudah selesai kelas?” Davina balik bertanya.


“Aku ada kelas pagi hari ini, jadi jam segini sudah selesai. Bagaimana dengan misimu kemarin?” tanya Dan yang penasaran apakah Ronggo menerima tawaran yang diajukan sahabat tomboinya itu.


“Berjalan dengan mulus dong, yah meski awalnya bikin aku bingung bagaimana mengatakannya, tapi akhirnya dia mau nerima juga, dan nanti saat sudah masuk sini dia bakalan kerja paruh waktu di Cafe Mamah,” sahut Davina memberitahunya dengan penuh antusias.


Mereka berdua mengobrol sambil menunggu kedua sahabatnya yang belum juga selesai dengan kelasnya.


****

__ADS_1


Maaf kemarin aku gak up soalnya lagi sakit🙏


__ADS_2