Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)

Cinta Manis Si Gadis Tomboi (Davina Hanoraga)
BAB 38


__ADS_3

Ronggo terdiam sejenak mencerna perkataan Davina. Hatinya menyukai gadis tomboi yang duduk di sampingnya. Namun, sisi lain ternyata ia menjadi merasa minder karena identitas dari Davina.


“Maaf, Vin. Aku terlalu minder untuk menjadi kekasihmu. Tuan muda sudah berbaik hati berkenan membiayai kuliahku tapi aku malah membalasnya dengan cara menjalin hubungan dengan putrinya. Andai Tuan muda mengetahuinya pasti dia tak akan memaafkanku dan mengatakan kalau aku pria yang tak tahu malu. Di luaran sana masih banyak pria yang sepadan denganmu, mereka pasti bisa membahagiakanmu, aku hanyalah pria yang tak punya yang tak pantas bersama denganmu,” ucap Ronggo yang merasa minder setelah mengetahui identitas dari Davina.


Davina terkekeh dan memegang tangan Ronggo membuat Ronggo bingung dengan sikapnya yang malah terlihat tak masalah.


“Mas, Daddy sudah tahu kok kalau kamu pria yang aku suka, jadi ngapain juga kamu harus merasa minder. Kedua orang tuaku tak pernah memandang status sosial orang. Jadi, kamu mau kan menjadi kekasihku?” tanya Davina dengan mata kucingnya membuat Ronggo tak bisa menolak pesona gadis tomboi itu.


“Seriusan kamu?” tanya Ronggo yang terkejut dengan penuturan Davina yang mengatakan kalau Bram mengetahui siapa dirinya, Davina menganggukkan kepalanya dengan senyum merekah.


“Jadi, bagaimana?” tanya Davina meminta jawaban dari Ronggo.


“Ini emansipasi wanita banget gak sih? Masa perempuan yang menyatakan cintanya ke pria sih, memangnya gak ke balik yah?” Ronggo bukannya menjawab ia malah mengajukan pertanyaan.


“Nunggu kamu mengatakan cinta ke aku kelamaan, Mas. Keburu wanita g**a itu nyerobot kamu lagi dan akhirnya aku hanya bisa gigit kelingking,” sahut Davina dengan memanyunkan bibirnya.


“Dih BIMOLI.” Ronggo bukannya menjawab malah meledek Davina.


“Apa tuh bimoli?” tanya Davina bingung.


“Bibir monyong lima centi.”


“Ih jahara banget gak sih kamu, Mas. Cantik gini dibilang bimoli, huh dasar. Jadi gimana ini jawabannya dari tadi gak dijawab-jawab, seneng banget maen tarik ulur deh, kek permen karet banget,” dengus Davina yang tak sabar dengan jawaban dari pria pujaannya.


“Yah seperti kata kamu ajah, kita jalani ajah dulu. Kita sudah dewasa, menjalin hubungan tak perlu juga harus ada upacara tembak menembak juga kan, asal kamu bisa setia dan hanya ada aku dalam hatimu saja sudah cukup, dan juga yang paling penting kamu harus siap terima aku apa adanya karena aku bukanlah pria yang berduit yang mampu memenuhi permintaanmu yang tak masuk akal, jika masih dalam batas mampuku pasti akan aku turuti tapi kalo sudah bukan jangkauanku aku minta maaf,” jelas Ronggo dengan sangat serius.


“Aku hanya butuh cintamu, Mas.”


“SAH!” suara Riris membuat pasangan yang baru menjalin hubungan itu terkejut, mereka lupa kalau masih ada orang di kursi belakang.


“Astaga, aku lupa ada kamu di sini, hehe,” ucap Davina terkekeh.


“Huh, dasar sepupu jahara,” dengus Riris merajuk.


“Maaf.” Davina menampakkan deretan giginya.


“Traktirannya dong,” ucapnya masih dengan gaya merajuk.

__ADS_1


“Makan mie ayam?”


“Dih, anak terkaya traktiran jadian kok mie ayam. Nongkrong ke Green Sky yuklah.”


“Green Sky? Kayak pernah denger,” tanya Ronggo yang merasa tak asing.


“Bar berkedok Cafe yang pernah aku kasih tahu loh.” Davina mengingatkan.


“Oalah, itu toh. Mau ngapain ke sana?” tanya Ronggo.


“Nongkrong lah,” sahut Riris.


“Bukannya itu bar, kok nongkrongnya di Bar sih?” tanya Ronggo merasa tak senang.


“Mas, gak semua orang nongkrong di bar itu nakal loh. Kita hanya have fun ajah kok, kita juga gak sampe minum alkohol, paling juga minum soda wajar lah. Di sana juga menyediakan tempat karaoke jadi kita kalo nongkrong yah karaokean sambil seneng-seneng ajah,” jelas Riris jujur.


“Oh begitu.”


“Iya, ya sudah ayu kita ke Cafe, aku sudah lapar nih gara-gara jadi obat nyamuk kalian jadian,” pinta Riris menyuruh Ronggo untuk segera melajukan mobilnya menuju Cafe.


Ronggo menyalakan mobilnya untuk menuju Cafe. Tak butuh waktu lama mobil sudah terparkir di area parkir Cafe.


“Iya, aku mau bertemu dengan Nyonya muda, mau membicarakan perihal kerja paruh waktu dengannya,” sahut Ronggo berniat untuk menemui Aberlie.


“Seriusan, Mas? Ah nanti aku bisa ketemu kamu terus dong setiap hari,” seru Davina yang kegirangan.


“Aku mau kerja, bukan mau ketemuan sama kamu.”


“Hahahahaha.”


Ronggo turun dari mobil sedangkan Riris tertawa terbahak-bahak dan Davina menggerutu kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


“Senang kamu yah, bahagia banget kayaknya melihat sepupumu mengsad begini,” dengus Davina dan mereka pun ikut turun menyusul Ronggo yang sudah turun lebih dulu.


“Hai, Mbak Vina,” sapa Putri membukakan pintu untuk anak Bosnya itu.


“Hai juga, cantik. Gak perlu dicari in yah si tengilnya, dia gak ikut soalnya,” sahut Davina membuat Putri tersipu malu karena ketahuan mencari Boy.

__ADS_1


“Ah Mbak Vina mah begitu.”


“Hehe, Mamah ada, Put?” tanya Davina.


“Ada, Mbak di ruangannya.”


“Ya sudah, aku ke ruangan Mamah dulu.”


“Ayu, Mas. Aku antar ke ruangan Mamah,” ajak Davina pada Ronggo. “Ris, aku ke ruangan Mamah dulu yah,” sambungnya berpamitan pada Riris.


“Oke, aku juga mau ke dapur, biasa,” sahut Riris dengan menaik turunkan alisnya dan nyengir kuda.


Davina dan Ronggo menuju ruangan Aberlie sedangkan Riris menuju dapur untuk menemui Satria. Sampai di depan pintu ruang kerja sang mamah, Davina mengetuk pintu dan kemudian masuk dengan mengajak Ronggo.


“Hai, Saya,” ucapan Aberlie terpotong karena melihat Ronggo yang datang bersama dengan putri tercintanya, ia hendak memeluk Davina tapi gerakannya terhenti.


“Dia udah tahi kok, Mah. Aku sudah memberitahunya,” ucap Davina seketika membuat Aberlie terkejut.


“Kok bisa?” tanya Aberlie yang tak percaya kalau putrinya sudah mengatakan yang sebenarnya, Davina hanya menganggukkan kepalanya.


“Selamat sore, Nyonya muda. Perkenalkan, saya Ronggo, sopir taksi langganan putri Anda.” Ronggo memperkenalkan dirinya pada Aberlie dengan sedikit ragu mengulurkan tangannya.


“Sore, tapi jangan panggil Nyonya muda, panggil saja Tante. Makasih yah sudah menjaga si tomboi,” tanpa Ronggo duga Aberlie menjabat uluran tangannya, tentu saja membuat dirinya tak percaya dan juga terkejut.


“Sama-sama, Tan-Tante. Sudah jadi kewajiban saya sebagai sopir taksinya,” sahut Ronggo gugup.


“Mah, Mas Ronggo ke sini mau mengajukan kerja paruh waktu, Daddy menyarankan agar bekerja paruh waktu di sini supaya gak mengganggu kuliahnya nanti juga biar bisa belajar dari Mr. Kanebo,” ucap Davina memberitahu maksud kedatangan Ronggo.


Sementara Ronggo membicarakan rencana kerja paruh waktunya dengan Aberlie. Riris tengah sibuk mencari perhatian pada pria pujaannya.


“Hai, Mas Satria. Ada yang bisa kubantu gak?” sapa Riris bertanya.


“Memang kamu bisa?” tanya Satria tanpa menoleh pada Riris.


“Yah kalau belajar mah pasti bisalah, Mas. Aku bantu yah,” sahut Riris berusaha untuk dekat dengan pria pujaannya.


“Karena si tomboi belum dateng, tuh cucian piring numpuk, kamu bisa kerjakan. Itu kalau kamu mau, kalau gak yah gak masalah,” ucap Satria dengan ketus seperti biasanya menunjuk pada tempat cucian piring.

__ADS_1


“Oke deh.” Riris langsung menuju tempat cuci piring untuk mencuci piring sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh pria pujaannya, Satria tersenyum tipis melihat gadis tengil itu menurutinya.


__ADS_2